
Cefi tidak bisa membiarkan Andrea seorang tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Bagaimana pun dia merasa kalau dia harus meminta penjelasan kepada Andrea mengenai apa yang terjadi. Bagi Cefi bukan perkara uang yang telah dia berikan, melainkan lebih ke dia ingin meminta penjelasan mengenai mengapa Andrea berbuat demikian.
“Andrea? Aku mau ngomong sama kamu.” kata Cefi.
Andrea mengeluarkan uang seratus ribu dan memberikannya kepada Cefi, “Maaf karena aku tadi tiba-tiba di telpon dosen, karena buru-buru dan gak punya nomor kamu, jadi aku pulih langsung ke ruangan doesen.” kata Andrea.
Cefi terperangah dengan apa yang dikatakan oleh Andrea. Bagaimana mungkin Andrea bisa mengatakan hal itu dengan mudah? Padahal, Cefi juga belum mengutarakan apa yang ada di dalam kepadalnya, namun Andrea justru sudah mengatakan hal tersebut terlebih dahulu.
Cefi menghela napas, dia mencoba berpikir. Memikirkan hal yang lain, dia tidak mau kalau Andrea menang begitu saja. Dia pun langsung memikirkan apa yang terjadi di sekolah.
“Aku mau ngomong soal jam tangan yang dikasih temen kamu.” kata Cefi.
Andrea terkejut setengah mati, kemudian dia pun langsung menatap Cefi untuk memastikan kalau dia tidak salah dengar. Dan ketika Andrea menaap Cefi, Andrea memang tidak menemukan kebohongan di mata Cefi.
Andrea pun bangkit. Cefi menghela napas. Kemudian, dia pun langsung berjalan menuju ke bagian belakang rumahnya, Cefi tidak mau kalau ada orang yang mendengar percakapannya. Di belakang Cefi, Andrea terus mengikutinya.
“Kenapa kamu ngaku-ngaku kalau kamu pacar suami aku?” tanya Cefi.
Tadinya Cefi tidak mau membahas ini namun karena rasa malunya tadi dipertaruhkan, sehingga dia ingin meminta penjelasan langsung dari Andrea.
“Apa maksud kamu?” tanya Andrea.
Andrea tidak mau mengaku kalau dia sudah melakukan hal itu, namun Cefi tidak mau mengalah, dia tetap ingin mendapatkan informasi mengenai hal tersebut.
“Nggak usah pura-pura, aku udah denger semuanya dari temen-teman kamu. Jadi, aku minta penjelasannya sekarang. Kenapa kamu malah ngaku-ngaku jadi pacar suami aku. Aku percaya sama Mas Baron. Dia tidak mungkin selingkuh karena kenal sama kamu aja dia nggak.” kata Cefi.
Tiba-tiba Andrea menangis di tempatnya, hal itu membuat Cefi bingung. Dia tidak tahu kenapa Andrea bisa menangis seperti itu. Padahal, Cefi merasa kalau dia tidak mengatakan hal-hal yang menyakitkan, lalu kenapa Andrea sampai menangis seperti itu?
“Aku, emang ngelakuin itu buat dapatin jam. Aku butuh uang banyak buat biaya kuliah, jadi semua hal aku lakuin. Jam itu mahal, kalau aku jual masih laku sekitar sepuluh juta.” kata Andrea sesengukkan.
__ADS_1
Cefi terkejut setengah mati, namun dia memang tidak kaget dengan harga jam tersebut. Dia hanya terkejut kalau ternyata apa yang ada di dalam kepalanya kalau Andrea melakukan itu karena terpaksa ternyata memang benar adanya. Andrea memang melakukan itu demi uang.
Bila menilik uang yang harus dibayarkan oleh Andrea untuk biaya kuliahnya memang hal itu cukup masuk akal. Namun, Cefi tidak mau kalau suaminya dianggap sebagai pacar Andrea. Itu sama saja Andrea membohongi semua orang. Dan Cefi tidak mau dicap sebagai pelakor padahal kebalikannya. Bisakah Cefi mengatakan demikian?
“Aku tau kamu butuh uang, Andrea. Tapi aku rasa nggak kayak gini.” kata Cefi.
“Trus aku harus ngelakuian apa lagi, Xaviera? Kamu tahu kan kedua orang tuaku tidak bekerja? Aku juga belum bekerja. Kamu mungkin enak bisa ngomong begitu karena ada suami kamu yang selalu biayain hidup kamu. Tapi kalau aku? Aku harus bertahan sendirian.” kata Andrea.
Andrea pun langsung berlari masuk ke dalam rumah Cefi. Meski Cefi belum selesai mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya namun dia membiarkan saja Andrea pergi. Dia merasa kalau Andrea memang sedang membutuhkan uang dan membutuhkan waktu untuk sendiri.
Cefi menghela napas.
“Kalau kayak gini gue kudu ngomong sama Mas Baron gak ya?” tanya Cefi.
Cefi juga merasa tidak tega dengan keadaan Andrea. Kalau dia mengatakan kepada suaminya, dia merasa takut kalau masalah ini akan melebar. Cefi pun memutuskan untuk menelan apa yang terjadi sendirian.
“Gue bukannya bohong ya. Gue bakalan cerita, tapi mungkin nanti.” gumam Cefi.
Ponsel Cefi yang kebetulan ada di bajunya berdering, Cefi pun langsung mengangkat telepon tersebut. Di sana suaminya menelepon. Cefi pun terkekeh begitu saja.
“Kenapa, Mas? Kangen ya?” tanyanya kepada telepon tersebut sebelum menerima panggilan telepon itu.
Kemudian, Cefi pun langsung mengangkat panggilan tersebut.
“Kamu di mana?” tanya Baron.
Mendengar pertanyaan dari Baron itu membuat Cefi terkekeh begitu saja. Suaminya memang lucu sekali, menggemaskan sekali. Jadi, ingin mencubit.
“Di belakang rumah, Mas. Kenapaaa?” tanya Cefi.
__ADS_1
“Ke kamar ya? Ada hal penting yang mau saya bicarakan.” kata Baron.
Cefi pun tersenyum. Ntah mengapa dia jadi tegang juga melihat bagaimana nada suara Baron yang terlihat sedikit serius.
Cefi memilih untuk terus berjalan menuju ke kamarnya. Sesampainya di kamar, Cefi pun duduk di samping suaminya. “Kenapa, Mas?” tanya Cefi.
“Uang kita nggak ada” kata Baron.
Cefi terkejut setengah mati, “Mas serius?” tanya Cefi.
Baron menganggukkan kepalanya begitu saja, “Iya, dan saya juga sudah dapat video CCTV-nya.” kata Baron.
“Kamu udah liat, Mas?” tanya Cefi.
“Belum, saya tunggu kamu dulu.” kata Baron.
Senyum Cefi pun mengembang begitu saja, “Ya ampun suamiku so sweet sekali ya?” kata Cefi sambil terkekeh begitu saja.
Baron menggelengkan kepalanya, “Ayo? Mau nonton?” tanya Baron.
Cefi menganggukkan kepalanya begitu saja. Kemudian, Baron pun langsung membuka ponselnya dan langsung memutar rekaman CCTVV. Baron mempercepat rekaman CCTV hingga akhirnya terlihat ada seorang perempuan yang masuk ke dalam kamar mereka.
Cefi dan Baron terkejut bukan main melihat siapa yang masuk. Orang itu adalah Andrea. Cefi sangat mengenal Andrea, apalagi mereka memang bisa bertemu, jadi meski dari belakang, dia bisa melihatnya.
“Andrea?” tanya Cefi.
Andrea terlihat berjalan menuju ke laci dan mengambil uang yang ada di laci tersebut. Cefi pun menghela napas, dia tidak tahu kenapa Andrea sampai berbuat nekat seperti ini.
“Kok dia bisa ngambil uang itu, Mas?” tanya Cefi.
__ADS_1
“Saya akan bicara sama Om Soni.” kata Baron.
Baron hendak bangkit, namun Cefi buru-buru memegangi tangan suaminya. Cefi jadi terpikirkan mengenai jumlah tagihan itu. Kalau dia boleh menebak sepertinya Andrea mencuri karena dia memang membutuhkan uang untuk biaya kuliahnya.