Cinta Anak Kompleks

Cinta Anak Kompleks
BAB 40 - Rasa Pengantin Baru


__ADS_3

Seusai makan malam, Cefi dan juga Baron pun kembali ke rumah mereka. Kali ini Cefi cukup tau diri kalau dirinya harus turun dan membukakan gerbang. Mereka sudah sepakat untuk menjalankan peran masing-masing dan Cefi sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak terlalu menyusahkan suaminya, Cefi memilih untuk turun.


"Biar aku yang turun buat buka gerbangnya." Cefi berinisiatif. Padahal, biasanya Baron akan menyuruhnya terlebih dahulu, lalu mereka berdebat, baru akhirnya Cefi kalah dan membuka pintu.


"Nggak usah-nggak usah. Biar saya aja." Kata Baron.


Baron pun langsung turun. Seketika senyum Cefi mengembang. Ntah mengapa perutnya seperti dihinggapi banyak kupu-kupu. Perlakuan Baron begitu manis. Apakah dia sudah berlebihan karena mencintai suaminya sendiri?


Kemudian, suaminya kembali lagi dan masuk ke dalam mobil, serta melajukan mobilnya. Sampai di dalam Cefi dan Baron keluar. Baron buru-buru berjalan menutup pintu gerbang rumah mereka.


"Kamu istirahat dulu aja. Saya mau kunci gerbang dulu." Kata Baron.


"Aku tungguin kamu aja." Kata Cefi.


Baron pun terkekeh begitu saja dan menganggukkan kepalanya. Kemudian, dia pun langsung berjalan menuju ke arah istrinya dan langsung menggenggam tangan istrinya mesra ke dalam rumahnya. Lebih tepatnya ke dalam kamar.


"Kayaknya malam ini saya nggak bisa tidur satu kamar sama kamu. Kamu tidur duluan aja. Kamu pasti capek. Saya tidur di bawah aja." Kata Baron.


"Loh, emang kenapa?" Tanya Cefi.


"Gambar saya belum selesai." Kata Baron, "Saya mau ngerjain gambar dulu. Dan mungkin sampai pagi." Sambungnya.


"Nggak bisa besok? Kan besok hari Minggu? Aku gak mau tidur sendirian." Tanya Cefi.


"Lagi banyak kerjaan. Kamu gak takut kan sendirian? Nanti kalau kerjaannya udah selesai, saya ke sini lagi deh gak jadi tidur di bawah. Jangan tungguin saya, oke?" Kata Baron sambil mengusap kepala Cefi.


Dengan berat hati, Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja, "Yaudah, tapi aku bikinin teh ya atau kopi?" Kata Cefi.


Beron terkekeh, "Kita kok keliatan aneh ya?" Katanya.


Mendengar hal itu membuat Cefi juga terkekeh karena dia pun merasakan hal yang sama. Dia merasakan kalau hubungan dia dan Baron mulai aneh. Karena mereka terlalu biasa untuk berkelahi dan tiba-tiba mereka menjadi malu-malu seperti ini.


"Udah jawab aja." Kata Cefi.


"Mau teh aja." Kata Baron.


Cefi pun menganggukkan kepalanya dan langsung bangkit. "Kamu mau mandi kan, Mas?" Tanya Cefi

__ADS_1


Senyum Baron mengembang, "Saya tebak besok kamu udah panggil saya 'Sayang'." Kata Baron.


"Bapaknya Dilan? Ngeramal-ngeramal?" Tanya Cefi.


Baron pun terkekeh begitu saja. Cefi mengeluarkan baju tidur untuk suaminya dan meletakkannya di atas tempat tidur kemudian dia langsung ke dapur dan membuat teh untuk suaminya.


Cefi tidak langsung menghampiri Baron yang kini ada di ruang tengah dan sudah berkutat dengan laptopnya. Baron juga terlihat sudah mandi dan berganti baju. Cefi sendiri bingung, apakah Baron yang terlalu cepat melakukan ini dan itu atau memang dirinya saja yang lelet meski hanya untuk membuat secangkir teh.


Wajah Baron terlihat serius. Cefi jadi bingung harus berbuat apa. Suaminya bekerja keras sedangkan dia tidak melakukan apapun. Baron yang merasa diperhatikan pun langsung menoleh ke arah Cefi. Cefi yang sudah ketahuan keberadaannya pun berdehem dan langsung berjalan menuju ke arah suaminya. Lalu meletakkan dua cangkir teh di atas meja.


"Ini tehnya." Kata Cefi.


"Makasih, Antib- ... Istri." Kata Baron.


Senyum Cefi melebar, "Sama-sama, suami." Jawab Cefi.


Cefi mengamati laptop milik Baron. Baron sudah mulai menggerakkan mouse ke kanan dan ke kiri untuk membuat fondasi bangunan. Tangannya terlihat begitu lincah.


"Kamu nggak tidur? Istirahat gih, kamu pasti lelah." Kata Baron.


"Aku mau temenin kamu aja. Aku janji gak ganggu kamu." Kata Cefi.


***


Keesokkan harinya.


Cefi merasakan sebuah tangan melingkar di atas perutnya. Cefi pun menoleh dan mendapati suaminya yang tengah memejamkan mata sambil menenggelamkan kepala ya di bahu sebelah kanan Cefi. Ketika Cefi menoleh wajah mereka terlihat dekat. Dalam jarak sedekat ini, Cefi langsung menyadari betapa tampan suaminya itu.


Cefi mengusap pipi suaminya. Baron yang merasa ada yang mengusapnya pun langsung membuka matanya. Seketika senyumannya mengembang. Namun, bukannya bangun, Baron memilih memejamkan matanya dan juga mengeratkan pelukannya.


"Bangun sana, Mas. Udah subuh." Kata Cefi.


"Sebentar lagi." Kata Baron sambil tersenyum sambil memejamkan mata.


Pipi Cefi merona merah. Jantung Cefi berdegup dengan sangat kencang. Dia pun mengusap rambut Baron. "Kamu pasti capek ya, Mas?"


Baron menggelengkan kepalanya. Baron seperti anak kucing saat ini. Cefi mengusap kepala suaminya lagi dengan lembut.

__ADS_1


"Salat dulu aja abis itu tidur lagi." Kata Cefi.


Baron membuka matanya, kemudian mata Cefi bertemu. Kini tatapan Baron terlihat begitu berbeda. Cefi sendiri tidak bisa mengartikan tatapan itu karena dia belum pernah melihatnya sebelumnya.


Baron mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya ke bibir istrinya. Cefi membelalakkan matanya, namun dia tidak menghindar atau menolak. Hal itu membuat Baron berpikir kalau Cefi mempersilakan dirinya untuk melakukan lebih. Dia pun langsung memperdalam ciumannya.


Ntah bagaimana caranya kini posisi Baron sudah ada di atas dan tangannya sudah mulai bergerilya. Cefi langsung tersadar sesuatu dan menahan tangan Baron, "Mas, aku masih anak sekolah." Kata Cefi mencoba menyadarkan suaminya.


Bukan Cefi tidak menginginkannya namun dia harus bisa berpikiran waras saat ini. "Tanggung." Kata Baron.


"Mesum." Kata Cefi.


Baron pun terkekeh dan bangkit. Cefi hanya bisa menggelengkan kepalanya begitu saja, kemudian, alih-alih Baron berjalan dia kembali ke Cefi dan mencium bibir istrinya lagi.


"Masss!" Pekik Cefi.


Baron pun terkekeh, "Sarapan pagi." Katanya. "Lagi, dong!" Kata Baron.


Cefi langsung menutup wajah Baron dengan bantal. Baron terkekeh begitu saja, "Nggak usah malu-malu. Saya tau kamu juga pengen kan?" Kata Baron.


"Hih!" Kata Cefi.


***


Cefi menyibukkan dirinya di dapur. Dia memang setiap hari berada di dapur semenjak menikah dengan Baron karena dia tidak mau menyusahkan Ibu Anes. Walaupun mertuanya itu sangat baik dan meminta mereka bisa makan bersama di rumah mertuanya itu, namun Cefi tetap ingin mandiri.


"Kasian banget laki gue, makan sosis nugget mulu tiap hari." Gumam Cefi sambil menggoreng sosis dan nugget. Namun, mau bagaimana lagi. Dia belum bisa masak yang lain.


"Tambahin telor dadar aja kali ya?" Kata Cefi.


Cefi pun langsung membuat adonan telur dadar. Namun, ntah mengapa dia sampai lupa mengecilkan kompor sehingga nugget dan sosis yang tengah dia goreng menjadi hitam.


"Yah ... Yah ... Yah ... Gosong." Kata Cefi sambil meniriskan nugget dan sosis itu.


Baron pun datang ke dapur. Kali ini dia memeluk istrinya dari belakang. Cefi sontak terkejut dan mencoba meloloskan diri.


"Selamat pagi." Kata Baron.

__ADS_1


Cefi menoleh ke belakang dan menghela napas. Ternyata suaminya. Pipi Cefi kembali merah, "Lepasin ih, aku lagi masak juga." Kata Cefi.


"Itu apa? Nugget dan sosis rasa coklat?" tanya Baron sambil terkekeh. Cefi hanya bisa mengerucutkan bibirnya.


__ADS_2