
Cefi memilih berjalan-jalan sendirian, di rumah dia juga sendirian karena suaminya tengah bekerja, suaminya akan meminta izin untuk bekerja setengah hari saja kepada Bosnya. Cefi berjalan sambil melamun, tangannya terus berada di perutnya dengan banyak pikiran.
“Assalamualaikum, Nak Xaviera! Mau ke mana?” tanya Ustazah Aisyah.
Cefi pun langsung menoleh ke sumber suara dan ternyata orang yang menegurnya adalah Ustazah Aisyah, “Waalaikumsalam, Ustazah.” kata Cefi yang memilih untuk menunduk dan jalan lagi.
“Apa kamu baik-baik saja, Nak?” tanya Ustazah Aisyah.
Cefi yang mendengar pertanyaan itu pun langsung menghentikan langkahnya. Alih-alih Ustazah Aisyah menanyakan apa yang terjadi, beliau justru menanyakan mengenai bagaimana keadaan dirinya. Cefi sangat terharu mendengar pertanyaan itu. Bagi sebagian besar orang, hal itu sepertinya biasa saja, namun bagi Cefi tidak. Dia tetap merasa kalau pertanyaan itu sangat perhatian.
Cefi pun menangis begitu saja dan langsung memeluk Ustazah Aisyah. Beliau pun langsung membalas pelukan Cefi dan langsung mengusap rambut Cefi.
Ustazah Aisyah tahu kalau sepertinya ada yang terjadi pada Cefi, padahal, Ibu Anes tidak menceritakan apa-apa kepada beliau namun melihat bagaimana Cefi yang biasanya ceria menjadi diam tentulah membuat beliau bertanya-tanya.
“Ikut ke rumah Ustazah ya?” tanya Ustazah Aisyah.
Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja, kemudian Cefi pun mengekori Ustazah Asiyah,. mereka pun sampai di rumah Ustazah Aisyah. Di rumah tersebut, kebetulan tidak ada orang, karena semuanya sedang pergi. Kini hanya ada Ustazah dan Cefi.
“Apa kamu sedang mendapatkan cobaan yang berat, Nak?” tanya Ustazah Aisyah.
Cefi pun langsung menganggukkan kepalanya sambil menangis, “Betul, Ustazah. Kenapa aku terus ditimpa masalah, Ustazah?” tanya Cefi yang mulai meraung-raung. Dia menangis lagi.
“Kalau Ustazah boleh tahu, apa yang terjadi? Kalau kamu tidak mau menjelaskan tidak apa-apa. Ustazah tidak akan memaksa.” kata Ustazah Aisyah.
“Anakku salah satu tangannya jarinya hanya ada 4, Ustazah. Itu prediksi dokter.” kata Cefi.
“Astaghfirullah al-adzim, Nak,” kata Ustazah Aisyah yang baru mengetahui kalau ternyata masalahnya sebesar ini pun langsung menangis dan memeluk Cefi begitu saja.
Belakangan beliau merasa senang melihat Cefi yang tidak terlihat sedih apapun, rumah tanggal Cefi terlihat baik-baik saja. Itu yang membuat beliau merasa sangat bahagia, sebab beliau selalu mendoakan Cefi, bagaimana pun meski Cefi bukan anaknya, namun beliau juga menyayangi Cefi.
__ADS_1
“Iya, Ustazah. Aku merasa bersalah kepada anak ini, juga kepada suami dan mertuaku, Ustazah. Aku merasa bersalah …” kata Cefi.
Ustazah Aisyah mengusap bahu Cefi. Cefi sepertinya memang membutuhkan pelampiasan sehingga beliau pun memilih untuk memberikan telinganya kepada Cefi agar Cefi bisa lebih leluasa mengekspresikan tangisannya.
Padahal, sejak semalam Cefi tidak bisa tidur. Dia terus memikirkan hal tersebut. Dia juga berpura-pura tersenyum kepada suaminya meski hatinya sangat rapuh, bahkan sangat rapuh sekali.
“Apakah Allah nggak sayang sama aku, Ustazah? Apakah sebenci itu sampai aku terus diberikan kesedihan dan masalah yang begitu bertubi-tubi?” Cefi pun menangis histeris.
“Nak, boleh Ustazah bicara?” tanya Ustazah Aisyah.
Cefi menganggukkan kepalanya.
“Nak, mungkin ini ujian untuk kamu dan suami kamu untuk membuat kalian menjadi manusia yang lebih baik lagi. Ustazah tahu kamu marah, kamu benci, dan kamu frustasi, tapi, Nak. Di balik ini semua pasti ada hikmahnya, dan Ustazah yakin kalau kalian bisa melewati ini semua dengan baik, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudian, Nak. Kamu ingat apa yang Ustazah katakan tentang itu kan?” tanya Ustazah Aisyah.
Cefi menganggukkan kepalanya. “Bisa jadi pula, dari masalah ini Allah ingin kamu semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
“Bisa teguran?” tanya Cefi.
“Apa ini teguran juga ya buat aku, Ustazah? Selama ini aku udah jauh, aku juga suka bolong-bolong kalau salat.” kata Cefi.
Cefi menghela napas, kemudian dia mengakui hal tersebut.
“Jarang-jarang, Nak?” tanya Ustazah Aisyah.
“Iya, Ustazah, belakangan aku salat kalau ada suamiku aja.” kata Cefi jujur.
“Astaghfirullah, Nak. Kamu tahu kan kalau itu bukan tindakan yang bisa dibenarkan?” tanya Ustazah Aisyah.
Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja. Kemudian, dia pun menunduk, dia mencoba merenungi apa yang dia katakan.
__ADS_1
“Nak, Allah itu maha pemaaf, kamu bisa bertaubat, belum terlambat, Nak. Berdoalah semoga Allah mengampuni dosa-dosamu.” kata Ustazah Aisyah. “Ustazah tah kalau kamu mungkin semakin malas bergerak dan melakukan ini itu termasuk salat karena perutmu sudah membuncit, namun, Nak. Meninggalkan salat tentulah bukan perbaikan baik dan itu salah.”
Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja.
“Tapi, ustazah apakah hikmah itu benar-benar ada di hidup aku?” tanya Cefi. “Contohnya apa?” tanya Cefi.
Ustazah Aisyah pun langsung menganggukkan kepala beliau, “Iya, Nak. Contohnya, ketika kamu ditinggal kedua orang tuamu, Allah ganti dengan suami dan mertua yang baik sekali kepadamu. Lalu …” Ustazah pun mengurai satu persatu hal yang pernah terjadi kepada Cefi dan kebahagiaan apa yang Cefi dapatkan.
Cefi pun mendengarkan Ustazah Aisyah dengan seksama. Dia juga membayangkan mengenai bagaimana dirinya yang memang mendapatkan itu semua. Bahkan dia pun mengurai sendiri dalam kepalanya.
“Terima kasih Ustazah,.” kata Cefi.
“Sama-sama, Nak. Ustazah tahu kalau Xaviera anak baik, jadi jangan tinggal lagi salatnya ya.” kata Ustazah Aisyah.
Cefi pun menganggukkan kepalanya, “InsyaAllah, Ustazah.”
***
Malam hari.
Cefi merasa gelisah bukan main, padahal AC di kamarnya masih dingin dengan derajat 24 derajat celcius namun entah mengapa Cefi seperti dibangunkan sesuatu yang tidak tahu apa itu. Kemudian, Cefi pun melirik suaminya yang tengah tidur dengan tenang.
Cefi pun tersenyum dan seketika dia bangun. Ada yang mengganjal dalam hatinya. Cefi memutuskan untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan salat malam. Pada malam itu juga dia memohon ampunan kepada Allah SWT atas kelalaian yang pernah dia lakukan. Dia juga meminta maaf atas semua doa yang pernah dia lakukan baik yang disengaja maupun tidak disengaja.
Dalam keadaan tangan yang masih menengadah, Cefi menangis dan memohon ampunan. Dia juga sudah memasrahkan diri dan berjanji akan ikhlas menerima anak yang ada di dalam perutnya bagaimana pun keadaannya.
“Ya Allah, apakah ini teguran untuk aku? Kalau begitu maafkan aku, Ya Allah. Aku tahu aku salah, aku tidak melaksanakan kewajiban beberapa kali, tidak pernah mengaji, dan tidak mau menerima keadaan bayiku ini.” kata Cefi.
Cefi pun menangis lagi, “Sekali lagi Ya Allah, aku mohon ampunan-Mu. Dan terima kasih atas semua nikmat yang Engkau berikan kepadaku dan keluargaku.” kata Cefi.
__ADS_1
Setelah puas menangis, mengadukan apa yang terjadi, meminta maaf dan berterima kasih kepada Tuhan. Akhirnya Cefi pun membuka mukenanya. Dia pun melipat mukena tersebut. Akhirnya Cefi merasa tenang.