
Cefi membuatkan sarapan untuk Baron. Nasi dan telur dadar. Meskipun rasanya sedikit asin namun Baron tidak memprotes makanan itu. Selama ini, meski Cefi hanya memasak nuget, telor dadar, mi instan, dan nasi goreng, Baron tidak pernah protes sama sekali.
Hari ini Cefi sudah terlihat cerah seperti biasanya. Tidak ada raut mending di wajah gadis itu padahal hari ini dia tidak bisa masuk sekolah.
"Gimana enak gak?" Tanya Cefi.
"Keasinan." Jawab Baron jujur.
"Ishhh, nggak bisa banget nyenengin istri." kata Cefi.
Baron terkekeh begitu saja. Kemudian, dia menatap Cefi. Cefi yang melihat Baron menatapnya langsung balik menatap Baron. "Kenapa?" tanyanya.
"Lo ke mana-mana bawa matahari ya, Antibiotik?" Tanya Baron.
"Kenapa? Pasti karena udah mencerahkan kehidupan gelap lo ya?" Tanya Cefi sambil nyengir lebar.
Baron mengisyaratkan Cefi untuk mendekat ke arahnya dengan menggunakan tangannya. Kemudian, Cefi pun menurut dan langsung memberikan telinganya kepada Baron. Baron pun tersenyum dan langsung mengatakan sesuatu ke arah Cefi.
"Karena tiap deket lo kayak ada panas-panasnya." Bisik Baron.
Cefi pun cemberut begitu saja. Sedangkan Baron yang berhasil mengerjai Cefi pun langsung tertawa begitu saja. Kejahilan di pagi hari memang membuat moodnya lebih baik dari pada biasanya.
"Lo kata gue setan?" Tanya Cefi.
"Bukan gue yang ngomong ya." Kata Baron.
"Udah deh sana berangkat ke sekolah." Kata Cefi mengusir Baron yang hendak mengerjainya lagi.
Baron pun terkekeh begitu saja. "Kerja dulu ya, Istri." Kata Baron.
Ntah mengapa pipi Cefi kini sudah terasa panas. Kini mereka benar-benar seperti orang yang sudah menikah sungguhan bagi Cefi. Mereka memang menikah sungguhan namun biasanya pernikahannya tidak seperti ini.
Baron mengulurkan tangannya ke arah Cefi. Cefi pun dengan ragu mengambil tangan Baron dan mencium punggung tangan Baron, "Hati-hati di jalan, Suami."
"Nanti gue pulang malem ya. Siangnya jangan lupa makan. Ini buat lo." Kata Baron menyerahkan lima lembar uang berwarna merah kepada Cefi.
Mata Cefi pun langsung berbinar-binar mendapatkan uang dari Baron. Dia memang tidak pegang uang sama sekali sekarang.
"Asik, bisa buat jajan ke cafe." Kata Cefi sambil mengambil uang itu, dengan cengiran lebar.
"Iya dibeliin kopi semua aja uangnya, biar gigi lo item sama asem lambung naik." Kata Baron.
Cefi pun mengerucutkan bibirnya. Lalu menatap uangnya, "Ini kan buat gue, jadi boleh gue abisin?" tanyanya.
__ADS_1
"Boleh, itu buat lo. Terserah mau diapain." jawab Baron.
"Asiiikkk!" kata Cefi memandangi uang itu dengan hati berbunga-bunga.
***
Cefi terus berada di dalam kamarnya sambil tiduran. Habis, ... apa yang bisa dia lakukan selain tiduran? Dia sudah membersihkan rumahnya. Ibu Anes mulai hari ini kembali kerja di rumah sakit jadi Cefi terlihat sangat kesepian. Mau masak pun malas karena suaminya pulang malam.
"Besok gue beneran bisa masuk gak ya?" Tanya Cefi kepada dirinya sendiri.
Setidaknya, di sekolah dia memiliki banyak teman. Cefi mengambil ponsel miliknya dan mencoba mengirimkan pesan kepada Daren. Belakangan ini Daren sudah sangat jarang menghubunginya, ntah karena apa.
Cefi
Daren, udah pulang?
Tidak ada balasan. Cefi menghela napas. Namun, tiba-tiba seseorang memencet bel rumahnya. Cefi pun memutuskan untuk keluar dari rumahnya dan langsung berlari menuju pagarnya. Dan seketika dia melihat ada ketiga temannya di sana. Dara, Amel, dan Putri. Cefi sungguh merasa senang bukan main.
Cefi buru-buru membuka gembok pagar.
"Ya ampun, kalian kok bisa di sini? Masuk-masuk!" Kata Cefi.
"Kita kangen banget sama lo. Kelas sepi tau lo gak masuk." Kata Amel.
Cefi pun terkekeh begitu saja, "Udah mending kalian masuk dulu aja." Kata Cefi.
"Gimana sekolah?" Tanya Cefi setelah mempersilakan teman-temannya untuk meminum sirup yang sudah dia buat.
"Sepi banget sumpah. Tapi, kita mau tau sesuatu. Kita denger rumor aneh. Lo gak beneran dikeluarin kan?" Tanya Dara.
Cefi menghela napas, "Sayangnya, gue emang dikeluarin." Kata Cefi.
"Ya ampun, Cefi. Lo pasti bercanda." Kata Amel.
"Ya ngapain gue bercanda coba? Kalau gak dikeluarinmah gue udah di sekolah kali." Kata Cefi.
Amel, Putri, dan juga Dara pun langsung memeluk Cefi dengan haru. Mereka pun langsung menyampaikan kesedihan mereka kepada Cefi. Cefi mengatakan kepada teman-temannya kalau dia baik-baik saja.
"Si Daren gue liat jalan sama cewek lain." Kata Dara.
"Lo salah liat kali." Kata Cefi.
"Serius, Cef. Gue juga pernah liat. Rambutnya keriting bukan?" Tanya Amel.
__ADS_1
"Nah, iya itu betul." Kata Dara.
"Maaf, kemarin aku liat rambutnya lurus." Kata Putri.
"Wah wah, gak bisa dibiarin nih." Kata Amel. "Berarti emang ceweknya banyak anjir."
Cefi mengerucutkan bibirnya. Jujur dia tidak percaya dengan ucapan ketiga temannya itu. Karena dia sendiri belum pernah melihat Daren jalan dengan perempuan lain. Namun, melihat bagaimana Daren yang belum menghubunginya membuat dia merasa bimbang.
Beruntung kurir pesan antar makanan sudah datang sehingga Cefi bisa memutus obrolan mereka mengenai Daren. Cefi juga sebetulnya merasa aneh dengan Daren namun dia mau melihat langsung.
"Nah, makanan datang. Yuk makan!" Kata Cefi yang membuka makanan.
"Loh, kan kita ada empat, Cef. Kok belinya 5, Cef?" Tanya Dara.
Cefi seketika gugup, dia lupa fakta itu, "Ya, ... Nggakpapa dong? Kan bisa buat gue ntar malem biar gak usah beli lagi, biar sekalian gitu." Kilah Cefi.
"Bener juga sih." Kata Dara.
Cefi mengambil satu porsi makanan dan langsung membawanya ke dapur. Kemudian, dia kembali lagi di ruang tengah untuk makan bersama. Mereka lebih suka makan di bawah ketimbang di atas meja makan. Karena lebih leluasa mengobrol.
"Eh, gila ini enak banget." Kata Dara.
"Iyalah gratisss..." Kata Cefi bercanda.
"Rasa kabel." Kata Amel.
"Apa tuh?" tanya Putri.
"KAga BELi." Jawab Amel.
Semua pun langsung tertawa begitu saja. Cefi merasa senang dengan kedatangan ketiga temannya karena dengan begitu dia tidak kesepian lagi.
"Assalamualaikum, Istri! Suami pulang. Bikinin minum dong!" Seru seseorang.
"Uhuk uhuk uhuk!" Ketiga teman Cefi terbatuk-batuk.
Cefi terkejut setengah mati mendengar suara Baron. Cefi melirik jam dinding ini belum malam. Kenapa Baron sudah pulang? Dan apa katanya tadi? Dia menyebut kata suami dan istri?
Mampus, Gue. -pekik Cefi dalam hati.
Ketiga teman Cefi menatap Cefi meminta penjelasan.
Belum genap keterkejutan mereka, mereka pun langsung melihat sosok Baron yang baru pulang. Seketika Baron pun terkejut melihat ternyata ada ketiga teman Cefi di sana.
__ADS_1
"Pak Baron?" Pekik Dara.
"Eh?" Baron juga terkejut. "Ada kalian?"