
Semua rangkaian acara perpisahan guru magang itu akhirnya selesai begitu saja. Mereka menutup hari terakhir mereka di sekolah dengan memberikan acara kecil-kecilan yang sungguh menarik dan sangat menyenangkan, baik untuk mereka maupun warga sekolah.
“Gila lu keren banget tadi, Cef. Gue gak tau kalau lu bisa nyanyi.” kata Dara menggebu-gebu.
“Iya, benar, aku juga sempet kaget Cefi bisa nyanyi. Ternyata kamu ada juga yang dibisain, Cef. Alhamdulillah.” kata Putri.
“Sialan lo.” kata Cefi.
Dara, Amel, dan juga Putri langsung terkekeh begitu saja mendengarkan apa yang dikatakan oleh Cefi. Cefi hanya bisa mengerucutkan bibirnya.
“Kita karokean kali ya? Gue bayarin dah.” kata Amel.
“Buseh, boleh tuh! Asik!” seru Dara.
“Iya, ayo, aku juga mau.” kata Putri.
“Boleh-boleh. Gue bilang suami gue dulu ya.” kata Cefi.
Cefi pun langsung menelpon Baron, dia tidak mungkin menemui Baron di saat seperti ini karena Baron pasti sedang rapat atau evaluasi dengan teman-temannya. Terlebih, kalau dia ke sana sama saja dia memberitahukan kepada semua orang kalau dia memang memiliki hubungan spesial dengan Baron.
Elsa sudah mengetahuinya, entah bagaimana dengan yang lainnya.
“Yaudah, langsung telpon aja, Cef.” kata Amel.
Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja. Kemudian, Cefi pun langsung mengambil ponselnya dan menghubungi suaminya. Dia memilih untuk mengirimi pesan.
Cefi : Maa, aku mau main sama temen-temen aku ya, mau main ke mall kayak biasa.
Baron : Nanti, kalau sudah mau pulang bilang, nanti saya jemput.
Cefi : Oke, Mas. Makasih ya.
Cefi pun tersenyum, suaminya memang sangat baik sehingga tidak pernah memberatkan dirinya, tidak mengekang Cefi, dan tahu kalau Cefi hanyalah anak sekolah yang masih ingin menikmati masa remajanya.
Bagi Baron, selagi Cefi hanya bermain ke mall dan berhaha hihi dengan ketia teman-temannya, itu tidak masalah, karena Baron bisa melihat kalau ketiga teman Cefi tidak akan berbuat neko-neko. Hal yang tidak perlu Baron khawatirkan, dia bahkan tahu bagaimana polosnya teman-teman Cefi yang kurang lebih sama dengan Cefi.
__ADS_1
“Beres!” kata Cefi.
“Asik!” seru ketiga teman Cefi.
“Put! Ayo, pesen taksi!” kata Amel.
“Oke.” jawab Putri.
Putri pun langsung memesan ke mall yang biasa mereka datangi.
Cefi dan ketiga temannya pun langsung memakai sweater mereka masing-masing. Kemudian, setelahnya, mereka berjalan menuju ke arah gerbang dengan senang hati. Selama di perjalanan mereka sambil mengobrol.
“Itu taksi onlinenya udah di mana?” tanya Dara kepada Putri.
“Udah bentar lagi sampe.” kata Putri sambil mengamati ponselnya.
Kemudian, mereka pun sampai di depan gerbang, menunggu sebentar mobil taksi yang telah dipesan Putri lalu setelah mobil tersebut dekat, mobil mereka pun berhenti di depan mereka, lalu mereka masuk ke dalamnya.
Mobil pun melesat pergi menuju ke tempat yang ingin mereka kunjungi.
Dara dan yang lain memang belum sempat menanyakan mengenai apa yang terjadi pada Cefi karena Cefi belum mau menceritakannya sebelumnya.
“Itu, tadi kalian tau kan Bu Elsa datang dengan wajah marah gitu? Matanya sembab gitu. Dia nangis gara-gara Mas Baron bilang kalau gue istrinya dia.” kata Cefi.
“APA?” tanya Dara dan Amel bersamaan mereka sangat terkejut dengan apa yang terjadi.
“Pantesan aja Bu Elsa ngamuk berat sama kamu, Cef.” kata Putri.
Cefi hanya bisa menganggukkan kepalanya begitu saja, apa yang dikatakan oleh Putri memang benar adanya, tapi tetap saja hal itu menyebalkan.
“Eh, tapi anak-anak ada yang denger gak?” tanay Dara.
“Nah, itu gue nggak tau sih mereka dengar atau nggak tapi kayaknya si enggak, tapi gak tau juga, kok gue takut ya?” tanya Cefi yang langsung menjadi panik.
Cefi memang belum melihat mengenai bagaimana reaksi teman-temannya di sekolah, karena tadi terbantu kegiatan yang dibuat oleh guru magang mereka. Kalau tidak ada acara mungkin Cefi akan menjadi bahan bulian satu sekolah kalau memang mereka mendengar hal itu.
__ADS_1
“Tapi dari tadi kayaknya nggak ada reaksi apa-apa jadi kayaknya lo aman, Cef.” kata Amel.
Amel yang mengetahui kalau temannya sedang kalut tidak mau menambah beban pikiran Cefi. Cefi tentulah sangat takut. Kalau Amel berada di posisi Cefi, dia pun akan merasakan hal yang sama.
“Iya, Cef. Kamu nggak usah takut ya.” kata Putri yang ikut menyemangati sahabatnya itu.
Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja. Kini dia sedikit lebih tenang meskipun tidak benar-benar tenang karena dia masih memiliki kecemasan itu. Dia tidak mau dikeluarkan dari sekolah karena dirinya tidak mau mengecewakan orang tuanya lagi. Meski sudah tidak ada di dunia namun Cefi percaya kalau kedua orang tuanya sedang menyaksikannya di sana.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di mall. Kemudian mereka pun langsung pergi mencari supermarket, memilih untuk membeli air mineral yang akan mereka sembunyikan di tas mereka, baru masuk ke dalam tempat karaoke. Hal itu mereka lakukan karena di tempat karaoke mereka tidak diperkenankan membawa minuman dari luar sedangkan di sana harganya mahal-mahal.
Iya, mereka tahu kalau apa yang mereka lakukan itu salah namun, sebagai siswa mereka cukup cerdik agar tidak kehausan dan tidak menghabiskan uang banyak di dalam sana.
“Kita masukin ke dalam tas aja satu-satu.” kata Cefi.
Semua pun menganggukkan kepalanya, bukan hanya minuman, mereka juga membeli cemilan namun tidak banyak yang penting mereka bawa makanan, itu saja.
Setelah membeli makanan dan minuman, selanjutnya mereka pun langsung menuju ke tempat karaoke. Sesampainya disana mereka memilih ruangan untuk tiga orang dan memesan dua jam sekaligus, mereka menganggap kalau cuma satu jam itu tidak akan bisa membuat mereka puas. Rasanya baru dua lagu sudah selesai.
Lalu, selama dua jam mereka pun bernyanyi di dalam ruangan karaoke. Mereka mencoba banyak lagu, dari mulai pop, lagu galau, lagu energik, sampai dangdut hingga mereka tertawa-tertawa sendiri di dalam ruangan tersebut. Hal itu cukup menghibur Cefi sehingga dia bisa mengesampingkan rasa takutnya.
Setelahnya, mereka pun keluar setelah layar menunjukkan kalau waktu karaoke mereka sudah selesai.
“Gila dingin bangeta ya di dalem.” kata Dara.
“Iya, sampe menggigil gue. Hahaha ke toilet dulu ya.” kata Cefi.
Kemudian mereka pun ke toilet, setelah selesai dari toilet mereka pun langsung menuju ke kasir untuk membayar. Amel menunaikan janjinya, dia pun langsung membayar uang karaoke tersebut.
Tiba-tiba ponsel Cefi berdering. Cefi melihat ada nama suaminya di sana. Dia buru-buru mengangkat.
“Halo, assalamualaikum.” salam Cefi.
“Waalaikumsalam. Saya di lobby, kamu pulang sekarang ya, ada hal mendesak yang harus saya katakan.” kata Baron.
DEG.
__ADS_1