Cinta Anak Kompleks

Cinta Anak Kompleks
BAB 93 - Kabar Mengejutkan


__ADS_3

Hari terus berlalu hingga tidak terasa waktu lahiran semakin dekat. Hari-hari Cefi kini terasa menyenangkan, dia bahkan merasa sangat bahagia. Suaminya begitu menyayanginya bahkan cenderung memanjakan Cefi sehingga Cefi merasa begitu diperhatikan.


Cefi tengah menelpon suaminya. Suaminya sudah diterima kerja di salah satu perusahaan besar dengan gaji awal yang cukup besar.


“Halo, assalamualaikum, Suamik. Pulang jam berapa?” tanya Cefi.


Cefi menelepon sambil berjalan menuruni tangga.


“Waalaikumsalam, Istri. Ini sebentar lagi pulang, kenapa? Kangen ya?” tanya Baron.


“Iya, aku kangen kue cubit.” kata Cefi.


“Kangen saya kali.” kata Baron.


Cefi pun terkekeh begitu saja.


BUG!


Aduh!


Cefi tak sengaja jatuh terpeleset, beruntung tidak terjadi sesuatu seperti pecahnya air ketuban atau pendarahan. Namun, kaki Cefi terasa sakit.


“Halo, Sayang? Halo?” Baron pun panik.


“Mas, aku jatuh, nanti aku sambung lagi ya.” kata Cefi.


Baron di kantornya langsung mengambil tasnya dan langsung pamit pulang untuk bosnya. Bagi Baron, dia tidak begitu takut kehilangan pekerjaannya, dia hanya takut kalau kehilangan keluarganya. Baron memang sangat menjaga istrinya sehingga ketika melihat hal seperti tadi terjadi, dia langsung berlari begitu saja.


Yang ada di dalam kepala Cefi hanyalah istri dan anaknya.


Cefi mencoba pelan-pelan jalan ke sofa, dia tidak mau membuat suaminya khawatir, sehingga dia pun langsung mencoba menelpon suaminya namun tidak diangkat. Cefi tidak tahu ke mana suaminya, namun kakinya sakit sekali.

__ADS_1


Cefi pun meringis.


Tak lama kemudian, Baron pun datang ke rumah, rambutnya berantakan terlihat sekali kalau suaminya itu pulang tanpa menggunakan helm. Baron memang memilih untuk berangkat bekerja menggunakan motor agar bila terjadi apa-apa dengan istrinya, dia bisa langsung pulang dengan cepat. Kalau dia membawa mobil, maka dia harus rela mencicip macet terlebih dahulu.


“Sayang, apa yang terjadi?” tanya Baron.


“Aku nggak papa, Mas. Cuma keseleo kayaknya kakiku, jadi sedikit bengkak.” kata Cefi.


“Kamu jatuh dari mana?” tanya Baron.


“Cuma jatuh dari tangga, Mas.” kata Cefi.


“Cuma?!” tanya Baron sedikit berteriak sampai membuat Cefi terkejut setengah mati. “Mas?” tanya Cefi.


“Kita ke rumah sakit!” seru Baron.


Baron langsung mengangkat istrinya di depan, ala bidal. Kemudian, dia pun langsung membawa istrinya ke mobil. Kemudian, mereka pun langsung ke rumah sakit.


***


“Mas … kenapa ini semua terjadi pada anak kita?” tanya Cefi.


Baron juga syok bagaimana mungkin ini bisa terjadi. Sebelumnya, Cefi sudah di USG, namun ada satu hal yang membuat Cefi dan Baron begitu terpukul.


Cefi kembali mengulang-ulang bayangan ketika Dokter menjelaskan mengenai kondisi salah satu jari anaknya yang terlihat hanya ada empat. Hal itu terlihat jelas di layar, Dokter tidak mengada-ada, beliau menunjukkan kabar tidak mengenakkan itu ketika mereka melakukan pemeriksaan tadi.


Kaki Cefi sudah diperban, namun bukan itu yang membuatnya merasakan nyeri di dadanya, melainkan keadaan bayinya. Dokter memprediksi kalau bayi yang akan dilahirkannya hanya berjari 9, di mana salah satu tangan bayi tersebut jarinya hanya ada 4 sedangkan yang satunya lagi terlihat normal.


“Sayang … jangan menangis lagi.” kata Baron yang sudah tidak tega melihat istrinya menangis.


Baron tidak bisa membayangkan perjuangan istrinya, di mana Istrinya harus mengandung bayinya dan kini harus mendengarkan kabar kalau jari anak mereka tidak normal.

__ADS_1


“Kita berdoa saja sama Allah SWT, minta yang terbaik.” kata Baron.


“Maaf, Mas. Maaf karena Mas akan punya anak cacat.” kata Cefi. Saat mengatakannya dia langsung histeris, Baron langsung memeluk istrinya begitu erat, matanya juga sudah memerah, menahan tangis, dia tidak mau menangis namun bagaimanapun dia hanyalah manusia biasa yang memiliki emosi. Matanya pun berkaca-kaca, menandakan kalau Baron hanyalah manusia biasa.


“Sayang, jangan ngomong kayak gitu. Dianugerahi anak saja aku sudah senang, aku akan menerima bagaimanapun kondisi anak kita, kamu yang tenang ya, tadikan hanya prediksi dokter. Dokter itu manusia biasa Sayang bukan Tuhan.” kata Baron.


Baron mencoba menenangkan hati istrinya. Biar dia yang memikirkan bagaimana nanti, lagi pula meskipun Baron juga sangat sedih namun dia tetap ingin terlihat tegar di depan mata istrinya.


Cefi pun menangis di dalam pelukan suaminta.


Tak lama kemudian, Ibu Anes yang tengah menggendong bayi laki-laki beliau datang ke rumah Cefi dan melihat bagaimana Cefi yang histeris menangis di dalam pelukan Baron.


Cefi benar-benar perempuan yang sangat istimewa. Di mana hidupnya banyak sekali mengalami ujian. Kalau mengutip kalimat dari Ustazah Aisyah ketika Cefi mempertanyakan nasibnya yang selalu mengalami masalah dan bagaimana bisa Cefi melewati masalah-masalah yang kelewat besar itu, kira-kira begini, “Allah sudah mengatakan dalam Al-Quran bahwa bersama kesulitan ada kemudahan, itu artinya permasalahan datang bersama dengan solusinya. Allah juga tidak akan memberikan cobaan yang melebihi kemampuan yang hambanya miliki.”


Mungkin Cafi adalah salah satu manusia pilihan yang sedang diuji untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi, dan istilah mudahnya adalah agar dia bisa naik level.


Pak Pradana pun datang di samping istrinya. Beliau juga merasa tidak tega dengan keadaan Cefi, begitu banyak yang Cefi alami.


“Nak, yang sabar ya, ini ujian untuk kalian, mungkin masalah-masalah yang datang pada kalian adalah salah satu upaya agar kalian bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi.” kata Pak Pradana.


Cefi dan Baron menganggukkan kepalanya begitu saja. Namun, Cefi masih menangis di tempatnya. Dia masih merasa sedih meskipun dia sudah mendapatkan support dari kedua mertuanya juga suaminya.


Cefi yang memang sedari tadi menangis, pun langsung tertidur karena kelelahan, Baron yang melihat bagaimana istrinya tertidur pun langsung membawa Cefi ke kamar dan membaringkannya di atas tempat tidur, dia tahu kalau Cefi sangat lemah.


“Maafkan saya, Xaviera.” kata Baron sambil menangis.


Setelahnya, Baron pun keluar kamar dan menghampiri kedua orang tuanya dan menjelaskan mengenai apa yang terjadi secara detail. Kedua orang tuanya tentu ingin meminta penjelasan mengenai apa yang terjadi, meskipun dalam telepon, Baron sudah menjelaskan secara singkat.


Di kamarnya, Cefi pun terisak, iya … dia tidak tidur. Bagaimana dia bisa tidur dalam keadaan seperti ini. Dia pun langsung merasa marah kepada siapa saja.


“Ya Allah, apakah cobaanku belum cukup?” tanya Cefi.

__ADS_1


Amarah di dadanya begitu membuncah. “Apakah begitu sulit engkau membahagiakan aku?” tanya Cefi.


Cefi kembali menangis lagi. Bagaimana pun dia tidak tahu mengenai apa yang harus dia lakukan lagi. Yang jelas dia ingin menangis sepuasnya di dalam kamar tersebut. Sendirian, tidak ada yang melihatnya. Dia sudah banyak membuat suami dan mertuanya terbebani selama ini. Dia sungguh tak ingin membebani mereka lagi dengan kesedihannya.


__ADS_2