
Malam harinya.
Cefi menatap Baron yang tengah sibuk dengan laptopnya, belakangan Baron jarang bermain games, melainkan dia lebih sering berkutat dengan laptopnya, mengerjakan gambar demi gambar hingga larut malam.
“Kamu kenapa liatin saya kayak gitu?” tanya Baron.
“Nggakpapa, aku bingung aja sama kamu, Mas.” kata Cefi.
“Bingun kenapa?” tanya Baron yang tidak mengerti mengenai mengapa Cefi mengatakan kalau dirinya bingung pada Baron. Paahal menurut Baron, dia belum melakukan sesuatu yang bisa dikomentari dan dibingungkan.
“Ya, bingung aja, kok ada ya orang kayak kamu.” kata Cefi.
“Maksud kamu?” tanya Baron mencoba memicingkan matanya.
“Iya, kamu sibuk banget, kamu nggak pusing apa? Di sekolah ngajar, pulang sekolah bikin materi ajar, ngerjain gambar, ngerjain skripsi, sama kuliah online?” tanya Cefi.
“Ya mau gimana lagi? Tapi saya menikmati ini semua.” kata Bron.
“Aku yang ngeri.” kata Cefi.
“Ngeri kenapa?” tanya Baron.
“Iya, aku ngeri kamu botak aja. Masa aku punya suami botak sih, hahahaha.” kata Cefi.
Baron pun langsung ikut tertawa. Dia juga merasa kalau ucapan Cefi menggemaskan, dan terlebih wajah Cefi itu membuat dia berkali-kali lipat ingin tertawa.
“Ya nggak gitu juga. Lagian kalau saya botak juga masih tampan, kamu nggak perlu khawatir.” kata Baron.
“Dih, ge-er banget bapaknyaaa.” kata Cefi yang langsung ditanggapi dengan kekehan.
Baron kembali fokus pada layar laptopnya. Cefi melirik jam dindin, sudah lebih dari 4 jam, suaminya menatap laptop tak berkedip atau mengalihkan pandangannya ke arah lain. Padahal, menurut dokter mata, kalau kita menatap laptop, pnsel, atau televisi, dsb, kita harus mencoba menghentikan aktivitas skita sebentar. Setiap dua puluh menit kita harus menatap selama dua puluh detik ke tempat yang jaraknya sekitar dua puluh meter.
Ntahlah, Cefi juga tidak tahu, kalau tidak salah sih begitu. Lalu Cefi pun berjalan menuju ke arah suaminya.
“Mas …” panggil Cefi.
“Hmm?” Sahut Baron.
__ADS_1
Cefi pun langsung mengambil jari Baron, Baron mau tak mau langsung menghentikan aktivitasnya dan menatap Cefi. Cefi menunduk melihat ke arah jari Baron yang kini ada di tangannya, ada satu hal yang sangat ingin dia tanyakan kepada Baron. Ini soal perasaan Baron.
Cefi memang tidak tahu apakah ketika dia menanyakan perasaan kepada Baron, dia sedang merendahkan harga dirinya atau tidak, namun yang jelas dia merasa kalau dia harus bertanya langsung, sebab dia tidak mau kalau terus berasumsi.
Baron pun menarik Cefi dan mendudukkannya di pangkuannya, Cefi sedikit terkejut namun seketika dia kembali bersikap sewajarnya.
“Ada apa?” tanya Baron sambil melingkarkan tangannya di pinggang Cefi.
Cefi pun langsung menggelengkan kepalanya begitu saja. Namun, sayangnya, Baron selalu tahu kalau Cefi seperti tengah menyembunyikan sesuatu, apapun yang disembunyikan oleh Cegi. Dia akan terus berusaha untuk membuat istrinya mau membuka suara.
Cefi yang sebetulnya ingin menanyakan perasaan Baron kepadanya, langsung memilih untuk mengurungkannya, dia lebih memilih untuk mengatakan rencananya bersama dengan teman-temannya. Dia ingin memberikan kejutan kepada Dara namun dia tidak punya uang untuk patungan.
Putri dan Amel sudah memberikan uang patungan sebanyak lima puluh ribu. Sehingga kini di tangan Cefi sudah ada uang sebesar seratus ribu. Mereka juga bilang kalau mereka akan membayar sisanya besok seusai acara karena Cefi pun tidak tahu harga kue yang akan dibelinya sekarang.
“Besok Dara ulang tahun.” kata Cefi.
“Trus?” tanya Baron.
“Aku mau minta uang dong, Suami.” kata Cefi yang langsung mengalungkan tangannya di leher suaminya bermanja-manja.
Baron pun langsung berdecak, “Emang bener ya kata orang, kalau istri manja-manja pasti ujung-ujungnya ada maunya.” kata Baron.
Baron menatap Cefi dan menggelengkan kepalanya.
“Eh? Kamu nggak mau, Mas?” tanya Cefi. Tatapannya kini mulau meredup. Dia tidak tahu kalau suaminya tidak mau memberikan uang dan menemanina membeli kue. Hal ini sangat di luar prediksinya.
“Iya, nggak mau. Ngerayumu standar, saya belum puas.” kata Baron.
Cefi pun berdecak kesal, namun dia mencoba memutar otak. Dia tidak mau direndahkan oleh Baron, “Oh ya? Apakah rayuan aku standar?” tanya Cefi dengan senyum licik.
Cefi mendekatkan bibirnya pada pipi Baron dan mencium pipi Baron. Meski jantung Baron sudah berdegup dengan sangat kencang namun dia merasa kalau hal itu standar saja. Baron mulai menginginkan hal yang lebih dari sekadar cium pipi.
“Masih standar.” kata Baron.
Cefi pun merasa kesal, “Yaudah aku minta sama Om Soni aja.” kata Cefi.
Cefi langsung bangkit dari pangkuan suaminya, namun suaminya buru-buru menarik tangan Cefi agar kembali ke tempat semula. Kemudian, Baron pun langsung mencium bibir Cefi dengan brutal. Meski terkejut namun lama-lama Cefi mulai kembali mengalungkan tangannya di leher suaminya dan membalas ciuman itu.
__ADS_1
Ketka Baron mulai tidak terkendali, Cefi langsung menghentikan tangan suaminya. Kemudian, dia pun mulai menjauhkan tubuhnya dari Baron.
Baron menatap Cefi dengan tatapan memelas.
“Nggak, aku nggak mau kita keterusan.” kata Cefi.
“Enggak, saya janji nggak akan keterusan.” kata Baron yang kali ini menarik tangan istrinya dan membawa istrinya ke atas tempat tidur.
***
Keesokkan harinya, Baron dan juga Cefi tidak berangkat lebih pagi. Mereka berangkat di jam seperti biasa, Baron akan menemani Cefi membeli kue saat pulang sekolah. Hal itu lebih efektif karena kue yang dibeli masih dingin dan enak, kalau dibeli dari pagi, mereka tidak tahu harus di taruh di mana kue tar itu.
Semalam, Baron sudah memberikan uang kepada Cefi. Sebesar lima ratus ribu, sekalian untuk uang jajan Cefi. Baron sebetulnya menyarankan agar Cefi memegang uang bulanan namun Cefi takut memegang uang, jadi Baron belum bisa memaksakan kehendak. Dia paham kalau Cefi belum berani sehingga dia pun memakluminya, dia baru akan memberikan Cefi sedikit demi sedikit.
“Yah, Mas. Maksud saya, Pak…” kata Cefi.
“Kenapa?” tanya Baron.
Sekarang mereka sudah di parkiran sekolah.
“Uangnya ketinggalan.” kata Cefi.
“Oh yaudah, saya ada kok.” kata Baron.
Cefi pun tersenyum, “Uh, baik banget sih.” kata Cefi.
Baron pun menggelengkan kepalanya begitu saja, “Udah, masuk sana! Bentar lagi bel.” kata Baron.
Cefi pun menganggukkan kepalanya. Dan berbalik.
“Xaviera!” panggil Baron.
Cefi pun menoleh.
Baron menyerahkan uang kepada Cefi, lima puluh ribu, karena Cefi mengatakan kalau dia lupa membawa uang.
“Makasih.” kata Cefi dengan senang.
__ADS_1
Baron pun langsung menganggukkan kepalanya begitu saja. Cefi meraih tangan Baron dan mencium tangan itu. Baron seketika mematung, namun untungnya tak ada yang curiga karena semua murid memang salaman dengan guru.