
Keesokkan harinya, Baron yang ingin masalah ini untuk segera selesai pun memutuskan untuk mengajak Om Soni untuk berbicara. Namun, bukan hanya Om Soni yang ada di sana. Di mana, sudah ada Tante Sonya dan Andrea yang turut hadir di sana.
“Ada apa sebetulnya, Nak?” tanya Om Soni.
“Begini, Om. Sebelumnya saya mau minta maaf sama Om dan Tante, namun hal ini memang harus diselesaikan.” kata Baron.
“Ada apa, Nak? Kenapa sepertinya ada hal yang serius sekali?” tanya Om Soni.
“Iya, Om, memang ada hal serius yang sedang ingin saya katakan. Saya dan istri saya beberapa kali kehilangan uang, Om. Dan setelah beberapa kali, kami mengetahui siapa yang mencuri uang tersebut.” kata Baron.
Wajah Andrea seketika pucat di tempatnya. Dia tidak menyangka kalau Baron dan Cefi bisa menemukan siapa yang mencuri uang mereka. Namun, Andrea mencoba berwajah datar, dia tidak akan menunjukkan reaksi yang berlebihan.
“Siapa, Nak?” tanya Om Soni.
“Andrea, Om.” jawab Cefi.
Baron mengaduh dalam hati, padahal dia tidak ingin menyebutkan nama Andrea. Baron berniat untuk membiarkan Om Sonny meliaht ke CCTV saja mengenai siapa oarang yang mencuri uang itu. Namun, Cefi yang seakan tidak tahu maksud suaminya langsung mengatakan hal tersebut begitu saja.
“Andrea? Kamu pasti bercanda, Nak. Andrea tidak pernah mencuri. Dia anak baik-baik.” kata Om Soni.
Cefi pun menggelengkan kepalanya begitu saja, “Memang Andrea, Om.” kata Cefi.
Baron menyerahkan ponselnya kepada Om Soni, sambil memutarkan rekaman CCTV dan mempersilakan kepada Om Soni untuk melihat sendiri mengenai siapa pelakunya melalui video CCTV tersebut.
“Ini, Om. Dalam rekaman ini Om bisa melihat sendiri. Karena saya tahu seagai orang tua tentu Om tidak akan percaya dengan ucapakan saya dan istri saya. Jadi, kami ingin memperlihatkan bukti ini kepada Om.” kata Baron.
Om Soni langsung mengambil ponsel itu, kemudian, memutar video itu dan memperhatikan isinya. Di sana Tante Sonya juga melakukan hal serupa. Dia menggeser tubuhnya dan ikut menonton bersama dengan suaminya, beliau sepertinya sangat ingin thu mengenai isi dari rekaman tersbeut.
“Astaga.” ucap Tante Sonya.
Om Soni memberikan ponsel milik Baron setelah melihat video rekaman CCTV tersebut. Kemudian, beliau langsung menatap Baron, “Saya minta maaf atas semua yang dilakukan oleh anak saya, Nak Baron. Dia memang benar-benar keterlaluan.” kata Om Soni.
__ADS_1
“Semoga kedepannya hal ini tidak akan terjadi lagi ya, Om. Saya hanya takut kalau misalnya andrea terus menerus melakukan hal semacam ini dan ketahuan oleh orang lain, dia akan mendapatkan sanksi yang lebih berat lagi.” kata Baron.
Cefi mengamati wajah Baron. Meski dia sudah mendengar apa yang dikatakan oleh Baron tersebut sebelumnya namun ntah mengapa dirinya tetap terpesona melihat Baron. Baron yang dewasa selalu menggemaskan dan penuh wibawa.
“Ekhm.” Baron berdehem pelan untuk menyadarkan istrinya yang terlihat mulai terpesona pada dirinya.
Cefi pun langsung tersadar begitu sadar dan langsung menatap Andrea. Di sana, Andrea terlihat menunduk sambil meremas jarinya.
“Andrea! Kamu benar-benar membu malu mama sama papa!” seru Om Soni yang terlihat marah kepada anaknya.
Om Soni langsung menampar Andrea hingga Andrea memegangi pipinya yang perih. Melihat hal itu, Baron dan Cefi pun terkejut.
“Om, jangan tampar Andrea, Om. Dia pasti punya alesan.” kata Cefi.
“Kenapa kamu melakukan ini, hah? Kenapa kamu buat malu mama dan papa?” tanya Om Soni.
“Aku harus bayaran kuliah, Pa. Apa papa punya uang dua puluh lima juta untuk bayar? Enggak kan?” kat Andrea.
“Mau ke mana kamu, Andrea?!” seru Om Soni dengan murka.
Sedangkan, Tante Sonya hanya diam saja, namun mata beliau sudah berkaca-kaca. Cefi pun melirik suaminya,
“Om, saya tahu kalau Om marah, tapi saya rasa tidak perlu ada kekerasan, Om. Andrea sepertinya memang terdesak oleh keadaan.” kata Baron.
“Iya, Nak. Sekali lagi maafkan saya. Saya akan mengajar anak saya lagi. Ssaya akan memberikan bimbingan kepada dia lagi. Saya sepertinya salah karean sudah memanjakan dia. Sekali lagi saya mewakili Andrea, meminta maaf atas pencurian tersebut. Nanti saya akan minta dia untuk mengembalikan uang tersebut.” kata Om Soni.
“Tidak perlu dikembalikan, Om. Tidak apa-apa. Buat Andrea saja, anggap saja untuk membantu biaya kuliahnya walau sedikit.” kata Baron.
“Kamu benar-benar menantu yang baik, Nak. Terima kasih karena sudah sangat baik kepada kami. Saya akan memberikan pelajaran kepada anak saya agar tidak melakukan tindakan memalukan lagi.” kata Om Soni.
Baron pun langsung menganggukan kepalanya begitu saja. “Iya, Om. Terima kasih pengertiannya, Om.” kata Baron.
__ADS_1
“Nak Xaviera maafkan sepupumu ya? Dia memang keterlaluan, nanti om akan suruh dia minta maaf sama kamu.” kata Om Soni.
Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja, “Iya, Om. Makasih ya, Om.” ucap Cefi.
Om Soni pun menganggukkan kepalanya begitu saja.
Setelah semua ini selesai, Cefi pun memutuskan untuk keluar rumah untuk pergi ke supermarket terdekat, dia ingin membeli cemilan. Iseng saja. Baron tidak bisa mengantarkan Cefi karena dia harus menyelesaikan deadline gambar.
“Nak Xaviera!” seru seseorang.
Cefi pun langsung menoleh ke rumah Mama Dinta.
“Oh, Mama Dinta? Ada apa?” tanya Cefi.
Mama Dinta yang merupakan salah satu tetangganya pun menghampiri Cefi begitu saja, “Gimana sudah cair?” tanya Mama Dinta.
“Cair apa ya, Tante?” tanya Cefi.
“Asuransi orang tua kamu. Kemarin ada tim survei yang datang. Mama Dinta diwawancara, Mama Dinta jawab yang sejujurnya, nggakpapa kan?” tanya Mama Dinta.
Cefi memutar otak. Asuransi? Dia mengira kalau Asuransi kedua orang tuanya tidak bisa dicairkan karena Om Soni tidak mengatakan apapun kepadanya. Kalau sudah ada perkembangan tentulah Om Soni akan membicarakan semuanya dengan dirinya.
“Eh, nggak papa, Mama Dinta. Tapi survei itu untuk apa ya?” tanya Cefi.
Sebagaimana anak SMA yang tidak tahu apapun, dia hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia tidak terlalu gila harga, bahkan dia tidak mau memanfaatkan kekayaan orang tuanya secara sembarangan.
“Itu loh, Nak. Kalau kita mau cairin asuransi kan harus disurvei dulu. Kalau benar kematiannya dan tidak melanggar polis pasti cair. Makanya Mama Dinta tanya kamu. Kok kamu kelihatan kaget gitu?” tanya Mama Dinta.
“Aku kurang paham, Mama Dinta. Nanti deh aku tanya om aku.” kata Cefi. “Makasih infonya ya.” kata Cefi.
“Iya, sama-sama. Semoga cair ya, Mama Dinta kasihan sama kamu. Kamu pasti masih butuh biaya untuk pendidikan dan sehari-hari. Apa lagi suami kamu masih kuliah.” kata Mama Dinta.
__ADS_1
Cefi pun tersenyum, “Alhamdulillah suami aku walau masih kuliah udah berpenghasilan, Mama Dinta.”