
Sepulang sekolah, Cefi pun langsung menuju ke rumah mertuanya untuk bertemu dengan Ibu Anes, dia sudah berjanji akan menemani beliau untuk periksa kandungan ke rumah sakit terdekat. Cefi pun merasa tidak keberatan sama sekali. Karena dirinya juga merasa penasaran dengan bagaimana proses ibu mertuanya tersebut di rumah sakit.
Diam-diam Cefi benar-benar merasa sangat tertarik dengan anak kesil. Terlebih setelah menikah, ntah mengapa semua anak kecil di dalam benaknya semuanya sangat lucu-lucu.
“Ini kita pasti ketemu dokter kandungan yang temennya mama ya?” tanya Cefi yang mencoba menebak siapa dokter kandungan yang akan mereka temui.
Tebakan itu memang sederhana saja karena mereka memang metuanya itu dokter jadi besar kemungkinan kalau dokter itu juga adalah teman mertuanya.
Mendengar pertanyaan dari Cefi, Ibu Anes pun langsung terkekeh begitu saja, “Kamu cerdas sekali, Sayang. Tebakanmu benar.” jawab Ibu Anes.
Cefi yang mendengar hal tersebut pun tersenyum bangga, dia merasa senang mendapatkan pujian dari Ibu Anes.
***
Seusai bertemu dnegan dokter dan mendapatkan banyak penjelasan dari dokter tentang keadaan Ibu Anes. Selanjutnya Cefi pun memutuskan untuk pulang, begitu juga dengan Ibu Anes. Sebelum pulang, mereka mampir terlebih dahulu ke sebuah toko roti terkenal dan membeli roti untuk orang di rumah. Setelahnya mereka berpisah di depan rumah. Ibu Anes pergi ke rumahnya, sedangkan Cefi kembali ke rumahnya.
“Assalamualaikum!” salam Cefi.
Tidak ada yang menyahut. Cefi tak terkejut, mungkin semua orang sedang tidak dengar atau dia yang tak mendengar sahutan mereka karena dia memang mengucap salam di gerbang. Selanjutnya, Cefi pun masuk ke dalam rumahnya.
Saat dia berjalan, seketika jantung Cefi berdegup dengan sangat kencang melihat pemandangan yang dia lihat. Dia melihat suaminya yang tengah terlentang di atas sofa dalam keadaan terpejam, dan Andrea yang terlihat seperti hendak mencium Baron.
“Mau ngapain lo?!” seru Cefi kesal setengah mati.
Andrea yang mendengar suara Cefi langsung terkejut setengah mati dan langsung menegakkan tubuhnya yang membungkuk.
“X-xavier? I-ini nggak seperti yang kamu kira.” kata Andrea kelagapan.
“Nggak seperti yang gue kira gimana? Lo jelas-jelas mau cium suami gue!” kata Cefi. Dia kembali menggunakan kata gue-lo saking kesalnya.
__ADS_1
Bisa-bisanya Andrea mencuri kesempatan dalam kesempitan. Mendengar suara ribut-ribut, Baron yang memang sedang tidur pun bangun, dan langsug menatap Cefi.
“Ada apa?” tanya Baron.
“Dia mau cium kamu waktu kamu tidur, Mas.” adu Cefi kepada suaminya.
Baron sedikit terkejut dan langsung menatap Andrea dengan kesal, “Benar begitu?” tanyanya dingin.
“Enggak. Nggak begituuu, itu tadi aku cuma mau …” kata Andrea.
Andrea tetap menyangkal apa yang dikatakan oleh Cefi. Dia terus memutar otaknya untuk bisa menjawab apa yang dikatakan oleh Cefi.
“Aku cuma mau ambil buku aku.” kata Andrea. “Bukunya ada di bawah Kak Baron jadi aku mau ngambil tadi.” sambungnya sambil menunjuk buku yang memang ada di atas sofa. Tempat kepala Baron merebahkan dirinya di sofa.
Cefi dan Baron pun langsung melirik ke arah yang ditunjuk oleh Andrea, dan benar saja, di sana memang ada buku Andrea. Baron pun langsung mengambilnya dan memberikannya kepada Cefi. “Ini memang buku dia. Kayaknya saya emang gak sengaja tidurin buku itu saking ngantuknya.” kata Baron.
Cefi mengambil buku itu dan langsung membuka halaman pertama buku tersebut (bukan cover), dan di sana benar saja, sudah ada nama Andrea di sana.
“Tapi, Mas, …” kata Cefi.
Baron menggelengkan kepalanya begitu saja. Cefi pun menghela napas, mungkin memang seperti ini, dia tidak boleh berprasangka buruk kepada Andrea. Dia tidak mau ada keributan juga, dia ingin marah-marah pada suaminya saja nanti.
“Aku bener-bener nggak ada niatan seperti yang kamu bilang, aku cuma murni mau ngambil buku ini. Maaf kalau aku bikin salah paham, tapi aku bener-bener nggak ada niatan buat kayak gitu. Sekali lagi aku minta maaf.” kata Andrea.
Cefi pun langsung melirik Baron, Baron menganggukkan kepalanya.
“Iya, aku juga minta maaf udah nuduh kamu.” kata Cefi pada akhirnya.
“Kalau begitu aku permisi.” kata Andrea.
__ADS_1
Andrea pun langsung pergi begitu saja ke kamarnya, dia tidak mau berada di sana dan menambah canggung situasi di sana.
Setelah Andrea meninggalkan Cefi dan juga Baron, Cefi meletakkan roti yang dia bawa ke atas meja. Kejadian tadi bahkan membuat dia lupa kalau dia tengah memawa kue untuk makan bersama. Andai saja dia bisa lebih sabar tadinya, dia sudah mempersilakan Andrea untuk memakannya, roti yang dia beli memang adalah untuk orang rumahnya.
“Mas, aku nggak percaya tapi sama dia. Lagian kamu kenapa sih, Mas? Kok bisa-bisanya nggak ngerasa ada yang deketin gitu.” kata Cefi mulai mengatakan hal yang ada di dalam pikirannya kepada Cefi.
“Kita naik ke atas ya. Ngobrol di atas aja, takut pada denger.” kata Baron.
Baron meraih tangan Cefi. Dasar laki-laki. Mudah betul meluluhkan hati seorang perempuan. Seperti saat ini, dia terlihat begitu mudah meluluhkan Cefi dengan cepat.
Sesampainya di dalam kamar, Cefi menatap Baron meminta penjelasan. Kamar Cefi lumayan kedap suara, sehingga pembicaraan mereka tidak akan terdengar kalau orang lain tidak benar-benar menempelkan telinganya di daun pintu.
“Mas, jawab dulu!” pinta Cefi dengan kesal.
“Sayang, saya nggak kerasa gimana saya mau kerasa? Kan gak kesentuh juga.” kata Baron.
“Jadi, kamu berharap kalau dia judah cium kamu gitu?” tanya Cefi.
“Ya nggak gitu maksudnya. Intinya saya emang gak kerasa soalnya lagi tidur.” kata Baron.
“Tante Sonya sama Om Soni di mana lagi? Kenapa kalian cuma berduaan?” tanya Cefi.
“Mereka lagi pergi, katanya mau ketemu sama teman bisnis, nggak tau di mana.” kata Baron.
“Trus kenapa kamu ada di sini berdua sama dia? Kenapa kamu gak pergi dulu?” tanya Cefi.
Baron menghela napas, namun apa yang dikatakan oleh istrinya cukup masuk akal. Dia memang tak seharusnya berada di sana hanya berdua dengan Andrea. Dia benar-benar tidak berpikir sampai sana, “Maaf ya, lain kali saya usahakan tidak akan berduaan lagi sama dia. Nanti lain kali, saya pergi ya?” kata Baron.
Cefi pun mengerucutkan bibirnya namun dia menganggukkan kepalanya begitu saja.
__ADS_1
“Yaudah kalau gitu, janji ya?” kata Cefi.
“Iya, tapi jangan cemberut gitu dong.” kata Baron. “Senyum dulu senyum.” kata Baron lagi sambil menyentuh pipi Baron dan menariknya sedikit agar Cefi tersenyum.