
Baron melirik makanan Cefi, Cefi mengedarkan pandangan ke arah lain, dia tidak tahu mengenai apakah suaminya tahu kalau dia berbohong atau tidak namun yang jelas suaminya sepertinya tidak mempermasalahkan hal itu.
“Gue nggak akan basa basi sama lo. Di mana Andrea?” tanya Baron.
Cefi menggaruk kepalanya tidak gatal. Sudah lama dia tidak mendengar suaminya mengatakan gue lo kepada orang lain, namun dia cepat akrab dengan situasi tersebut.
“Gue nggak nyembunyiin dia, Bang. Gue bukan pacarnya.” kata Riza.
“Kata istri gue, lo kenal dia. Lo pasti tau dia di mana aja biasanya.” kata Baron.
“Mungin di kosan temen gue, Bang. Tapi gue sendiri gak bisa mastiin juga.” kata Riza.
“Di mana kosan temen lo?” tanya Baron.
“Gue perlu tahu kenapa kalian nyariin dia.” kata Riza.
“Dia itu udah …” kata Cefi.
Baron menggelengkan kepalanya, “Ada masalah keluarga, ini penting banget, tolong cepet bilang di mana Andrea.” kata Baron.
Cefi menghela napas, suaminya terlihat tidak menyukai Riza. Padahal Riza sebelumnya sepertinya baik kalau dilihat-lihat. Namun, kalau sudah tidak suka ya mau bagaimana lagi? Cefi sendiri tidak bisa memaksakan kehendaknya. Tidak mungkin meminta kepada suaminya untuk menyukai Cefi. Bisa perang dunia nanti di rumahnya, dia tidak mau kalau berantem lagi dengan suaminya, ya meskipun ujungnya ….
Pipi Cefi bersemu merah, mengingat kejadian itu membuat dia langsung memalingkan wajahnya tidak mau melihat wajah suaminya karena dia begitu malu. Andai saja kejadian ini tidak menimpanya saat ini, dirinya tentu tidak bisa membayangkan bagaimana interaksi antara dirinya dengan suaminya yang tentunya pasti akan terlihat menggemaskan. Namun, sepertinya Cefi harus cepat sadar kalau hal itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat ini karena masalah yang pelik ini datang di saat tidak tepat.
“Yaudah kalau gitu, gue temenin ke sana.” kata Riza.
Kemudian, mereka pun bersepakat untuk langsung menuju ke sana sekarang juga namun tiba-tiba Baron menyodorkan nasinya ke arah Cefi, “Ini makan dulu.” kata Baron.
“Eh? Kan punyaku udah abis.” kata Cefi sambil menunjuk wadah nasi yang sudah kosong sebab isinya sudah dia buang ke tong sampah ketika suaminya mengejar Riza.
“Saya tahu kamu buang nasinya. Makan, atau kamu nggak usah ikut.” ancam Baron.
Cefi pun mengerucutkan bibirnya, namun dia tetap menuruti apa yang diminta oleh suaminya. Lagi pula kalau dia tidak melakukan tugasnya, dia tidak diajak, padahal dia sudah sangat ingin menjambak Andrea. Dia ingin mencaci maki Andrea karena dia sudah tega melakukan ini kepada Cefi. Cefi tidak tahu mengenai apakah Andrea terlibat atau tidak namun jika dilihat dari bagaimana Andrea yang juga sudah tidak ada di rumahnya membuat Cefi berpikir kalau hal itu memang benar adanya.
__ADS_1
“Iya, iya, ini aku makan. Tapi kamu makan juga.” kata Cefi.
Baron melirik Riza yang sedari tadi mengamati istrinya. Dia pun langsung berdehem dan langsung menganggukkan kepalanya begitu saja. Baron yang tidak nyaman dengan tatapan Riza kepada istrinya langsung mengambil sendok dan menyuapi istrinya, memperlihatkan kemesraan lebih baik dibanding membiarkan Riza terpesona pada kecantikan alami istrinya.
Entahlah, sebetulnya dalam jarak sedekat ini Baron merasa sangat canggung pada Cefi, dia hanya akan sangat teringat apa yang telah mereka lakukan, sebagai laki-laki, tiap berdekatan dengan Cefi, dia jadi memikirkan hal itu lagi dan menginginkannya.
“telinga Baron seketika memerah.
Riza yang melihat telinga Baron merah dan pipi Cefi yang juga memerah hanya bisa menghela napas, jiwa jomblonya kini meronta-ronta.
“Gue nunggu di depan aja!” kata Riza.
Kemudian Riza pun memilih untuk berjalan keluar minimarket dan duduk di bangku yang dekat dengan parkiran motornya.
Cefi mendongak ke arah Cefi, seketika Cefi pun langsung teringat kejadian itu lagi.
“Ehm …” kata Cefi yang mencoba menetralkan degupan jantungnya.
“Udah ini makan.” kata Baron.
Sebuah kecupan singkat mendarat, “Nggak tau kenapa kamu sekarang jadi semakin cantik di mata saya.” kata Baron.
Pipi Cefi sudah semerah tomat masak, dia tidak bisa menyembunyikan rona itu, “Mas juga …” kata Cefi kali ini dia memutuskan untuk menunjuk.
Kemudian setelah mereka selesai menghabiskan nasi dalam box tersebut selanjutnya mereka pun keluar menemui Riza. Kemudian sesuai janjinya Riza pun langsung memutuskan untuk mengajak mereka semua untuk ke kontrakan temannya.
Mereka akan mencari Andrea.
Jantung Cefi berdegup dengan sangat kencang. Dia sangat berharap bisa menemukan Andrea dan mengerti mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa mereka bisa begitu jahat kepada dirinya.
“Mas, kira-kira kita bisa nemuin Andrea nggak ya?” tanya Cefi.
“Kita berdoa saja, Sayang.” kata Baron.
__ADS_1
Riz ayang mendengar suara Baron yang dia rasa menjijikan itu langsung memutuskan untuk mengegas motornya, hal itu membuat Baron buru-buru mengejarnya.
Kini, di tengah lapangan, kedua motor tersebut pun terlihat seperti sedang balapan saking kencangnya. Beruntung Baik Riza maupun Baron sama-sama jago mengendarai motor sehingga mereka tidak terlalu kesulitan sama sekali.
Hanya saja,. di belakang ABron, Cefi sangat takut. Jantungnya serasa mau copot karena dia seperti naik wahana yang sungguh menyeramkan yang taruhannya adalah nyawa. Nyawa Cefi hanya satu sehingga karena hal itu membuat dia harus berhati-hati menjaga nyawanya.
Satu jam berlalu dan akhirnya Riza memarkirkan mobilnya di salah satu kos-kosan yang ada di sana. Kemudian, Baron pun langsung mengikuti jejak BRiza, kemudian mereka bertiga pun turun dari motor.
Kemudian, Riza berjalan terlebih dahulu. Cefi sempat bergidik ngeri. Kos-kosan yang sepertinya bisa dianggap sebagai kontrakan itu terlihat bebas sekali. Cefi bahkan melihat banyak perempuan dan laki-laki yang sedang mengobrol dalam kamar masing-masing.
Cefi baru pertama kali melihat hal-hal seperti ini. Bagaimana pun dia masih anak SMA yang memang masih sangat polos.
Cefi pun langsung memeluk lengan suaminya dengan erat karena dirinya takut.
“Lo yakin ini tepatnya?” tanya Cefi.
“Iyalah, gue yakin, orang rumah temen gue. Masa gue salah.” kata Riza.
Pertanyaan Cefi memang terdengar absurd dan terdengar seperti Cefi yang hanya ingin mengobrol menghilangkan kejenuhan saja. Sungguh tidak masuk akal sebab tanpa dijawab saja semua orang tau jawabannya.
“Ini …” kata Riza.
Riza berhenti di depan pintu salah satu kos-kosan tersebut. Nomor di sana adalah 100. Cefi menghela napas.
Riza mengetuk pintu kosan tersebut.
Tok tok tok!
“Del, ini gua! Buka pintunya!” kata Riza.
“M-masuk aja!” seru Kodel dari dalam.
Riza pun langsung membuka pintu dan seketika mereka bertiga langsung disuguhkan dengan pemandangan yang tak terbayangkan.
__ADS_1
“A-andrea?”