Cinta Anak Kompleks

Cinta Anak Kompleks
BAB 59 - Baron Cemburu


__ADS_3

Cefi tidak tahu apakah Riza mengatakan hal yang bersungguh-sungguh atau tidak, namun yang jelas dia merasa kalau dia ingin laki-laki di hadapannya pergi dari depannya.


Cefi menoleh ke arah ke kanan dan ke kiri, mencari keberadaan Andrea. Namun gadis itu ntah di mana kebradaannya sekarang. Dia seperti hilang jejak. Cefi jadi bingung dengan Andrea.


“Duh, Andrea mana lagi?” tanya Cefi. Dia mencoba mengabaikan Riza.


“Andrea?” tanya Riza.


Cefi melirik Riza tanpa mau menjawab pertanyaan Riza, “Gue nggak mau ngomong sama lo.” kata Cefi.


“Gue bisa nemenin lo di sini sampai Andrea balik ke sini.” kata Riza.


“Gue nggak minat tuh.” kata Cefi.


Riza mengangkat bahunya cue. Lalu dia langsung melambaikan tangannya memanggil seseorang. Dan tak lama kemudian, salah satu peyan kantin menghampiri mereka berdua. Cefi jadi merasa bingung, karena tadi Andrea memesan langsung. Kenapa Andrea tidak memanggil pelayan saja seperti yang dilakukan oleh pria ini saja sih?


“Mas, mau pesen … lo mau makan apa?” tanya Riza kepada Cefi.


Cefi menggelengkan kepalanya, “Gue lagi beli.” kata Cefi.


“Mana? Gak ada yang dateng buat nganterin lo makanan dan di meja juga gak ada makanannya.” Kata Riza.


“Bisa gak si lo gak usah urusin urusan gue?” tanya Cefi dengan kesal.


“Bisa kalau lo kasih nomor telepon lo dan kasih tau nama lo ke gue.” kata Riza.


Cefi pun berdecak sebal. Namun, mau bagaimana lagi, Cefi tidak mau ribut di kantin, apalagi ini bukan kampunsya, ini kampus tempat suaminya menimba ilmu. Kalau dia sampai berbuat kejahatan dan menjahili orang lain, suaminya tentunya akan malu. Cefi harus selalu membuat citera seuaminya menjadi baik. Dalam keadaan apapun.


Ponsel Cefi berdering. Menampilkan telepon dari suaminya.


“Halo, Mas suami? Di mana?” tanya Cefi langsung bertanya.


Cefi juga sengaja membesarkan volume suaranya ketika bertanya agar laki-laki bernama Riza yang kini berada di sampingnya bisa mendengarnya.


Riza hanya bisa terkekeh di tempatnya. Dia seakan masih belum percaya dengan apa yang dikatakan


oleh Cefi.

__ADS_1


“Siapa laki-laki itu?” tanya Baron.


“Kok Mas tau? Tapi aku nggak kenal- …” tanya Cefi.


“Tunggu di sana, saya datang.” kata Baron.


Cefi mendengar suara panggilan itu yang diputuskan sepihak oleh Baron. Cefi pun langsung menoleh ke arah Riza, “Liat kan? Suami aku mau ke sini. Sana jauh-jauh.” kata Cefi.


Riza terkekeh begitu saja, “Gue penasaran, siapa yang mau diakuin sebagai suami sama lo.” kata Riza.


Cefi pun menatap Riza dengan tatapan kesal setengah mati, “Oh, gitu? Oke!” Kata Cefi.


Cefi memutuskan untuk menunggu suaminya. Dan minuman Riza dan minuman yang dipesankan Riza untuk Cefi yang sudah ada di hadapan mereka.


“Minum dulu biar bohongnya lancar.” kata Riza.


“Ngeselin banget lo, ya!” kata Cefi.


Meski Cefi marah-marah namun minuman di depannya memang masih sangat menggoda imannya, jadi dia pun langsung meminumnya. Hal itu adalah hal yang biasa saja untuk Cefi, namun ntah mengapa sepertinya tidak bisa dikatakan biasa saja oleh Riza.


Riza seperti jatuh cinta pada Cefi pada pandangan pertama. Dia seperti melihat seorang sosok perempuan yang sudah lama dia cari. Ntah dari mana pemikiran itu namun Riza memikirkannya.


“Mas!” panggil Cefi kepada suaminya.


Baron pun sampai di depan Cefi, Cefi langsung menggandeng tangan suaminya. Lalu Baron menoleh ke arah laki-laki yang masih duduk di depannya dengan mata menatap Baron.


“Bang Baron?” tanyab Riza yang seketika bangkit. Dia sedikit terkejut.


“Ngapain lo godain cewek gue?” tanya Baron.


“Eh, maaf, Bang. Dia abisan lucu banget. Ternyata dia pacar lo?” tanya Riza yang memilih untuk merelakan perempuan yang mampu membuatnya jatuh cinta itu. “Sorry kalau gitu, Bang. Gue pergi dulu.” kata Riza.


“Eh? Kok gampang banget?” tanya Cefi.


Cefi tentulah masih sangat ingat ketika dia meminta Riza untuk tidak mengganggunya, Riza tidak mau beranjak dan terus mengatakan kelau Cefi berbohong. Padahal, Cefi tidak berbohong sama sekali. Namun, karena kepolosan Cefi, Riza tidak mempercayai Cefi.


“Maksudnya?” tanya Riza.

__ADS_1


“Pergi, Za!” titah Baron.


Akhirnya Riza pun langsung pergi begitu saja. Cefi di tempatnya terus menatap Riza, hal itu membuat Baron menjadi kesal dan sontak langsung memegangi pipi Cefi agar Cefi tidak menatap Riza lagi. Dia tidak suka kalau istrinya menatap laki-laki lain. Itu sebabnya dia berbuat demikian.


“Kenapa kamu liatin dia terus?” tanya Baron.


“Enggak, Mas. Dia tuh tadi aku suruh pergi nggak mau, tapi kenapa pas kamu suruh mau?” tanya Cefi.


“Bilang aja kalau mau berdua-duaan.” kata Baron.


Baron memutuskan untuk duduk sambil mengamati Cefi dengan kesal. Matanya seketika menajam. Dia melirik minuman yang dia taksir milik Riza dan menyingkirkan gelas tersebut, seakan benda itu adalah sesuatu yang sudah seharusnya disingkirkan.


“Enggak, Mas. Hih, cowok itu aneh banget dateng-dateng bilang, gue Riza. Hih, sok ganteng.” kata Cefi.


Baron memilih utuk mengalihkan pandangan ke arha lain, tak berminat mendengar cerita Cefi yang tengah mencaeritakan laki-laki lain meski isi dari cerita Cefi adalah keburukan dari laki-laki lain.


“Cepat abisin minumannya, abis itu kita pulang.” kata Baron.


Cefi pun langsung menatap suaminya begitu saja, “Loh, emang bimbingannya udah selesai?” tanya Cefi yang terkejut.


Cefi takut kalau dirinya mengganggu waktu bimbingan Baron, jadi dia menanyakannya.


“Udah.” jawab Baron pendek sekali.


“Oh …” kata Cefi menganggukkan kepalanya begitu saja.


“Minumannya cepat abisin!” titah Baron.


“Iya, iya … mau gak, Mas? Ini dibeliin cowok tadi, rasanya enak deh.” kata Cefi yang menyodorkan minuman itu ke arah Baron.


Baron pun langsung mengambil minuman itu dan menyingkirkan bersama dengan minuaman Riza. Cefi pun bingung, “Ayo, pulang!” kata Baron.


“Loh, Mas. Katanya aku disuruh abisin minuman dulu?” tanya Cefi.


“Nggak usah.” kata Baron.


Baron menggenggam tangan Cefi. Cefi jadi bingung dengan perubahan sikap Baron. Namun, ntah mengapa isi kepala Cefi langsung mengeluarkan sesuatu, “Mas?” panggil Cefi.

__ADS_1


Baron tak menggubris ucapan Cefi. Hal itu langsung membuat Cefi tersenyum. Ntah mengapa dia langsung berpikir kalau suaminya tengah cemburu kepada Riza yang mendekatinya tadi. Benarkah?


“Mas? Mas Cemburu ya sama cowok tadi?” tanya Cefi sambil terkekeh. Mengingat apa yang dilakukan Baron sepertinya sudah menunjukkan kalau Baron cemburu.


__ADS_2