
Baron melirik Cefi yang ada di pinggir lapangan, senyumnya mengembang dan hal itu membuat semua siswi yang menontonnya berteriak. Mereka melihat senyum bapak gurunya yang tampan. Mereka jadi memiliki halusinasi sendiri.
Bel istirahat selesai dan Cefi dan teman-temannya langsung memutuskan untuk berganti pakaian olah raga, ntah apa untungnya olahraga pukul 10 siang. Waktu yang sangat tidak efektif bagi Cefi. Namun, mengingat yang berolahraga bukan hanya kelas mereka dan juga takut ada bentrok jam (mengingat lapangannya hanya ada satu), sehingga mereka harus menerimanya.
“Eh, ngapain ganti baju? Orang Pak Robertnya nggak masuk.” kata Cindy kepada Cefi dan kedua temannya yang baru selesai ganti baju.
“Emang gak masuk?” tanya Cefi.
“Iya, nggak masuk.” kata Cindy.
“Eh, jangan mimpi ada jam kosong, Neng. Tuh, Pak Baron udah nunggu. Dia bakalan selalu mengisi jam-jam kosong kita. Apalagi hatinya Cefi, iya gak Cef?” tanya Adam samil menggoda Cefi.
“Sialan! Gue jadiin perkedel lo ya!” seru Cefi kesal setengah mati.
Adan hanya bisa terkekeh begitu saja, semua orang yang berada di sana tertawa. Bagi kelas mereka, hal itu memang sudah biasa. Cefi memang adalah murid paling beruntung yang bisa bertetangga dengan guru tampan itu.
Dari lapangan, pluit mulai dibunyikan. Cefi dan teman-temannya langsung menoleh ke bawah, dan benar saja apa yang dikatakan oleh Adam.
“Kalau dalam waktu tiga menit nggak ada di lapangan, saya kasih 50 soal matematika!” seru Baron.
“Anjir! Untung kita udah ganti baju.” kata Dara.
Semua teman-teman perempuan kelasan Cefi terutama yang perempuan pun langsung berteriak dan langsung memilih untuk segera berlari ke kamar mandi berganti pakaian. Mereka tidak bisa berganti pakaian di dalam kelas karena di masing-masing kelas ada CCTV-nya.
Cefi pun turun ke bawah menghampiri suaminya yang ntah sejak kapan sudah berganti dengan pakaian olahraga. Meski hanya kaos putih dan juga celana training.
“Kenapa sih ganti baju begitu?” tanya Cefi kesal kepada Baron.
Baron melirik ke kanan dan ke kiri, tidak ada orang di sana, hanya ada ketiga teman Cefi yang setia menunggu Cefi di belakang.
“Kenapa emangnya?” tanya Baron.
“Kamu jadi pusat perhatian tau nggak? Gak ngerti banget, kamu jelek-jelekin aja, tua-tuain, jangan kayak gini, inimah kamu kayak seumuran kita-kita.” kata Cefi kesal.
Alih-alih menatap Cefi dengan tatapan kesal, Baron pun terkekeh begitu saja, “Jadi, kamu bilang kalau saya ganteng?” tanya Baron.
__ADS_1
“Enggak, kamu jelek. Kayak bebek, hih!” kata Cefi.
Cefi pun langsung memilih untuk pergi meninggalkan Baron, dan berjalan menuju teman-temannya. Namun, tanpa disangka, Baron pun mengekorinya dan duduk di samping Cefi.
“Kamu ngapain?” tanya Cefi.
“Memang saya tidak boleh duduk di sini?” tanya Baron, sambil menatap teman-teman Cefi.
“Boleh, Pak. Boleh.” kata Dara, Amel, dan Putri langsung dengan cepat.
Tak lama kemudian, Cindy dan kawan-kawan langsung datang dan langsung memilih duduk di samping Baron. Kini siswi perempuan membuat lingkaran dan menatap Baron.
“Pak, kalau saya nanti dapat nilai sembilan pas ulangan saya dapat apa?” tanya Cindy.
“Dapet foto saya.” kata Baron.
Cindy dan teman-teman Cefi langsung memekik sedangkan Cefi hanya bisa menatap suaminya dengan sebal. “Sok ganteng banget sih.” gumam Cefi.
“Apa?” tanya Baron.
“Memang saya tidak ganteng?” tanya Baron kepada teman-teman Cefi.
“Ganteng, Pak. Ganteng. Tapi emang matanya Cefi aja itu yang gak bisa liat cowok ganteng.” kata Cindy.
Semuanya pun langsung tertawa, “Dari pada lo, semua cowok lo bilang ganteng. Kambing jantan juga kalau dibedakin lo bilang ganteng.” kata Cefi.
Semua anak-anak kelasan Cefi pun langsung tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Cefi. Anak kelas Cefi memang suka bercanda dengan candaan yang bisa masuk kategori parah namun mereka tidak baper, mereka hanya menanggapinya dengan candaan juga meski keterlaluan.
“Anj****.” kata Cindy.
“Wah, Pak. Di denda, Pak. Cindy ngomong kasar!” seru Amel.
Semua tertawa sedangkan Cindy langsung menutup mulutnya, “Nggak sengaja, Pak. Sumpah, nggak sengaja.” kata Cindy.
Sebelumnya, Baron memang menetapkan aturan kalau setiap mereka ada yang berkata kasar, maka harus membayar denda dua ribu rupiah. Nominalnya memang sangat kecil, namun untuk anak kelas Cefi yang dalam sehari bisa sampai sepuluh kali mengatakan kata-kata kasar tentu terasa betul.
__ADS_1
Uang denda itu akan masuk sebagai uang kas, itu akan digunakan untuk mereka makan-makan setelah kelulusan nanti. Setidaknya itulah plan dari Baron. Ini juga yang sedang diupayakan oleh Baron. Dia ingin Cefi dan teman-temannya lebih halus dalam berbicara, meskipun Baron dan Cefi saat di rumah menggunakan bahasa yang kasar namun, sebagai guru sepertinya Baron mulai memperhatikan etika.
Perubahan yang diberikan oleh Baron dan beberapa hal lain yang dijadikan acuan oleh Baron untuk mengubah tingkah laku dan gaya bicara murid-muridnya memang terlihat sedikit demi sedikit membuahkan hasil. Hal itu diakui oleh beberapa guru.
“Put, dicatet, Put! Minta dua ribu!” titah Baron yang meminta Putri yang memegang uang denda itu. Diantara teman-teman Cefi yang dapat dipercaya memang Putri.
Setelah ditertawakan, “Nih, elah …” kata Cindy.
Semua orang pun tertawa.
Setelah semuanya berkumpul, Baron pun langsung meminta semuanya untuk baris di tengah lapangan, mengaja berdoa, pemanasan, dan langsung menjelaskan pelajaran baru. Sedikit banyak Baron tahu tentang olah raga. Materi kali ini adalah voli.
“Nah, Dam! Ambil bola voli, Dam. Kita praktik di sini sekarang!” kata Baron.
Adam pun menurut, dia mengajak temannya dan langsung mengambil bola voli. Cefi menatap suaminya tidak berkedip, di dalam hatinya, dia begitu bangga memiliki suami seperti Baron.
“Pak Baron, saya mau pingsan.” kata Dinar, yang memang sangat curi perhatian kepada Baron.
“Oh, silakan, pingsan saja tidak apa-apa.” jawab Baron.
Semua teman-teman Cefi pun terkekeh begitu saja. Kemudian, Baron pun mulai mengajarkan sevis, materi ini sebetulnya adalah pengulangan dari materi kelas 11 namun karena setelah dicoba mereka tetap belum bisa, sehingga Baron mengajar lagi.
“Cefi, coba contohkan servis.” kata Baron memberikan bolanya kepada Cefi yang berdiri paling depan.
Cefi mau tak mau pun maju ke depan dan menerima bola tersebut. Namun, melihat posisi tangan Cefi yang salah membuat Baron meletakkan bola voli terlebih dahulu dan membetulkan tangan Cefi.
“Kalian semua lihat tangan Cefi, ini posisinya salah, kalau seperti gini, kalau kena bola, pembuluh darah bisa pecah. Jadi, posisinya harus seperti ini.” kata Baron.
Baron mulai menyentuh tangan Cefi. Kini Baron berada di belakang Cefi dan menyentuh tangan Cefi dari belakang. Semua teman-teman Cefi pun langsung memekik.
"Aaaa... tangannya dipegang Pak Baron!" seru semuanya anak siswi iri.
Jantung Cefi berdegup dengan sangat kencang, kini dia tidak tahu otaknya berada di mana. Semua penjelasan yang Baron jelaskan tidak ada satu pun yang masuk ke otaknya.
“Heh! Fokus-fokus. Lihat posisi tangannya!” seru Baron.
__ADS_1