
Keesokkan harinya. Perdebatan alot itu akhirnya memberikan toleransi kepada Cefi. Karena bagaimanapun ini adalah kali pertama bagi sekolah tersebut memiliki murid seperti Cefi. Lagi pula sekolah juga ingin sekali Cefi lulus, karena selama di sekolah Cefi ini cukup meresahkan guru-guru.
Namun, untuk hari ketiga ujian ini Cefi tidak diperkenankan untuk ke sekolah, karena sekolah ingin menghilangkan citra buruk dengan membiarkan anak-anak murid mengasumsikan kalau Cefi tidak mengikuti ujian karena sekolah bertindak tegas.
Di mana Kepala sekolah sendiri yang membawakan soal kepada Cefi dan mengawasi sendiri Cefi mengerjakan soal.
Sekolah tidak ingin membuat murid-murid berpikir kalau sekolah tersebut pilih kasih, namun tidak juga mau dibebani oleh Cefi lagi. Sehingga inilah yang bisa dilakukan oleh pihak sekolah atas bujukan dan permintaan dari Pak Pradana.
“Kamu udah siap?” tanya Baron.
Baron tidak ke sekolah, urusan dengan sekolahnya memang sudah selesai. Sejak kemarin dia ke sekolah hanya mengurus administrasi dan mengantarkan Cefi saja, karena sudah selesai sehingga dia tidak memiliki kepentingan lagi untuk ke sana.
“Udah, Mas. Pak Kepsek udah dateng?” tanya Cefi.
“Belum, kayaknya masih di jalan.” kata Baron.
Cefi dan Baron pun sampai di ruang tengah. Cefi sudah memakai seragamnya, memang dia diminta untuk memakai seragam dan juga kegiatan mengerjakannya akan direkam oleh kepala sekolah.
Tak lama kemudian, kepala sekolah pun datang. Baron menyiapkan minuman karena Cefi langsung diminta untuk mengerjakan soal mengingat waktu yang dimiliki tidak banyak. Sebelum 30 menit, Cefi harus sudah selesai. Karena kertas ujian itu harus diberikan ke sekolah dan digabung dengan jawaban siswa yang lain.
Cefi pun langsung mengerjakan soalnya dengan cepat, dia sudah berdoa dan belajar selama ini, meski dia tidak bisa mengerjakan sebagian soal tersebut namun dia merasa optimis dengan setengah jawaban tersebut.
“Baik, karena saya harus kembali ke sekolah, saya pamit dulu.” kata kepala sekolah yang pamit kepada Cefi dan suaminya.
“Iya, Pak. Terima kasih banyak.” ucap Cefi dan juga Baron yang langsung mengantarkan kepala sekolah sampai di depan. Cefi menyerahkan sebuah bingkisan berisi roti mahal yang sebelumnya sudah dibeli oleh Baron, sengaja diberikan sebagai tanda ucapan terima kasih untuk kepala sekolah tersebut.
Kepala Sekolah Cefi datang jauh-jauh ke rumah Cefi tentu tidak bisa dibiarkan begitu saja tanpa diberikan buah tangan, dan inilah yang bisa diberikan oleh Cefi dan suaminya. Kalau mereka memberikan uang, mereka takut kalau kepala sekolah menyalah artikan kalau sikap mereka seperti menyogok, padahal sama sekali tidak seperti itu. Meskipun hanya ucapan terima kasih saja.
“Ini, Pak. Ada sedikit oleh-oleh untuk bapak dan ibu.” kata Cefi.
__ADS_1
“Terima kasih. Kalau begitu kami pergi dulu. Assalamualaikum.” ucap kelana sekolah, beliau juga datang bersama dengan Guru BK karena takut kalau tidak ada saksi takut dikira membetul-betulkan jawab Cefi kalau nilai Cefi besar. Ya walaupun kepala sekolah tersebut cukup yakin kalau nilai Cefi hanyalah standar-standar saja.
“Waalaikumsalam wa rahmatullahi wa barakatuh.” jawab Cefi dan Baron.
Selepas mobil yang dikendari gurunya tersebut pergi, mereka berdua pun langsung masuk ke dalam rumah mereka lagi.
Cefi duduk di atas sofa ruang tengah. Baron duduk di sampingnya, “Gimana ujiannya?” tanya Baron.
Cefi pun tersenyum kecut, “Sebagian gak bisa dikerjain sebagian aku bisa ngerjain.” kata Cefi.
Baron menganggukkan kepalanya begitu saja, “Yaudah nggak papa, nggak usah dipikirin, yang penting kan kamu udah berusaha. Itu yang perlu diapresiasi.” kata Baron.
“Maaf ya kamu harus nikah sama cewek bodoh kayak aku.” kata Cefi.
“Maaf juga ya karena kamu nikah caa cowok yang terlalu pintar.” kata Baron sambil terkekeh.
Cefi buru-buru mengendus-ngendus baju yang dikenakan oleh Baron, Baron jadi bingung, padahal dia sepertinya sudah wangi dan sudah mandi, jadi seharusnya istrinya tidak perlu mengendus-ngendus seperti itu. Namun, dia pun membiarkan istrinya melakukan apa yang istrinya suka meskipun dia sendiri bingung.
“Aku mencium bau kesombongan di kata-kata kamu.” kata Cefi yang langsung terkekeh dengan ucapannya sendiri.
Mendengar jawaban dari istrinya, Baron pun langsung tertawa terpingkal-pingkal. Bagaimana tidak? Dia hampir saja berpikir kalau Cefi ini mencium bau tidak sedap dari tubuhnya, kalau hal itu sampai terjadi, dia tentu malu. Padahal mereka sudah menikah namun entah mengapa Baron selalu ingin terlihat sempurna di hadapan istrinya. Entahlah, diam-diam dia takut kalau Cefi berpaling ke laki-laki lain.
“Ck, dasar kamu, saya kira kenapa.” kata Baron yang hendak menyentil; dahi istrinya namun tangannya buru-buru berubah menjadi usapan. Dia mencium kening istrinya.
“Anak bandel, karena udah selesai ujian, mau ya diajak ke rumah sakit.” kata Baron.
Cefi pun mengerucutkan bibirnya ketika mendengar kalau suaminya mengatainya anak bandel, ya walaupun apa yang dikatakan oleh suaminya memang tidak sepenuhnya salah namun tetap saja.
“Iya, suamiiiik, sekarang beneran ke rumah sakitnya. Ajak Mama tapi ya?” kata Cefi.
__ADS_1
“Kenapa nggak berdua aja sama saya?” tanya Baron.
“Mama lebih ngerti, Mas. Lagian siapa tahu mama juga mau konttrol kan?” tanya Cefi.
Baron pun langsung menganggukkan kepalanya begitu saja. “Oke deh kalau begitu.” kata Baron.
“Aku ke rumah mama dulu ya?” kata Cefi yang bangkit. Namun, Baron buru-buru menahan tangan istrinya, “Kamu mau ke mana?” tanya Baron.
“Ke rumah maam.” kata Cefi. Cefi merasa bingung karena sepertinya sebelumnya dia juga sudah menjelaskan kepada suaminya kalau dirinya mau bertemu dengan ibu mertuanya, kenapa suaminya harus menanyakan lagi kepada dirinya? Ada apa sebetulnya? Kenapa ditanya terus?
“Mas, aku sebentar, biar kita bisa langsung ke rumah sakit saat ini juga.” kata Cefi.
“Kamu yakin gak mau ganti baju dulu, Sayang? Kalau kamu ke dokter kandung an pakai baju SMA kayak kamu hamil diluar nikah.” kata Baron yang memang kalau bicara apa adanya dan jujur. Bahkan sepertinya kali ini dia terlalu jujur.
“Astaghfirullah, Mas. Kok kamu gak ingetin aku sih?” tanya Cefi yang langsung sadar kalau dirinya memang masih menggunakan seragam anak SMA.
Baron pun terkekeh begitu saja.
“Ya kan ini aku bilang.” kata Baron.
“Yaudah aku ke atas dulu.” kata Cefi.
Cefi pun langsung berlari ke atas, Baron yang melihat istrinya berlari langsung menghadang istrinya di depan, “Sayang, kamu lagi hamil. Jangan lari-larian nanti jatuh.” kata Baron.
Baron terlihat sangat protektif dengan istri dan juga calon anaknya.
Senyum Cefi pun mengembang begitu saja, suaminya terlihat begitu menggemaskan saat mengkhawatirkan dirinya. “Uluh uluh suami aku perhatian banget.” kata Cefi sambil terkekeh.
“Gimana gak perhatian kalau istrinya ceroboh kayak gini.” kata Baron.
__ADS_1
Cefi hanya bisa mengerucutkan bibirnya begitu saja. “Iya, Tuan. Siap. Laksanakan.”