Cinta Anak Kompleks

Cinta Anak Kompleks
BAB 92 - Wisuda Baron


__ADS_3

Hari ini adalah Hari di mana Cefi menyaksikan suaminya diwisuda, dia akan melihat bagaimana suaminya menyandang gelar sarjana disaksikan semua orang. Dia memilih baju kebaya berwarna krem, sebuah baju yang sama dengan warna batik yang dikenakan oleh suaminya.


“MasyaAllah, suami aku ganteng sekali.” kata Cefi ketika dia melihat suaminya yang memang sudah memakai baju rapi, padahal suaminya hanya memakai baju batik dan juga celana bahan saja, namun suaminya tetap saja terlihat tampan.


“Sudah nggak heran sih.” kata Baron sambil nyengir lebar.


Baron tahu kalau pujian istrinya menandakan kalau istrinya ingin dipuji balik. Sudah dikatakan bukan kalau Baron sudah tahu dan hafal mengenai tabiat istrinya jadi sudah tidak heran lagi kalau hal itu membuat Baron tidak mau menghilangkan sikap menyebalkannya.


“Ishhh, bukannya muji balik.” kata Cefi kesal. Dia memang terlalu jujur sebagai perempuan, karena semua yang dia rasakan, langsung dia utarakan,


“Oh, jadi kamu muji saya karena ada maunya? Pengen dipuji balik?” tanya Baron sambil terkekeh begitu saja.


Cefi pun hanya bisa mengerucutkan bibirnya. “Nyebelin.” kata Cefi. “Lihat papamu, sAyang. Dia menyebalkan.” kata Cefi sambil mengelus perutnya yang sedikit membuncit.


Baron langsung mengusap perut istrinya, “Enggak kok, sAyang. Mama kamu bohong, bukan begitu. Papa ini papa yang paling baik dan perhatian jadi nggak mungkin menyebalkan.” kata Baron.


Cefi pun terkekeh begitu saja.


“Baju sama toganya gak dipake dulu?” tanya Cefi.


“Nanti aja di sana, Sayang.” kata Baron.


Cefi tersipu malu. Pipinya langsung memerah, dia memang seperti itu, meskipun bukan kali pertama mendengar suaminya memanggilnya ‘sayang’ namun Cefi masih saja blushing.


“Oh yaudah.” kata Cefi yang langsung berjalan mendahului suaminya, dia tidak mau kalau suaminya melihat pipinya yang merona.


“Loh, kok pipinya marah, Sayang?” tanya Baron.


Sikap menyebalkan Baron memang tidak pernah ada akhirnya. Lihatlah bagaimana Baron yang bertanya seakan pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sangat wajar ditanyakan.


“Nggak tau ah, malesin.” kata Cefi.


Baron pun terkekeh begitu saja.


Kemudian, mereka pun turun ke bawah, di bawah, ayahnya Baron sudah memanasi mobil. Semuanya sudah siap. Mereka juga akan datang menghadiri acara wisuda putranya tersebut.


Lalu, setelah sarapan, mereka pun langsung pergi menuju ke tempat wisuda, ke Gedung JCC yang ada di Senayan. Untungnya rumah mereka tidak terlalu jauh dari senayan, ya, mungkin hanya sekitar 30 menit sampai.

__ADS_1


Namun, di perjalanan, mereka mendapati kemacetan kendaraan yang juga menuju ke sana. Wisuda di kampus swasta Baron itu hanya diadakan satu kali dalam setahun sehingga peserta wisuda memang banyak mengingat kampus tersebut adalah kampus yang cukup besar dan bukan hanya program S1 saja ada S2 dan S3 juga.


Wisudanya serentak, berbarengan. Hal itu yang membuat jalan menuju Senayan sangat macet.


“Untung kita berangkat pagi.” kata ayahnya Baron.


“Iya, Pa. Kalau nggak pagi, kayaknya kita masih jauh.” kata Baron.


“Kalau ketinggalan gitu boleh masuk gak sih, Mas?” tanya Cefi.


“Harusnya sih nggak boleh ya, tapi kayaknya boleh-boleh aja.” kata Baron.


Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja.


Kemudian, mereka pun sampai di tempat tujuan. Baron pun memakai baju wisuda plus toga. Cefi membantu suaminya merapikan pakaian suaminya.


“Kita foto dulu aja yuk ke sana, kalau kita fotonya nanti abis keluar dari gedung pasti nggak kebagian.” kata Baron. “Antrinya juga lama,”


Lalu Baron sekeluarga pun langsung foto sebelum masuk ke dalam gedung. Kemudian, setelah foto, tiba-tiba ada pengumuman yang menyuruh wisudawan masuk ke ruangan yang telah disediakan. Kemudian, Baron pun masuk ke dalam.


Kemudian, Cefi dan mertuanya langsung masuk ke pintu lain. Namun sebelum itu, Cefi memilih membeli bunga dulu untuk suaminya. Begitu juga Ibu Anes yang tak mau kalah. Kemudian, setelah membelikan buket bunga, mereka menuju ke dalam melalui pintu yang telah disediakan.


“MAS Baron I LOVE YOU!!!” Seru Cefi ketika suaminya berada di depan rektor.


Semua orang pun langsung melihat ke arah Cefi. Bukan hanya itu. Baron yang ada di sana yang sedang menunduk langsung mendongak dan mencoba mencari keberadaan istrinya, entah mengapa instingnya selalu kuat dan dia akhirnya bisa melihat istrinya di sisi sebelah kanan.


Cefi melambai-lambaikan tangan seperti orang gila.


Baron pun terkekeh begitu saja dan mengacungkan jempolnya.


“Ayo, Mas. Dilanjut.” kata rektor Baron yang belum sempat memindahkan tali.


“Oh, iya, Pak. Maaf-maaf, Pak.” kata Baron.


Baron membungkuk lagi, Rektor tersebut langsung tersenyum dan menepuk-nepuk bahu Baron, “Pacarmu lucu sekali!”


Baron pun tersenyum, “Dia istri saya, Pak. Terima kasih.” jawab Baron.

__ADS_1


Semua orang pun melihat ke arah Cefi. Cefi pun langsung menoleh ke kanan dan ke kiri seketika dia langsung melihat semua orang yang menatapnya dengan tatapan berbeda-beda. Ada yang memandang Cefi aneh, memandang gemas, memandang lucu, dan bahkan kesal.


“Maaf-maaf …” kata Cefi tidak enak hati.


Di tempatnya mertua Cefi langsung terkekeh begitu saja melihat kelakuan ajaib dari menantunya, “Kamu sangat mencintai Baron ya, Nak?” tanya Ibu Anes.


Cefi nyengir lebar sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal, “Hehehe. Iya, Ma. Maaf ya, Ma. Udah bikin mama dan papa malu. Aku nggak sadar.” kata Cefi.


“Hahahahaha, Xaviera … Xaviera …” kata Ibu Anes dan juga Pak Pradana sambil menggelengkan kepalanya begitu saja.


Cefi dan kedua mertuanya pun mengikuti prosesi wisuda sampai selesai. Cefi tidak bisa melepaskan pandangannya dari suaminya.


Setelah selesai, Cefi dan mertuanya pun tidak langsung pergi, mereka memutuskan untuk berada di sana menunggu orang-orang keluar karena mereka tahu akan sangat ramai di pintu keluar, mereka tidak mau berdesak-desakan.


Setelah sedikit sepi, Cefi dan mertuanya pun keluar, setelahnya mereka pun melihat lautan manusia yang sedang saling mencari sanak keluarganya satu sama lain.


“Di mana Mas Baron ya?” tanya Cefi.


“Iya nih di mana Baron?” tanya Ibu Anes.


“Kita di sana saja.” kata Pak Pradana.


Mereka bertiga pun menepi, Cefi terus memandangi ke sekitar.


Pak Pradana langsung menelepon Baron dan memberitahukan mengenai keberadaannya. Kemudian, Baron pun muncul begitu saja Senyum Cefi langsung mengemabng begitu saja.


“Mas!” seru Cefi dengan senang.


Baron pun terkekeh begitu saja. Pak Pradana memeluk Baron dengan bangga, kemudian, ibunya juga melakukan hal yang sama. Kemudian, terakhir Cefi. Dia juga memeluk istrinya.


“Selamat ya, Mas.” kata Cefi dengan senang.


“Iya, makasih yaaa. Tadi kamu keren banget.” kata Baron.


“Kok aku?” tanya Cefi.


“Iya, teriakan Mas Baron I love you! Gitu.” kata Baron.

__ADS_1


Cefi seketika langsung malu. “Masss …” Cefi pun merajuk.


“I love you too!” kata Baron.


__ADS_2