Cinta Anak Kompleks

Cinta Anak Kompleks
BAB 25 - Sakit Hati


__ADS_3

Sekolah SMA Angkasa Raya menjadi gempar. Semua orang membicarakan Cefi yang berciuman dengan Baron. Cefi dan Baron bahkan sudah dipanggil oleh kepala sekolah dan beruntung Baron bisa menjelaskan mengenai apa yang terjadi dengan baik sehingga kepala sekolah dan guru-guru mengerti dan tahu kalau kehebohan ini karena siswa-siswi angkasa.


Baron tidak mencium Cefi. Dia hanya tidak sengaja.


"Jadi, lo beneran ciuman sama Cefi? Gila makan temen lo! Gue duluan yang suka sama dia tapi lo malah nyolong star. Mana di sekolah lagi anjir." Kata Azka.


Baron melirik Elsa yang menunduk sejak tadi. Baron sepertinya mengerti apa yang dirasakan oleh gadis itu. Baron pun memberikan tatapan tajam kepada Azka yang terus saja mencerocos.


"Diem lo! Tadi itu nggak sengaja. Gue mau masuk kelas, dia lari-larian. Trus tabrakan. Gak lebih." Kata Baron menjawab. Jawaban itu terasa seperti dia yang sedang menerangkan hal itu pada Elsa.


"Gue ke toilet dulu." Kata Elsa.


Baron pun menghela napas dan langsung berlari mengejar Elsa. Dia tau kalau Elsa sedang cemburu. Elsa tidak benar-benar ingin ke toilet.


"Elsa ..." Panggil Baron.


Elsa pun memilih mengabaikan panggilan itu. Kemudian, Baron pun langsung memegang tangan Elsa menghentikan gerakan Elsa. Baron melepaskan tangan Elsa setelah Elsa menghentikan langkahnya.


"Jangan salah paham sama gue. Gue sama antibiotik maksud gue Xaviera gak ada apa-apa. Tadi nggak sengaja." Kata Baron.


Cefi yang sedang berjalan sendirian melihat interaksi antara Baron dan juga Elsa dengan kesal. Ntah apa yang terjadi padanya. Cefi memutuskan untuk terus berjalan. Baron yang melihat Cefi berjalan pun langsung memiliki ide. Dia ingin meminta Cefi menjelaskan mengenai apa yang terjadi kepada Elsa.


"Gue mau ke toilet." Kata Elsa berbohong.


"Tunggu." Kata Baron.


Baron langsung berjalan mendekati Cefi dan langsung menarik tangan Cefi. Dia tidak peduli dengan apa yang ada dipikiran Cefi, "Tadi kita hanya tidak sengaja kan?" Tanya Baron.


Cefi menatap Baron lalu menatap Elsa, "Maaf ya, saya nggak tertarik sama hubungan kalian. Saya udah pusing. Lagian Bu Elsa kayak anak kecil aja sih. Bu Elsa cemburu? Emang kalian pacaran? Enggak kan? Jadi, ngapain cemburu?" Kata Cefi.


"Antibiotik ..." Ancam Baron pelan. Cefi tidak menggubris.


"Kamu pasti sengaja kan mau goda guru kamu sendiri?" Tanya Elsa. Kali ini Elsa memandang Cefi dengan kesal.


"Kalau iya kenapa, Bu? Mau ngadu sama kepala sekolah? Hih! Nggak profesional banget jadi guru." Kata Cefi.


Baron mengepalkan tangannya di samping. "Xaviera, cepat minta maaf. Saya hanya minta kamu menjelaskan kalau ciuman kita itu tidak disengaja."


"Bapak udah jelasin juga kan sama Bu Elsa? Tapi dia nggak percaya? Yaudah buat apa lagi saya jelasin, Pak? Udah ah, saya mau ke kantin. Laper." Kata Cefi.


Cefi melewati Baron dan juga Elsa. Namun, di ujung koridor ketiga teman Cefi yang dari tadi sembunyi langsung keluar begitu saja.


"Kodok mencret!" Kata Cefi latah.


Ketiga teman Cefi pun terkekeh begitu saja, namun mereka buru-buru menutup mulut takut Baron dan Elsa melihat keberadaan mereka.


Mereka pun ke kantin.

__ADS_1


"Ada apaan dah mereka?" Tanya Amel yang sangat antusias dengan apa yang terjadi.


"Lo keren banget asli. Jadi, lo sekarang suka sama Pak Baron?" Tanya Dara.


"Maaf, Cefi. Emang Pak Baron sama Bu Elsa belum jadian ya? Perasaan aku liat mereka kalau pulang atau pergi dari sekolah naik motor berdua." Tanya Putri.


"Lo tau dari mana kalau mereka belum jadian? Udah mulai deket sama Pak Baron?" Tanya Amel.


"Stop-stop-stop! Kalian ngapain sih nanya begitu? Gue nggak suka sama Pak Baron. Oke? Gue tau itu karena gak sengaja denger. Oke? Udah ya. Tadi juga gak sengaja. CIUMAN TADI JUGA GAK SENGAJA!" teriak Cefi.


Cefi memang sengaja ingin membuat semua orang di kantin itu mendengar apa yang dikatakan olehnya. Bukan apa-apa, dia mendengar semua orang membicarakan dia saat ini dan itu mengganggunya.


"Gimana rasanya, Cef?"


"Ah, gue iri sama Cefi."


"Padahal gue yang suka sama Pak Baron anjir."


"Kok bisa sih mereka ciuman."


"Apa rasanya ya ciuman sama Pak Baron?"


Cefi memutar bola mata ternyata pengumumannya tidak berlaku.


Seketika dia teringat Daren. Dari tadi dia tidak melihat Daren. Apa Daren mendengar rumor ciuman itu?


"Gue cari Daren dulu ya. Ntar aja kita ngegosip lagi." Kata Cefi.


"Liat Daren gak?" Tanya Cefi.


"Di belakang gedung kayaknya." Kata teman Daren.


"Makasih."


Cefi pun langsung berjalan ke belakang gedung dan benar saja dia melihat Daren yang sedang tidur di sana.


"Daren ..." Panggil Cefi. "Kamu marah ya sama aku?"


Daren membuka mata. Kemudian, dia langsung duduk dan menghela napas, "Kamu gak pernah mau ciuman sama aku tapi kamu malah ciuman sama Pak Baron." Kata Daren.


Cefi terkejut mendengar ucapan Daren tersebut. "Daren, ini semua tuh gak kayak yang kamu pikirin. Aku sama Pak Baron itu gak sengaja. Jadi, si Adam tadi ngeselin trus aku mau ngejar dia tapi tiba-tiba Pak Baron masuk jadi gak sengaja dia cium kening aku. Aku sama dia gak sengaja. Sumpah." Kata Cefi yang mencoba menjelaskan.


"Bener cuma kayak gitu?" Tanya Daren.


Cefi pun menganggukkan kepalanya, "Sumpah. Teman-temen aku satu kelas juga tau kok. Maaf ya bikin kamu salah paham."


"Iya, nggakpapa. Aku bingung sebenernya sama kamu. Kamu cuek banget sebagai pacar. Apa kamu gak suka sama aku?" Kata Daren.

__ADS_1


"Suka kok suka. Kok kamu bisa mikir begitu?"


"Abis kamu tuh diajak jalan susah, dichat balasnya lama, ditelpon gak pernah diangkat, dan videocall gak pernah mau."


"Maaf deh kalau masalah hape. Aku suka males pegang hape Daren. Untuk masalah main, nanti Minggu besok aku mau."


"Bener?"


"Iyaaa."


"Pulang malem ya?"


"Iya nggakpapa."


"Nggak akan ada yang nyariin kan?"


"Nggak ada."


***


Sepulang sekolah, Baron sudah menunggu Cefi pulang di dalam rumah. Cefi diantar pulang oleh Daren. Daren tidak pernah mau diajak masuk ke dalam rumah Cefi. Itu jadi nilai tambah untuk Daren di mata Cefi. Daren anak yang sopan. Dia tidak tahu kenapa teman-temannya tidak ada yang bisa mengerti mengenai hal tersebut.


"Assalamualaikum!" Salam Cefi masuk ke dalam.


"Waalaikumsalam." Jawab Baron.


Cefi menghempaskan tubuhnya ke atas sofa, rasanya lelah sekali.


"Lo kenapa bilang begitu sama Elsa?" todong Baron sambil menatap Cefi dengan tajam.


"Ya biarin aja sih."


"Gimana gue bisa biarin coba? Sekarang dia marah sama gue."


"Lo ajakin kencan aja. Beres kan?"


"Lo tuh bener-bener ya. Gak punya hati. Gak ada terima kasihnya sama gue. Nyesel banget gue nikahin lo." Kata Baron.


Cefi membeku di tempatnya. Dia langsung menoleh ke arah Baron. Matanya mulai berkaca-kaca, "Lo bilang apa? Lo nyesel nikahin gue?" Tanya Cefi.


Baron seketika tahu kalau dia salah bicara. "Maksud gue ..." Baron mencoba meluruskan namun egonya sangat tinggi, "Iya. Gue nyesel." Kata Baron akhirnya.


"Lo sendiri yang nikahin gue. Gue nggak minta." Kata Cefi.


"Iya tapi itu karena bokap lo." Jawab Baron.


"Jangan bawa-bawa bokap gue! Kalau lo nyesel. Tinggalin aja gue. Gue nggak papa! Gue emang gak berguna, cuma yatim piatu, bikin lo nikah sama gue. Tinggalin aja. Tinggalin gue!" Tangis Cefi pecah.

__ADS_1


Kalimat Baron sudah sangat keterlaluan kepadanya. Cefi langsung menangis dan lari masuk ke kamarnya.


Ibu Anes pun datang saat mendengar suara keributan anak dan menantunya dan menanyakan mengenai apa yang terjadi kepada anaknya.


__ADS_2