Cinta Anak Kompleks

Cinta Anak Kompleks
BAB 52 - Apakah Baron Merasakan Hal yang Sama?


__ADS_3

Situasi kantin seperti biasa selalu ramai, Dara sedang dipanggil oleh guru IPS, sepertinya hal itu dikarenakan Dara lupa mengerjakan PR dan kini diberikan hukuman berupa PR yang lebih banyak lagi dan juga bonus ceramah.


“Eh, besok tuh si Dara ulang tahun tau.” kata Amel.


“Oh iya, aku inget, Dara emang ulang tahun besok.” kata Putri.


“Trus-trus gimana? Kita mau kasih kue atau gimana?” tanya Cefi dengan antusias.


“Mending kasih kue aja kali ya. Besok sepulang sekolah gimana?” tanya Amel.


“Yaudah, kita beli kue yang kayak biasa aja kali ya?” kata Cefi.


“Iya, gimana kalau lo yang beli kuenya, Cef? Lo kan ada Paksu, siapa tau bisa dianterin, kalau gue sama putri jomlo ngenes.” kata Amel.


“Maaf, Amel, aku tuh bukan jomlo ngenes, cuma jomlo aja.” kata Putri.


Amel pun langsung terkekeh begitu saja. Bagaimana pun dia hanya bercanda namun Putri sepertinya menanggapinya dengan serius. Hal itu terlihat dari apa yang dikatakan oleh Putri.


“Iya, dah terserah lo.” kata Amel.


“Yaudah, ntar gue minta tolong sama barongsai buat anterin.” kata Cefi.


“Eh, sebentar deh. Emangnya dia udah mau ya? Maksudnya kalian udah deket?” tanya Amel kepada Cefi.


Cefi pun seketika tersenyum kepada Amel. Bagaimana pun apa yang dilakukan oleh Baron memang membuat Cefi salah tingkah. Dia sebetulnya memang belum menceritakan kalau dirinya dan juga Baron sudah berbaikan, karena dia takut kalau teman-temannya akan mengejeknya.


Teman-teman Cefi tentulah tau kalau Cefi dan Baron adalah musuh bebuyutan. Jadi, kalau Cefi cerita kalau dirinya dan Baron sudah berbaikan, maka mereka akan mengatakan kalau Cefi kena tula akan kata-katanya sendiri.


“Kalau diliat dari gelagatnya sih, roman-romannya bener ya?” kata Amel yang mulai menggoda Cefi.


Cefi yang mendengar hal itu pun langsung salah tingkah, “Apaan sih biasa aja lagi.” kata Cefi.


“Hahahahaha, kena kan lo! Senjata makan tuan! Benci jadi cinta! Makanya Cef, kalau benci orang sewajarnya, jadi bucin akut kan lo.” kata Amel.


“Lah, kok jadi cinta?” tanya Cefi.

__ADS_1


Amel pun langsung terkekeh begitu saja, “Ya ngeliat dari gelagat lo mah gue yakin kalau kalian nggak cuma jadi temenan, tapi ya pasti benih-benih cinta udah muncul lah ya. Kata orang, kan cinta tunbuh karena terbiasa. Jadi gue sangat yakin kalau cinta itu sudah tumbuh.” kata Amel.


“Sok tau lo.” kata Cefi.


“Maaf, Cefi, tapi pipi kamu udah merah banget tuh.” kata Putri.


Hal itu membuat Amel terpingkal-pingkal begitu juga dengan Putri. Bagaimana tidak? Kini mereka sudah sangat puas melihat Cefi yang seperti ini.


“Ada apaan sih? Ketawa-ketawa nggak ngajak gue?” tanya Dara yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.


Dara datang dengan wajah cemberutnya, dia tidak terlihat bahagia saat ini. Sepertinya dia sudah kesal dengan apa yang terjadi.


“Kenapa lo? Sumpek banget kayaknya, disuruh ngerangkum lo ya?” tanya Cefi.


“Iya, sialan banget ya. Gue disuruh ngerangkum bab satu sampe bab tiga. Itulah udah lewat ya?” kata Dara.


“Yaelah, mending itumah. Gue dulu empat bab.” kata Cefi.


“Kaga ada yang mending. Jadi, kalian kenapa ketawa-ketawa?” kata Dara.


“Ini, ada yang udah mulai lope-lope ama misuanya, hahahaha.” kata Amel.


“Siapa?” tanya Dara.


“Ya emang diantara kita siapa lagi?” kata Amel.


Dara langsung menoleh ke arah Cefi. Cefi pun langsung melotot, “Apa? Lo juga mau ngeledekin gue sama kayak mereka?” Tanya Cefi kesal.


Mata iblis Dara pun langsung keluar, “Cieeee, kena karma kan lo akhirnya. Kena tula lo. Bilang-bilang benci tapi sekarang cinta.” kata Dara.


“Gue nggak tau lagi udah cinta apa belum.” kata Cefi.


“Maaf, Cefi. Tapi kamu deg-degan gak kalau deket sama PB?” tanya Putri.


“PB apaan?” tanya Cefi.

__ADS_1


Putri pun mendekat dan langsung membisikkan sesuatu ke telinga Cefi, “Maksudnya Pak Baron.” kata Putri.


“Oalah, hahahaha.” kata Cefi.


“Ada?” tanya Putri.


“Ya, iya sih, gue sering deg-degan gitu, sama perut gue tuh kayak ada kupu-kupunya gitu, dan sekarang gue nggak pernah bisa melawan dia anjir, gue kek nurut gitu sama dia, pokoknya setiap liat dia tuh gue ngerasa kaya liat orang yang sangat sempurna, gue seneng aja liatin dia.” kata Cefi panjang lebar. Tak ada gunanya menutupi apa yang sepertinya sudah jelas.


Kalau Cefi tidak cerita kepada teman-temannya, dia takut kalau teman-temannya kecewa padanya. Lagi pula dia sangat tahu dan mengerti tabiat teman-temannya yang memang sangat bisa dipercaya. Buktinya sampai saat ini, mereka tidak ada yang membocorkan rahasia Cefi kepada orang lain. Hal itu tentulah karena mereka dapat dipercaya.


“Nah, itu udah jelas. Itu namanya cinta. C-I-N-T-A, Cintaaa.” kata Dara.


“Iya, bener, cieee, Cefi cieee …” kata Amel dan juga Putri yang turut menggoda Cefi.


“Brisik banget lo.” kata Cefi sambil salah tingkah. Bukan hanya itu, pipinya pun langsung berubah menjadi merah. Bagaimana pun Cefi memang tidak bisa menyembunyikan kesalahtingkahannya.


Namun, diantara itu semua, ada satu hal yang langsung memenuhi otaknya. Dia jadi sadar dan mempertanyakan soal peraasaannya. Apakah apa yang dia rasakan itu adalah cinta? Apakah benar kalau dia sudah jatuh cinta pada suaminya?


Cefi pun memikirkan mengenai bagaimana Baron memperlakukannya, laki-laki itu terlihat sangat baik dalam memperlakukannya. Dan itu yang membuat Cefi merasakan apa yang dia rasakan sekarang. Dan, mungkin apa yang dikatakan oleh teman-teman Cefi memang ada benarnya. Sepertinya cintanya hadir karena kebiasaan.


“Tapi, gimana sama PB, Cef? Apa dia juga ada tanda-tanda mengerasain apa yang lo rasain?” tanya Amel.


Cefi terdiam.


Pertanyaan Amel membuatnya berpikir. Sebelumnya dia belum memikirkan tentang hal itu namun sekarang, dia kembali memikirkan mengenai apa yang dikatakan oleh Amel. Benar juga? Bagaimana respons dari Baron?


Apakah Baron juga mencintai Cefi? Atau jangan-jangan cinta Cefi adalah cinta yang sepihak? Kalau sampai hal tersebut terjadi, rasanya Cefi akan patah hati.


Tak lama kemudian, Cefi melihat Baron dari kejauhan, di sana Baron tengah membawa setumpuk buku dan di sampingnya ada Elsa, seketika senyuman yang sedari tadi ada di bibirnya langsung hilang, berganti dengan tatapan sedih.


Dara, Amel, dan juga Putri langsung saling melirik, mereka mulai merasakan perubahan raut wajah dari Cefi, dan itu sangat membuat mereka tidak nyaman, juga kasihan. Lalu bagaimana?


“Bener juga, apa dia juga suka sama gue?” tanya Cefi, lebih kepada dirinya sendiri.


“Eh, makan dulu yuk, makan!” kata Dara yang mencoba mengalihkan pembicaraaan.

__ADS_1


__ADS_2