Cinta Anak Kompleks

Cinta Anak Kompleks
BAB 73 - Ada yang Berbeda


__ADS_3

Keesokkan harinya.


Selama di sekolah, Cefi tidak bisa beranjak dari tempat duduknya. Rasanya aneh untuk berjalan. Bukan hanya aneh, dia juga merasakan sakit. Suaminya sudah menyarankan untuk tidak masuk sekolah namun karena Cefi tidak mau ketinggalan pelajaran dan tidak mau lagi membuat namanya jelek sehingga Cefi pun tetap memilih untuk tetap pergi ke sekolah.


“Yuk, Guys! Ke kantin.” kata Dara yang dengan semangat empat lima sudah bangkit dari tempat duduknya.


Cefi pun menggelengkan kepalanya begitu saja, “Gue di sini aja. Gue nggak laper.” kata Cefi berbohong.


Amel pun langsung menarik tangan Cefi, “Pokoknya lo harus makan, kalau lo nggak makan, nanti kalau lo sakit, suami lo marah, kita-kita yang dimarahin, pokoknya lo harus ikut kita.” kata Amel.


KArena Amel langsung merangkul tangan Cefi, mau tak mau Cefi pun langsung bengkit dan berjalan. Dara dan Putri pun langsung terkekeh begitu saja. Namun, tiba-tiba Dara melihat sesuatu yang aneh dari cara jalan Cefi.


“Eh, Cef, tunggu!” kata Dara.


Cefi dan Amel pun menoleh ke arah Dara.


Dara menoleh ke kanan dan ke kiri, untung di kelasnya sudah hanya tinggal mereka saja, semua siswa sudah pergi menuju ke kantin dan menikmati waktu istirahat mereka dengan senang-senang. Pokoknya, di kelas itu hanya mereka berempat saja.


“Kenapa, Dar?” tanya Cefi.


Jantung Cefi berdegup dengan sangat kencang, dia takut kalau Dara menyadari apa yang lain dalam dirinya, namun dia harus bersikap biasa saja, seolah-olah tidak ada yang terjadi. Dia harus memikirkan seperti itu. Dia pernah mendengar kalau pikiran seseorang sangat mempengaruhi tubuhnya, dan dia mencoba berpikir positif.


“Kok lo jalannya aneh?” tanya Dara.


DEG!


Jantung Cefi seperti ingin copot dari tempatnya, dia tidak menyangka kalau Dara benar-benar mengamati pergerakannya.


“Gue?” tanya Cefi.


“Iya, lo rada ngangkang gitu gak sih jalannya?” kata Dara.

__ADS_1


Cefi memutar otaknya memikirkan mengenai apa yang bisa dia jadikan bahan alasan untuk teman-temannya. Dia tentu tidak bisa mengatakan hal yang sebenarnya. Dia takut akan diolok-olok oleh teman-temannya. Dia juga takut dicecar dengan banyak pertanyaan yang belum tentu bisa dia jawab, sepertinya dia memang belum bisa menjawab apapun sehingga lebih baik ketiga temannya belum ada yang menanyakan apa-apa kepada dirinya.


“Oh iya, … e … itu, gue kan mau dapet ya, nah sakit banget perut gue, itu kali kayaknya kenapa gue jadi jalannya aneh.” kata Cefi.


Sejauh otaknya diperas untuk berpikir, dia hanya memiliki jawaban itu saja, entah bagaimana respons dari teman-temannya namun dia harap teman-temannya mempercayai apa yang dikatakan oleh dirinya.


“Maaf, Cefi, kan kamu itu baru selesai dapet sama kayak aku.” kata Putri.


Dara dan Amel pun langsung melayangkan tatapan menyelidik kepada Cefi, “Ah, gue tau nih!” seru Amel sambil terkekeh geli.


Tawa itu seketika menular ke arah Dara. Dara juga langsung tertawa begitu saja. Hanya Putri saja yang bengong dan meminta kode kepada teman-temannya untuk memberitahu dia mengerti apa yang terjadi. Habis, dia memang tidak tahu mengenai apa yang terjadi, kenapa teman-temannya senyum-senyum sendiri.


Wajah Cefi seketika merah padam, dia sangat malu mendengar teman-temannya tertawa.


“Astaghfirullah, ngakak banget gue. Pantesan lo dari pagi nggak beranjak dari tempat duduk, yang biasanya bolak balik ke toilet sampai tiga kali sebelum istirahat pertama sekarang nggak bolah-balik, ternyata lo abis diunboxing sama Pak Guru?” kata Dara.


Cefi buru-buru membekap mulut Dara dengan cepat. Kalimat yang dikatakan oleh Dara memang terdengar sangat vulgar. Cefi juga tidak mau kalau sampai ada orang lain yang mendengar kata-kata dari Dara dan mengetahui mengenai apa yang terjadi kepada dirinya.


“Anjir, berisik lo! Kalau ada yang denger awas lo ya!” kata Cefi yang langsung memberikan ancaman kepada Dara.


“Anjir temen gue, hahahaha enak gak, Cef?” tanya Amel.


Dara langsung ditoyor oleh Dar, “Ya enaklah bodoh.” kata Dara.


“Gue nanya sama Cefi ya bukan sama lo! Lo jawab emangnya lo udah ngerasain?” tanya Amel.


“Ya gue kan liat film-film edukasi begituan.” kata Dara.


“Helah, bukan edukasi itu mah! lo nonton film dewasa gue yakin.” kata Amel.


“Amel, Dara, maaf, kenapa Cefi disambung-sambungin sama film dewasa?” tanya Putri yang memang tidak mengetahui hal tersebut.

__ADS_1


Ketiga temannya itu tahu kalau Putri bukanlah sok polos. Selama sekolah dari SD sampai SMA, Putri memang terlalu dibatasi oleh orang tuanya. Tidak boleh begini dan tidak boleh begitu, sehingga ketika dia sudah tumbuh menjadi seorang gadis, dia sendiri tidak tahu ini dan itu.


Mungkin kalau orang yang melihat Putri, mereka akan mengatakan kalau Putri sok polos, namun untuk mereka yang memang sudah mengenal Putri, mereka tentu tahu kalau Putri memang sepolos itu. Lingkungan yang membuat Putri begitu polos.


“Aduh, Putri. Lo kayaknya harus les sama gue dah biar nggak polos-polos banget.” kata Dara.


Putri mengerucutkan bibirnya. Dia tidak suka dikatakan polos oleh teman-temannya, dia hanya tidak tahu. Itulah yang selama ini membuat dia membela diri, “Aku tuh nggak polos, cuma gak tau aja, nanti kalau aku udah dikasih tau juga aku polos.” kata Putri.


Cefi menatap Putri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Kasihan, Putri diajari dewasa oleh teman-temannya.


“Jadi, gini …” kata Amel.


Amel langsung memberikan isyarat kepada Putri untuk mendekat, dia tidak mau kalau sampai ada orang yang mendengar apa yang dikatakannya. Cukup Dara saja yang sebelumnya berteriak mengenai tragedi unboxing itu.


“Si Cefi udah melakuan tindakan suami istri sama suaminya.” bisik Amel.


Putri terkejut setengah mati. “Astaghfirullah, aku baru nyambung, hahahaha.” kata Putri yang langsung tertawa begitu saja.


“Lemot dasar lo.” kata Dara.


Putri pun hanya sedikit meringis saja.


“Yaudah kalau gitu, lo duduk aja deh, Cef. Biar kita yang beliin makanan buat lo. Lo mau makan apa?” tanya Dara.


Cefi pun sedikit terharu melihat teman-temannya yang cukup pengertian meskipun beberapa menit yang lalu dia merasa begitu malu namun mau bagaimana lagi? Dia tidak bisa menghilangkan jejak itu. Padahal, dia sudah berusaha semaksimal mungkin namun ternyata orang lain selalu lebih awas mengamati gerak-geriknya. Tak terkecuali Dara.


“Siomay aja, makasih ya, Guys.” kata Cefi.


Dara pun menganggukkan kepalanya begitu saja.


“Sakit banget emang ya, Cef?” tanya Amel.

__ADS_1


Cefi memutar bola mata, “Ya gitu dah.” jawabnya.


Amel memberikan tatapan bergidik ngeri ke arah Cefi. Cefi hanya bisa tertawa begitu saja.


__ADS_2