
Baron mencoba mencari keberadaan Cefi ke sana ke mari. Dia tidak bisa menghubungi Cefi karena Cefi seperti biasanya pergi dengan tidak membawa ponselnya. Ponselnya ada di sekolah. Dara, Amel, dan Putri memberikan ponsel itu kepada Baron sepulang sekolah karena dia tahu kalau Baron adalah tetangga Cefi.
"Lo ke mana sih? Udah malem gini belum pulang." tanya Baron dengan cemas.
Baron mencoba menghubungi teman-teman Cefi yang sekiranya dekat dengan Cefi. Dia juga terus menghubungi Dara, Amel, dan juga Putri takut kalau tiba-tiba pulang ke rumah mereka.
Baron bahkan sudah mendatangi Daren dan memastikan apakah Daren sedang bersama dengan Cefi atau tidak. Tapi yang terjadi justru, Baron melihat Daren sedang bersama perempuan lain.
Baron mengacak rambutnya sendiri. Dia hampir saja frustasi mencari keberadaan Cefi. Kemudian, dia langsung teringat sesuatu. Ada satu tempat yang belum dia coba datangi. Pemakaman.
Hujan sudah menangis lagi. Baron pun berjalan tanpa takut mendekati pemakaman yang ada di dekat kompleksnya. Sekarang memang sedang musim hujan sehingga hampir setiap sore hujan selalu turun.
Dari jauh, Baron menghela napas. Dia masih bisa melihat dengan jelas meski hanya berbekal sinar bulan kalau ada seseorang berseragam putih abu-abu yang tengah menangis di sana. Gadis itu adalah Cefi. Baron sampai heran mengapa Cefi begitu pemberani padahal biasanya Cefi adalah seorang yang penakut.
"Aku lelah. Ma, Pa, aku boleh ya tidur di samping mama dan papa." Kata Cefi.
Cefi pun memeluk lututnya sendiri. Dia menangis. Terus menangis. Air hujan turun semakin deras seperti air mata Cefi. Tak lama kemudian, Cefi pun merasakan kepalanya pusing.
Baron berjalan ke arah Cefi dan langsung mengulurkan tangan, "Ayo, pulang!" Kata Baron. Meski memerintah, ada kelembutan di sana.
Cefi mendongak dan mendapati Baron yang tengah mengulurkan tangannya kepadanya. Kemudian, Cefi menggelengkan kepalanya, "Buat apa lo ke sini?"
"Ayo, pulang, ntar lo sakit." Baron.
"Lo pulang sendiri aja." Kata Cefi.
Baron menghela napas.
"Gue minta maaf. Gue tau gue salah karena udah ngomong kayak gitu sama lo kemarin." Kata Baron.
"Mending lo pulang aja. Gue pengen sendiri." Kata Cefi.
Baron menarik tangan Cefi agar Cefi berdiri. Cefi memberontak namun kekuatan Baron jauh lebih besar ketimbang dirinya. Baron membuka jaketnya. Setidaknya jaket tebalnya tidak tembus air. Dia langsung memakaikannya ke tubuh Cefi. Cefi mencoba berontak namun Baron langsung memakaikan jaket itu dan menarik ritsleting sampai ke atas.
Baron mengusap air mata Cefi.
"Gue minta maaf. Sekarang kita pulang ya?" Kata Baron.
__ADS_1
Cefi menggelengkan kepalanya, "Gue masih mau di sini." Kata Cefi lemah.
Baron berjongkok di hadapan Cefi, "Cepet naik!"
"Nggak mau." Kata Cefi.
Baron menarik tangan Cefi agar jatuh ke punggungnya. Lalu dia langsung bangkit dan membawa tubuh Cefi pergi. Tak lupa, dia juga membawa tas Cefi. Cefi tidak bersuara, dia hanya masih terisak saja. Baron pun sama. Dia tidak mengucapkan satu kata pun.
Di depan rumah Cefi, kedua orang tua Baron berdiri. Mereka juga sangat mencemaskan Cefi. Baron membawa Cefi ke Kamar Cefi. Saat membaringkan tubuh Cefi, Cefi tak bergerak. Ibu Anes pun langsung memeriksa keadaan Cefi. Untungnya Cefi hanya pingsan. Ibu Anes mengganti baju Cefi agar Cefi tidak semakin demam.
Tak lama kemudian, Cefi pun sadar. Kemudian, Ibu Anes membawakan bubur dan juga obat untuk Cefi.
"Biar aku aja, Ma, mama sama papa pulang aja. Ini udah malem juga." Kata Baron.
Ibu Anes dan Pak Pradana sebetulnya tidak sampai hati untuk meninggalkan Cefi namun Baron mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja dan Baron pun memberikann pengertian kepada kedua orang tuanya hingga orang tuanya pulang.
Baron mengambil bubur dan duduk di samping Cefi yang memunggunginya. "Makan dulu ya?" Kata Baron.
Cefi menggelengkan kepalanya. Baron pun meletakkan buburnya dan menelentangkan serta menegakkan tubuh Cefi dengan paksa agar Cefi mau duduk. Kemudian dia pun menyuapi Cefi.
"Gue bisa makan sendiri." Kata Cefi sambil sesenggukan.
Kemudian, Baron menyuapi Cefi lagi. Cefi pun menurut. Air matanya terus menerus jatuh dia pun mencoba mengusapnya berkali-kali. Dia tidak tahu kenapa Baron tiba-tiba jadi sangat perhatian.
"Udah." Kata Cefi.
Baron pun menganggukkan kepalanya. Dan meletakkan mangkok buburnya di atas meja. Buburnya masih tersisa sedikit. Kemudian, Baron meminta kepada Cefi untuk minum obat. Cefi pun kembali menurut.
Baron dan Cefi sama-sama diam. Kemudian, Baron meraih tangan Cefi, hal itu membuat Cefi mendongak, kalau biasanya dia akan melepaskan tangan itu, namun kali ini dia tidak melakukannya, ntah karena apa.
"Ucapan gue kemaren pasti bikin lo sakit hati banget ya? Gue minta maaf ya. Gue nyesel udah ngomong kayak gitu sama lo kemarin." Kata Baron.
Cefi mengusap air matanya. Dia hanya menangis. Ucapan Baron kemaren memang sampai detik ini masih dia ingat. Hatinya masih sangat sakit mengingat kata-kata menyesakkan itu.
"Lo boleh marah. Lo boleh tampar gue. Lo boleh mukul gue. Lo boleh ngata-ngatain gue. Tapi jangan diem dan nangis kayak gini, please ...." Kata Baron sambil memukul-mukulkan telapak tangan Cefi ke pipinya.
Cefi masih menangis namun dia menahan tangannya agar Baron tidak menyakiti pipinya dengan menggunakan tangan Cefi lagi. "Lo emang jahat. Gue nggak bisa lupain kata-kata lo itu sampe sekarang." Kata Cefi.
__ADS_1
Mendengar Cefi bersuara membuat senyum Baron muncul tipis-tipis. "Sekali lagi maafin gue. Gue janji nggak bakalan bilang kayak gitu lagi." Kata Baron.
"Janji?" Tanya Cefi sambil menyodorkan kelingkingnya.
Baron menganggukkan kepalanya begitu saja, "Iya, gue janji. Jangan diemin gue lagi. Jangan nangis kayak tadi lagi." Kata Baron menautkan kelingkingnya di kelingking Cefi.
"Lagian siapa suruh ngeselin." Kata Cefi.
Baron terkekeh, "Iyaaa maaf." Kata Baron.
"Maaf ya udah jadi beban." Kata Cefi. Kali ini dia tulus meminta maaf. Bagaimana pun sebetulnya dia merasa kalau dia sangat menyusahkan Baron.
"Iya, kalau cuma punya satu beban kayak lo kayaknya gue masih fine-fine aja sih." Kata Baron.
Cefi langsung menarik tangannya dari Baron. Baron pun buru-buru bangkit. "Tidur gih. Udah malem. Besok sekolah."
Cefi menunduk, "Mulai besok gue udah gak ke sekolah." Kata Cefi.
"Apa?" Tanya Baron.
Air mata Cefi langsung mengalir lagi, dia buru-buru menghapusnya, "Gue dikeluarin." Kata Cefi.
Baron pun menghela napas, sejujurnya dia sudah menduga hal tersebut namun tetap saja dia terkejut. "Besok gue bakalan urus semuanya. Lo nggak usah takut. Gue pastiin lusa lo udah masuk sekolah lagi."
"Gak usah jadi pahlawan kesiangan. Nanti lo kena masalah." Kata Cefi.
"Kayaknya gue udah biasa deh dikasih masalah sama lo. Jadi, udah nggak kaget." Kata Baron.
"Ih, ngeselin banget sih?" Kata Cefi yang langsung hendak mencubit pinggang Baron namun Baron langsung menghindar.
Mau tidak mau Cefi pun langsung merengut kesal. "Mending lo tidur ..." Kata Baron yang membenarkan selimut Cefi dan membaringkan tubuh Cefi.
Cefi pun hendak bangun. Namun Baron menjatuhkan tubuh Cefi lagi. Ketika Cefi mau bangun lagi, Baron melakukan hal yang sama.
"Barongsai ..." Panggil Cefi.
"Hm?" Kata Baron yang merapikan selimut Cefi lagi. "Udah, tidur ..."
__ADS_1
"Gue mau pipis." Kata Cefi.
Baron menggaruk kepalanya, "Oh."