
Cefi kembali pulang ke rumah bersama dengan Baron. Dia menghubungi suaminya ketika mau pulang ke rumah. Dan sesampainya di rumah, dia kembali bercengkerama dengan Om Soni dan juga Tante Sonya. Juga Andrea namun Andrea lebih banyak diamnya.
"Nak Baron, besok Sabtu Andrea mau ke kampus mengurus administrasi, boleh om minta tolong kamu buat antar dia?" Tanya Om Soni
"Emang kenapa gak naik ojol aja, Om?" Tanya Cefi.
"Begini, Om sebetulnya lagi nggak kerja. Di kantor ada pengurangan karyawan. Dan Om diberhentikan untuk sementara. Sekitar dua bulanan. Jadi, Om harus menghemat. Tapi kalau Nak Baron tidak mau juga tidak apa-apa." Kata Om Soni.
"Gak papa, Om. Besok Sabtu kebetulan saya harus ke kampus untuk bimbingan. Andrea bisa berangkat bareng saya " kata Baron.
Cefi menatap suaminya. Suaminya memang sangat baik. Namun, ntah mengapa dia jadi merasa cemburu. Baron pun menangkap sinyal itu. Oleh karenanya dia langsung menoleh ke arah Cefi.
Baron pun mengajak Cefi masuk ke dalam kamar. Cefi menurut, dia langsung mandi karena pakaiannya memang kotor karena krim-krim kue tar yang dia lempar-lempar sebelumnya bersama dengan teman-temannya.
"Nanti hari Sabtu kita berangkat bertiga." Kata Baron.
Cefi pun langsung mendongak ke arah Baron. "Maksudnya?" Tanya Cefi.
"Kamu belum tau kampus saya kan? Nah, Sabtu besok kita berangkat pakai mobil." Kata Baron.
Seketika senyuman Cefi langsung mengembang begitu saja, dia tidak menyangka kalau ternyata suaminya bisa sepeka ini. "Emang gakpapa?" Tanya Cefi.
"Emang kenapa?" Tanya Baron.
"Ya, kalau ada kenalin aku gimana?" Tanya Cefi.
"Di kampus ini nggak ada yang akan kenalin kamu, tenang aja. Atau saya berangkat berdua aja sama Andrea?" Tanya Baron.
Cefi sontak langsung mengerucutkan bibirnya. "Enak ajaaa. Nggak, nggak ada berdua-berduaan." Kata Cefi.
Baron pun terkekeh begitu saja.
Cefi pun mandi. Seusai selesai berpakaian. Cefi pun langsung mencari uang yang kemarin diberikan oleh Baron untuk membeli kue ulang tahun Dara. Hari ini karena dia tidak membawa uang, dan kue itu dibeli oleh Baron. Untungnya suaminya itu tidak pelit sama sekali.
"Astaghfirullah. Kok uang gue nggak ada lagi ya?" Gumam Cefi.
Kali ini Cefi tidak akan mengatakan kepada Baron, dia malu karena sudah dua kali dia menghilangkan uang Baron. Padahal dia ingat kalau dia selalu menyimpan uang di meja belajarnya.
__ADS_1
Cefi pun langsung mengeluarkan isi laci. Kemudian, dia pun langsung mencarinya lagi. Tak lama kemudian, Baron datang dan melihat istrinya yang sedang membuat kamarnya berantakan karena mencari uangnya.
"Ada apa?" Tanya Baron bingung.
"Eh, nggakpapa, Mas. Aku cuma cari sesuatu." Kata Cefi.
"Apa? Biar saya bantu cari." Kata Baron.
Cefi pun diam namun dia tidak bisa berbohong, "Uang yang kamu kasih hilang lagi." Kata Cefi menghela napas.
Matanya sudah berkaca-kaca. Mengingat bagaimana suaminya mengerjakan gambar sampai malam-malam demi mendapatkan uang membuat dia merasa menjadi istri yang tidak berguna.
"Hilang lagi?" Tanya Baron.
Cefi mengangguk-anggukkan kepalanya begitu saja. "Maaf, Mas. ..." Kata Cefi merasa bersalah.
"Iya udah gakpapa. Tapi mungkin bukan rejeki kita. Tapi kamu inget taronya di mana?" Tanya Baron.
Cefi menganggukkan kepalanya begitu saja, "Inget. Aku kan taronya di sini terus." Kata Cefi.
"Hilang di situ lagi?" Tanya Baron.
Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja.
"Uang ini akan aku taruh di laci itu lagi." Kata Baron.
"Mas, kalau ilang lagi gimana?" Tanya Cefi.
"Justru di situ poinnya. Kita pasang CCTV. Nanti biar keliatan siapa yang ngambil." Kata Baron.
Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja. "Aku setuju, Mas." Kata Cefi.
Lalu mereka pun langsung melancarkan aksinya. Baron meletakkan uang satu juta rupiah tersebut di laci dan menutupnya. Kemudian dia dan istrinya pun memilih untuk memasang CCTV di dekat hiasan agar bisa melihat wajah pencuri dengan mudah.
***
Hari Sabtu pun datang. Cefi sudah bersiap-siap menggunakan pakaian terbaiknya yang dia rasa seperti anak 'kuliahan'. Dia tidak mau kalau dikenal sebagai murid SMA. Dia ingin membuktikan kepada semua orang bahwa dia adalah anak kuliahan. Lagi pula dia juga tidak mau melihat suaminya malu.
__ADS_1
Cefi memoles wajahnya tipis agar terlihat segar. Baron yang melihat istrinya jadi makin cantik langsung tertegun, "Mau ke mana sih, Bu? Kok make up segala?" Tanya Baron.
"Mau jadi anak kuliahan, Pak. Biar suami saya gak malu." Jawab Cefi
Baron dan Cefi pun terkekeh begitu saja. Kemudian, Cefi bangkit dari tempat duduk dan memperlihatkan penampilannya kepada suaminya, "Gimana penampilan aku?"
"Cantik." Jawab Baron.
"Nggak kayak anak SMA, kan?" Tanya Cefi.
Baron langsung terkekeh begitu saja, "Masih." Jawab Baron.
"Yah, trus aku harus pake baju mana dong?" Tanya Cefi dengan wajah sedih.
"Bercanda. Udah kayak anak kuliahan kok. Kamu tenang aja." Kata Baron.
Cefi langsung memamerkan giginya kepada Baron, dia merasa senang dengan jawaban Baron kali ini.
Mereka pun turun ke bawah bersama-sama. Kemudian menghampiri Andrea yang sudah rapih dan sedang bermain ponselnya. Andrea juga terlihat bersolek pagi ini. Cefi tentu peka kalau penampilan Andrea sedikit berbeda dari biasanya.
"Udah siap?" Tanya Baron kepada Andrea.
Andrea pun langsung menoleh ke arah Baron. Seketika Andrea pun langsung terkejut melihat Cefi di samping Baron yang sudah berpakaian rapih.
"Kenapa kamu liat aku kayak gitu?" Tanya Cefi.
"Eh, nggak. Enggakpapa. Kamu mau ke mana, Xaviera?" Tanya Andrea yang sepertinya tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Oh, aku mau kampusnya Mas Baron. Sama kayak kamu." Kata Cefi.
"Oh ..." Jawab Andrea sambil menganggukkan kepalanya.
Kemudian, mereka pun langsung berpamitan dengan Om Soni dan Tante Sonya, lalu mereka pergi menuju kampus.
Sesampainya di kampus, Cefi terus memandangi gedung kampus suaminya. Ternyata kampus suaminya terlihat sangat besar, bagus, bersih, dan memang terlihat mahal. Kalau Cefi menilik biaya persemester suaminya di kampus tersebut beserta jurusan suaminya yang Arsitek. Dia rasanya tidak terlalu terkejut. Karena untuk harga yang mahal, fasilitas yang ada di dalamnya telah mencerminkan.
"Ini kampus kamu?" Tanya Cefi kepada Baron dengan wajah bodohnya.
__ADS_1
"Kampusnya Andrea." Jawab Baron.
Cefi langsung cemberut. Dia tahu kalau dia salah pertanyaan.