
Keesokkan harinya, Cefi kembali ke sekolah seperti biasanya. Dia sudah bersungguh-sungguh untuk menamatkan SMA-nya. Nanti sepulang sekolah, dia ingin menemani ibu mertuanya ke dokter kandungan.
Memikirkan kalau dia akan mengantarkan mertuanya ke dokter kandungan membuat Cefi terkekeh, bagaimana mungkin ada yang seperti ini? Setahu Cefi, meskidia belum pernah hamil dan jam terbang bergosip dengan ibu-ibunya belum tinggi, namun dia tahu kalau seharusnya mertualah yang mengantarkan menantunya ke dokter kandungan bukan sebaliknya.
“Kenapa lo ketawa-ketawa sendiri?” tanya Dara.
“Gila kali dia ya?” kata Amel menimpali.
Dara dan Putri pun langsung tertawa begitu saja. Sedangkan Cefi hanya bisa mengerucutkan bibirnya sebentar.
“Gue nanti mau ke dokter kandungan.” kata Cefi sambil senyum-senyum sendiri.
Jantung Dara, Amel, dan Putri seakan tidak siap untuk menerima apa yang dikatakan oleh Cefi. Hal tersebut membuat mereka langsung merasakan jantung mereka berdetak kencang.
“Lo hamil?” pekik Amel yang tak bisa mengendalikan keterkejutannya.
Cefi langsung membekap mulut Amel agar semua orang yang ada di dekat mereka tidak mendengar, namun terlambat, semua orang yang ada di sana sudah mendengarnya. Hal itu bisa dilihat dari bagaimana mereka yang memandang Cefi dengan pandangan sinis. Sesuatu yang bisa disebut sebagai makana sehar-hari Cefi.
“Ugal-ugalan lo ya! Enak aja hamil. Gue tuh nggak hamil. Gue tuh mau ke dokter kandungan mau nganterin tetangga gue.” kata Cefi yang sengaja mengatakannya lebih keras agar semua penghuni kantin bisa mendengarnya. Dia tidak mau kalau semua teman-temannya mengira kalau dia sudah hamil.
Ya, meskipun sebetulnya itu sudah hal yang wajah mengingat Cefi yang sudah menyandang sebagai istri orang.
“Oh, kita kira lo hamil.” kata Amel dan yang lainnya.
“Ya enggaklah, masa gue masih SMA udah hamil. Gak lucu banget.” kata Cefi.
“Lucu deh kayaknya kalau orang yang hamilnya itu elo.” kata Dara.
“Sialan.” kata Cefi.
“Maaf, Cefi, tetangga kamu itu siapa yang hamil?” tanya Putri penasaran.
Cefi pun langsung membisikkan, “Mama Anes, ibunya Baron.” ke telinga Putri. Putri hendak berteriak namun mulutnya langsung dibekap oleh Cefi. Dia sungguh tidak mau kalau ada orang uang mendengarnya.
“Siapa?” tanya Dara penasaran.
Putri langsung membisikkan apa yang Cefi bisikkan kepada Dara, dan selanjutnya kepada Amel. Sungguh mereka juga tidak menyangka namun tidak sampai berteriak.
“Serius lo?” tanya Dara.
Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja, “Ya, beneranlah. Masa bohongan.” kata Cefi.
__ADS_1
Dara pun seketika tertawa terbahak-bahak, “Orangmah kebalik aturan!” kata Dara.
Menyaadari apa yang dikatakan oleh Dara membuat Amel tertawa. Sedangkan Putri masih diam saja mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Dara. Kadang-kadang, dia memang bisa sebodoh ini, tidak bisa diajak bicara dengan cepat.
“Iya, orangmah menantunya dulu ya.” kata Amel sambil terkekeh.
Cefi langsung melempari Amel dengan sedotan bekas minumnya. Dia tidak mau kalau sampai orang-orang mendengar percakapan mereka. Namun melihat tidak ada yang memandang ke arah mereka membuat Cefi merasa aman. Setidaknya pikirannya mengatakan kalau dirinya aman.
“Maaf, maksudnya tuh bagaimana sih?” tanya Putri yang tak kuasa menahan ras penasarannya.
Amel pun langsung membisikkan sesutau kepada Putri, menjelaskan maskud mereka. Hal itu langsung membuat Putri terkekeh begitu saja.
“Enak kali ya punya anak?” kata Dara.
“Ya gak enak lah, sakit pas ngelahirinnya.” jawab Amel.
“Gue nggak tau ya, soalnya gue kan belum pernah ngelahirin.” kata Cefi.
“Ya bikinnya doang enak, ngelahirinnya sakit.” kata Dara.
“Cavul!” kata Cefi menyentil kepala Dara. Membuat Dara meringis pelan, untuk sentilan itu tidak begitu keras. Memang sengaja.
“Ya kan kalau punya anak, buat kita yang biasa kesepian enak. Punya mainan. Apa lagi kalau punya suami, ketika suaminya kerja, kita bisa main deh sama anak kita.” kata Dara.
“Ya rasain lah, gampang kok buat lo mah.” kata Dara.
“Gue masih SMA kali, ama mertua gue juga bilang gak boleh dulu.” kata Cefi.
“Ya lo tinggal diem-diem bikinnya.” kata Dara.
“Ya, gimana ya? Gue takut hamil terus dikeluarin dari sekolah. Kalau sampai dikeluarin gara-gara hamilkan enggak banget.” kata Cefi.
Semua teman-teman yang dikantin sudah pergi karena Bel sudah berbunyi. Sedangkan Cefi dan teman-temannya belum ada yang beranjak karena masih asyik mengobrol. Mereka tidak ada yang mendengar bunyi bel.
“Iya juga sih, apaa lagi itukan cita-cita kamu ya, Cef?” kata Putri.
Cefi menganggukkan kepalanya begitu saja.
“Cita-citanya Cefi pun sederhana banget ya. Gampang sebenernya tapi buat dia kenapa susah banget ya?” kata Dara.
“Ini lo lagi simpati apa ngejek sih?” tanya Cefi kesal.
__ADS_1
Dara langsung cengengesan. Dia tidak mengira kalau Cefi mengatakan hal seperti itu.
“Lagian ya, lo kan udah punya suami guru, tinggal belajar aja sama dia, Cef. Minta diajarin. Lagian, setiap ada guru yang gak masuk dia selalu ngajarin kita, kayaknya dia semua pelajaran bisa deh.” kata Amel.
“Iya sih, tapi malulah gue.” kata Cefi.
“Yaelah kenapa malu-malu segala?” tanya Amel.
Cefi pun langsung menghela napas, “Ya malulah, gue udah terlihat oon makin terlihat oon.” kata Cefi.
Amel pun terkekeh begitu saja, begitu juga dengan Dara dan juga Putri.
“Oalah, berarti lo lagi itu ya, jaim. Hahaha.” kata Dara.
“Enak aja, enggaklah.” kata Cefi.
Saat sedang asyik mengobro, tiba-tiba ada seseorang yang datang. Orang itu adalah Baron, “Kalian kenapa ada di sini?” tanya Baron.
“Lagi istirahat, Pak.” jawab Cefi.
“Kalian nggak denger bel udah bunyi dari tadi?” tanya Baron.
“Eh? Tapi mereka masih ada di sini, Pak. Masih pada makan.” kata Cefi.
Cefi menoleh ke arah semua bangku yang ternyata sudah kosong. Seketika mereka berempat terkjeut setengah mati karena ternyata sudah bel dan mereka tidak ada yang mendengar suara bel tersebut.
“Waduh.” pekik Amel.
“Cepat ke kelas!” kata Baron.
“Baik, Pak!” kata Cefi, Amel, Dara, dan Putri.
Mereka berempat langsung berlari menuju ke arah kelasnya sambil tertawa. Bisa-bisanya mereka tidak sadar kalau bel masuk udah berbunyi. Lagi pula kenapa mereka tak ada satupun yang sadar?
“Anjir, kita kok bodoh banget ya?” tanya Dara sambil terkekeh sesampainya di kelas.
Untungnya, belum ada guru yang masuk, jadi mereka merasa aman. Tidak aman juga sih karena mereka tahu akan mendapatkan hukuman dari Baron. Baron memang suka sekali menghukum mereka yang tidak taaat peraturan, ini khusus untuk anak kelas Cefi.
Hal itu yang membuat mereka belakangan ini tidak ada yang berulah. Mereka sejauh ingin mengikuti aturan yang diberikan oleh wali kelas barunya itu.
“Suami lo galak.” kata Dara.
__ADS_1
Cefi terkekeh.