Cinta Anak Kompleks

Cinta Anak Kompleks
BAB 58 - Pertemuan dengan Laki-Laki Aneh


__ADS_3

Cefi memilih untuk kembali ke bagian administrasi, dia tidak mau terlalu memikirkan apa yang dikatakan oleh dua orang mahasiswi tersebut. Meskipun entah di bagian mana dalam dirinya, dia merasa kalau orang yang mereka bicarakan memang Baron dan Andrea.


“Gue nggak boleh mikir kayak gitu. Nggak boleh mikir jelek.” kata Cefi.


Cefi pun langsung berjalan lagi. Namun tiba-tiba dia melihat Andrea sedang berbincang dengan seorang perempuan.


“Mana jam tangan lo? Gue udah buktiin kalau gue berangkat sama Kakak Baron. Gue bahkan sudah naik mobilnya dia. Udah deket banget sama keluarganya.” kata Andrea.


Cefi mengepalkan tangannya begitu saja. Apakah ini artinya dia datang ke sana karena Andrea hanya ingin mendapatkan jam saja? Jadi, ini adalah sebuah strategi? Apakah benar yang ada di pikirannya kalau ternyata Andrea datang tidak sungguh-sungguh untuk ke bagian administrasi saja?


“Ck. Nih!” kata seorang perempuan membuka jam tangan yang dipakainya dan langsung memberikannya kepada Andrea. Kemudian perempuan itu pergi begitu saja.


Andrea pun langsung memasukkan jam tangan itu ke sakunya dan duduk kembali. Cefi menghela napas, dia tidak tahu kalau Andrea diam-diam berkelakukan seperti ini. Sepengetahuan dia, Andrea adalah anak yang polos. Bahkan dia hanya menjawab apapun yang dia tanyakan sekenanya.


Dia maksudnya kenapa sih? -batin Cefi.


Cefi ingin menanyakan mengenai apa yang terjadi kepada Andrea dia juga sangat ingin mengatakan kepada Andrea la;au dirinya sebenarnya sudah tahu apa yang terjadi, dia ingin meminta klarifikasi. Namun, jika dilihat dari situasi yang ramai, dia tentu tidak akan pernah bisa melakukannya.


“Andrea!” panggil Cefi.


Andrea pun langsung mendongak, sedikit terkejut namun raut wajahnya kembali seperti semula, “Udah?” tanya Andrea.


Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja, “Kamu udah bayaran?” tanya Cefi.


“Nggak bayar, cuma ambil tagihan aja.” kata Andrea.


“Kenapa cuma ambil tagihan?” tanya Cefi.


“Belum dikasih uang sama papa.” kata Andrea.


Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja, dia tahu kalau Om Soni sedang tidak bekerja sehingga dia pun memaklumi apa yang terjadi.


“Banyak banget emangnya?” tanya Cefi.

__ADS_1


Andrea menganggukkan kepalanya begitu saja. Cefi pun langsung melirik ke kertas itu, di sana sudah ada tertera tagihan bayaran itu. Ada nominam sekitar 25 juta. Cefi menghela napas, itu mahal sekali. Cefi jadi berpikir mengenai jam tangan tadi. Apakah itu adalah salah satu cara Andrea untuk mendapatkan uang.


Gue perlu marahin dia apa nggak kalau begini ya? - tanya Cefi.


Cefi menghela nafas, sepertinya di saat-saat seperti ini dia sangat membutuhkan teman-temannya. Dia sangat yakin kalau teman-temannya memiliki solusi. Dia bukannya mengadu hanya saja sedang mencari solusi.


Cefi malu kalau harus menceritakan semuanya kepada Baron karena mau bagaimanapun dia sudah begitu banyak merepotkan Baron. Bukan maksudnya Cefi tidak mau merepotkan Baron kagi, bukan, dia hanya ingin mencari solusi sendiri untuk masalah kali ini. Lagi pula sebenarnya ini tidak besar.


“Dua puluh lima juta dan belum bayar?” tanya Cefi.


Andrea tersenyum kecut, “Nggak papa, nanti juga dibayar papa.” kata Andrea.


Gimana caranya? Kan bokap lo nganggur? -batin Cefi.


Cefi menganggukkan kepalanya begitu saja. Dia tentu tidak akan tega untuk mengatakan hal seperti itu. Dia masih memiliki hati dan sekarang tengah digunakan.


“Kita ke kantin aja kali ya?” kata Cefi.


“Boleh, ayo.” kata Andrea.


“Drea!” seru seorang mahasiswa.


“Minggir lo!” kata Andrea yang sewot.


“Ntar malem ya, please.” kata mahasiwa tersebut.


Andrea seketika langsung melotot dan langsung mendorong laki-laki itu, “Ntar biar gue ke rumah lo. Tugas lo cuma nunggu gue.” kata Andrea.


Laki-laki itu tampak senang. Kemudian dia langsung mencubit pipi Andrea. Cefi hanya melihat dengan tatapan yang aneh, namun dia tidak begitu terkejut mungkin anak kuliah memang seperti itu. Namun, satu hal yang berhasil mencuri perhatiannya.


“Emang mau ngapain nanti malam?” tanya Cefi.


“Oh, biasa tugas, ada deadline dan ya, kayak gitu deh. Kerja kelompok di rumahnya, semuanya sudah sepakat dan kemarin aku bilang gak bisa tapi sekarang mau gak mau harus ke sana.” kata Andrea.

__ADS_1


Cefi pun menganggukkan kepalanya. Dia memang pernah mendengar kalau tugas mahasiwa banyak sehingga dia pun menduga kalau sekarang pun Andrea sedang berada di masa itu.


Di mana suaminya? Bimbingan di mana? Bagaimana bimbingannya? Apakah lancar? Pertanyaan itu muncul dengan tiba-tiba. Cefi pun langsung mengeluarkan ponselnya setelah mereka duduk di salah satu bangku. Saling berhadap-hadapan dengan Andrea.


“Kamu mau minum apa?” tanya Andrea.


Cefi menoleh ke kanan dan ke kiri. “Apa aja deh, samain aja sama kamu.” kata Cefi. Cefi memberikan uang seratus ribu kepada Andrea, “Aku dikasih uang sama Mas Baron, buat kita berdua.” kata Cefi.


Andrea pun menganggukkan kepalanya begitu saja. Kemudian Andrea pun langsung pergi begitu saja, dan membiarkan Cefi sendirian.


Tiba-tiba ada seseorang yang duduk di samping Cefi. Cefi terkejut bukan main, dia tidak mengenal laki-laki itu.


“Hai!” sapa laki-laki itu.


“Siapa?” tanya Cefi kebingungan.


Laki-laki itu mengulurkan tangannya ke arah Cefi, “Gue Riza. Kayaknya gue baru liat lo?” tanya laki-laki itu.


Cefi tidak mau menjabat tangan Riza, lagi pula buat apa? Dia tidak minat sama sekali berjabatan tangan dengan orang asing.


“Gue nggak mau memperkenalkan diri. Gue nggak nyaman sama orang asing.” jawab Cefi.


Laki-laki yang bernama Riza pun menarik tangannya dan terkekeh. Dia baru sekali menemukan perempuan yang to the point seperti Cefi. Dia tidak mengira kalau wajah tampannya tidak bisa digunakan untuk sekedar berjabat tangan Cefi yang menrurutnya sangat cantik dan menyita perhatiannya.


“Bisa-bisa … menarik juga. Lo kelas berapa? Jurusan apa? Siapa tau kita satu jurusan.” kata Riza.


Cefi memutar bola mata. Dia pun malu kalau dia mengatakan kepada Riza kalau dirinya masih SMA. Sehingga dia pun memutar otak. “Gue nggak mau jawab juga.” kata Cefi akhirnya.


Riza kembali tertawa, puas sekali, “Kalau nomor telepon boleh kan?” tanya Riza.


“Sorry, gue nggak punya telepon.” jawab Cefi.


“Itu?” tanya Riza menunjuk ponsel Cefi yang kini ada di tangan Cefi. Cefi memang awalnya ingin menghubungi suaminya namun ternyata laki-laki itu keburu datang.

__ADS_1


“Ini namanya hape. Maaf ya, Bang. Gue nggak minat sama lo. Kalau mau duduk. Duduk di tempat lain aja. Gue udah punya suami.” kata Cefi.


Riza pun tertawa lagi, “Hahahaha, bercanda lo gak lucu banget dah, lo udah punya suami? Hahaha gue sebagai laki-laki normal tau kali mana yang udah punya suami mana yang belum.” kata Riza.


__ADS_2