Cinta Anak Kompleks

Cinta Anak Kompleks
BAB 82 - Tanda-Tanda


__ADS_3

Waktu terus berlalu, Om Soni dijatuhi hukuman penjara 7 tahun, istrinya 5 tahun, Andrea 3, dan Riza 3 tahun. Cefi tidak tahu apakah itu adalah waktu yang adil atau tidak namun yang jelas, semoga saja hukuman itu bisa memberikan efek jera untuk Om dan keluarganya tersebut.


Riza ternyata adalah mantan pacar Andrea yang turut membantu keluarga Andrea melancarkan aksinya.


Semua harta yang dimiliki Om Soni kembali kepada Cefi, hanya saja Cefi harus kehilangan mobilnya karena mobil itu ntah telah dijual kepada siapa dan masih dalam penyelidikan, dan setengah uang asuransi sebesar 1 M.


Cefi menjalani hari-harinya dengan biasa kembali, dia sangat bersyukur dikaruniai suami dan juga mertua yang begitu baik dan selalu ada di sisinya, kalau dia tidak memiliki suami dan mertua yang baik, entahlah bagaimana nasib Cefi selanjutnya.


“Oeeekkk!” Cefi merasa peutnya mual.


Entah mengapa sudah dua hari ini dia merasa tidak enak badan. Tiga hari lagi adalah Ujian Nasional. Dia sudah digembleng habis-habisan oleh suaminya dengan soal-soal ujian yang kemungkinan akan keluar dalam ujian nasional.


“Kamu sakit?” tanya Baron.


“Kayaknya aku masuk angin deh, Mas. Dari kemarin aku begadang buat belajar.” kata Cefi.


“Yaudah, nggak suah ke sekolah dulu.” kata Baron.


Cefi menggelengkan kepalanya begitu saja. “Aku nggak mau bolos, Mas.” kata Cefi.


“Dari pada kamu sakit di sekolah.” kata Baron.


“Mending sakit di sekolah, Mas. Ada kamu.” kata Cefi.


Baron pun menggelengkan kepalanya, istrinya, padahal sedang sakit tetap saja menggombalinya. Baron mengambil minyak angin dan memberikannya kepada Cefi, tanpa disuruh dia langsung mengolesinya di perut dan leher.


“Aku kayak orang jompo.” kata Cefi sambil terkekeh begitu saja.


“Iya, kayak lansia.” kata Baron.


***

__ADS_1


Ini adalah hari terakhir Baron di sekolah Cefi, sudah genap 6 bulan keberadaannya di sekolah. Segala upaya sudah dia lakukan untuk membuat murid-murid bebalnya itu mau belajar dan mau diajari. Semua guru tidak ada yang mensupport Baron, namun meski begitu Baron tetap melaksanakan tugasnya dengan baik.


Baron percaya kalau Tuhan tidak tidur dan proses tidak akan mengkhianati proses.


”Kalian sudah mencapai tahap ini, itu adalah sebuah pencapaian yang luar biasa. Saya tahu seberapa gigihnya kalian dalam belajar belakangan ini, dan saya hanya bisa berdoa untuk keberhasilan kalian. Untuk semuanya, jangan ada yang membeli bocoran jawaban, , kalian harus percaya pada kemampuan kalian sendiri. Jangan mau dianggap rendah oleh orang lain, tunjukkan kepada orang-orang yang suka membanding-bandingkan kalian, menganggap remeh kalian dengan prestasi yang kalian punya. Saya tidak menuntut kalian untuk mendapatkan nilai yang besar, tapi saya meminta kalian berjuang sedikit lagi dan jujur dalam mengerjakan soal yang diberikan.” kata Barn dengan raut wajah serius.


“Dan ini juga pertemuan terakhir saya dengan kalian, karena hari ini genap 6 bukan saya di sini menemani kalian, terimakasih sudah menjadi murid yang cukup menyenangkan meskipun sedang membuat saya kesal.” kata Baron.


Teman-teman Cefi tertawa namun juga merasa sedih. Diantara guru yang lain, hanya Baron saya yang menganggap mereka seperti manusia, dan melihat mereka sama seperti murid yang lainnya, tidak ada raut wajah mencemooh atau apapun.


“Maaf juga apa bila selama saya mengajar, saya membuat kalian kesal, marah, atau bahkan stres. Tapi percayalah, kalau semua yang saya lakukan ini dilakukan karena saya ingin kalian semua berhasil. Orang tua kalian sudah menitipkan kalian kepada saya, saya hanya mencoba memberikan yang terbaik yang saya bisa.” kata Baron.


Beberapa teman Cefi pun menangis. Cefi hanya bisa tersenyum melihat suaminya yang masih dengan gagah berada di sana mengatakan kalimat perpisahan.


“Hari ini saya masih di sekolah sampai jam pulang sekolah, kalau kalian ada yang mau tanya tentang soal UN silakan datangi saya di kantor. Seklai lagi terima kasih dan maaf, saya pamit undur diri assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatu.” ucap Baron.


“Waalaikumsalam wa rahmatullahi wa barakatuh, makasih ya, Pak!”


“We love you, Bapak!”


“Pak Baron dabest!”


***


Hari Ujian Nasional.


Semakin hari, Cefi semakin lemah, namun dia tidak mau menunjukkan kepada suaminya kalau dia sedang sakit. Dia tidak mau kalau sampai suaminya khawatir. Dia bahkan sampai memakai memakai riasan tipis untuk menyembunyikan kepucatannya.


Kini Cefi sudah ada di meja makan. Dia sedang makan bersama dengan suaminya. Pagi ini Baronlah yang memasak. Memasak sayur sop dan juga ayam goreng kesukaan Cefi. Namun, ntah mengapa Cefi langsung merasakan perutnya mual-mual.


“Sebentar, Mas.” kata Cefi.

__ADS_1


Cefi pun langsung pergi ke toilet, hampir setiap pagi dia seperti itu, mual setiap mau makan. Cefi tidak tahu apakah yang terjadi pada tubuhnya namun yang jelas dia terus mual begitu saja.


“Kamu kayaknya sakit deh, Sayang. Kita ke dokter ya?” kata Baron di pintu.


“Nggak mau, Mas. Tiga hari ini aku ujian, aku nggak mau kalau sampai gak ikut ujian.” kata Cefi.


“Yaudah nanti pulang sekolah ya?” tanya Baron.


“Aku mau belajar, Mas. Aku mau banggain orang tua aku, mau banggain kamu juga.” kata Cefi.


“Jangan dipaksain, Sayang.” kata Baron.


Cefi menggelengkan kepalanya, “Aku mau berjuang, Mas. Please.”


Baron menghela napas, dia tahu bagaimana rajinnya Cefi belajar untuk mendapatkan nilai yang bagus dan bisa lulus dengan nilai memuaskan. Baron tidak bisa mematahkan semangat istrinya.


“Yaudah, kalau begitu kamu harus minum obat.” kata Baron.


Cefi menganggukkan kepalanya begitu saja.


Cefi kembali ke meja makan, Cefi mencoba memaksakan makan, namun dia tidak bisa, rasa mual itu kembali muncul. Baron pun memberikan buah kepada Cefi, kemudian Cefi memakannya. Baron entah mengapa sedikit curiga dengan tingkah Cefi yang terus menerus mual. NAmun, Baron tidak yakin apakah dia harus mengatakan dugaannya atau tidak sebab istrinya sedang ujian,.


“Sayang …” panggil Baron.


“Kenapa?” tanya Cefi yang tengah menikmati buah naga.


“Saya anter dan jemput hari ini ya?” tanya Baron.


Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja. Kemudian, seusai sarapan, mereka pun berangkat ke sekolah Cefi. Baron mengantarkan Cefi dengan senang hati, dia tidak ada kegiatan hari ini, jadi dia lebih memilih untuk menunggu Cefi selesai Ujian di sekolah.


Ujian pun brlangsung ketegangan yang tidada terkira dirasakan oleh semua murid d SMA tersebut. Untuk kelas 11 dan kelas 10 memang diliburkan, hal itu agar tidak ada yang mengganggu proses ujian. Mereka yang menghadapi ujian hari ini tentulah membutuhkan konsentrasi yang tinggi sehingga tidak bisa diganggu.

__ADS_1


“Bismillahirrahmanirrahim.” ucap Cefi. Cefi langsung berdoa agar diperlancar.


Cefi menoleh ke kanan dan ke kiri melihat raut wajah teman-temannya.


__ADS_2