
Cefi memeluk suaminya senang. Beberapa orang mencoba melirik Cefi, mungkin karena merasa aneh dengan ada anak murid berseragam SMA yang tengah memeluk laki-laki berseragam guru. Meski mereka berdua terlihat masih sangat muda namun pakaian yang dikenakan keduanya jelas terlihat kalau mereka adalah guru dan murid.
"Ck, anak zaman sekarang. Guru bukan lagi orang tua yang dihormati, justru malah dipacari." Ucap seorang ibu-ibu yang melirik sinis ke arah Cefi dan Baron.
Cefi pun langsung melepaskan pelukannya pada suaminya. Padahal dia sangat ingin memeluk suaminya namun dia sadar diri kalau dirinya tidak boleh melakukan hal itu mengingat mereka masih memakai seragam mereka dan semua orang akan menggunjingkannya.
"Liat, kamu kayak murid yang punya skandal sama gurunya." Kata Baron terkekeh.
Cefi langsung mencubit Baron begitu saja. Baron sontak menghindar hingga tangan Cefi mengudara.
"Udah, sekarang makan ya?" Kata Baron.
Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja, "Suapin dong." Kata Cefi.
"Punya tangan sendiri juga. Saya cuci tangan dulu." Kata Baron.
Cefi pun mengerucutkan bibirnya begitu saja. Namun, setelah Baron mencuci tangan, dia pun langsung bangkit untuk cuci tangan. Namun, tangan Cefi buru-buru ditahan. "Nggak usah cuci tangan." Kata Baron.
"Nggak ah, jorok. Nanti perut aku isinya cacing semua." Kata Cefi.
"Saya suapi aja." Kata Baron.
Senyum Cefi mengembang. "Enggak ah, tadi nggak mau." Kata Cefi.
"Tapikan sekarang mau. Nih, aaa ... Dari pada tangan kamu panas kena cabe rawit." Kata Baron.
Cefi pun langsung membuka mulutnya menerima suapan dari Baron, langsung dari tangan Baron. Cefi tersenyum sambil mengunyah. Ntah mengapa dia langsung melupakan kalau di sana banyak orang yang mengawasi mereka berdua. Masa bodoh dengan penilaian orang. Lagi pula orang-orang itu tidak ada yang mengenalnya.
"Ih, anak zaman sekarang. Nggak tau malu banget." Kata Ibu-Ibu yang sebelumnya memang sudah nyinyir kepada Cefi.
"Dia istri saya, Bu. Dia cuma lagi cosplay pakai baju anak sekolah." Jawab Baron berbohong
Cefi yang dikatakan sedang cosplay pun langsung melotot, enak saja dia dibilang cosplay. Namun, melihat ibu-ibu itu yang sekarang diam, dia pun merasa tidak keberatan.
"Dasar anak zaman sekarang. Kebanyakan nonton sinetron." Kata Ibu-Ibu tersebut. Beliau akhirnya pergi karena memang sudah selesai makan dengan anak perempuannya.
Cefi langsung menutup mulutnya menahan tawanya yang hendak meledak, begitu juga dengan Baron. Sejak kapan nonton sinetron bikin orang jadi cosplay? Cefi melirik suaminya begitu juga dengan suaminya dan seketika tawanya pecah begitu saja.
__ADS_1
"Kamu kali ya yang suka nonton sinetron?" Kata Baron.
"Enak aja. Kamu tuhhh." Kata Cefi.
Mereka berdua pun langsung terkekeh lagi. Kemudian, Cefi memutuskan untuk cuci tangan dan makan sendiri. Baron padahal tidak keberatan untuk menyuapinya namun Cefi merasa malu karena semua pengunjung memperhatikan dirinya.
Seusai makan siang. Mereka pun langsung kembali melanjutkan perjalanan untuk membeli kue tar untuk Dara. Mereka berdua hampir saja lupa untuk membelinya. Cefi jadi merasa bersalah karena sepertinya teman-temannya sudah menunggunya di rumah Amel.
Tak lama kemudian mereka berdua pun membeli kue. Lalu membeli balon angka plus lilin, kemudian mereka pun langsung menuju ke rumah Amel. Tak lama kemudian, mereka pun sampai di depan rumah Amel.
Cefi dan Baron turun dari atas motor. Motor Baron sudah terparkir di halaman rumah Amel yang tidak berpagar.
Cefi pun langsung mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Amel, kemudian Amel pun keluar rumah.
"Dari mana sih, Cef. Lama banget." Kata Amel yang sedikit protes.
Cefi pun langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Makan dulu, laper banget tadi." Kata Cefi.
"Kan bisa makan di rumah gue." Kata Amel.
"Saya yang mengajaknya makan." Kata Baron.
Amel menyodorkan tangannya ke arah Baron untuk bersalaman. Dia memang menganggap Baron sebagai gurunya. Tapi kemudian Cefi langsung menangkis tangan Amel, "Nggak ada salam-salaman kalau gak di sekolah." Kata Cefi dengan galak.
"Eh, sorry, sorry, refleks. Abis masih pake baju guru." Kata Amel jujur sekali. "Mari, Pak. Silakan masuk."
"Gue enggak?" Tanya Cefi.
"Lo mah gak disuruh juga pasti bakalan masuk." Kata Amel.
"Terima kasih tawarannya. Tapi saya harus pergi. Istri, kamu nikmatin dulu aja pestanya. Nanti kalau udah mau pulang kabarin saya. Nanti saya jemput." Kata Baron.
Cefi pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia sungguh salah tingkah. Bagaimana bisa Baron menjelma sosok yang sangat menyenangkan seperti ini? Baron terlalu manis, Cefi jadi takut kalau sampai diabetes.
"Iya." Kata Cefi.
"Hapenya mana?" Tanya Baron.
__ADS_1
Cefi memperlihatkan ponselnya pada Baron. Baron melihat baterai ponsel Cefi yang masih full. Cefi emang jarang sekali bermain ponsel. Setelah dia merasa kalau ponsel Cefi tidak lowbat, akhirnya dia pun menganggukkan kepalanya.
"Kenapa?" Tanya Cefi bingung.
"Saya cuma mau mastiin kalau ponsel kamu nggak bakalan lowbat." Kata Baron.
Senyum Cefi mengembang lagi dan dia salah tingkah. Melihat bagaimana Cefi dan Baron berinteraksi membuat Amel ingin segera menikah. Ah, kenapa Amel jadi berpikiran seperti itu?
Tak lama kemudian, Baron pun langsung pergi.
Cefi pun baru mengalihkan pandangan ketika motor suaminya sudah menjauh.
"Kenapa lo?" Tanya Cefi yang melihat Amel cengar-cengir.
"Gue jadi pengen nikah juga." Kata Amel.
Cefi pun langsung terkekeh begitu saja. "Yaudah sono lo nikah sama satpam depan kompleks. Kayaknya jomlo deh." Kata Cefi.
Amel pun langsung cemberut, "Sialan." Kata Amel.
Cefi terkekeh.
Kemudian, mereka pun mengeluarkan kue. Amel memegang kue dan Cefi langsung menyalakan lilin. Kemudian, dia pun mencium balon angka.
Setelah siap, mereka pun berkongkalikong dengan Putri untuk memberikan kejutan. Cefi sudah menyiapkan mode perekam video untuk mengabadikan momen yang seru ini.
Pintu pun dibuka, "Happy birthday, Dara! Happy Birthday Dara! Happy birthday, happy birthday, happy birthday, Dara!"
Semua pun bernyanyi. Dara seketika terkejut dan langsung terkekeh begitu saja. Dia tidak menyangka akan diberikan kejutan. Karena sejak tadi tidak ada tanda-tanda dia akan diberi kejutan. Ketiga temannya bahkan tidak ada yang mengucapkan selamat ulang tahun sehingga dia mengira kalau ketiga orang temannya itu lupa akan ulang tahunnya.
"Ya ampun, makasih loh." Kata Dara yang matanya berkaca-kaca.
Apa yang dilakukan oleh Cefi, Amel, dan Putri memang sesuatu yang sangat sederhana namun Dara merasa terharu sekali.
"Jangan nangis dong. Doa dulu doa." Kata Cefi sambil mengusap air mata Dara yang jatuh ke pipi.
Selanjutnya Dara berdoa. Kemudian, mereka pun berfoto-foto kemudian memotong kue. Kue pertama untuk mereka bertiga, tidak ada yang pertama semuanya sama rata. Kemudian, sifat iseng Cefi pun muncul. Dia mencolek krim kue tar jatahnya dan menempelkannya ke Dara.
__ADS_1
Dan kini yang terjadi adalah mereka saling colek mencolek menggunakan krim sambil berteriak-teriak. Beruntung di rumah itu tidak ada orang selain mereka berempat karena orang tua Amel sibuk bekerja.