
Jam terakhir, semua kelas dibebaskan untuk menonton pertunjukkan yang sudah dipersiapkan oleh guru-guru magang. Elsa yang sedari tadi menangis tetap melakukan tugasnya, meski dengan mata sembab dia berdiri di atas sebuah panggung kecil-kecilan yang dibuat ala kadarnya menjadi MC bersama dengan Azka.
“Selamat siang semuanya. Ini adalah hari terakhir kami di sekolah ini, jadi saya harap sedikit hiburan kami ini akan membekas di benak kalian semua.” kata Azka.
“Iya, nih bener, sedih banget sih mau pisah sama kalian, tapi mau bagaimana lagi. Semua pertemuan pasti akan berakhir dengan perpisahan kan?” tanya Elsa.
“Yaudah, kita bacain aja rangkaian acara singkat kita, pertama ada sambutan dari ketua kelompok kita yaitu Pak Baron, lalu pemberian hadiah untuk siswa-siswi dengan kategori tertentu, dan terakhir acara hiburan.” kata semuanya.
Tak lama kemudian, MC pun mempersilakan kepada Baron untuk maju ke depan untuk membuka acara. Cefi dan teman-teman yang sudah ada di lapangan pun tidak bisa mengalihkan pandangan mereka dari Baron.
Iya, memang Cefi dan teman-teman kini sudah berada di lapangan, mereka tidak diperkenankan pulang sebelum acara tersebut habis, satpam yang berjaga di gerbang sudah bersiap-siap, takut ada yang pulang sebelum bel berbunyi.
“Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Selamat siang semuanya. Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmatnya kepada kita semua. …” Baron mulai berpidato dengan sangat lancar.
Semua terperangah, Baron tidak membosankan, baik wajahnya, suaranya, dan gaya bicaranya. Baik laki-laki maupun perempuan cukup mengakui hal tersebut. Terlebih Cefi yang terus menatap suaminya sambil senyum-senyum sendiri.
Betapa bangganya Cefi melihat suaminya ada di sana, bahkan saking bangga dan bahagianya, dia lupa kalau dia harus mengerjakan banyak tugas setelah ini, sebagai hukuman karena telah berkelahi dengan guru magang yang kini menatap Cefi dengan tatapan kebencian.
“Saya di sini tidak akan lama karena saya tahu kalau kalian ingin acara ini cepat selesai. Kalian ini cepat pulang. Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Kepala sekolah, guru, staf, dan kalian semua karena sudah menyambut kedatangan kami dengan baik. Terutama siswa-siswi yang kami ajar, kami sangat berterima kasih. Semoga ilmu yang kami berikan bisa bermanfaat untuk kalian semua. Kami juga meminta maaf kalau selama ini ada sikap atau tutur kita yang kurang berkenan, karena sebagai guru magang kami paham betul minimnya ilmu kami. …” Baron menyelesaikan pidatonya sampai selesai.
“Kurang lebihnya saya mohon maaf, wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.” Baron menutup.
Kemudian, Baron mengembalikan kepada MC. Kemudian Elsa dan juga Azka naik lagi dan kali ini mereka pun membagikan hadiah untuk murid teraktif, ternyebelin, dan terpembuat onar.
“Ya sekarang kita pembagian hadiah, kita punya tiga hadiah buat tiga kategori, pertama teraktif, kedua ternyebelin, dan ketiga terpembuat onar.” kata Elsa.
__ADS_1
Cefi dan yang lainnya pun langsung menunggu siapa yang menjadi siswa teraktif. Mereka sebetulnya sangat ingin menunggu acara ketiga yakni hiburan. Meskipun mereka juga merasa penasaran dengan siapa orang yang akan menyandang gelar itu.
“Teraktif diberikan kepada … Dwi Retno 11 MIA 1!” kata Azka.
Semua orang pun langsung bersorak senang.
“Ternyebelin diberikan kepada … Adam 12 IIS 1!” kata Elsa.
Cefi terkejut bukan main namun mendengar nama Adam semua orang bersorak sambil terkekeh. Ntah hinaan atau pujian kalau mendapatkan penghargaan dengan gelar yang tidak bagus seperti itu.
Semua anak di sekolah Cefi tentulah tidak ada yang tidak kenal Adam. Adam selalu terkenal di mana pun karena dia memang sangat menyebalkan. Cefi mengakui hal tersebut. Sehingga guru-guru magangnya memang memberikan penghargaan secara objektif.
“Dan yang terakhir, terpembuat onar … Cefixime 12 IIS 1.” kata Azka.
Semua orang seketika bersorak lagi sambil tertawa. Cefi terkejut bukan main, kalau tadi dia bisa tertawa mendengar nama Adam disebut, kini dia langsung mengutuk siapapun yang mencantumkan namanya.
Cefi terdiam, dia tentu tidak mau naik ke atas saja, rasanya sangat memalukan, dia tidak mau naik, dia akan pura-pura tidak mendengar saja. Namun, ketiga teman Cefi justru menginginkan hal sebaliknya. Mereka pun langsung cengar-cengir melihat ke arah Cefi.
“Apa lo?” tanya Cefi kesal.
Cefi hendak pergi begitu saja namun seketika Dara langsung memegangi tangan Cefi, “Biang onar kudu naik!” katanya sambil terkekeh begitu saja.
“Sialan sialan!” rutuk Cefi kesal setengah mati.
Nama Cefi pun dipanggil berkali-kali. Cefi tetap tidak mau naik ke atas panggung dan mempermalukan dirinya sendiri. Kenapa harus dia sih? Itulah yang ada di dalam kepalanya. Dia memang memikirkan mengenai hal itu. Dia tidak mau naik ke atas panggung, untuk apapun karena apapun dia tidak mau melakukannya. Lagi pula untuk apa? Untuk mempermalukan diri sendiri? Itu tentu bukan ide yang bagus.
__ADS_1
“Ayo, Cef, naik!” seru beberapa temannya.
“Kalau Cefixime tidak naik ke sini, kita nggak bisa lanjut acaranya loh ya? Semakin dia lama, kalian juga akan semakin lama pulangnya.” kata Elsa.
“Sialan, dia pasti lagi ngerjain gue, pengen banget bikin gue malu.” kata Cefi.
“Ayolah naik aja ege, kali aja tuh kado isinya duit segepok.” kata Amel.
Semua temam-teman Cefi mulai menyuruh Cefi karena hari makin terik dan mereka ingin sampai ke acara hiburan, mereka tidak mau kalau sampai gara-gara Cefi mereka semua terlambat pulang sekolah dan tidak bisa menikmati hiburan terakhir.
“Ayo, Xaviera silakan ke depan. Apa perlu saya seret ke depan?” tanya Baron yang entah bagaimana caranya sudah berada di dekatnya.
Cefi pun langsung menggelengkan kepalanya begitu saja. Kemudian, Baron pun langsung menarik tangan Cefi dan membawa Cefi ke panggung, suara pekikan dari murid-murid pun terdengar. Cefi sudah malu setengah mati berada di sana. Namun, lebih malu lagi ketika berada di atas panggung.
“Anjir.” pekik Cefi ketika berada di samping Adam.
“Hahahaha mampus lo. Gue kira, gue doang yang dikerjain.” kata Adam di samping Cefi.
“Gak usah ngomong sama gue, lo!” kata Cefi kesal.
Semua orang pun tertawa, bagaimana tidak, Cefi dan juga Adam menjadi pusat perhatian karena mendapatkan predikat yang cukup aneh. Kalau saja di BTS ada kategori-kategori aneh seperti ini, mungkin selama setahun dua tahun mereka pasti akan terus menertawakan Cefi dan juga Adam.
“Ya, ini silakan, …” kata Azka dan Elsa.
Mereka pun membahagiakan piagam dan hadiah, Cefi mau tak mau menerimanya meski dalam hati sangat dongkol sekali. Apa-apaan ini? Dipermalukan di acara mereka.
__ADS_1
Cefi mengedarkan pandangannya ke segala arah hingga pandangannya tertuju pada Baron. Baron hanya bisa terkekeh saja. Suami yang jahat.