Cinta Anak Kompleks

Cinta Anak Kompleks
BAB 80 - Penangkapan


__ADS_3

Motor Riza dan Baron pun melesat begitu saja. Baron sudah mencoba menghubungi kepolisian untuk mengatakan keberadaan Andrea dan meminta bantuan untuk melacak kepergian Andrea dan menngikuti Andrea karea keungkina Andrea akan berteu dengan orang tuanya.


Riza dan juga Andrea terus mengekori Andrea hingga sampai berada di salah satu kontrakan. Namun, mereka harus menghela napas dan menelan mentah-mentah keinginan mereka meringkus orang tua Andrea.


Sepertinya, mereka harus bersabar.


***


Seminggu berlalu dna tidak ada pergerakan dari Andrea. Polisi sudah memanggil Andrea untuk dimintai keterangan namun Andrea hanya menjawab tidak tahu, dia hanya menjelaskan semua yang dikatakan olehnya kepada Cefi. Hingga akhirnya Andrea pu dikeluarkan lagi dari penjara.


Baron meminta kepada pihak kepolisian untuk terus mengawasi Andrea karena firasatnya mengatakan kalau Andrea sebetulnya sekongkol. Bagaimanapun, Baron merasa janggal kalau memang Andrea ditinggal oleh orang tuanya, sebab, Andrea ini adalah satu-satunya anak yang dimiliki oleh Om Soni. Seharusnya Andrea menjadi putri kesayangan mereka.


Apalagi interaksi Om Soni dan Tante Sonya di rumahnya yang menunjukkan kalau mereka sayang sekali kepada anak mereka tersebut.


“Kenapa nggak ada tanda-tanda Andrea nggak ketemu sama orang tuanya? Ini terlalu rapih.” gumam Baron.


“Kalau gua boleh kasih kemungkinan, Bang. Kayaknya dia itu cuma mau ngulur waktu. Ngabisin duit sebanyak itu pasti butuh waktu kan?” tanya Riza.


Sekarang Baron lebih suka berbicara dengan Riza. Walaupun dia tidak suka dengan Riza yang sepertinya menyukai istrinya namun dia merasa aRiza mengerti soal Andrea. Riza bahkan seperti tahu apa saja yang ada di kepala Andrea. Hal itu ternyata dikarenakan dia pernah menjadi bahan playing victim seorang Andrea.


Baron terdiam, apa yang dikatakan oleh Riza memang ada benarnya.


Sehingga mereka pun harus bertindak yang lebih jauh. Riza membuka laptopnya, dia melacak keberadaan Andrea. “Ini, hapenya pasti ditinggal di kosan jadi dia kelihatan di kosan terus dan gak ke mana-mana.” kata Riza. “Soalnya gue liatin dia gak ke mana-mana padahal, seorang Andrea ini nggak pernah bisa diam di kosan aja.” kata Riza.


Baron membenarkan apa yang dikatakan oleh Riza. Semakin Riza menjelaskan lebih jauh, entah mengapa Baron sekin curiga kepada Riza.


Jika merunut pertemuan Riza dengan istrinya yang terjadi ketika istrinya tengah bersama dengan Andrea, kebetulan dia yang memberikan isyarat kepada istrinya kalau Andrea bukan orang baik, lalu, dia tahu keberadaan Andrea, dan terakhir dia memberikan banyak informasi Detail, membuat Barong mencurigai kalau dia sebetulnya terlibat dalam hal ini.


“Oh iya, lo bener juga.” kata Baron.


“Yaudah kalau gitu, kasih tau pihak kepolisian aja, Bang., gue pulang dulu soalnya gue mau main ke rumah temen gue, dia ngadain party,” kata Riza.


Baron pun menganggukkan kepalanya begitu saja. “Tengkyu ya.” kata Baron.

__ADS_1


“sip, sama-sama, Bang. Kalau ada apa-apa, lo bisa kabarin gue.” kata Riza.


Baron pun menganggukkan kepalanya begitu saja.


Kemudian, Riza pun pergi dari rumah tersebut, kemudian Baron pun langsung menghampiri Cefi. Cefi masih bengong di tempatnya, dia bingung harus melakukan apa.


“Kayaknya Riza sekongkol sama Andrea.” kata Baron.


Cefi membulatkan matanya terkejut setengah mati, “Apa? Kita harus kasih pelajaran sama dia” seru Cefi.


Baron menggelengkan kepalanya, “Kita bakalan jadiin dia umpan, kamu anggap nggak tau aja ya?” kata Baron.


Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja.


Baron langsung menghubungi pihak kepolisian yang membantu proses penyelidikan ini, kejmudian memberitahukan mengenai praduganya. Kemudian pihak kepolisian langsung melakukan pengawasan juga kepada Riza.


***


Ponsel Baron berdering, Baron buru-buru mengangkat teleponnya, belakangan ini Baron tidak tidur, dia juga kasihan melihat istrinya yang mulai malas makan dan sering melamun. Sebagai suami, dia sangat merindukan istrinya yang ceria.


“Selamat Siang, Pak Baron.” sapa polisi terlebih dahulu.


“Selamat siang, Pak.” jawab Baron. Baron memang masih menunggu kabar, dia sangat berharap dan terus berdoa agar Om Soni segera tertangkap dan semuanya kembali seperti semula.


“Kami ingin menyampaikan kalau kami sudah berhasil menemukan tersangka.” kata polisi di seberang sana.


Baron membelalakkan matanya, “Baik, Pak. Kami akan segera ke sana.” kata Baron.


Cefi pun menoleh ke arah suaminya seakan bertanya ada apa melalui tatapannya, “Ada apa?” tanyanya yang tak tahan hanya sekedar menatap.


“Om Soni sudah tertangkap.” kata Baron.


Cefi pun membelalakkan matanya, “Benar, Mas? Kamu nggak bohong kan?” tanya Cefi.

__ADS_1


Baron menggelengkan kepalanya begitu saja, “Untuk apa saya bohong. Kamu mau ke sana?” tanya Baron.


Cefi menganggukkan kepalanya begitu saja.


Kemudian, mereka pun berangkat, Baron tidak lupa juga menelepon kedua orang tuanya agar mereka bisa datang bersama-sama ke kantor polisi.


Setelah semuanya siap, mereka pun pergi ke kantor polisi dengan menggunakan mobil ayahnya Baron dengan Baron yang mengemudikan mobil tersebut.


Sesampainya di sana, kaki Cefi bergetar, amarah kini menguasai dirinya, mau bagaimana lagi? Dia merasa muak dan marah kepada Om Soni. Satu-satunya keluarganya yang tersisa namun tidak tahu malu mengambil semuanya.


Mereka masuk ke dalam suatu ruangan, di sana sudah ada Om Soni, Tante Sonya, dan Andrea yang sudah duduk dengan tangan terborgol.


Cefi mendatangi Om Soni dan langsung menampar Omnya tersebut.


“Manusia biadab! Kenapa om melakukan ini semua sama aku, kenapa?!” seru Cefi.


Om Soni pun langsung menatap Cefi, kali ini tidak ada keramahan sedikit pun di wajah Om Soni. Sepertinya Om Soni sudah membuka topeng yang melekat di wajahnya.


“Om benar-benar keterlaluan, aku ini keponakan Om. Kenapa Om bisa-bisanya malah ngerampok aku? Aku anak yatim piatu, Om. Kenapa Om tega dan punya hati buat makan duit anak yatim piatu kayak aku?” seru Cefi.


“Itu balasan buat orang tua kamu, Xaviera!” seru Om Soni. “Juga balasan untuk suamimu dan keluarganya.” kata Om Soni.


“Apa salah kami, Om? Apaaa? Selama ini kami memperlakukan Om dengan sangat baik. Suami aku bahkan rela cari uang mati-matian buat bisa cukupin kebutuhan kita di rumah. Kurang baik apalagi dia?!” seru Cefi.


Baron tidak berusaha menggantikan istrinya, dia membiarkan Cefi meluapkan kekesalannya, Cefi memutuskan jawaban atas semua yang ada di dalam pikirannya. Itulah sebabnya dia ingin Cefi terus mengatakan apapun yang mengganjal pikirannya.


“Ayahmu mati tanpa meninggalkan sebagian hartanya untuk Om sama sekali. Itu kejam! Dia hidup dengan baik dan menjadi kaya raya, tanpa mau membantu adiknya sama sekali. Jadi, karena om adiknya, om-lah yang berhak atas semua harta ayahmu!” seru Om Soni dengan marah.


Cefi menampar Om Soni lagi, matanya sudah merah, air matanya sudah turun, dia sangat marah dengan laki-laki tak punya hati ini.


PLAK!


“Cukup, Om!”

__ADS_1


__ADS_2