Cinta Anak Kompleks

Cinta Anak Kompleks
BAB 47 - Kehangatan dari Keluarga Om Soni


__ADS_3

Sepulang selesai dari restoran padang, mereka berdua pun kembali ke rumah, Cefi dan Baron sepakat untuk makan lagi meski sedikit. Bagaimana pun mereka harus menghargai Tante Sonya yang sudah repot-repot masak.


“Kalau Om Soni sama keluarganya tinggal di rumah aku beberapa hari gimana, Mas? Kita usir aja?” tanya Cefi dengan polosnya.


“Hus … mana bisa begitu. Kita gak bisa main usir aja, disemprot aja pake semprotan nyamuk biar pergi sendiri.” kata Baron.


Cefi pun langsung tartawa terbahak-bahak mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya. Baron juga tertawa. Mereka berdua kini benar-benar menikmati kebersamaan mereka berdua.


“Yaudah nanti mampir dulu ke Indomerit ya, Mas?” tanya Cefi.


“Buat?” tanya Baron.


“Buat beli obat nyamuk.” kata Cefi.


Seketika mereka pun langsung tertawa lagi. Sungguh apa yang mereka lakukan adalah kerecehan yang hakiki, semua orang di jalan bahkan kini sudah menatap Cefi dan Baron dengan tatapan aneh karena mereka berdua tertawa terbahak-bahak di atas motor, di jalanan yang tidak ada sepi-sepinya saban hari.


“Kamu emang kenal Andrea ya?” tanya Cefi.


“Enggak.” jawab Baron. “Dia emang adik kelas saya di kampus mana?” tanya Baron.


Cefi terdiam dia langsung memikirkan jurusan Andrea, “Dia kayaknya jurusan Arsitek, tapi aku nggak tau dia kuliah di mana.” kata Cefi.


“Oh.” kata Baron.


Cefi pun menganggukkan kepalanya.


Tak lama kemudian, mereka pun sampai di rumah Cefi, setelah memarkirkan motornya, mereka berdua pun langsung masuk ke dalam. Di dalam Om Soni dan Tante Sonya sudah langsung menyambut kedatangan mereka.


“Yuk, kalian makan dulu. Kalian pasti lapar kan?” tanya Om Soni.


Cefi dan Baron saling melirik. Baron dalam hati terkikik geli melihat wajah Cefi yang memelas, dia memang tidak tega membiarkan Cefi makan lagi namun mau bagaimana lagi?


“Iya, Om. Kita ganti baju dulu.” kata Cefi.


Tak lama kemudian Andrea pun datang, dia menyapa Cefi dan juga Baron. Baron dan Cefi hanya bisa membalas sekadarya. Lagi pula mereka berdua tidak mungkin tidak mengindahkan sapaan itu.


Sesampainya di dalam kamar, Cefi langsung menarik tangan suaminya dan langsung mengajaknya mengobrol. Ada hal yang ingin dia katakan kepada suaminya, “Mas … Mas …” katanya.

__ADS_1


“Kenapa?” tanya Baron.


“Aku kok ngerasa ada yang aneh ya. Aneh aja gitu. Mereka baik banget sama kita. Sebelumnya mah, uh, boro-boro, Mas.” kata Cefi yang mulai mengeluarkan semua yang ada di dalam benaknya.


“Ya bagus dong, mungkin mereka udah berubah kali, kan mereka dateng ke sini buat minta maaf, jadi bisa aja mereka berubah.” kata Baron. “Kita liat dulu aja kedepannya ya.” kata Baron.


Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja, menyetujui apa yang dikatakan oeh Baron. Dia juga jadi berpikir kalau mereka memang seperti itu, memang kadang baik, tapi kali ini sepertinya kelebihan baik, namun Cefi tidak boleh berprasangka buruk kepada keluarganya sendiri.


Cefi harusnya benar. Benar apa yang dikatakan oleh Baron. Lebih baik mereka lihat dulu perkembangan ke depannya.


Setelah mandi dan berganti pakaian, mereka pun langsung menuju ke bawah, menuju ke rumah makan, di sana mereka pun langsung disambut dan dipersilakan untuk makan.


Cefi memakannya lambat-lambat karena sejujurnya dua sudah kenyang, sedangkan Baron makan biasa seperti dia belum makan.


“Nak Baron kerja di mana?” tanya Om Soni ketika Cefi dan Baron sudah selesai makan.


“Belum kerja, Om. Masih magang. Masih mahasiswa tingkat akhir.” kata Baron.


“Oh, masih magang di mana?” tanya Om Soni. Seakan mencoba mengakrabkan diri dengan Baron.


Sejauh ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.


Andrea pun terkejut setengah mati. Apa yang dilakukan oleh seorang arsitek di sekolah? Apakah Baron sedang magang membuat sekolah? Apakah Sekolah Cefi sedang dalam tahap renovasi?


“Loh, kata Andrea kamu jurusan Arsitek, sekolahnya sedang ingin direnovasi?” tanya Om Soni.


“Bukan, Om. Saya ngajar di sana.” kata Baron.


“Ada pelajaran Arsitek di SMA?” tanya Om Soni.


Baron tersenyum tipis, “Saya ngajar matematika, Om.” jawab Baron.


Om Soni dan Tante Sonya pun langsung beradu pandang, bingung dengan penjelasan dari Baron.


“Dia kuliah di dua tempat, Om. Jurusannya juga beda, satu arsitek satu matematika. Nah, Mas Baron ini guru matematika yang merangkap jadi arsitek, Om.” terang Cefi.


Om Soni pun langsung menganggukkan kepalanya begitu saja, “Wah, hebat sekali kamu, Nak Baron. Lalu, kamu kan sudah punya istri, tapi belum kerja, bagaimana kamu bisa mencukupi kebutuhan keponakan om?” tanya Om Soni.

__ADS_1


“Om …” kata Cefi yang protes dengan pertanyaan Om Soni.


Baron menggenggam tangannya di bawah meja. Itu bukan pertanyaan sulit, itu adalah pertanyaan yang sangat mudah dijawab dan merupakan pertanyaan biasa. Cefi tidak perlu merasa takut suaminya terbebani atas pertanyaan itu.


“Saya punya usaha freelance yang insyaAllah bisa mencukupi kebutuhan istri saya, Om. Om tidak perlu mengkhawatirkannya.” kata Baron.


Andrea menatap Baron dengan tatapan yang tak bisa dideskripsikan. Cefi yang melihat hal itu tidak terlalu ambil pusing karena dia merasa kalau Andrea hanya tercengang saja seperti saat pertama kali dia mengetahui hal tersebut.


Perbincangan pun mengalir begitu saja, mereka saling tertawa bersama-sama. Cefi dan Baron hanya sekadar menangapi seadanya dan ikut tertawa ketika Om Soni atau Tante Sonya melucu.


Andrea ingin mengambil gelas yang ada di tengah namun tidak sampai, Baron pun langsung mendekatkan gelas itu kepada Andrea.


“Terima kasih, Kak.” kata Andrea.


“Sama-sama.” jawab Baron.


Cefi langsung melirik Andrea dan Baron, kemudian dia kembali lagi mengarahkan pandangannya ke arah om dan tantenya. “Om, tante … aku istirahat dulu ya. Mas, aku ke atas dulu ya, capek banget.” kata Cefi.


“Saya juga mau ke atas juga. Om, Tante, kami ke atas dulu.” kata Baron.


Cefi tersenyum senang, bagaimana pun dia merasa senang kalau berada di dekat Baron. Dia mengira kalau suaminya akan lebih suka di sana ternyata dia salah.


Sesampainya di kamar. Mereka berjalan menuju ke balkon. Ntah apa yang hendak mereka lakukan.


“Aku sering ngelemparin batu ke rumah kamu dari sini.” kata Cefi sambil terkekeh.


“Oh, kalau subuh-subuh bunyi pletek-pletek itu kamu?” tanya Baron,


“Iya, lagian, kebo banget nggak bangun-bangun.” kata Cefi.


“Iseng banget.” jawab Baron.


Cefi terkekeh begitu saja.


“Coba saya tanya. Apa manfaatnya ngelempar-ngelempar gitu?” tanya Baron.


“Banyak, manfaatnya, aku bisa bikin kamu marah. Aku suka liat kamu marah sama aku. Di rumah aku nggak ada temennya.” jawab Cefi dengan jujur.

__ADS_1


Akhirnya dia mengaku kalau selama ini dia suka mengisengi Baron hanya karena dia kesepian di rumah.


__ADS_2