
Di tempat es krim, Cefi dan Baron pun menghabiskan waktu berdua, sambil bercanda seperti biasanya. Seakan hidupnya tidak ada beban. Sesekali Baron seperti biasa menjahili Cefi, dan Cefi merajuk karenanya.
“Istri, saya udah taro uang lima ratus ribu di laci kamu ya.” kata Baron.
“Oh, yang naro uang lima ratus ribu itu kamu, Mas? Aku kira itu emang uang kamu, jadi nggak aku ambil.” kata Cefi.
Baron terkekeh begitu saja, “Uang saya kan uang kamu juga. Kamu pakai pun nggak ada masalah.” kata Baron.
“Yaudah, aku abisin ya?” kata Cefi.
“Boleh, nanti kalau uang kita abis tinggal minta sama mama dan papa.” kata Baron sambil terkekeh.
“Astaghfirullah, anak kurang ajar.” kata Cefi.
Baron terkekeh lagi.
“Yaudah yuk, kita pulang.” kata Baron.
Cefi pun menanggukkan kepalanya. Sebetulnya, dia tidak ingin cepat pulang namun dia sadar kalau dirinya harus cepat pulang mengingat di rumahnya sudah ada keluarga Om Soni.
Sesampainya di rumah, Cefi pun kembali ke kamarnya. Sedangkan Baron pergi ke rumah orang tuanya karena ada beberapa hal yang ingin disampaikannya. Baron juga ingin menginformasikan kepada keluarganya kalau ada Om Soni di rumah dan meminta kepada kedua orang tuanya untuk datang untuk sekadar menyapa.
“Suami gue banyak juga duitnya.” kata Cefi.
Cefi terkikik dan berjalan menuju laci meja belajar yang dimaksud oleh Baron. Cefi memang melihat uang tersebut sebelum pergi membeli es krim tadi, dia awalnya mengira kalau uang itu milik Baron. Meski dia bukan istri yang baiknamun dia tahu kalau perbuatan mencuri bukan hal yang bagus. Lagi pula walaupun itu juga adalah uangnya, dia merasa harus izin terlebih dahulu kepada suaminya.
Kata Ustazah Aisyah, semuanya harus izin suami kan? Begitulah kira-kira yang ada di dalam kepala Cefi.
Cefi mulai membuka laci dan langsung mencari keberadaan uang tersebut, “Di mana uangnya?” tanyanya pada diri sendiri.
Cefi langsung mengeluarkan isi lacinya. Dia sangat ingat betul kalau dia melihat ada uang lima ratus ribu rupiah di dalam laci itu sebelum dia menguping pembicaraan suaminya dan Andrea. Lalu ke mana uang itu pergi?
Jantung Cefi berdegup dengan sangat kencang.
Siapa yang mengambilnya?
Pertanyaan itu langusng melayang begitu saja di dalam kepala Cefi. Dia tidak tahu siapa yang mengambilnya, dia juga mencoba mengingat-ingat mengenai apakah dia sudah membawa uang tersebut atau belum. Dia langsung memeriksa tasnya dan mencoba melihat apa yang ada di dalam tasnya. Dan benar saja, tidak ada selembar uangpun di sana.
__ADS_1
Cefi memang sudah terbiasa tergantung pada suaminya, sehingga dia tidak pernah merasa takut tidak membawa uang karena jalan bersama suaminya seperti jalan dengan ATM berjalan, dia bisa meminta uang kapanpun yang sia mau.
Katakanlah Cefi jahat karena menganggap suaminya sebagai ATM berjalan. Namun, pada kenyataannya memang seperti itu.
Tok tok tok!
“Istri, saya masuk!” kata Baron.
Cefi pun langsung menoleh ke arah Baron. Baron yang melihat barang-barang berserakan di lantai pun terkejut dan bingung dengan apa yang terjadi. Terlebh dia melihat bagaimana istrinya terlihat gelisah.
“Ada apa?” tanya Baron menghampiri istrinya.
“Uang yang kamu kasih hilang.” kata Cefi sambil berkaca-kaca.
“Loh, kok bisa?” tanya Baron.
Cefi menggelengkan kepalanya begitu saja. Baron hendak meminta kepada istrinya untuk mencari uangnya lagi namun melihat bagaimana barang-barang berantakan membuat dia berpikir kalau istrinya tentulah sudah mencarinya ke mana-mana.
“Aku gak tau, tadi aku dateng, terus aku mau ambil uangnya tapi udah nggak ada.” kata Cefi.
“Tadi waktu kita mau pergi ada nggak? Saya nggak buka laci lagi dari semalem saya letakkan uang itu.” kata Baron.
“Coba tanya Om Soni dan keluarga dulu, siapa tau mereka simpan. Atau kamu bawa trus jatuh. Takutnya kamu yang lupa.” kata Baron.
“Jangan-jangan mereka yang ambil uangnya, Mas.” kata Cefi.
Baron pun mencurigai dmeikian namun bagaimana pun mereka berdua tidak boleh berprasangka buruk, apalagi pada keluarga, itu akan memecah belah.
“Jangan berprasangka buruk dulu, kita tanya dulu aja ya?” kata Baron.
Cefi pun menganggukkan kepalanya.
“Ada mama dan papa di bawah, kita tanya kalau mama sama apa udah pulang aja ya?” tanya Baron.
“Iya, Mas.” kata Baron.
***
__ADS_1
“Astaghfirullah al-adzim, jadi kamu nuduh kami mencuri uang itu?” tanya Om Soni dengan marah.
“Maaf, Om. Kami hanya bertanya, bukan menuduh. Siapa tahu Om melihat atau siapa tahu ketika istri saya membawanya, uang itu jatuh dan diamankan terlebih dahulu oleh Om, Tante, atau Andrea. Kami sama sekali tidak menuduh.” kata Baron.
“Kami tidak menemukan uang itu.” jawab Tante Sonya.
“Kamu inget-inget dulu Xaviera, kamu taro uang di mana? Jangan bikin orang saling tuduh.” kata Andrea.
Cefi menghela napas, dia tidak tahu kenapa di rumah itu tidak ada yang mempercayai ucapannya, namun apa yang dikatakan oleh Andrea memang benar. Dia harus mengingat-ingat lagi uang itu. Namun, sejauh dia mencoba, ingatakannya hanya ada pada uang itu yang masih ada di laci, belum dikeluarkan seperakpun oleh dirinya.
“Tapi aku …” kata Cefi yang hendak membela diri.
Baron langsung menahan tangan Cefi, meminta istrinya untuk tidak menjawab pertanyaan itu. Dia tidak mau istrinya dipojokkan. Dia juga merasa kalau hal ini harus segera diselesaikan.
“Kalau memang begitu, kami minta maaf sebelumnya, mungkin kami yang lupa menaruh di mana.” kata Baron.
Cefi pun langsung menatap suaminya dengan tatapan terkejut, “Mas, kan kita nggak teledor, itu ada dilaci.” kata Cefi.
“Nggakpapa, uang bisa dicari, siapa tau kamu salah liat, Sayang.” kata Baron.
Cefi menghela napas, ingin protes namun Baron mengisyaratkan kepada dirinya untuk tidak membantahnya. Cefi menurut.
Setelah itu, karena tidak menemukan titik terang dan hari sudah mulai larut, akhirnya Cefi dan Baron pun pamit untuk beristirahat.
Lagi pula, dia memiliki banyak pertanyaan yang hendak dia lontarkan kepada Baron. Termasuk kenapa dia merasa kalau Baron mengalah begitu saja walaupun mereka tidak melakukan apapun. Dia juga ingat uangnya ada di laci.
“Mas, kenapa kamu ngomong kayak tadi sih?” tanya Cefi kesal.
“Sayang …, nanti kita lebih baik selidiki sendiri yah? Tapi kamu ingat bener kan kalau uang itu ada di laci?” tanya Baron.
Cefi mnganggukkan kepalanye begitu saja, “Iya, Mas. Aku inget banget.” kata Cefi.
“Tadi waktu kamu dateng jendela kamar kebuka nggak?” tanya Baron.
“Kebuka.” jawab Cefi.
“Nah, itu, saya takutnya orang yang mengambil bukan orang yang ada di rumah ini, siapa yang tahu kan? Lebih baik nanti-nantinya kita lebih hati-hati aja ya?” kata Baron.
__ADS_1
Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja.