
Cefi dan teman-teman Cefi menunggu di luar ruangan kepala sekolah. Kepala sekolah dan guru-guru Cefi beserta orang tua Baron pun masuk ke dalam untuk mengadakan rapat. Cefi dan teman-teman Cefi sudah duduk di koridor. Tak mau kembali ke kelas sebelum kepala sekolah memberikan keputusan.
Tak lama kemudian, pintu kepala sekolah di buka. Cefi dan teman-teman Cefi bangun dan langsung menunggu kepala sekolah mereka mengatakan sesuatu.
“Setelah menimbangkan banyak aspek, akhirnya kami memutuskan untuk tidak jadi mengeluarkan Nak Cefixime Xaviera Salim..” kata Pak Kepala Sekolah.
Cefi dan teman-teman Cefi yang mendengar hal tersebut pun langsung bersorak dengan senang. Ketiga teman Cefi langsung memeluk Cefi begitu saja untuk keluapkan rasa senangnya.
“Terima kasih, Pak.” ucap Cefi.
“Sekarang kalian kembali ke kelas, Cefi, kamu juga silakan masuk ke kelas.” kata Pak Kepala Sekolah.
Tanpa perlu disuruh dua kali, Cefi dan teman-teman Cefi memutuskan untuk langsung menuju ke kelas mereka. Teman-teman Cefi dari kelas lain mengamati anak-anak kelasan Cefi di jendela. Seakan bingung dengan apa yang terjadi dan ingin tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Cefi berada di depan kelas, teman-teman Cefi sudah duduk di tempatnya masing-masing, “Temen-temen, makasih ya, makasih banget udah bantuin gue!” kata Cefi.
“Iya, Cef, sama-sama. Kita juga seneng lo nggak jadi dikeluarin sama sekolah.”
“Walaupun lo nyebelin, kita sayang kok Cef sama lo. Lo juga selama ini belain kita.”
“Iya, kita gak bakalan diem aja biarin lo kayak tadi.”
“Lo harus bilang makasih sama Pak Baron, Cef.”
Cefi yang mendengar nama Baron disebut pun terkejut, “Pak Baron?” tanya Cefi.
Mereka semua menganggukkan kepalanya.
“Pak Baron yang kasih tau kita kalau lo dikeluarin, Pak Baron yang rencanain ini semua. Emang baik banget dah Pak Baron.”
“Pak Baron yang ngerencanain ini semua?” tanya Cefi yang masih belum yakin dengan apa yang dia dengar.
“Iyaaa! Lo harus terima kasih sama dia.”
Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja. Awalnya, Cefi mengira kalau Baron membohonginya. Sebab, semalam, Baron mengatakan semuanya sudah diurus olehnya namun pada kenyataannya, di sidang itu, dia tetap disudutkan, tidak langsung diterima kembali seperti yang dikatakan oleh Baron.
Namun, ternyata jalan pikiran laki-laki itu memang sangat unik, dia selalu perhatian dengan Cefi dnegan cara berbeda. Meski Cefi merasa sedikit dipermainkan namun dia juga merasa terkesan saat ini.
“Kalau gitu gue ke perpus dulu deh, gue mau bilang makasih sama Pak Baron.” kata Cefi.
__ADS_1
Cefi memutuskan untuk pergi terlebih dahulu untuk mencari keberadaan Baron. Cefi pun tahu kalau markas Baron ada di dalam perpustakaan.
Sesampainya di depan perpustakaan, Cefi menoleh ke kanan dan ke kiri, tidak ada siapapun di sana, kemudian dia mengamati pintu perpustakaan yang tertutup.
Gue harus bilang makasih sama Barongsai. Ah, Pak Baron. - Batin Cefi.
Cefi pun langsung mendorong pintu perpustakaan dan membukanya. Kemudian, dia menghampiri penjaga perpus untuk mengisi buku tamu, kemudian, dia pun langsung berjalan menuju ke arah Baron. Namun, Cefi tidak menyangka kalau ternyata di sana bukan hanya ada Baron, melainkan ada Elsa juga.
“Pak Baron …” panggil Cefi.
Elsa dan Baron yang sedang mengobrol pun langsung menoleh ke arah Cefi.
“Ada apa?” tanya Baron mendongak.
Cefi menoleh ke arah Elsa.
“Eh, ini gue udah nemu bukunya!” ucap Azka yang langsung duduk di samping Baron.
Cefi mengaduh dalam hati karena dia harusnya memikirkan kemungkinan kalau Baron tidak sendirian di perpustakaan. Baron datang berlima tentu saja maka banyak kemungkinan ada teman-teman Baron yang lain yang juga sedang berada di perpustakaan.
“Eh, ada Cefi?” tanya Azka yang langsung menatap Cefi dnegan berbinar.
Kemudian, Cefi pun langsung menoleh ke arah Baron, “Pak Baron, boleh saya bicara sebentar?” tanya Cefi.
“Di sini aja.” jawab seseorang, namun bukan Baron. Melainkan Elsa.
Cefi yang mendengarkan orang yang tak berkepentingan menjawab pertanyaannya pun langsung menoleh ke arah Elsa, “Maaf, Bu. Saya bicara dengan Pak Baron bukan dengan ibu.” kata Cefi.
“Kamu tidak lihat kalau Pak Baron sibuk?” tanya Elsa yang memandang Cefi dengan sorot kesal.
“Tidak tuh, Bu. Saya cuma lihat tadi Ibu dan Pak Baron bercanda-canda aja.” kata Cefi.
Baron menghela napas, sepertinya Cefi dan Elsa tidak bisa dipertemukan seperti ini. Jadi, dia pun langsung bangkit, “Ini penting?” tanya Baron.
Cefi menggaruk kepalanya, dia tidak tahu apakah permintaan maaf adalah sesuatu yang penting atau tidak. Namun, yang jelas, itu adalah hal yang penting bagi Cefi.
“Tidak terlalu penting sih, Pak. Cuma sama mau bilang makasih aja sama bapak.” kata Cefi pada akhirnya.
Baron pun menganggukkan kepalanya begitu, “Iya, sama-sama.” jawab Baron.
__ADS_1
Cefi pun diam. Ada hal lain sebenernya yang dia ingin sampaikan kepada Baron. Dia ingin meminta uang karena sisa uang yang diberikan oleh Baron tertinggal di rumah, dia lupa bawa uang.
“Ada lagi?” tanya Baron.
“Ada …” kata Cefi. Cefi menoleh ke Elsa dan juga Azka yang masih menatap mereka berdua. Cefi menghela napas.
“Ikut saya, Pak. Please.” kata Cefi yang langsung menarik tangan Baron.
Apa yang Cefi lakukan langsung membuat Azka dan juga Elsa terkejut. Baron tak melepaskan tangan Cefi yang sangat kencang di pergelangan tangannya.
“Tanganmu akan membuat kamu dan saya kena masalah.” kata Baron.
Cefi terkejut setengah mati, dia pun langsung melepaskan tangan Cefi. Kemudian, Cefi pun menoleh ke arah Baron. Di merasa kalau di luar perpustakaan sangat aman, kebetulan tidak ada yang melihat mereka di sana.
“Barongsai, maksudnya suami, maksudnya Pak Baron ... minta uang.” kata Cefi dengan wajah memelas.
“Emang uang kemarin abis?” tanya Baron.
“Masih ada, tapi ketinggalan di rumah.” kata Cefi sambil nyengir lebar.
Baron pun langsung mengambil selembar uang berwarna merah di sakunya dan menyerahkan kepada Cefi, “Jangan boros-boros.” kata Baron.
Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja.
“Cefi?” tanya seseorang.
Jantung Cefi langsung berdegup dengan sangat kencang mendengar sesuatu, di sana sudah ada Daren. Cefi terkejut setengah mati, kemudian dia langsung buru-buru memasukkan uangnya ke dalam saku bajunya.
“Kenapa kamu minta uang sama Pak Baron?” tanya Daren yang mulai mendekat.
Jantung Cefi tidak bisa dikondisikan lagi.
“Memang kenapa ada masalah?” tanya Baron kepada Daren tenang.
“Anda hanya tetangganya, Pak. Bukan pacarnya.” kata Daren.
“Iya, saya memang bukan pacarnya, tapi lihatlah ke mana dia datang. Itu artinya status saya jauh lebih tinggi ketimbang kamu.” kata Baron.
Cefi melotot, “Eh, udah-udah. Pak makasih ya, Pak. Kita pamit dulu.” kata Cefi.
__ADS_1
Cefi langsung menarik tangan Daren dan pergi menjauhi Baron yang tengah menatap Cefi dari belakang dengan tatapan kesal.