
Cefi meremas pinggiran bajunya. Dia ingin sekali mengatakan kalau dia melakukannya dengan suaminya, suaminya sahnya. Apakah itu juga masuk kategori Zina.
“Siapa yang sudah menghamili kamu, Cefi? Kamu hamil anak siapa?” tanya seorang guru.
“Bu, biar saya selesaikan di ruang BK.” kata Guru BK tersebut.
“Mending di sini aja, Bu. Biar guru-guru yang lain juga bisa memberikan saran. Cefi tidak setuju kalau semua yang dikatakan semua guru-guru di dalam kelas itu adalah saran, karena alih-alih Saran, mereka justru terlihat sedang menghakimi dirinya.
Cefi ingin mengatakan kalau suaminya adalah Baron namun Cefi tidak tahu apakah Baron sudah benar-benar mengurus administrasi magangnya di sekolah tersebut atau belum. Kalau belum, dia takut kalau suaminya akan mendapatkan nilai yang buruk di citra sekolah.
“Saya yang menghamilinya, Bu.” jawab seseorang.
Semua orang pun langsung menoleh ke sumber suara, di sana seseorang masuk ke dalam ruangan dengan wajah gusar, Baron sudah mencari istrinya ke mana-mana tapi istrinya justru berada di sini. Beruntung tai Baron bertanya pada siswa yang melihat kalau Cefi sedang main kejar-kejaran menuju ke ruang guru. Kalau tidak, bagaimana Baron bisa mengetahuinya?
“Astaghfirullah al-adzim!” seru semua guru begitu saja.
“Pak Baron? Pak Baron kenapa melakukan ini? Anda sudah mempermalukan sekolah ini, Pak. Kenapa anda berbuat seperti itu padahal kami sangat menerima anda sebagai guru magang?” tanya Guru BK tersebut.
“Iya, Pak Baron, kalai susah berzinah. Seumur-umur saya mengajar di sini, tidak pernah ada guru yang menghamili muridnya sendiri.” kata guru yang lain.
Semua guru kini benar-benar ikut campur dalam hal itu. Ibu Guru BK tidak bisa membawa Cefi dan yang lain menuju ke ruang BK karena guru-guru melarangnya, biar diselesaikan di sana saja menurutnya.
“:Siapa dia?” tanya guru yang dari sekolah lain.
“Namanya Pak Baron, guru magang di sekolah ini.” jawab salah satu guru.
“Sebelumnya saya minta maaf kepada semua yang ada di sini kalau saya mencoreng nama baik sekolah. Xaviera memang hamil dan sayalah yang menghamilinya. Tapi perlu bapak dan ibu smeua tahu kalau kami tidak berzina, karena kami memang sudah lama menikah.” ucap Pak Baron. “Ada situasi di mana kami harus menikah sehingga kami memang selama ini tinggal bersama. Dan sebagai suami, saya pun melakukan hubungan layaknya suami istri. Sekali lagi istri saya tidak salah, dia juga tidak berzina, dia hanya menuruti permintaan saya.” kata Baron.
__ADS_1
Cefi dan yang lainnya terkejut. Cefi sangat takut kalau karir suaminya cukup sampai di sana sebab suaminya mengatakan hal seperti itu di depan semua guru.
“Astaghfirullh kalian ternyata udah nikah?” tanya Guru BK tersebut.
“Sudah, Bu. Kami menikah ketika kedua orang tua Xaviera meninggal dunia, saat ibu atas permintaan dari orang tua Xaviera dan keinginan saya sendiri.” kata Baron.
“Astaga, bagaimana ini? Kalau mereka sudah menikah?” tanya guru yang lain.
“Mending mereka diselesaikan di ruang kepala sekolah aja, Bu.” kata guru yang lain.
“Iya, Bu benar!” seru yang lainnya.
Ibu Guru BK tersebut merasa kesal kepada guru-guru tersebut. Tradisi ketika beliau ingin membawa Xaviera dan kawan-kawan pergi ke ruangan BK, mereka nolak dan meminta hal itu diselesaikan di sana, karena semua guru terlihat begitu penasaran dengan kelanjutannya, namun ketika sudah begini mereka mengatakan kalau harus dibawa ke ruangan Kepala Sekolah.
“Ikut saya ke ruang Kepala Sekolah!” seru Ibu Guru BK tersebut. “Untuk Icha dan Dara, besok saja temui saya, untuk sekarang selain Cafi kalian semua boleh pulang.” kata Guru BK tersebut.
“Assalamualaikum!” sama Kepala Sekolah tersebut.
“Waalaikumsalam.” jawab semua orang atas salam yang disampaikan oleh Kepala Sekolah.
“Pak Kepsek, ada masalah serius!” kata Guru BK tersebut yang menghampiri Kepala Sekolah dan mengatakan dengan hati-hati.
“Ada apa?” tanya Kepala Sekolah. “Bapak Ibu, ini ada kue bolu untuk bapak ibu, semoga suka.” kata Kepala Sekolah tersebut yang memang membawa dua bungkusan yang berisi lima buah bolu untuk semua guru yang ada di dalam ruangan itu, baik guru dari sekolah maupun guru dari luar sekolah.
“Terima kasih, Pak.” kata semua guru-guru yang memang senang mendapatkan roti, namun mereka sangat penasaran dengan kelanjutan cerita Cefi, bagaimanapun ini adalah kasus yang sangat langka, ada salah satu siswa yang sudah menikah bahkan sudah hamil oleh suaminya sendiri.
Kalau di kalangan masyarakat, kalau ada murid yang hamil diluar nikah tentulah akan membuat sekolah tidak segan-segan mengeluarkan murid tersebut saat masih sekolah. Tapi bagaimana dengan kasus yang menimpa Baron dan Cefi? Mereka tentulah sudah menikah dan Baron tidak mungkin berbohong, dan hamil. Ini bagaimana? Apakah harus dikeluarkan atau tidak?
__ADS_1
“Apa yang terjadi, Bu?” tanya Kepala Sekolah.
“Cefi hamil, Pak. Boleh saya bicarakan di ruangan bapak?” tanya Guru BK tersebut.
Senyuman yang sedari tadi merekah di bibir Kepala Sekolah itu pun seketika langsung sirna begitu saja. Padahal seharusnya senyuman itu terus tersungging untuk pencitraan kepada guru dari sekolah lain. Sebagai tuan rumah apalagi Kepala Sekolah, beliau memang ingin melihat guru-guru dari luar sekolah yang datang dan mengawasi sekolahnya tahu kalau mereka memang sangat ramah dan hangat dalam menerima tamu.
“Astaghfirullah, bukankah sudah jelas kalau ada siswi kita yang hamil di luar nikah akan dikeluarkan dari sekolah? TAnpa bicara di ruangan saya pun konsepnya seperti itu.” kata Kepala Sekolah tersebut.
Beliau merasa geram juga karena ternyata adanya peristiwa tersebut diketahui oleh guru-guru sekolah lain, tidak hanya diselesaikan di ruang Kepala Sekolah. Ini namanya sia-sia atas semua yang dia lakukan untuk pencitraan di depan semua guru dari sekolah lain. Beliau pun menghela napas.
Beliau ingin terlihat tegas, sekali peraturan tetap peraturan. Semuanya memang seperti itu. Namun, di satu sisi lain, beliau merasa sangat malu sekali sebab Guru BK mengatakannya di depan ruang guru. Namun wibawa seorang Kepala Sekolah memang harus ada di manapun dan kapanpun.
“Tapi mereka sudah menikah, Pak.” kata Guru BK tersebut.
“Apa?” tanya Kepala Sekolah tersebut.
Sasaran langsung hening, Kepala Sekolah itu mengurut pelipisnya.
“Pak, lebih baik biarkan saja,m tanggung satu ujian lagi.”
“Pak kan mereka udah nikah jadi kayaknya nggak papa kalau mereka akan punya anak.”
“Dia udah nggak naik kelas, Pak. Lebih baik dilulusin aja biar nggak bikin malu sekolah.”
“Beri kesempatan, Pak.”
Semua komentar mulai tercurah dari sana dan sini.
__ADS_1
Pak Kepala Sekolah menatap Cefi dan Baron dengan tatapan tidak bisa diartikan, “Kalian berdua ikut dengan saya ke kantor.” kata Kepala Sekolah. “Bu, ibu juga dampingi mereka. Telepon wali murid.”