
Amel mendorong-dorong Dara agar Dara bersalaman dengan Baron, "Salim, Pele. Dia guru kita." Bisik Amel di telinga Dara.
Dara melotot pada Amel.
"Tapi dia bilang kalau dia suaminya Cefi, bloon!" balas Dara juga dengan berbisik.
Putri yang mendengar pun langsung berinisiatif, berjalan menuju ke arah Baron, "Maaf, Pak. Ini kita harus salim atau nggak ya?"
Baron pun terkekeh mendengar pertanyaan Putri. Di belakang Putri, Amel dan Dara langsung memijit pelipis. Memang, Putri itu sedikit sebelas dua belas dengan Cefi. "Nggak usah, nggak papa. Kita gak lagi di sekolah. Saya naik dulu. Kalian lanjutkan saja ngobrolnya."
Cefi tidak bisa mengelak dengan apa yang terjadi. Dara, Amel, dan Putri sudah saling lirik. Mereka mau bertanya pada Baron tapi Baron itu guru mereka, mereka tentu sangat segan. Sedangkan, untuk saat ini mereka tidak bisa menanyakannya kepada Cefi karena sudah ada Baron di sana.
Terlanjur ketahuan, Baron berjalan ke arah Cefi. Dia mengambil tangan Cefi dan menciumkan punggung tangannya ke bibir Cefi. Cefi melongo, dia masih syok dengan keadaan.
"Saya ambil minum sendiri aja." Kata Baron.
Baron mencondongkan tubuhnya ke telinga Cefi membuat ketiga teman mereka memekik tertahan.
"Selamat dicecer kayak sidang skripsi." Bisik Baron di telinga Cefi.
Cefi pun menyikut perut Baron dengan kesal. Baron hanya terkekeh dan langsung pergi ke dapur untuk minum dan langsung naik ke kamar.
"Lo utang penjelasan sama kita!" Seru Dara.
Cefi memijit pelipisnya. Untung mereka sudah selesai makan. Meski bekas makanan mereka belum dibereskan, "Gue beresin ini dulu." Kata Cefi.
Tak mau Cefi membereskan sendirian, teman-teman Cefi pun langsung membantu Cefi. Setelah selesai mereka pun duduk kembali di tempat semula. Kini semua mata teman-teman Cefi sudah tertuju pada Cefi.
"Jelasin, Cef. Gue udah penasaran banget. Lo bener udah nikah?" Tanya Amel.
Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja, "Iya. Gue emang udah nikah sama Barongsai." Katanya lemah.
"Ya ampun, Cef. Lo udah nggak anggap kita sahabat lagi? Kok hal kayak gini lo nggak cerita?" Tanya Dara kesal.
"Iya, maaf ya, Cefi. Kita kecewa sama kamu karena nggak mau jujur sama kita." Kata Putri.
"Gue bener-bener minta maaf sama kalian. Gue tau gue salah, tapi gue emang harus bener-bener menyembunyikan pernikahan ini dari temen-temen sekolah. Takut dikeluarin sama pihak sekolah kalau pihak sekolah sampe tau." Kata Cefi menunduk.
"Ya ampun, Cef. Kita bukan anak cepu kali. Kita gak akan laporin lo ke guru atau ke temen-temen kita. Jangan mengasingkan kita dari lo gitu, Cef. Lo nggak percaya ya ama kita-kita?" Tanya Dara.
"Bukan begitu. Sumpah gue bukannya percaya sama kalian. Cuma situasi gue emang lagi sulit banget. Maafin gue ya." Kata Cefi.
"Maaf, Cefi. Emang gimana caranya kok kalian bisa menikah? Kamu bilang kalian musuhan kan?" Tanya Putri.
Cefi menganggukkan kepalanya, "Iya, gue sama dia emang musuhan. Kita nikah karena terpaksa. Waktu orang tua gue kecelakaan, Barongsai sama ayahnya pergi cari orang tua gue. Itu posisinya gue lagi sakit. Trus mereka ketemu sama nyokap gue yang udah meninggal. Trus ketemu sama bokap gue yang masih sadar walau keadaannya parah banget. Di sana bokap gue minta buat Barongsai buat nikahin gue." Kata Cefi.
Cefi mulai sesengukkan mengingat apa yang terjadi. Teman-teman Cefi pun langsung memeluk Cefi. Mencoba menyalurkan semangat kepada Cefi.
__ADS_1
"Lo yang sabar ya, Cef." Kata Amel.
"Gue selalu punya mimpi nikah dengan resepsi yang mewah sama kalian. Tapi kenyataannya, nikah aja gue cuma video call, pake baju tidur. Gue malu sama kalian." Kata Cefi
"Kamu nggak perlu malu, Cefi. Nanti kan kalian bisa bikin resepsi. Banyak kok yang nikah sekarang tapi resepsinya setahun atau dua tahun lagi." Kata Putri.
"Bener tuh. Dan Pak Baron ternyata baik banget ya, Cef? Dia nggak suka sama lo tapi tetap mau nikahin lo." Kata Dara.
"Iya sih kalau gue pikir-pikir walaupun dia itu usil banget sama gue tapi dia baik juga." Kata Cefi.
Cefi tidak bohong. Meski laki-laki itu suka marah-marah, mengusiknya, menertawakannya, dan melakukan apapun yang membuat Cefi kesal, namun Baron selalu ada di samping Cefi. Dia mau melakukan apapun untuk Cefi meski tidak pernah mau menunjukkan hal itu dengan ketara.
"Cieee ... Udah jatuh cinta nih sama Pak Baron?" Goda Amel.
"Heh, enggak ya." Kilah Cefi.
"Buktinya tadi Pak Baron panggil Istriku tersayang ... Suami pulang nih ... Buatin minum yaaa ..." Kata Dara yang menirukan suara Baron.
Cefi langsung melotot ke arah temannya. Bagaimana mungkin temannya bisa sangat menyebalkan seperti ini?
"Enak aja. Dia nggak manggil sayang yaaa. Dia cuma manggil istri." Kata Cefi.
"Maaf, Cefi. Muka kamu merah tuh." Kata Putri.
Dara dan Amel langsung tertawa terbahak-bahak mendengar apa yang dikatakan oleh Putri. Kini Putri, Dara, dan Amel pun langsung sibuk menggoda Cefi hingga Cefi merasa kesal. Pipi Cefi juga terlihat merah.
"Gue nggak tau." Kata Cefi.
"Dosa ege, Cef. Itu namanya lo selingkuh. Kata Ustazah guru ngaji gue. Hukumannya dirajam." Kata Amel.
"Dirajam itu apa?" Tanya Cefi.
"Itu loh yang dilempar-lempar batu kan?" Tanya Dara kepada Amel.
"Iyaaa yang itu." Kata Amel.
"Maaf, Amel, bukannya itu kalau berzina?" Tanya Putri.
"Lah, selingkuh kan zina ya?" Tanya Amel.
"Ih, aku nggak berhubungan badan sama sama Daren."
"Eh, zina kan ada banyak tau. Zina mata, zina apa lagi tuh. Ah, lupa lagi."
"Nah, lu. Cefi. Lu berarti cepet dah putusin tuh bekicot."
"Maaf, Dara. Namanya Daren."
__ADS_1
"Bekicot Daren."
"Ih, kalian kok nakutin gue sih. Trus gue kudu gimana dong?"
"Putusin, Cef. Mau masuk neraka lo? Katanya surga istri itu sekarang pindah ke suami. Gue pernah denger ceramah itu dari toa Masjid, soalnya rumah gue deket Masjid."
"Gue kira lu ikut pengajian."
"Kaga, itu juga gue denger setengah-setengah. Coba dah tanya aja sama ustaz atau ustazah. Kali aja omongan gue bener."
"Iya, bener. Kalau dengerin Ayu takut sesat, Cef."
"Sialan lo."
Mereka pun langsung membelokkan topik setelah topik itu selesai dibicarakan. Cefi jadi berpikir kalau dia harus mendatangi Ustazah Aisyah. Dia tidak akan mengatakan kalau dia punya pacar namun dia ingin tau apakah semua yang dikatakan oleh Amel benar atau tidak.
Magrib pun hendak datang, mereka pun memutuskan untuk pulang. Yang penting sudah bertemu dengan Cefi. Itu saja. Besok mereka harus sekolah, jadi mereka tidak bisa di rumah Cefi sampai malam.
"Gue bakalan bantuin lo biar bisa masuk sekolah lagi, Cef. Lo tenang aja ya." Kata Dara.
"Makasih yaaa." Kata Cefi.
"Hari ini hari patah hati nasional ya. Duh guru idaman gue ternyata udah nikah." Kata Amel meringis.
"Kalau mau ambil aja tuh, gratis." Kata Cefi.
"Beneran boleh?" Tanya Amel.
"Ya enggaklah. Enak aja kalau lo ambil gue gak punya suami lagi dong." Kata Cefi.
"Cieee gak rela." Goda Amel.
"Udah pulang sana kalian, dari pada godain gue terus." Kata Cefi.
"Eh, maaf, kita belum pamit sama Pak Baron." Kata Putri.
"Udah nggak papa. Nanti gue sampein ke barongsai." Kata Cefi.
"Jangan-jangan Baronsai itu singkatan ya, Cef?" Kata Dara.
"Singkatan apa?" Tanya Cefi.
"Baron Sayang ... Uluh uluh uluhhh." Kata Dara.
"Kepikiran aja lagi anjir! Hahahaha." Kata Amel.
"Ck, sialan." Kata Cefi.
__ADS_1
Mereka pun langsung tertawa bersama. Kemudian teman-teman Cefi pun pergi dengan masing-masing ojol yang mereka pesan.