Cinta Anak Kompleks

Cinta Anak Kompleks
BAB 71 - Pertengkaran Hebat


__ADS_3

Cefi terperangah mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya, ternyata inilah yang menjadi sumber kekesalan suaminya. Cefi memang mengakui kalau dirinya salah karena selama ini dia tidak mengatakan semua yang terjadi kepada suaminya. Ntah karena lupa, atau ntah karena dia merasa tidak perlu menceritakannya.


“Mas, kok kamu begitu?” tanya Cefi.


“Saya nggak ngerasa dihargai di rumah ini, Xaviera. Saya tidak menginginkan mobil kamu, rumah ini, atau semua harta kamu, apalagi uang klaim asuransi. Saya cuma mau kamu bilang apapun ke saya, biar kalau ada masalah kayak gini saya nggak bingung. Apa selama ini kamu nggak cerita karena takut saya ambil semua harta kamu?” tanya Baron kesal.


Cefi pun langsung terkejut mendengar hal itu, “Nggak, Mas. Aku sama sekali tidak pernah mikir kayak gitu. Aku emang salah gak cerita sama kamu, tapi aku lupa, Mas.” kata Cefi.


“Lupa itu cuma sekali dua kali, Xaviera. Bukan setiap hari.” kata Baron.


“Kok kamu gini aja marah-marah sih, Mas?” tanya Cefi.


“Gimana saya nggak marah? Saya kesal karena ketika saya tahu kamu terkena masalah, saya sendiri nggak tau apa yang terjadi.” kata Baron.


Cefi menitikkan air mata. Dia memang salah kepada Baron, tapi kenapa Baron bisa semarah ini, apakah ego seorang laki-laki memang seperti ini. Apakah hanya karena dia tidak mengatakan hal ini dan itu kepada Baron bisa membuat Baron menyimpulkan kalau kehadirannya tidak pernah menjadi seseorang yang berarti untuk Cefi.


“Malam ini saya nggak pulang.” kata Baron.


Baron memilih untuk pergi meninggalkan Cefi. Bukannya dia tidak mau tanggung jawab. Melihat Cefi yang ternyata menandatangani sesuatu secara asal, tidak mengatakan kepadanya tentang mobil yang sedang dipinjam padahal Baron sudah panik setengah mati karena tidak ada mobil di rumahnya, tidak mengatakan kepadanya masalah asuransi, dan sepertinya banyak hal lain yang tidak Cefi ceritakan kepada dirinya, membuat dirinya kesal. Karena dirinya merasa seperti tidak dianggap.


Baron tentulah masih muda dan merasa kalau dirinya seorang laki-laki. Tinggal di rumah Cefi saja sejujurnya dia malu karena rumah itu bukan rumah miliknya. Kesannya, ketika dia tinggal di rumah Cefi, dia seperti numpang hidup di rumah tersebut. Lalu, masalah mobil, dia bahkan tidak pernah memakai mobil itu kalau tidak dalam situasi mendesak dan tentu saja harus bersama dengan istrinya, tapi ketika mobil itu dipakai orang lain dan istrinya tidak mengatakan kepadanya itu membuatnya sakit hati. Baron tidak akan menolak permintaan Cefi untuk meminjamkan mobil kepada keluarganya. Dia hanya ingin Cefi pamit. Istrinya itu masih ABG labil, kalau sampai mobil itu dipinjam oleh orang tidak jelas dan mengalami kecelakaan lalu lintas bagaimana? Apakah Cefi bisa mengurusnya?

__ADS_1


Baron juga merasa kesal pada Cefi, merasa harga dirinya diinjak-injak. Dia sebetulnya juga minder, setiap hari dia mencoba memikirkan cara untuk menghidupi kehidupan mereka berdua bahkan ketika ada keluarga Om Soni. Baron tidak mau dianggap sebagai laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Dia bahkan sering begadang setiap malam, di mana ketika dia memastikan istrinya tidur, dia akan bangun, mengerjakan gambar-gambarnya, dia tidak mau kalau sampai Cefi tahu kalau dia sebekerja keras itu.


Mungkin bagi Cefi, tidak izin atau tidak mengatakan apapun kepada suaminya bukanlah masalah besar, namun bagi Baron adalah masalah besar. Dia ingin istrinya membagi semuanya dengannya, dia tidak akan menuntut Cefi harus begini dan begitu. Dia hanya ingin mengarahkan Cefi dan tahu tentang Cefi. Apakah dia salah?


Baron mengusap wajahnya dan kembali ke rumah orang tuanya.


Cefi tidak bisa mengejar Baron, karena Baron terlihat sangat marah. Otaknya tidak sampai, dia tidak tahu kenapa hal seperti itu saja bisa jadi bahan keributan. Ini adalah kali pertama untuk dirinya dan Baron berkelahi, ah mungkin kedua kali dari ketika Baron marah besar kepada Cefi dan mengatakan hal yang tidak mengenakkan.


Air mata Cefi pun menetes begitu saja, hatinya perih sekali. Di satu sisi dia merasa bersalah namun di sisi lain dia merasa kalau itu hanyalah hal sepele dan tidak seharusnya dijadikan Baron sebagai bahan untuk marah-marah.


“Kamu kok begitu sih, Mas? Masa cuma karena aku nggak bilang apa-apa ke kamu kamu marah begitu?” gumam Cefi.


Cefi menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur, air matanya sudah menetes begitu saja. Dia menangis, dia bingung, mobilnya hilang, uang asuransi itu juga hilang. Dia memang bodoh karena percaya saja pada Om Soni.


Selama ini, orang yang memberikan kekuatan selepas kedua orang tuanya meninggal adalah Baron, namun sekarang tidak ada lagi Baron sehingga dia pun seperti kehilangan bahu untuk bersandar.


Ponsel Cefi pun bergetar, beberapa pesan masuk ke whatsappnya. Dia pun langsung membuka aplikasi tersebut dan melihat pesan yang masuk. Di sana banyak pesan yang dikirimkan oleh ketiga sahabatnya. Namun, dalam keadaan seperti ini Cefi merasa tidak bisa membalas. Sehingga dia pun kembali melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur dan mencoba memejamkan mata.


Namun, semakin dia memejamkan mata, semakin dia tidak bisa tidur. Apa yang harus dia lakukan? Kenapa ini semua terjadi? Andai saja …


Ketika Cefi sampai di pemikiran itu, Cefi pun langsung menangis lagi. Andai saja dia mengatakan semuanya kepada suaminya, dirinya pasti tidak akan pernah seperti ini, kalau dia mengatakan semuanya kepada suaminya, suaminya tentu akan membantunya ketika masalah besar seperti ini datang kepadanya.

__ADS_1


“Mama … Papa …” Air matanya meluncur begitu saja.


Cefi menyesal karena tidak menceritakan semuanya kepada suaminya. Apa yang dikatakan oleh Baron memang ada benarnya, seharusnya dia mengatakan. Cefi pernah mendengar kalau kunci sebuah hubungan adalah komunikasi, kalau dirinya saja tidak bisa berkomunikasi dengan baik kepada suaminya, dia tentulah tidak akan pernah kebingungan seperti ini.


“Mas Baron, maaf.” kata Cefi. Dadanya terasa begitu nyeri.


***


Pukul 23.00 WIB.


Baron masih berada di kamarnya. Dia masih tersulut amarah karena istrinya menyembunyikan hal sebesar ini. Kalau saja Cefi menjelaskan mengenai apa yang terjadi kepada dirinya, dirinya tentulah tidak akan marah seperti ini kepada Cefi. Kalau begini, dia merasa tidak dihargai sebagai suaminya.


Tok-tok-tok!


Ketukan pintu membuat Baron menoleh ke pintu.


Tak lama kemudian, ibunya muncul di sana. Ibunya berjalan ke arah Baron dan duduk di samping Baron yang sedang duduk di tepian ranjang dengan kepala penuh dan ingin pecah. Dia dan Cefi sama-sama masih muda, masih memiliki ego yang sama-sama besar.


“Nak, lagi ada masalah ya sama Nak Xaviera?” tanya Ibunya.


Baron hanya diam.

__ADS_1


“Kasian dia nak, dia sendirian, dia cuma punya kamu. Jangan lama-lama marahnya.” kata Ibunya Baron.


“Ma, dia tuh apa-apa nggak bilang, Ma. Dia bilang kalau izin sama temennya doang, selainnya gak pernah bilang ke Baron. Sampai ada masalah uang asuransi orang tuanya dan mobilnya dibawa kabur sama omnya, Baron nggak ngerti apa-apa.” kata Baron.


__ADS_2