
Cefi tidak tahu harus membawa Daren ke mana, namun yang jelas dia harus menjauhkan Daren dari Baron kalau dia tidak melihat perang dingin mereka.
“Daren, kita harus bicara.” kata Cefi.
“Kalian ada hubungan apa?” tanya Daren penuh selidik.
Cefi terkejut setengah mati, namun dia tidak bisa mengatakan apa yang terjadi kepada Daren. Meski Daren adalah pacarnya namun ntah mengapa rasanya dia tidak bisa percaya sepenuhnya kepada Daren. Cefi juga tidak tahu mengenai apa yang terjadi.
“Nggak ada hubungan apa-apa.” kata Cefi.
“Ck, kenapa nggak minta uang sama aku aja sih?” tanya Daren.
“Aku nggak mau dianggap cewek matre, Daren.” kata Cefi.
Beberapa teman Daren tiba-tiba lewat, dan Daren seperti menegur mereka namun mata Daren terlihat kodong, tatapannya sangat aneh saat ini.
“Nanti, kamu mau pergi kan sama aku?” tanya Daren.
Cefi terdiam sebentar, “Oke.” jawab Cefi.
Cefi merasa kalau ini adalah saat yang tepat. Cefi tidak tahu apakah yang dikatakan oleh Baron atau teman-temannya mengenai Daren hal yang benar atau tidak, namun yang jelas, dia merasa kalau hubungan Cefi dan Baron semakin renggang.
Cefi bahkan terbiasa dengan ketiadaaan Daren di sisinya. Mendengar Daren selingkuh saja rasanya tidak sesakit dulu. Dia merasa harus mengakhiri hubungan ini, dan nanti malam adalah waktu yang tepat.
***
Cefi pun memoles wajahnya dengan make up. Kali ini dia menggunakan kaos warna pink dan juga celana jeans, dia sudah siap pergi bersama dengan Daren.
“Mau ke mana lo?” tanya Baron.
“Mau pergi sama Daren.” kata Cefi.
“Ck, batu benget sih dibilangin.” kata Baron.
Belum selesai menjawab, suara klakson motor berbunyi.
Cefi pun langsung bangkit dan menyambar tasnya dan langsung keluar dari kamarnya, Baron hanya bisa menggelengkan kepalanya, “Gue pergi dulu!” kata Cefi.
Cefi pun berjalan menghampiri Daren. Dia tidak memperdulikan Baron. Dia berencana untuk memberitahukan Baron kalau dirinya sudah putus dengan Daren setelah benar-benar putus.
“Ini, pake.” kata Daren memberikan sebuah helm kepada Cefi.
“Makasih ya.” kata Cefi.
__ADS_1
Daren menganggukkan kepalanya. Kemudian, Daren pun langsung melajukan kendaraannya menembus jalanan membawa Cefi pergi ke tempat yang dia inginkan.
“Kita mau ke mana?” tanya Cefi.
“Ke vila. Di sana sudah ada teman-teman aku, kamu jangan khawatir.” kata Daren,
Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja, “Daren … aku mau tanya.” kata Cefi.
“Nanti aja kalau udah sampe.” kata Daren.
“Oke.” jawab Cefi.
Mereka pun sampai di tempat yang dituju, kemudian, Cefi pun turun, dia mengamati vila itu dengan ragu, vila itu jauh dari rumah warga, seketika jantungnya berdegup dengan sangat kencang, dia merasa takut. Namun, Daren terlihat biasa saja, bahkan terlihat dingin.
“Daren …” panggil Cefi menahan tangan Daren.
“Kenapa?” tanya Daren.
“Aku mau pulang aja.” kata Cefi.
“Nggak, nanti lo pulang sama gue. Ayo, masuk dulu!” kata Daren.
“Tapi aku takut.” cicit Cefi.
Cefi menghela napas, kemudian akhirnya dia pun memutuskan untuk mengekori Daren. Cefi memilih duduk di sofa. Di sana tidak ada siapapun, jantung Cefi jadi tambah berdebar. Dia rasanya ingin menangis.
“Yang lain ke mana?” tanya Cefi.
“Belum dateng. Kamu mau minum apa?” tanya Daren.
“Nggak usah repot-repot. Daren, di sini aja, ada hal yang mau aku sampein ke kamu.” kata Cefi.
“Sebentar. Nggak enak kalau gak sambil minum, perjalanan jauh, lo udah pasti haus kan?” kata Daren.
Cefi menghela napas. Dia pun menganggukkan kepalanya dengan pasrah, kemudian Daren pun masuk ke dalam, sedangkan dia memutuskan untuk berada di sana.
Cefi langsung mencoba mencari ponselnya. Dan betapa menyesalnya dia, dia lupa membawa ponsel. Dia pun mencoba berpikir positif, rasanya tidak mungkin kalau Daren akan melakukan hal macam-macam. Mungkin Daren memang sedang ingin party, itu saja.
Tak lama kemudian, Daren datang dengan dua jus jeruk untuk mereka berdua.
“Ini, minum dulu.” kata Daren.
Cefi pun menurut saja, dia langsung meminum minuman yang diberikan oleh Daren setelah melihat Daren juga meminum minuman milik Daren.
__ADS_1
“Daren, ada yang mau aku tanyain sama kamu.” kata Cefi yang terus menepis rasa takutnya.
“Apa?” tanya Daren.
“Apa yang temen-temen aku bilang itu bener? Katanya kamu jalan sama cewek lain dari kemarin di belakang aku.” kata Cefi.
Daren mendekatkan tubuhnya di sisi Cefi.
“Kamu percaya sama temen-temen kamu?” tanya Daren.
Cefi menggelengkan kepalanya, “Aku nggak percaya, tapi mereka selalu bilang begitu.” kata Cefi.
“Kok kamu lebih percaya sih sama mereka? Kan aku pacar kamu.” kata Daren.
Cefi terdiam. Kini Daren membalikkan tubuh Cefi agar menghadap ke arahnya, “Kamu meragukan aku?” tanya Daren sambil memegangi tangan kanan dan kiri Cefi.
“A-aku … ,” Cefi pun menggelengkan kepalanya.
Daren pun mendekatkan wajahnya pada Cefi, sasaran empuknya adalah bibir Cefi. Jantung Cefi berdegup dengan sangat kencang namun kali ini bukan karena jatuh cinta melainkan takut, Cefi pun menoleh, “Jangan begini, Daren.” kata Cefi.
“Selama pacaran kita belum ciuman loh, masa kamu nggak mau ciuman sama aku, pacar kamu sendiri?” tanya Daren.
Daren terus berusaha mencium Cefi, namun Cefi meronta-ronta. Tiba-tiba kepalanya pusing, semua terasa berkunang-kunang. Daren langsung mencium bibir Cefi dengan kasar. Cefi pun mencoba mendorong tubuh Daren dengan sekuat tenaga.
Kemudian, Cefi pun lari. “Kamu gila, Daren!” seru Cefi sambil menangis.
Cefi pun berlari, namun Daren mengejarnya dan menangkapnya dengan mudah, “Aku gak bakalan lepasin kamu. Bersenang-senanglah sama aku, Cefi. Hahahaha!” kata Daren.
Di tempatnya, Cefi ketakutan setengah mati, “Kamu gila, Daren, jangan! Brengsek!” seru Cefi ketakutan dan mencoba meronta-ronta.
Cefi terus menendang-nendang Daren dan membuat Daren kehabisan akal dan menampar Cefi. Lalu detik berikutnya, Daren mulai melancarkan aksinya. “Gue bakalan dapet motor baru!” serunya. “Gue menang, Guys!” seru Daren ke arah ponsel yang ternyata sedang melakukan live streaming.
“Jangan!” seru Cefi sambil menangis ketakutan.
Cefi tidak pernah mengira kalau ternyata Daren memacarinya hanya karena sebuah motor dan dia bahkan hendak melakukan tindakan asusila kepada Cefi.
Daren mulai menciumi bibir Cefi, Cefi terus berteriak, “Tolong! Tolong!” seru Cefi sambil mencoba menghindari teriakan-teriakan itu.
“Kamu teriak cuma abisin tenaga, Sayang. Nggak bakalan ada yang denger.” kata Daren sambil tertawa dengan jenis tawa yang sangat mengerikan.
Daren merobek paksa baju yang dikenakan oleh Cefi. Hal itu sangat menyakiti hati Cefi.
“Baron …” ringisnya, “Tolong aku.”
__ADS_1
Cefi menangis, kepalanya begitu pusing, Daren mulai menggerayanginya. Air ata Cefi pun jatuh, seketika gelap, tidak ada yang bisa diingat lagi setelah itu.