Cinta Anak Kompleks

Cinta Anak Kompleks
BAB 97 - Tiga Tahun Kemudian


__ADS_3

Tiga tahun kemudian.


Cefi sedang bermain bersama dengan adik ipar dan anaknya. Daniel dan juga Arvin. Iya, nama anak Cefi dan juga Baron adalah Arvin. Dia tumbuh menjadi anak laki-laki yang menggemaskan dan juga tampan. Daniel juga tampan namun lebih tampan Arvin.


“Arvin, Daniel, jangan lari-larian nanti jatuh!” kata Cefi.


“Nggak Papa. Arvin, Daniel. Lari-larian aja.” kata Baron yang baru datang.


Cefi langsung menoleh ke sumber suara. “Mas …” kata Cefi kesal sambil mengerucutkan bibirnya. Baron hanya bisa terkekeh begitu saja.


Arvin dan Daniel yang mendengar suara Baron yang mengizinkan mereka berdua pun langsung berlari ke sana ke mari dengan senang hati.


“Biarin ajalah, Sayang. Namanya juga anak-anak. Kalau jatuh ya wajar.” kata Baron.


“Enggak, enggak, enggak. Mereka itu masih kecil, Mas. Bisa jatuh dan berdarah nanti. Aku nggak mau mereka jatuh dan berdarah.” kata Cefi.


“Biarin ajalah. Kamu nggak mau salim sama suami?” tanya Baron.


Cefi pun langsung nyengir lebar, dia hampir saja lupa, “Aku sampe lupa.” kata Cefi. Cefi pun meraih tangan suaminya dan mencium tangan suaminya tersebut.


“Bang Balon!” seru Daniel.


“Bang Balon!” seru Arvin.


Mereka berdua pun langsung berlari ke arah Baron dan meminta gendong. Baron terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh anaknya. Bagaimana mungkin anaknya memanggilnya ‘abang’. Ah, itu pasti karena Arvin mengikuti Daniel.


“Arvin, kamu jangan panggil Papa abang Dong, panggilnya papa.” kata Baron.


Baron membawa kedua anak kecil yang lucu itu ke dalam rumah. Cefi mengekori Baron. Sedari tadi, Cefi meminta kedua anak tersebut masuk namun anak itu tidak ada yang menggubrisnya. Sedangkan dengan Baron, mereka terlihat begitu penurut. Ntah aji-aji apa yang dimiliki oleh Baron sehingga anak dan adiknya begitu nurut.


“Papa Balon.” kata Daniel.


Cefi terkekeh begitu saja. Karena yang menyahut adalah adik Baron.


“Enggak kamu panggilnya Abang bukan papa. Kamu bukan anak abang.” kata Baron kepada Daniel.


“Abang Balon.” kata Arvin.


Baron pun langsung frustasi. Hal itu membuat Cefi terkekeh, dia sangat puas melihat wajah suaminya yang kesal. Memang meskipun menurut. Ada satu hal yang kedua anak kecil itu tidak mau menurut. Perihal panggilan untuk Baron.


Baron menurunkan keduanya, di bawah dan melipat tangan di depan dada.


“Dengar, Daniel. Panggil Abang dengan sebutan Abang Baron.” kata Baron kepada adiknya.

__ADS_1


“Kamu juga dengar Arvin. Panggil papa dengan sebutan Papa Baron.” kata Baron kepada anaknya.


“Abang Balon.” kata Daniel.


Arvin yang melirik Daniel pun langsung menganggukkan kepalanya, dia juga mengikuti omnya itu. “Abang Balon.” katanya.


“Astaghfirullah. Papa … Papa Baron.” kata Baron.


“Papa Balon.” jawab Arvin.


“Nah, bagus! Anak pinter.” kata Baron memuji anaknya tersebut.


“Papa Balon.” jawab Daniel yang juga ingin dipuji.


Baron pun rasanya ingin menjambak rambutnya sendiri. Di tempatnya Cefi terpingkal-pingkal melihat tingkah suaminya. Melihat bagaimana suaminya yang terlihat frustasi ketika mengatakan hal tersebut kepada kedua anak kecil itu membuat Cefi merasa seperti melihat hiburan.


Ibu Anes yang juga melihat interaksi Baron dengan kedua anak kecil tersebut juga terkekeh, Baron lucu sekali.


“Ma, tolong bilangin dong ke Daniel. Panggil Abang.” kata Baron. “Kalau nggak Om aja. Om lebih masuk akal.” kata Baron.


“Abang itu udah paling bagus, kamu bukan omnya. Kamu itu kakaknya. Lagian mereka itu anak kecil, Baron. Harus pelan-pelan dikasih taunya.” kata Ibu Anes.


“Tapi kalau sampai gede begitu gimana?” tanya Baron.


Cefi di tempatnya hanya bisa tertawa begitu saja, dia sampai memegangi perutnya yang mulai keram karena terlalu banyak tertawa.


“Habis, kamu lucu sih.” kata Cefi.


“Udah-udah kita makan dulu yuk? Mama udah masak untuk kita semua.” kata Ibu Anes.


Semuanya pun langsung pergi ke ruang makan rumah kedua orang tua Baron. Cefi memang sering main di rumah tersebut karena jaraknya sangat dekat bahkan rumahnya dengan rumah mertuanya berhadap-hadapan.


Istilah kerennya: kepleset nyampe.


Cefi pun mengambilkan nasi untuk suaminya juga untuk mertuanya. Kemudian, mereka pun makan, namun Cefi memilih untuk menyuapi Arvin terlebih dahulu.


“Aku mau …” kata Daniel yang berjalan menuju ke arah Cefi.


“Heh, bocah, ibumu yang itu (menunjuk Ibu Anes) bukan yang itu (menunjuk Cefi).” kata Baron.


“Baron ….” kata Ibu Anes geram dengan kelakuan anaknya tersebut yang seperti anak kecil saja, habis hanya karena anaknya ingin disuapi oleh istrinya saja Baron sampai mengatakan hal utu.


“Ya kan emang bener.” kata Baron.

__ADS_1


Cefi menggelengkan kepalanya begitu saja.


“Nggakpap sini, bareng sana Arvin.” kata Cefi dengan senang hati


Cefi memang menyayangi Daniel seperti anaknya ah … adiknya sendiri,. dia tidak membeda-bedakan perlakuannya kepada Arvin maupun Daniel.


“Sini sayang, sama mama aja.” kata Ibu Anes.


“Mau sama Kakak.” kata Daniel.


Daniel dengan mudah memanggil Cefi dengan sebutan Kakak.


“Udah nggak papa, Ma. Bareng Arvin ini, Ma.” kata Cefi.


“Tapi nanti kamu jadi lama makannya, Nak.” kata Ibu Anes.


“Nggak papa, Ma. Sambil nunggu Mas Baron.” kata Cefi.


“Makasih ya, Nak. Maaf jadi ngerepotin kamu.” kata Ibu Anes.


“Enggak kok, Ma. Sama sekali nggak ngerepotin, santai.” kata Cefi sambil terkekeh begitu saja.


Cefi mulai menyuapi keduanya dengan senang hati. Baron mempercepat makannya, agar bisa bergantian dengan istrinya. Kemudian, setelah selesai makan, dia pun langsung meminta piring makanaan Arvin dan juga Daniel, “Sini biar aku aja yang suapin. Kamu makan aja ya.” kata Baron.


“Emang kamu udah selesai, Mas?” tanya Cefi.


“Sudah dong. Emang kamu makannya lama.” kata Baron.


Cefi pun mengerucutkan bibirnya begitu saja.


Ibu Anes dan Pak Pradana hanya bisa menggelengkan kepalanya begitu saja, “Kalian itu udah punya anak loh. Kayak anak sekolah aja.” kata Pak Pradana.


“Baronnya, Pa. Ngeselih.” kata Cefi.


Baron terkekeh begitu saja. Kemudian, dia pun langsung menyuapi kedua anak kecil itu. Sejak kehadiran Arvin dan juga Daniel, rumah mereka memang jadi tambah hidup juga ramai.


“Ini, jagoan, siapa dulu yang mau makan?” tanya Baron.


“Akuuu!” kata Daniel.


Arvin pun mengalah, kemudian dia mengacungkan kepalanya. “Akuuu!” katanya sambil mengacungkan tangannya ke atas tinggi-tinggi.


Hal itu membuat semua orang tertawa begitu saja.

__ADS_1


“Ini, Aaaa …” kata Baron kepada Daniel dan juga Arvin. Lalu kedua anak kecil tersebut pun tertawa sambil mengunyah makanan yang ada di dalam mulut mereka.


Arvin dan Daniel terlihat seperti anak kembar. Kalau mereka berjalan, semua orang bahkan mengira kalau mereka kembar. Setiap pergi bersama Cefi, semua orang mengira kalau kedua anak kecil itu adik Cefi. Tidak ada yang menyangka kalau Arvin adalah anaknya. Kecuali tetangga terdekat.


__ADS_2