Cinta Anak Kompleks

Cinta Anak Kompleks
BAB 99 - Akhir yang Manis (Tamat)


__ADS_3

“Kenapa nggak dateng ke rumah?” tanya Cefi.


“Aku nggak punya muka lagi di hadapan Kak Baron dan keluarganya. Sama kamu pun aku gak punya muka tapi aku harus ketemu sama kamu. Sampai akhirnya aku lihat kamu jalan tanpa Kak Baron akhirnya aku beraniin diri buat ikutin kamu.” kata Andrea.


Cefi pun mengerti mengenai apa yang dirasakan oleh Andrea.


Andrea tentulah malu karena semua warga juga tahu tentang apa yang terjadi. Andrea dan keluarganya sempat berada di rumah Cefi sehingga tetangga Cefi menghafal wajah Andrea. Lagian Cefi tidak bisa membayangkan reaksi suami dan juga mertuanya.


“Kenapa, Xaviera? Kenapa kamu kamu begitu baik sama kita?” tanya Andrea. “Kenapa kamu kirim makanan itu setiap hari? Kenapa?” tanya Andrea.


Andrea pun menangis begitu saja. Cefi pun langsung memeluk Andrea. Andrea sepertinya berbicara hal yang sebenarnya. Cefi diam-diam bersyukur akan hal itu. Andrea ternyata benar-benar sudah berubah. Dan dia tidak pernah menyangka kalau ternyata melalui hadiah kecilnya yang setiap hari dia berikanlah Andrea berubah.


“Aku memang marah pada kalian, namun kalian tetap satu-satunya keluarga yang aku miliki selain suami dan mertuaku. Aku mungkin bisa menjauh dari kalian namun aku ingin membina hubungan yang baik dengan kalian.” kata Cefi.


“Jadi, kamu memang benar-benar tulus melakukannya?” tanya Andrea.


Cefi tersenyum dan melepaskan pelukannya, dia menganggukkan kepalanya, “Aku ikhlas dan tulus melakukannya. Kehidupan di dalam penjara tidak mudah. Kalian juga tidak akan mendapatkan makanan yang sepantasnya, setidaknya dengan membawakan kalian makanan setiap hari siapa tahu bisa mengurangi penderitaan kalian.”


Cefi terdiam, “Aku ingin mengatakan maaf kepadamu karena aku memasukkan kalian ke penjara namun aku tidak bisa mengatakannya.” kata Cefi jujur.


“Jangan, kami memang salah, kami memang harus menebus semua dosa yang telah kami lakukan. Kamu merasa bersalah?” tanya Andrea.


Cefi tersenyum menganggukkan kepalanya, “Iya, makanan itu upaya untuk membuat rasa bersalahku sedikit berkurang.” kata Cefi.


“Jangan lakukan lagi, Xavier. Jangan. Kamu tidak perlu merasa bersalah pada kami. Kamilah yang salah dan sudah sepatutnya kami mendapatkan hukuman. Jangan mengirimkan makanan lagi, kami sudah cukup tersiksa karena masih menerima kebaikanmu selama di dalam rutan.” kata Andrea.


Cefi terdiam.


“Aku mohon, biarkan ayah dan ibuku merasakan makanan penjara, jangan manjakan mereka. Biarkan mereka menebus kesalahan mereka.” kata Andrea.


“Apa itu tidak terlalu kejam?” tanya Cefi.


Mendengar pertanyaan Cefi membuat Andrea langsung menangis begitu saja, “Terbuat dari apa sebenarnya hati kamu, Xavier? Kamu terlalu baik. Kamu sangat baik. Tidak, itu tidak kejam. Merek sedang menebus dosa, biarkan mereka menebusnya, sesuai apa yang mereka lakukan. Aku mengatakan seperti ini karena selama ini, akulah saksi kunci bagaimana sebetulnya mereka mencoba menghancurkan keluargamu sejak kedua orang tuamu masih hidup.” kata Andrea.


Cefi terdiam, benarkah?


“Kamu serius?” tanya Cefi.


“Iya, aku serius. Aku ingin meminta maaf kepadamu tapi tidak ingin memintamu memaafkan kedua orang tuaku. Jadi, tolong jangan buang uangmu untuk mereka.” kata Andrea. “Mereka bisa saja besar kepala sebab aku tahu bagaimana sikap orang tuaku.”


Cefi pun menganggukkan kepalanya, kalau itu memang hal yang sebaiknya dilakukan, Cefi pun menyetujuinya, “Baiklah kalau begitu. Aku nggak akan kiri mereka makanan lagi.” kata Cefi.


“Terima kasih, Cefi. Setelah ini, aku tidak akan mengusik kehidupanmu lagi, dan biaya permainan anakku … aku akan segera mencari uang untuk mengembalikannya.” kata Andrea.


“Nggak usah dikembalikan. Aku emang lagi ngajak keponakan aku main. Anakmu cantik.” kata Cefi.


“Iya, cantik walau kumal. Sayang dia tidak memiliki ayah.” Andrea tersenyum kecut.


“Lanjutkan hidupmu dengan baik, Ndrea. Carilah ayah buat dia. Bangkit lagi. Setelah aku cari tau tentang kamu, ternyata kamu tidur dengan semua laki-laki itu karena mereka mengancam akan membully mu kalau tidak mau melayani mereka kan?” tanya Cefi.


Andrea menangis lagi dan menganggukkan kepalanya, “Iya, mereka memaksa, namun bodohnya aku juga menikmatinya.” kata Andrea.

__ADS_1


Cefi pun menghela napas, “Iya, berubahlah jadi lebih baik, dekatkan dirimu dengan Allah SWT. Mohon ampunan dan katakanlah kalau kamu bertaubat dengan bersungguh-sungguh.” ucap Cefi.


Andrea pun langsung menganggukkan kepalanya begitu saja, “Iya, kebetulan aku juga sudah diterima bekerja di salah satu pondok pesantren untuk mencucikan baju santri. Aku akan meminta ustaz di sana untuk memanduku berubah menjadi lebih baik.” kata Andrea.


“MasyaAllah itu luar biasa. Aku dukung kamu, Ndrea.” kata Cefi.


Andrea pun menganggukkan kepalanya begitu saja, “Sekali lagi makasih ya, Xaviera. Terima kasih atas semua. Dan maaf karena aku dan keluargaku telah menyakitimu dan tidak bisa membalas kebaikanmu. Semoga kamu diberikan balasan kebaikan yang lebih banyak lagi.” kata Andrea.


“Amin ya Allah.” jawab Cefi.


Tak terasa sudah lama mereka berbincang. “Aku akan membawa anakku pulang.” kata Andrea.


Cefi dan Andrea pun berjalan menuju ke kasir, Cefi membayar semuanya, kemudian meminta ketiga anak tersebut untuk keluar permainan.


“Ini Arvin adikku, ini Daniel, adik iparku.” kata Cefi. “Ayo, Nak, salim sama Tante Andrea.” kata Cefi kepada mereka berdua.


Arvin dan Daniel pun menurut mereka pun mencium tangan Andrea.


“Dan ini Nala.” kata Cefi. “Ayo kenalan Sayang.” kata Cefi.


“Dia cerewet aku tidak suka.” kata Daniel sambil melipat tangannya di depan dada dengan gaya sok cool.


“Aku juga, dia berisik. Bicaranya cepat sekali.” kata Arvin yang mengikuti gaya Omnya. Daniel memang sok lebih dewasa sehingga Arvin mengikutinya.


“Aduh,” kata Cefi mengaduh.


“Nggak papa, memang anakku memang cerewet.” kata Andrea sambil terkekeh.


“Bang Balon!” seru Daniel.


“Bang Balon!” seru Arvin ikut-ikut Daniel.


Mereka berdua pun langsung berlari ke arah Baron.


Baron pun menggendong keduanya dengan mudah. Kali ini dia tidak membetulkan panggilan anaknya. Karena melihat ada Andrea.


“K-Kak Baron.” kata Andrea yang langsung merapatkan tubuh anaknya padanya.


Cefi yang merasa situasi begitu tegang langsung mencoba mencairkannya. “Mas, Andrea datang untuk meminta maaf kepada kita.” kata Cefi.


“Iya, Kak. Saya meminta maaf atas semuanya. Kalau begitu kami permisi, saya tidak akan mengganggu kehidupan kalian lagi. Saya janji, Kak.” kata Andrea. “Ayo, Sayang.” kata Andrea menggandeng anaknya.


Andrea yang tahu diri pun langsung berjalan menjauhi keluarga Cefi.


“Kami sudah memaafkan kamu.” kata Baron.


Lutut Andrea seketika terpaku. Dia langsung menghentikan langkahnya dan langsung menoleh ke arah belakang. Dia langsung menatap Baron.


Air mata Andrea pun jatuh begitu saja, dia tidak menyangka kalau Cefi dan suaminya ternyata mau berbesar hati untuk memaafkan kesalahan yang telah dia dan keluarganya berbuat. Andrea tahu dia salah. Namun, dia bertekad akan memperbaiki semuanya lagi.


Senyuman Cefi mengembang, dia sempat takut kalau suaminya akan marah namun ternyata suaminya justru bijak sekali.

__ADS_1


“Terima kasih, Kak. Terima kasih.” kata Andrea sambil menangis. Kemudian dia pun melambaikan tangan dan pergi.


Kini Cefi berjalan bersama suami, anak, juga adik iparnya. Lalu Baron mengajak mereka untuk makan di salah satu restoran yang ada di sana. Sebuah restoran ayam kentucky terbesar dan memiliki wahana bermain untuk anak-anak juga.


Meski menjual ayam kentucky, di restoran tersebut juga menyediakan makanan lain yang sekiranya bisa dimakan oleh anak kecil keumuran Arvin dan juga Daniel.


“Mas, makasih udah maafin mereka.” kata Cefi kepada Baron.


Baron tersenyum dan menganggukkan kepalanya begitu saja, “Melihat bagaimana interaksi kalian, kalian sudah berdamai kan?” tanya Baron.


Cefi pun langsung menganggukkan kepalanya. “Iya, Mas. Dia menceritakan semuanya kepadaku, dia tersentuh karena makanan yang biasa aku kirimkan, Mas.” kata Cefi.


Baron mengusap pipi istrinya, “Akhirnya kebaikanmu membuahkan hasil.” kata Baron.


Cefi pun menganggukkan kepalanya dengan senang, “Iya, Mas.” kata Cefi. “Terima kasih udah izinin aku masak setiap hari untuk mereka ya, Mas? Andrea minta aku untuk nggak kirim makanan lagi buat orang tuanya.” kata Cefi.


“Kenapa?” tanya Baron.


“Andrea minta aku buat gak ngerasa bersalah dan biarin orang tuanya menjalani hukumannya di penjara sebagaimana mestinya. Katanya makanan yang aku kirimkan tidak juga membuat mereka terbuka, melainkan justru tambah besar kepala.” kata Cefi.


Baron pun menganggukkan kepalanya begitu saja, “Kalau memang itu yang dia katakan ya sudah ikuti aja.” kata Baron.


“Iya, Mas.” kata Cefi.


Malam harinya, Cefi terbangun merasakan seseorang mencium pipinya. Cefi pun membuka mata dan mendapati wajah suaminya.


“Mas, udah malem loh.” kata Cefi.


Baron mendekat ke arah Cefi, “Ayo kita buat adik buat Arvin.” bisik Baron di telinga Cefi.


“Tap- …” Cefi tidak bisa berbicara apapun lagi. Sebab bibirnya kini dibungkam oleh suaminya dan Cefi tidak bisa menolak itu.


-TAMAT-


***


Assalamualaikum, temen-temen.


Terima kasih banyak udah baca cerita aku sampai akhir ya. Semoga kalian suka sama ceritanya dan suka sama endingnya. Makasih banyak buat semua vote, komentar, like, dan dukungan-dukungan lainnya yaaa 🤗.


Untuk pembaca yang paling banyak komentar, aktif, dan juga paling banyak memberikan vote di bawah ini silakan hubungi aku lewat Instagram "Upi1612" yaaa. Ada sedikit hadiah pulsa untuk kalian yang akan dikirimkan besok.


1) Santi Eprilianti


2) Sri Yenda


3) Unung 1723


Jangan lupa di klaim hadiahnya Instagram aku ya. Terima kasih semuanya. Yang lain jangan berkecil hati yaa.. sampai jumpa di novel selanjutnya.


Wassalamu'alaikum. ❤️

__ADS_1


__ADS_2