
Baron terus menggenggam tangan Cefi. Cefi pun hanya terkikik geli dan terus menggoda Baron begitu saja, dia sangat puas. Ini kali pertama dalam hidupnya merasa begitu senang. Dia sangat senang menggoda Baron.
Kalau biasanya Baron yang menggoda dirinya, sekarang kini gantian, Cefilah yang menggoda Baron. Cefi bahkan bisa melihat bagaimana telinga suaminya sudah memerah. Ah, kenapa bisa semenyenangkan itu menggoda suaminya?
“Iya, kan? Kamu cemburu kan? Cemburu kannn?” tanya Cefi yang terus menggoda suaminya.
Tidak seperti sebelumnya, di mana Baron hanya diam saja, kali ini sesampainya dia di parkiran, dia langsung menghentikan langkahnya dan menatap istrinya. Cefi hanya bisa memberikan tatapan menggoda ke arah suaminya.
Baron menatap Cefi, “Iya, saya cemburu. Ada yang salah?” tanya Baron.
Cefi pun langsung terkekeh begitu saja. “Enggak kok, nggak ada yang salah.” kata Cefi.
“Jangan asal ngobrol sama laki-laki lain selain keluarga kamu.” kata Baron.
“Iya, lagian dia duluan kok yang ngajakin ngobrol. Aku juga udah usir dia dan bilang kalau aku udah bersuami. Tapi kata dia, dia tahu mana perempuan yang sudah bersuami mana yang belum. Dia bilang aku bohong. Beneran, aku nggak ngapa-ngapain sama dia. Nanggepin aja males. Kan suamiku udah perfect, jadi buat apa lagi yang kayak begitu.” kata Cefi.
“Kamu bilang apa?” tanya Baron.
“Aku udah ngomong panjang kali lebar kali tinggi loh, Mas. Masa aku harus ngejelasin lagi?” tanya Cefi.
“Bagian yang terakhir.” kata Baron.
Cefi langsung memutar otaknya, namun sayangnya dia tidak ingat dengan apa yang dia katakan sebelumnya. Hal itu membuat Cefi bingung, “Tadi aku ngomong apa ya?” tanya Cefi.
“Kamu bilang saya perfect.” kata Baron.
Kali ini giliran Cefi yang salah tingkah. Bagaimana tidak, dia bahkan tidak sadar kalau sudah mengatakan hal seperti itu kepada suaminya. Kalau sudah seperti ini yang bisa dia lakukan hanyalah memikirkan alibi.
“Ah, enggak, aku nggak bilang gitu. Kayaknya kamu salah denger deh.” kata Cefi.
“Oh ya?” tanya Baron yang langsung menaik turunkan alisnya, hal itu sontak membuat Cefi malu. Pipinya mulai merah karena baron yang menggodanya.
“Enggak. Ih, kok jadi aku yang diledekin? Kan harusnya kamu. Curang!” kata Cefi.
Baron pun langsung terkekeh begitu saja. Sangat mudah membuat istrinya salah tingkah. Kalau sudah begini, Baron jadi tahu kalau seharusnya dia tidak terlalu mencemaskan apapun soal Cefi. Cefi sepertinya bukan perempuan yang mudah tertarik kepada laki-laki lain selain dirinya.
“Ih, kamu nyebelin banget deh asli.” kata Cefi.
“Biarin aja. Ayo, masuk.” kata Baron setelah dia membuka pintu mobilnya.
__ADS_1
Cefi pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya dan masuk ke dalam mobil. Namun, seketika dia langsung teringat pada sepulunya. Andrea. Sebelumnya, sebelum dia dihampiri oleh Riza, Andrea sedang memesankan minuman untuknya. Namun, ke mana dia? Kenapa dia tidak juga kembali?
Baron sudah masuk dan duduk di kursi kemudi. Dia bahkan lupa kalau mereka datang bersama dengan Andrea. Karena sudah biasa ke mana-mana berdua dengan Cefi sehingga dia jadai tidak ingat kalau dia juga membawa penumpang lain.
“Mas, ada yang ketinggalan.” kata Cefi.
“Apa?” tanya Baron.
“Andrea.” kata Cefi.
“Eh? Andrea?” tanya Baron. Seketika dia baru sadar kalau dia memang membawa Andrea. “Oiya, tadi dia bilang mau ketemu sama dosennya.” kata Baron.
“Mas ketemu sama Andrea?” tanya Cefi.
“Iya, tadi dia samperin saya waktu sebelum saya liat kalian.” kata Baron.
“Dia yang kasih tau kalau aku lagi sama laki-laki?” tanya Cefi.
Ntah mengapa, kepala Cefi jadi berpikiran ke mana-mana. Apa maksudnya Andrea berbuat seperti itu? Apakah Andrea memiliki kelainan? Astaga, kelainan apa? Sepertinya bukan kelainan, Andrea hanya sedang ingin mengambil hati suaminya saja? Ah, apakah benar? Atau jangan-jangan Andrea sedang memiliki pikiran yang busuk, di mana Andrea sengaja membuat suaminya cemburu?
“Ya enggak sih, dia kayaknya gak sengaja juga liat kamu lagi berduaan, trus ya dia kasih tau saya.” kata Baron.
“Padahal, tadi tuh dia mau beli minum tau, udah aku kasih uang juga seratus ribu, tapi dia gak dateng-dateng. Tau-taunya dia malah samperin kamu.” kata Cefi.
“Dikasih uang sama kamu?” tanya Baron.
Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja, “Iya, trus sekarang aku nggak ada uang lagi.” kata Cefi. Cefi sekalian ingin memberikan kode kepada Baron. Dia ingin uang. Baron tentulah tahu akan hal itu namun dia tidak mau memberikannya secara cuma-cuma.
“Oh, yaudah berarti nggak usah jajan.” kata Baron.
“Ishhh, suamiku kejam sekali.” kata Cefi.
Baron pun terkekeh begitu saja, “Andrea kita tinggal aja ya? Lagian kamu udah kasih uang seratus ribu kan sama dia? Dia pasti bisa pulang sendiri.” kata Baron.
“Kita nggak jahat kalau begini, Mas?” tanya Cefi.
“Kan udah dikasih uang.” kata Baron.
“Iya juga sih, yaudah deh kita pulang aja. Tapi jangan pulang hehehe.” kata Cefi.
__ADS_1
“Pulang tapi nggak pulang itu konsepnya gimana?” tanya Baron.
“Ah, masa gak tau sih?” tanya Cefi.
“Emang saya gak tau.” kata Baron.
“Mau jalan-jalan.” kata Cefi.
“Oh, jalan-jalan. Yaudah sana jalan-jalan sendiri.” kata Baron.
Cefi pun langsung mengerucutkan bibirnya. Namun, seketika langsung memeluk tangan suaminya yang baru menyalakan mobilnya.
“Maunya jalan-jalan sama ayang.” kata Cefi.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Cefi membuat Baron terkekeh begitu saja, “Belajar dari mana kayak gini?” tanya Baron.
“Otodidak.” kata Cefi.
Baron terkekeh lagi. Kemudian, Baron pun mencium kening istrinya dan langsung melajukan mobilnya. Dia ingin membawa istrinya jalan-jalan. Cefi meminta Baron untuk mengajaknya ke Lotte Kuningan di mana di sana sudah ada tempat yang bernuansa Jepang dan Korea. Cefi ingin ke sana karena banyak sekali teman-temannya yang pergi ke sana. Dia juga tidak mau kelihatan kurang up to date meskipun dia sangat malas membuka ponsel.
“Di sana nanti kita costplay yaaa. Pinjem seragam.” kata Cefi.
“Kamu aja. Saya mah malu.” kata Baron.
“Ah, nggak mau kalau cuma aku doang. Kamu jugalah.” kata Cefi.
Baron pun menggelengkan kepalanya.
Sesampainya di sana, Cefi pun berjalan mencari sebuah booth untuk penyewaan kostum kemudian dia pun memaksa suaminya untuk ikut menggunakan kostum tersebut.
“Itu rok kamu pendek banget, Sayang.” kata Baron.
“Ih, enggak kok, ini hampir selutut.” kata Cefi.
“Enggak, itu masih jauh dari lutut. Nggak, gak pake begini-beginian.” kata Baron.
“Ih, kok gitu sih? Jahat banget.” kata Cefi sambil memberikan raut sedih.
Cefi sangat ingin menggunakan pakaian itu bersama suaminya. Tapi suaminya justru tidak mau. Mata Cefi pun berkaca-kaca.
__ADS_1
Baron menghela napas, “Yaudah-yaudah, jangan nangis-jangan nangis.” kata Baron.
“Yeay!” seru Cefi.