Cinta Anak Kompleks

Cinta Anak Kompleks
BAB 90 - Pengumuman Kelulusan Cefi


__ADS_3

Pengumuman kelulusan tiba. Cefi sudah tidak sabar menunggu pengumuman lulus atau tidaknya dirinya. Dia juga sedari tadi terus meremas jarinya karena merasa takut. Bagaimanapun ini bukan kali pertama dirinya menunggu hasil pengumuman kelulusan, jadi apa yang terjadi pada tahun kemarin masih terngiang-ngiang di dalam kepalanya hingga saat ini.


“Aku benar-benar takut, Mas.” kata Cefi kepada suaminya.


Cefi menutup matanya, dia tidak mau melihat layar laptop milik suaminya yang tengah menampilkan website sekolahnya, pengumuman nama-nama peserta didik yang lulus memang diunggah di laman tersebut.


“Kamu tenang ya, kita tunggu dulu. Masih satu menit lagi.” kata Baron.


Cefi pun semakin gugup-, keringat di dahinya masih mengalir deras. Bagaimanapun dia merasa sedikit trauma dengan pengumuman tersebut. Kemudian dia pun langsung menutup matanya lagi.


Di sana sudah ada mertyua Cefi yang juga tengah menunggu hasil pengumuman tersebut. Beruntung pengumuman kelulusan hanya bisa diakses oleh pemilik siswa yang memang memiliki akun. Tidak dibuat dengan berdasarkan daftar list. Hal itu dimaksudkan agar apabila ada yang tidak lulus maka tidak akan malu dengan teman-temannya walaupun cepat atau lambat berita itu memang akan menyebar juga.


Namun, setidaknya harus saling bertanya dulu dan dari mulut ke mulut, tidak segamblang saat semua nama dibuat daftar.


“Pengumumannya muncul!” seru Baron.


Semua orang memeluk tertawan, kemudian, kedua orang tua Baron mendekati anaknya untuk melihat ke layar komputer. Mereka tidak mempermasalahkan kalau memang menantu mereka tidak lulus lagi, karena mereka tidak muluk-muluk ingin menantunya perfek. Meski bodoh dalam pelajaran, menantunya sangat pandai menaklukkan hati anaknya. Itulah yang paling penting dalam hubungan,


Baron dan kedua orang tuanya saling menatap namun tidak bersuara. Hal itu tentu membuat Cefi merasa penasaran setengah mati dengan apa yang ada di dalam pengumuman kelulusan itu. apakah dia lulus? Atau jangan-jangan justru sebaliknya?


“Mas? Aku nggak lulus ya?” tanya Cefi. Dia membuka mata dan langsung menoleh ke suaminya, air mata Cefi sudah jatuh begitu saja, dia merasa kalau dirinya tidak akan lulus, namun mau bagaimana lagi.


Baron terdiam.


Cefi mengartikan diamnya suaminya sebagai tanda kalau dia benar-benar tidak lulus ujian dan tidak lulus dari sekolah. Karena penentuan kelulusan memang berdasarkan nilai ujian nasional dan nilai di sekolah. Kalau di sekolah Cefi juga tidak tahu apakah guru akan memberikan nilai kelulusan yang baik atau tidak.


“Mas … aku bodoh banget ya? Maaf ya, Mas, maaf ya, Mama, maaf ya, Papa.” kata Cefi yang langsung menangis terisak.

__ADS_1


“Baron! Jangan buat istrimu nangis!” seru Pak Pradana.


Baron seketika langsung tersadar akan hal tersebut. Baron pun langsung mengusap air mata istrinya,. “Enggak, Sayang. Liat deh, kamu lulus. Kamu lulus, kamu nggak bodoh!” kata Baron.


Cefi mencoba melihat ke arah suaminya. Ingin memastikan mengenai apakah suaminya berbohong atau tidak, namun yang terlihat dari mata suaminya adalah kejujuran, apakah benar begitu? Cefi sendiri menyangsikan keadaan tersebut.


“Benarkah?” tanya Cefi.


Baron tersenyum dan mengangguk, “Iya, saya nggak bohong, coba kamu lihat sendiri.” kata Baron.


Cefi pun langsung menoleh ke laptop Baron. Di sana ada keterangan ‘LULUS’ yang sengaja ditulis dengan huruf kapital. Dan yang lebih mencengangkan dan bahkan membuat mulut Cefi menganga dan matanya melotot adalah Nilai Ujian sekolah dan Ujian Nasional dirinya yang mendekati angka sempurna. Rata-ratanya adalah 9.


“MasyaAllah, itu nilai aku?” tanya Cefi yang seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat di seberang sana. Dia tidak menyangka kalau dirinya ternyata bisa mendapatkan nilai sembilan seperti itu.


“Enggak, Sayang. Itu nilai kamu. Coba aja diliat namanya, itu namanya Cefixime Xaviera Salim. Itu masih nama panjang kamu kan?” tanya Baron sambil terkekeh. Dia memang sengaja menggoda istrinya agar istrinya tidak terus menerus menangis.


“Mas, ….” kata Cefi.


Cefi langsung memeluk suaminya begitu saja, dia sangat senang akhirnya setelah usaha yang sangat panjang dan doa yang tak pernah putus, juga kemauan juga tekat yang kuat akhirnya mengantarkan Cefi ke sebuah hasil yang sangat sempurna untuknya.


Cefi tidak pernah menyangka kalau dia akan mendapatkan nilai rata-rata sembilan, karena dia hanya memberikan standar pencapaian tertinggi hanya 6 saja. Pokoknya asalkan dirinya bisa lulus, itu sudah membuatnya sangat bersyukur, Cefi tidak muluk-muluk meminta 9 karena hal itu sangat sulit untuk diraih, dia tahu diri. Namun ternyata rencana Tuhan lebih indah dari harapan hamba-Nya.


“Kamu hebat, selamat ya.” kata Baron sambil mengusap kepala istrinya sambil tersenyum.


Cefi pun menangis dan mengangguk di dalam pelukan suaminya. Kemudian setelah dia sudah sedikit tenang dia pun baru menyadari kalau di sana juga ada mertuanya. Dia pun langsung beralih kepada ibu mertuanya, di mana dirinya mencium tangan ibu mertuanya dan memeluk beliau, “Mama, terima kasih, aku lulus, Ma.” kata Cefi.


“Iya, Sayang. Kamu hebat banget., Mama banggta banget sama kamu.” kata Ibu Anes dengan raut wajah bahagia dan tulus.

__ADS_1


Kemudian, Cefi beralih kepada ayah mertuanya dan melakukan hal yang sama.


“Anak papa memang hebat. Papa sama Mama kamu di Surga pasti bangga sama kamu, Nak.” kata Ayahnya Baron.


Mendengar apa yang dikatakan oleh ayah mertuanya langsung membuat Cefi menangis lagi. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia yang ada di dalam hatinya, dia juga teringat kedua orang tuanya. Jadi ketika mendengar ucapan ayah mertuanya, Cefi tak kuasa membendung air matanya lagi.


Kemudian, Cefi pun melepaskan pelukannya dari ayah mertuanya.


Dia benar-benar merasa tidak menyangka. Dia terharu, dia rasanya ingin pergi menemui kedua orang tuanya di pemakaman.


“Mas, Ma, Pa, aku boleh ke makam?” tanya Cefi.


“Boleh, Sayang.” kata Ibunya Baron.


“Sangat boleh, Nak.” kata ayahnya Baron.


“Boleh dong, ayo biar saya antar.” kata Baron.


Kemudian, Cefi pun menganggukkan kepalanya. Lalu dia dan suaminya pun langsung pergi menuju ke pemakaman orang tua Cefi. Di sana Cefi pun langsung memberi salam dan menangis. Dia benar-benar sangat merindukan kedua orang tuanya.


Meskipun dia sangat bahagia dengan pernikahan dirinya, memiliki suami dan mertua yang sangat baik namun tetap saja Cefi merasa kalau seandainya kedua orang tuanya masih hidup, hidupnya tentulah akan jauh lebih sempurna.


“Mama, Papa, aku lulus. Aku lulus, nilaiku bagus rata-rataku sembilan …” Cefi menangis begitu saja.


Dia mengusap batu nisan ibunya. Dia tidak bisa menahan isakannya. “Maafin aku, Ma, Pa. Maafin aku karena kalian nggak bisa nyaksiin kelulusan aku. Aku …”


Baron mengusap bahu istrinya mencoba memberikan kekuatan.

__ADS_1


__ADS_2