
Kehebohan pun terjadi, ketika Cefi dan Baron sudah keluar dari ruang guru. Ternyata. Diam-diam, Icha langsung mengabari teman-temannya untuk memberitahukan mengenai apa yang terjadi. Sebuah gosip yang super langka dan cukup menarik perhatian.
“Astaghfirullah. Ternyata Cefi hamil duluan dong.”
“Parah banget Cefi. Eh, itu anak Baron atau anaknya si Daren anjir?”
“Oiya, kan Cefi pernah diperkosa ya sama Daren?”
“Tapi kaga lah anjir, katanya gak nyampe itu.”
“Tapi masa sih, Pak Baron mau sama dia? Pasti dipaksa gak sih?”
“Pantesan gue pernah liat Pak Baron pulang berdua sama Cefi.”
Desas-desus itu terdengar sampai telinga Cefi dan Baron. Baron memilih meraih tangan istrinya dan membimbing istrinya sampai ke ruangan Kepala Sekolah, biar saja orang mau bilang apa yang jelas pada kenyataannya anak itu adalah anak Baron. Dan mereka berdua tidak melakukan zina.
Cefi menunduk. Dia malu sekali. Rasanya ingin menangis meski apa yang dikatakan oleh mereka salah semuanya.
Sesampainya di ruangan Kepala Sekolah, Cefi dan Baron, juga Guru BK dipersilakan untuk duduk terlebih dahulu. Kepala Sekolah menatap Guru BK kesal.
“Ibu itu gimana?! Kenapa sebagai Guru BK justru membeberkan ini semua di depan guru-guru. “Bukannya sebagai Guru BK, seharusnya anda tahu kalau di sana ada banyak guru-guru dari sekolah lain? Kalau sudah seperti ini kami yang malu, apa anda tidak berpikir sampai sana?” tanya Kepala Sekolah murka kepada Guru BaK tersebut.
“Mohon maaf, Pak. Tadi situasi tidak terkendali karena Icha salah satu murid yang langsung mengatakan kalau Cefi hamil di hadapan semua guru, jadi mereka mendengarnya, ketika saya meminta- …” Guru BK tersebut hendak menjelaskan namun kalimatnya sudah langsung dipotong oleh Kepala Sekolah.
“Sudah cukup! Jangan beralasan lagi, saya tidak mau mendengarnya. Kalian, sekarang jelaskan apa yang terjadi!” seru Kepala Sekolah.
Sebagai Kepala Sekolah meski beliau sangat kesal kepada Guru BK yang walaupun orang dewasa namun justru mempermalukan sekolahnya di hadapan semua guru dari luar sekolah. Entah bagaimana nasib wajahnya di depan guru-guru itu. Mau ditaruh di mana wajah Kepala Sekolah dan citra sekolah tersebut?
“Maaf, sebelumnya, Pak. Saya ingin meminta maaf kepada bapak dan guru-guru mengenai kehamilan Xaviera, tapi kami juga baru mengetahuinya kemarin, Pak. Jadi kami belum sampai menjelaskan kepada kalian untuk memberitahukan mengenai apa yang terjadi.” kata Baron yang mencoba menjelaskan.
“Meskipun kalian sudah menikah, seharusnya kalian paham kalau istri kamu masih anak SMA, kenapa bisa kamu menghamilinya?!” seru Kepala Sekolah.
__ADS_1
Namanya juga pengantin baru, bapak kayak nggak pernah melakukan itu saja. -batin Baron. Apa yang ada di dalam pikirannya tentu tidak akan pernah bisa dia suarakan, itu tidak sopan namanya, apalagi sekarang kondisinya beliau sedang marah.
Baron menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia merasa bingung. “Saya minta maaf, Pak. Itu kesalahan saya.” kata Baron.
Cefi hanya bisa diam saja mendengar suaminya menjelaskan mengenai apa yang terjadi kepada guru dan juga Kepala Sekolahnya.
“Kalian ini benar-benar membuat saya pusing. Kamu juga Cefi. Kenapa sampai hari Ujian saja kamu masih membuat onar?” tanya Kepala Sekolah kepada Cefi.
“Maaf, Pak.” ucap Cefi.
Cefi tidak bisa berkata-kata. Mereka berdua pun langsung langsung diceramahi oleh Kepala Sekolah dan Guru BK.
Setengah jam kemudian, seseorang mengetuk pintu ruangan Kepala Sekolah. Sebelumnya Guru BK sudah menelepon orang tua Baron untuk datang. Cefi sudah tidak memiliki orang tua dan wali nya hanya beliau yang ternyata adalah orang tua Baron.
“Assalamualaikum.” salam kedua orang tua Baron.
“Waalaikumsalam.” jawab semuanya.
“Terima kasih, Pak. Saya dengar ada yang terjadi pada Xaviera.” kata Pak Pradana yang mencoba menanyakan mengenai apa yang terjadi kepa Cefi.
“Iya, Pak. Cefixime hamil.” jawab Kepala Sekolah.
“Apa? Hamil?” tanya Pak Pradana dan Ibu Anes yang terkejut bukan main, pasalnya anak dan menantunya itu tidak ada yang mengatakan kepada mereka mengenai kondisi Cef yang sedang hamil.
“Loh, Bapak dan ibu tidak tahu?” tanya Kepala Sekolah.
Pak Pradana pun langsung menggelengkan kepalanya, “Boleh saya mengobrol dengan anak saya?” tanya Pak Pradana.
“Boleh, Pak.” kata Kepala Sekolah.
“Ikut papa, Baron!” pinta Pak Pradana tajam kepada Baron.
__ADS_1
Baron pun menganggukkan kepalanya, dia tahu kalau ayahnya akan memarahinya, namun nasi sudah menjadi bubur, keadaan sudah terjadi dan menjadi begini, dia tidak tahu harus berbuat apa.
“Loh, papa?” tanya Kepala Sekolah yang bertanya dengan bingung.
“Iya, Pak. Kami adalah orang tua dari Baron, sekaligus wakil Nak Xaviera. Saya mohon pamit dulu sebentar, Pak.” kata Ibu Anes yang pamit dengan sopan. “Nak, sebentar ya?” tanya Ibu Anes kepada Cefi.
Cefi pun menganggukkan kepalanya, “Iya, Ma.” jawabnya.
“Mama?” tanya Guru BK.
Cefi menghela napas, kemudian menganggukkan kepalanya begitu saja, “Mereka mertua saya, Bu, Pak. Orang tua dari Pak Baron. Saya tidak memiliki sanak sauDara jadi merekalah yang menjadi orang tua saja saat ini.” kata Cefi.
Kepala Sekolah dan Guru BK tersebut langsung teringat kalau Cefi memanglah seorang anak yatim piatu yang ditinggalkan kedua orang tuanya karena sebuah kecelakaan pesawat.
Di luar, Baron langsung dicecar dengan banyak pertanyaan dari ibu dan ayahnya, yang lebih membuat ayahnya jauh tambah marahnya lagi adalah karena setelah hamil, Baron justru tidak menceritakan apapun kepada orang tuanya.
“Ya gimana, Ma, Pa? Orang istri Baron dari kemarin pucat, sakit, mual-mual, gimana Baron bisa kasih tau mama, lagian dia nggak mau kalau kalian khawatir. Kita niatnya mau kasih tau sekarang. Tapi ini semua malah terjadi.” kata Baron.
“Papa kan sudah bilang, Baron. Jangan buat Xaviera hamil dulu, kenapa kamu tidak mau dengarkan papa?” tanya Pak Pradana.
“Ya, Baron mana tahan, Pa. Papa kayak nggak tau laki-laki aja.” kata Baron.
“Masih bisa jawab kamu?” kata Pak Pradana.
Baron hanya bisa menggaruk kepalanya begitu saja. Habis, Baron pun bingung harus menjelaskan apa kepada kedua orang tuanya. Dia memang salah karena tidak mendengarkan apa yang ayahnya katakan. Namun kalau Baron ditanya mengenai apakah dia menyesal melakukan itu, dia tentu tidak pernah menyesalinya.
“Iya, Pa. Baron minta maaf, tolong Baron ya, Pa. Ini Xaviera tingal ujian sekali lagi ada, Pa. Kalau dia sampai nggak boleh ikut ujian pasti hatinya hancur banget. Dia pengen bahagiain orang tuanya dengan lulus, Pa, kalau sekarang aja dia nggak mendapatkan kesempatan buat ujian, Baron nggak tau lagi dia tetap mau ngelanjutin sekolah di sekolah lain atau nggak.” kata Baron.
Pak Pradana menghela napas, beliau juga tidak ingin kalau sampai Cefi tidak mengikuti ujian dan tidak lulus namun beliau merasa bingung dengan apa yang harus dilakukan.
Pak Pradana pun kembali ke dalam ruangan, Cefi yang melihat mertua dan juga suaminya datang menghembuskan napas lega, setidaknya dia tidak dicecar oleh Kepala Sekolahnya.
__ADS_1