
Baron merasa tidak tega melihat bagaimana Cefi yang sudah pucat. Dia mengamati ke sekeliling dan memastikan kalau ada wahana yang bisa dinaiki oleh Cefi. Yang tidak terlalu seram. Tapi mengingat bagaimana Cefi muntah-muntah membuat dia berpikir kalau sebaiknya mereka pulang saja atau ke pantai. Merelakan uang karcis dengan hanya menaiki satu wahana saja.
"Mau pulang atau ke pantai?" Tanya Baron.
Cefi menggelengkan kepalanya, "Nggak mau. Mau naik wahana lagi. Nanti kamu katain aku gak berani lagi."
"Enggak. Saya gak akan katain kamu lagi." Kata Baron.
Cefi mengamati wajah Baron. Sebetulnya permainan Hysteria tadi meski membuat mual namun sangat asyik. Dia seperti merasakan sensasi yang berbeda. Ini kali pertama dia merasakan wahana-wahanan ekstrem seperti ini. Dan rasanya sangat menyenangkan. Apalagi tadi ketika dia tengah berada di atas, dia seakan bisa melepaskan beban berat yang ada di dadanya.
Katakanlah Cefi lebay. Namun, ketika dia berteriak sekuat tenaga tadi, dia memang merasakan kelegaan yang luar biasa.
"Mau naik itu." Kata Cefi sambil menunjuk kora-kora.
Baron seketika tertawa kencang mendengar apa yang dikatakan oleh Cefi. Baron tentu tahu apa yang ada di dalam kepala Cefi. Dulu, ketika pertama kali dia datang ke Dufan. Dia pun sama seperti Cefi, namun bedanya, kalau Cefi sampai mengeluarkan isi perutnya, sedangkan dia hanya mual saja. Dan setelahnya dia ketagihan. Mungkin itu yang ada dipikiran Cefi.
"Nagih kan?" Tanya Baron.
Cefi pun mengerucutkan bibirnya, namun dia menganggukkan kepalanya begitu saja.
Kemudian, mereka mulai mengantre lagi. Dan ketika permainan sedang dijalankan, Cefi terus memegangi tangan Baron yang ada di sisinya sambil berteriak. Bahkan bukan hanya memegangi tangan Baron, dia memeluk tangan itu.
"Modus ya, Kakaknya?" Tanya Baron yang menggoda Cefi.
"Ish, siapa yang modus?!" Kata Cefi dengan ketus.
Cefi pun melepaskan tangannya pada Baron. Dia masih saja menomorsatukan gengsinya.
Namun, seketika perahu besar itu mengayun dengan cepat ke bawah hingga perut Cefi merasa tidak nyaman, dan dia ketakutan. Cefi langsung buru-buru memeluk lengan Baron lagi. Kali ini Baron hanya bisa tertawa. Sedangkan Cefi yang mengutuki dirinya memutuskan untuk tidak melepaskan tangan Baron. Lagi pula ntah sadar atau tidak, Cefi merasa kalau dia akan aman bersama dengan Baron.
Setelah selesai, Baron membantu Cefi untuk turun dari kora-kora dan berjalan menuju keluar. Cefi merasa pusing dan mual namun tidak sampai separah ketika naik Hysteria. Kali ini dia duduk sebentar dan langsung sudah mendingan.
"Gimana? Seru kan?" Tanya Baron.
Cefi menganggukkan kepalanya dengan antusias, "Iya, seru-seruuu!"
"Tadi aja gak mau diajakin." Kata Baron.
"Nggak usah ungkit-ungkit deh." Kata Cefi malas.
__ADS_1
Baron hanya bisa terkekeh begitu saja. Melihat Baron terkekeh, Cefi juga langsung ikut terkekeh. Merutuki apa yang dia lakukan di depan tempat pembelian tiket masuk. Kalau Cefi tau menaiki wahana menantang rasanya semenyenangkan ini, dia tentu tidak akan menolak awalnya.
Setelah pusing dan mualnya hilang, Cefi pun langsung menarik tangan Baron, mengajak Baron menaiki wahana lain. Mereka pun menghabiskan waktu bersama-sama di sana. Cefi terlihat sangat bahagia dan Baron menikmati bagaimana keceriaan Cefi. Seingat Baron, ini adalah kali pertama dirinya melihat Cefi bisa tertawa lepas.
"Mau naik ituuu!" Kata Cefi menunjuk salah satu wahana.
"Makan dulu. Saya laper." Kata Baron.
Cefi pun menganggukkan kepalanya. Hampir saja dia lupa kalau dia dan Baron belum makan siang. Kemudian, mereka pun mencari foodcourt terdekat dan langsung memesan makanan. Cefi sebetulnya merasa tidak tega pada Baron mengingat harga makanan yang mahal-mahal. Bukan apa-apa, tiket saja yang membelikan Baron dan makanan ini juga dibelikan oleh Baron.
"Udah pilih aja. Saya gak semiskin yang ada dipikiran kamu." Kata Baron.
Cefi mendongak ke arah Baron. Ntah bagaimana caranya Baron bisa membaca isi kepalanya. Apakah Baron adalah cenayang? Cefi tidak bisa memastikannya namun sepertinya dia akan percaya kalau Baron mengakuinya.
"Bener? Kalau aku pesen beberapa makanan gimana?" Tanya Cefi.
"Ya pesen aja. Nggakpapa. Asalkan dimakan." Kata Baron.
Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja, namun sisi baiknya mengatakan kalau dia tidak boleh terlalu membebani Baron. Sehingga, Cefi pun langsung memesan satu menu makanan dan satu menu minuman saja.
"Katanya mau beberapa menu." Kata Baron.
Baron terkekeh begitu saja, "Pesen aja nggakpapa. Nanti kalau gak abis gue bantuin makan." Kata Baron.
"Bener?" Tanya Cefi.
"Cepetan sebelum saya berubah pikiran." Kata Baron.
Cefi pun langsung memilih beberapa menu. Kali ini dia tidak lagi memakai pikirannya melainkan memakai nafsunya. Dia tentulah tidak menolak makanan. Bukannya Cefi belum pernah memakan makanan yang hendak dipesannya, dia tentu tidak semiskin itu ketika kedua orang tuanya masih hidup. Dia hanya berpikir kalau makanan gratis lebih enak ketimbang bayar sendiri.
Sambil menunggu, Cefi membuka tasnya dan ternyata dia tidak membawa ponsel. Padahal dia ingin foto. Cefi menatap Baron. "Pinjem hapenya dong ..." Kata Cefi.
"Buat?" Tanya Baron.
"Buat foto. Sekalian fotoin aku." Kata Cefi sambil mengacungkan dia jarinya membentuk tanda 'peace'.
"Kamu nggak bawa hape?" Tanya Baron.
Cefi menggelengkan kepalanya, "Lupa." Jawabnya. "Ayo, buruan, itu pemandangannya yang banyak yaaa!"
__ADS_1
"Udah nyuruh banyak mau lagi." Kata Baron.
Baron mengeluarkan ponselnya dan mulai membidik Cefi. Cefi mulai berpose aneh-aneh membuat Baron hanya bisa menggelengkan kepalanya begitu saja, "Jalan sama kamu kenapa bikin saya ngerasa jalan sama anak SD ya?" Tanya Baron.
"Itu karena kamunya ketuaan kayak bapak-bapak." Kata Cefi dengan santai.
"Sialan." Umpat Baron.
Cefi pun terkekeh begitu saja. Kemudian, dia langsung mengulurkan tangannya. Meminta ponsel Baron. Baron pun memberikannya karena dia sedang malas berdebat. Cefi pun melihat hasil bidikannya kemudian tersenyum lebar.
"Ternyata kamu cocok jadi fotografer ya. Hahaha nanti di sana di sana sama di sana lagi ya?" Kata Cefi.
"Bayarannya mahal ya." Kata Baron.
"Oke nggakpapa. Mau berapa? Lima ribu? Sepuluh ribu? Tenang ... Aku gak pegang uang sama sekali." Kata Cefi sambil terkekeh menertawakan kemirisannya sendiri.
"Enggak, nggak perlu uang. Bayarannya kamu tinggal di sini aja. Saya tinggal." Kata Baron dengan kejam.
"Ihhh, parah banget dah." Kata Cefi sambil berdecak kesal.
Melihat Cefi mengerucutkan bibir membuat Baron terkekeh begitu saja. Mereka melanjutkan makan dan benar saja Cefi tidak mampu menghabiskan semua makanan yang dia pesan. Untungnya ada Baron yang membantu Cefi.
Seusai makan, Cefi menatap Baron ada beberapa hal yang ingin dia tanyakan, "Barongsai ..." panggil Cefi.
"Kenapa?" tanya Baron.
"Gaji guru kan kecil, apa lagi kamu magang pasti gak dikasih gaji sama sekolah. Kok punya uang buat jalan-jalan ke sini?" tanya Cefi.
"Pekerjaan utama saya bukan guru kali." kata Baron.
"Trus apa?" tanya Cefi memicingkan mata.
Baron mengisyaratkan Cefi untuk mendekat, Cefi pun menurut, "Jualan narko.ba."
"Astaghfirullah!" pekik Cefi langsung menatap Baron dengan tatapan terkejut setengah mati.
Baron kembali terkekeh melihat bagaimana reaksi Cefi. Cefi yang sadar langsung mencoba mencubit pinggang Baron namun Baron bisa menghindar dengan gesit.
"Loh, Cefi, Pak Baron?" tanya seseorang.
__ADS_1
Baron dan Cefi seketika mematung.