Cinta Anak Kompleks

Cinta Anak Kompleks
BAB 77 - Pencarian Riza


__ADS_3

Baron dan ayahnya pun segera mengurus ke kantor polisi. Kemudian, ayahnya Baron langsung menyewa pengacara kenalannya untuk membantu kasus ini. Ini bukan kasus main-main. Kalau dibiarkan saja, Cefi dan Baron bukan hanya kehilangan mobil dan uang asuransi itu, tapi juga rumah mereka.


Selesai dari kantor polisi, Baron menghampiri Cefi yang masih merenung di tempatnya. Cefi merasa kesal kepada dirinya sendiri. Dia juga malu kepada Baron dan keluarganya karena semua ini adalah ulah dari Om-nya sendiri.


Ntah kesurupan setan apa Om-nya tersebut. Beliau ini memang sangat licik. Cefi baru tahu ternyata di dunia ini ada orang yang lebih setan dari setan. Iya, Om-nya dan keluarganya kurang lebih seperti itu.


Sungguh air susu dibalas dengan air tuba.


“Kita harus cari Andrea.” kata Cefi.


Cefi sangat yakin kalau Andrea masih kuliah, dia tidak mungkin mengorbankan kuliahnya hanya karena ayahnya merampok harta milik Cefi.


Baron menganggukkan kepalanya begitu saja.


“Yaudah, kita ke kampus sekarang tapi kamu makan dulu, dari tadi kamu belum makan.” kata Baron.


“Nggak kepengen makan, Mas.” kata Cefi.


“Kalau nggak makan, saya nggak mau ajak kamu.” kata Baron.


Istrinya memang belum makan, ketika bertanya kepada ibunya pun ternyata Cefi memang belum makan sehingga Baron pun menginginkan kalau istrinya makan dulu. Dia tidak mau kalau istrinya sampai sakit.


Cefi pun menganggukkan kepalanya, “Yaudah nanti aku makan, tapi di jalan aja.” kata Cefi.


“Janji?” tanya Baron.


Cefi pun menganggukkan kepalanya dan langsung menyodorkan jari kelingkingnya. Baron tahu kalau istrinya tidak mungkin berbohong sehingga dirinya pun langsung menyetujuinya, kemudian, Baron pun langsung mengambil jaket milik Cefi dan menyodorkannya. Untungnya Cefi sudah berganti pakaian, meskipun hanya memakai celana kulot dan juga kaos saja.


Kemudian, mereka pun turun ke bawah, ke parkiran motor.

__ADS_1


“Mas, kayaknya aku tahu siapa orang yang bisa bikin kita ketemu sama Andrea.” kata Cefi.


“Siapa?” tanya Baron.


“Laki-laki yang datengin aku di kantin kampus kamu waktu itu.” kata Cefi.


“Kenapa kamu bisa menyimpulkan kalau dia kenal Andrea?” tanya Baron.


“Iya, karena waktu kemarin-kemarin waktu aku belanja ke minimarket sini, kita ketemu.” kata Cefi.


Raut wajah Baron seketika berubah, lagi, Cefi tidak pernah menceritakan pertemuan itu kepada Baron. Hal itu cukup membuat Baron merasa begitu kesal.


“Dia bilang ke aku kalau aku harus hati-hati sama Andrea, katanya Andrea jahat.” kata Cefi. Dia belum menangkap perubahan raut wajah di wajah suaminya.


“Kamu ketemu sama dia nggak bilang sama saya?” tanya Baron.


Cefi terkejut setengah mati, dia tahu kalau dia salah bicara, namun dia memang tidak bisa berbohong. Lagi pula pertemuan itu tidak ada spesial-spesialnya. Cefi mengira kalau laki-laki itu hanya bercanda saja ketika mengatakan kalau Andrea itu jahat. Tapi ternyata untuk sekarang sepertinya dia harus mempercayai hal itu.


Baron hanya diam. Namun, Cefi kali ini bisa tahu kalau suaminya masih tidak puas dengan jawabannya dan suaminya salah paham dengan apa yang terjadi, suaminya membutuhkan jawaban lain.


“Mas … please. Maaf ya, aku bener-bener nggak ngajak dia ngobrol. Kalau Mas gak percaya, kita tanya mbaknya aja, Mas.” kata Cefi. Cefi memegangi tangan Baron, dia tidak mau suaminya marah lagi kepada dirinya. Bermarah-marahan dengan suaminya sangat menyakitkan, dia tidak mau menangis lagi.


“Nggak usah.” kata Baron.


Baron pun menghela napas, dia juga tidak tahu kalau Riza tinggal di kompleks tersebut. Kompleks tersebut memang cukup besar dan setiap tahunnya selalu ada pendatang Baru. Untuk orang yang sudah lama tinggal di kompleks tersebut tentulah akan mereka kenal. Namun, Riza sepertinya adalah orang baru.


“Yaudah kita ke minimarket dulu. Kamu sekalian makan di sana aja. Di sana ada ricebowl.” kata Baron.


Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja. Kemudian, dia pun memakai naik ke atas motor tersebut. Mereka tidak menggunakan helm. Helm mereka ada di depan, sebab jarak rumahnya dengan minimarket memang tidak jauh.

__ADS_1


Sesampainya di sana, Cefi dan Baron pun turun dari motor dan masuk ke dalam minimarket. Kemudian, Cefi pun memilih makanan, dua untuk dirinya dan juga untuk suaminya. Kemudian, Baron membayar makanan kemudian mereka mencari tempat duduk yang nyaman, di depan kaca. Agar bisa melihat kalau saja Riza lewat ke sana.


“Ini, untuk kamu.” kata Cefi.


“Enggak, untuk kamu aja.” kata Baron.


Cefi menggelengkan kepalanya begitu saja, “Aku tau kamu juga belum makan, Mas.” kata Cefi. “Kalau kamu nggak mau makan, aku nggak mau makan juga.” sambungnya.


Baron mau tidak mau menerimanya. Kemudian, Baron lupa kalau mereka belum membeli minuman, “Sebentar saya ambil minum dulu untuk kita. Kamu mau minum apa? Teh apel?” tanya Baron.


Cefi menganggukkan kepalanya, “Iya, Mas. Itu the kesukaan aku.” kata Cefi.


Baron menganggukkan kepalanya begitu saja, kemudian, Baron pun pergi mencari minuman untuk mereka, lalu membayarnya, dan kembali bergabung dengan istrinya.


Mereka pun menikmati makanan mereka meski lidah mereka terasa hambar, pikiran mereka terus berfokus pada apa yang terjadi pada mereka. Cefi terus mengamati dengan awas jalanan di depannya. Dia tidak mau kelewat saja. Meskipun bertemu atau melihat Riza peluangnya masih sangat sedikit namun dia tetap harus melakukannya.


“Mas, itu dia! Itu dia!” seru Cefi yang langsung berlari keluar minimarket meninggalkan makanannya.


Baron pun langsung berlari mengejar istrinya, kemudian dia langsung melihat laki-laki itu di motor, tanpa memperdulikan apapun, “Kamu tunggu di dalem.” kata Baron.


Baron langsung naik ke atas motor dan langsung mengejar Riza. Sedangkan Cefi, seperti perintah dari suaminya, kembali ke dalam minimarket. Dia kembali melanjutkan acara makannya. Namun, karena tidak nafsu, dia pun memilih untuk membuang isi nasi di dalamnya ke dalam tong sampah, namun dia tidak membuang tempatnya, dia ingin suaminya berpikir kalau dia sudah menghabiskan makanan.


“Maaf ya, makanan. Tapi gue lagi gak bisa makan.” kata Cefi.


Kemudian dia kembali ke tempat duduknya. Dia berdoa agar suaminya bisa membawa Riza ke sana. Dia ingin mencari keberadaan Andrea. Dia ingin memukul gadis itu karena sudah jahat kepada dirinya.


Tak lama kemudian, suaminya datang, memarkirkan motornya di depan minimarket sendirian, seketika Cefi menghela napas, dia tahu kalau suaminya tidak berhasil membawa Riza.


Namun, tak lama kemudian, ada seseorang yang memarkirkan motornya di samping motor suaminya. Seketika Cefi pun langsung tersenyum, ternyata suaminya berhasil membawa Riza ke sana.

__ADS_1


Di parkiran Riza melambaikan tangannya ke arah Cefi. Cefi pun secara refleks langsung melambaikan tangannya. Namun, tiba-tiba seseorang menurunkan tangan Cefi. Cefi menoleh ke samping dan ternyata suaminya.


Aduh! - rutuk Cefi.


__ADS_2