
Sepulang sekolah, Cefi seperti bisa memilih pulang paling terakhir karena dirinya ingin bertemu dengan suaminya terlebih dahulu. Dia ingin pulang bersama suaminya, dan itu tentulah harus menunggu murid-murid yang lain pulang terlebih dahulu. Dia tidak bisa langsung pulang bersamaan dengan mereka.
Di kelasnya masih ada ketiga temannya dan juga Adam yang sibuk main games.
Kemudian, Cefi pun mengambil ponselnya yang belum dia masukkan ke dalam tas dan langsung menghubungi suaminya.
Cefi: Mas, pulang bareng kan?
Baron: Iya, saya tunggu di parkiran ya.
Cefi: Oke
Dara yang sedang bercanda dengan Amel langsung menoleh ke arah Cefi, “Gimana, Cef? Kalian pulang bareng?” tanya Dara.
Cefi menganggukkan kepalanya begitu saja, “Iya, pulang bareng,” kata Cefi.
Dara pun menganggukkan kepalanya begitu saja. Kemudian, mereka pun bangkit. Berjalan bersama-sama keluar kelas. Adam masih berada di tempatnya, sedang asyik main games, dia sedang menunggu pacarnya selesai ekskul.
Cefi pun berjalan. “Dam, duluan!” seru Cefi sambil berjalan.
Adam pun mendongak dan seketika nyengir lebar, “Oh, sakitnya sakit anu ya, Cef?” tanya Adam sambil cengar-cengir seperti biasanya.
Mendengar jawaban itu tentu membuat pipi Cefi merah, dia tentu paham kalau Adam menyinggung masalah yang juga disinggung oleh teman-temannya.
“Lemes banget mulut lo kek cewek!” seru Cefi.
“Cieee, video gue ternyata lo praktekin ya, Cef? Mantep gak?” tanya Adam.
“Sialan sialan!” seru Cefi.
Adam pun hanya bisa tertawa begitu saja. Amel dan Dara saling melirik memikirkan kemungkinan, “Dia … tau Cef?” tanya Dara hati-hati.
Cefi hanya bisa menganggukkan kepalanya begitu saja, “Iya, dia tau, sialan banget emang.” kata Cefi.
Dara, Amel, dan juga Putri pun menganggukkan kepalanya begitu saja. Pantas saja, Adam sejak kemarin seperti tidak peduli ketika ada Cefi dan Baron tengah berduaan.
“Kok bisa? Dia kan ember?” tanya Amel sambil berbisik.
__ADS_1
“Ya emang ember bocor. Tapi untungnya dari kemarin dia gak bocorin apa-apa sih.” kata Cefi.
Amel dan Dara pun mengangguk-anggukkan kepalanya lagi. Sesampainya di luar, mereka berpisah, Cefi menuju ke parkiran sedangkan teman-temannya menuju ke luar gerbang.
Tak lama kemudian, Cefi sampai di parkiran dan melihat suaminya berada di atas motor sambil bermain games, hal itu mengingatkannya pada Adam tadi, kenapa laki-laki suka sekali bermain games sih?
Pertanyaan itu membuat dirinya menjadi kesal.
“Mas?” panggil Cefi.
Baron pun langsung mendongak sebentar. “Lima menit ya.” katanya.
Ini hal paling menjengkelkan, namun mau bagaimana lagi. Dia tahu hiburan suaminya hanya games. Dia juga tahu kalau seorang manusia sibuk seperti suaminya memang sangat membutuhkan hiburan. Bermain games juga merupakan salah satu hiburan bukan?
Cefi mengerucutkan bibirnya.
Tak sampai lima menit, Baron mematikan ponselnya dan langsung memasukkannya ke dalam tasnya. Kemudian, dia memberikan helm kepada Cefi. Cefi pun menerima dan langsung memakainya.
“Habis dari rumah kita ke kantor polisi ya?” tanya Baron.
Baron memakai helmnya.
“Ayo, naik!” pinta Baron.
Cefi pun langsung melakukan apa yang diminta oleh Baron. Kemudian, setelah memastikan kalau istrinya sudah ada di belakang dirinya dan sudah aman di boncengan, akhirnya Baron pun mengegas motornya menuju ke rumah mereka.
“Semoga CCTV yang kita pasang di kamar kita masih ada rekamannya ya.” kata Baron.
Cefi pun menganggukkan kepalanya, “Amin.” jawab Cefi.
“Mas …” panggil Cefi.
“Hmm?” gumam Baron.
“Makasih banyak ya udah mau bantuin aku. Aku nggak tau kalau nggak ada kamu aku gimana.” kata Cefi.
“Iya, sama-sama. Kamu udah jadi tanggung jawab saya jadi sudah sewajibnya saya bantu kamu.” kata Baron.
__ADS_1
Cefi pun menganggukkan kepalanya, tangannya kini dia eratnya di peluk Baron. Baron yang merasakan pelukan yang lebih erat hanya bisa mengulurkan tangan kirinya dan mengusap tangan Cefi begitu saja, “Kamu nggak usah khawatir ya.” kata Baron.
Cefi pun menganggukkan kepalanya lagi. Memeluk suaminya seperti ini memang sangat menyenangkan.
Tak lama kemudian, Cefi dan Baron pun sampai di rumah mereka. Namun, mereka melihat ada seseorang yang tengah mencoba membuka gerbang rumah Cefi dan Baron.
“Bapak siapa ya?” tanya Baron yang langsung turun dari motor dan langsung berjalan menuju ke arah bapak-bapak tersebut. Beliau datang bersama dengan dua orang lainnya.
“Saya Imran, orang yang membeli rumah ini.” jawab bapak-bapak tersebut.
“Bapak jangan bercanda, kami pemilik rumah ini. Rumah ini tidak dijual. Jadi, lebih baik bapak dan teman-teman bapak pergi dari sini.” kata Baron.
Cefi jadi bingung kenapa orang itu mengaku-aku kalau rumah itu sudah dia beli. Lalu, jantung Cefi pun berdegup dengan kencang, jangan-jangan … dia jadi takut kalau Om Soni memang melakukan hal nekat. Selain mobil dan asuransi, jangan-jangan Om Soni juga menjual rumah ini.
Sertifikat rumah? Cefi memang tidak memeriksanya dari kemarin. Dia pun jadi cemas.
“Oh, rumah ini sudah saya beli. Ini buktinya. Joni! Kasih liat bukti transaksi kita.” kata bapak-bapak yang bernama Imran.
Laki-laki yang bernama Joni memperlihatkan jumlah transferan sebanyak 10M atas pembelian rumah tersebut, dan … uang tersebut ditransfer ke nomor rekening atas nama Soni Salim.
Cefi yang ikut melihat bukti transfer tersebut membeku di tempatnya. Jantungnya berdegup dengan sangat kencang. Dia menoleh ke arah Baron, begitu juga dengan Baron. Baron menoleh ke arah Cefi.
“Itu nama panjang Om Soni.” kata Cefi air matanya menetes.
Baron menghela napas, “Maaf, Pak. Rumah ini tidak dijual, orang yang kalian transfer adalah om kami yang merupakan orang jahat yang sedang ingin kami laporkan kepada polisi.” kata Baron.
“Saya tidak mau tahu, sertifikat sudah ada sama saya. Itu urusan kalian, yang jelas seminggu lagi rumah ini harus dikosongkan, karena saya akan menempatinya.” kata Pak Imran.
Kemudian, Pak Imran pun langsung pergi dari sana. Cefi sudah jatuh terduduk, Baron langsung memeluk bahu Cefi. Dia tahu istrinya tentulah sangat syok dengan apa yang terjadi. Dia tidak menyangka kalau Omnya sangat jahat kepada dirinya. Dia juga tidak tahu mengenai salah apa yang mereka lakukan hingga Om Soni tega melakukan hal ini kepada keponakannya sendiri.
Tangan Baron mengepal. Dia memeluk istrinya yang sudah menangis. Pak Imran dan teman-temannya sudah pergi, menyisakan Baron dan Cefi.
“Kenapa Om Soni jahat banget sama aku, Mas? Kenapa?!” kata Cefi menangis sesenggukan. “Di-dia … keterlaluan.” kata Cefi menjerit.
“Kita masuk dulu ya?” kata Baron.
Ayah dan Ibu dari Baron masih di tempat kerja, belum pulang, Baron akan menghubunginya nanti di dalam rumah. Dia sungguh tidak terima istrinya dibuat menangis seperti ini.
__ADS_1