
"Iya, Om. Saya juga minta maaf kalau saya ada salah sama Om." Kata Baron.
Tante Sonya mendekati Cefi dan langsung memeluk Cefi. Cefi sebetulnya begitu canggung dengan keadaan ini. Namun, dia mencoba menerimanya sehingga dia pun membalas pelukan tantenya itu.
"Nak, kamu anak baik." Kata Tante Sonya.
"Masuk dulu aja Om, Tante, dan ..." Kata Baron.
Baron mengamati Andrea. Anak dari Om Soni dan Tante Sonya, dia merasa sangat familiar dengan wajah itu. Namun, dia lupa siapa orang itu. Baron memang anak yang sangat cuek. Dia tidak suka terlalu mengingat seseorang kecuali orang-orang yang memang biasa bersamanya.
"Andrea, Kak. Kita satu kampus." Jawab Andrea.
Cefi langsung menoleh ke arah Andrea. Dia tidak tahu kalau ternyata mereka satu kampus. Tapi kenapa suaminya tidak mengenalnya? Ah, Cefi pun menebak kalau suaminya memang tidak banyak mengenal orang. Padahal, Andrea cantik, biasanya laki-laki pasti mengingat wajah yang cantik-cantik, ntah kenapa suaminya tidak.
"Satu kampus?" Tanya Cefi.
"Iya, aku adik kelasnya." Kata Andrea.
Cefi menganggukkan kepalanya.
Kemudian, Cefi dan suaminya mempersilakan Om Soni dan keluarganya masuk ke dalam rumah.
Cefi memang tahu kalau hari ini dia akan telat kalau sampai menemani mereka dulu, tapi rasanya tidak patut kalau Cefi mengusir mereka. Apalagi, setau Cefi rumah Om Soni itu sangat jauh dari rumahnya. Sekitar 2jam perjalanan kalau menggunakan mobil.
"Silakan duduk, aku buatin teh dulu." Kata Cefi.
"Nak Xaviera kalau mau berangkat gak papa berangkat aja. Tapi kami boleh di sini dulu kan sampai kamu pulang sekolah?" Tanya Om Soni.
Cefi melirik Baron mencoba mencari persetujuan. Baron menganggukkan kepalanya begitu saja. Dia juga tidak enak kalau harus mengusir Om Soni. Sebelumnya Om Soni memang sudah sangat kelewatan tapi bukankah manusia memanglah tempatnya salah? Setidaknya itulah yang ada di dalam kepala Baron.
"Iya, Om. Boleh." Kata Cefi.
Kemudian, Cefi dan Baron pun kembali ke motor mereka. Cefi tidak diperkenankan untuk membuatkan minuman untuk mereka oleh Tante Sonya karena takut kalau Cefi terlambat datang ke sekolah.
"Mereka ngapain ya dateng ke rumah aku?" Tanya Cefi sedikit teriak karena kondisi jalanan yang berisik.
__ADS_1
"Tadi bukannya om kamu udah bilang kalau beliau mau minta maaf sama kamu?" Tanya Baron.
"Ya, iya sih. Tapi aneh banget ya. Masa ada orang berubah secepat itu?" Kata Cefi.
"Ya, kita liat aja nanti. Kita nggak boleh suuzon juga, tapi tetap hati-hati." Kata Baron.
Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja. Dia mengeratkan pegangannya di perut Baron. Baron pun melirik tangan Cefi sambil tersenyum di balik helmnya.
"Nanti turunin aku di tengah jalan aja." Kata Cefi.
"Di sini?" Tanya Baron yang langsung menghentikan motornya persis di tengah jalan. Untungnya situasi sedang tidak ramai. Kalau ramai mereka bisa saja membuat kemacetan dan berakhir dimarahi oleh orang banyak.
Cefi pun langsung menepuk bahu Baron dengan kesal. Baron pun terkekeh begitu saja.
"Yaudah sana katanya mau turun di tengah jalan." Kata Baron.
"Ish, yaudah aku turun." Kata Cefi yang langsung melepaskan tangannya pada Baron.
Baron langsung menarik tangan Cefi dan langsung melajukan kendaraannya sambil terkekeh. Dia melingkarkan tangan istrinya di perutnya lagi. Cefi pun mencebikkan bibirnya kesal. Lalu dia langsung memilih menggigit bibirnya menahan senyumannya.
“Enggak, di parkiran aja langsung.” kata Baron.
“Kalau kita jadi bahan gosip gimana?” tanya Cefi.
“Ya nggakpapa. Lagian mereka juga tau kalau kita tetangga jadi kayaknya nggak ada yang aneh sama hal itu.” kata Baron.
“Mas …” kata Cefi yang merengek.
“Kalau nggak mau digosipin tangannya dilepas dulu.” kata Baron.
Cefi pun mengaduh dalam hati, saking nyamannya memeluk Baron dari belakang, dia sampai melupakan fakta kalau dia masih memeluk tubuh suaminya. Dia pun langsung buru-buru melepaskan tangannya dari perut Baron dan langsung memegang ujung jaket yang dikenakan oleh Baron saja.
Sesampainya di parkiran, semua orang pun langsung menatap aneh ke arah Baron dan Cefi.
Cefi yang merasakan tatapan itu langsung mengerucutkan bibirnya, dia sudah menduga kalau hal ini akan terjadi. Bel pun berbunyi dan semua siswa langsung kembali ke kelasnya masing-masing. Di parkiran kini hanya tinggal Cefi dan juga Baron.
__ADS_1
“Aku masuk kelas dulu.” kata Cefi yang hendak pergi meninggalkan Baron.
“Kenapa kalian bisa berangkat bersama?” tanya Elsa yang datang.
Cefi menatap Elsa dengan kesal. Ntah mengapa Elsa seperti orang yang sangat mengganggu di matanya. Dia tidak menyukai Elsa. Cefi jadi merasa kesal dengan Baron. Bagaimana mungkin laki-laki itu menyukai perempuan menyebalkan seperi Elsa.
“Emang kenapa ya, Bu? Ada masalah saya datang dengan Pak Baron?” tanya Cefi.
Baron menghela napas di tempatnya melihat dua orang perempuan di depannya yang terlihat saling bermusuhan.
“Tentu saja itu masalah buat saya. Kalau sampai teman saya dijadikan bahan gosip oleh semua murid-murid, saya tidak rela.” kata Elsa.
“Kenapa? Karena Pak Baron nganterin saya?” tanya Cefi.
“Ya tentu saja. Kalau sampai citra kami buruk, itu pasti karena kamu.” kata Elsa.
“Elsa, udah. Udah bel mending kita ke kelas.” kata Baron.
Cefi terkejut mendengar ucapan Baron? Dia mengira kalau suaminya akan membelanya di hadapan nenek sihir ini, tapi ternyata Baron lebih memilih untuk mengajak Elsa untuk ke ruangan.
“Bapak duluan saja. Nanti saya menyusul.” kata Elsa kepada Baron.
Elsa menatap Cefi, Cefi pun balas menatap Elsa, “Kenapa, Bu? Mau peringatin saya biar nggak boncengan atau deket-deket lagi sama Pak Baron? Hih, nggak guna.” kata Cefi.
Cefi pun langsung pergi begitu saja. Elsa hendak saja menjambak tangan cefi namun Baron buru-buru menarik tangan Elsa dengan cepat, dia tidak mau Elsa menyakiti Cefi.
“Kamu apa-apaan sih?” tanya Baron.
“Lepasin, Ron!” kata Elsa.
Cefi menoleh dan langsung melihat ke arah tangan Baron yang ada di tangan Elsa. Dia pun langsung memberikan tatapan kebencian pada Baron. Baron yang melihat tatapan Cefi langsung melepaskan tangan Elsa sebelum Cefi salah paham kepada dirinya. Dia tidak mau kalau hal itu sampai terjadi.
“Ish!” seru Cefi.
Cefi menghentakkan kakinya dengan kesal lalu dia berjalan cepat menuju ke kelasnya. Ntah mengapa dia meras akesal sekali kepada Baron. Dia tidak suka kalau Baron sampai berpegangan tangan dengan perempuan lain. Baron sudah berjanji padanya dan mengajaknya untuk menjalani pernikahan normal, namun kenapa Baron masih mendekati Elsa? Cefi menjambak rambutnya sebentar karena frustasi.
__ADS_1