
Cefi memegangi kepalanya yang pusing namun dia tidak mau lemah, tekadnya sudah bulat. Dia akan memberikan yang terbaik untuk ujian kali ini.
"Ayo, Cef. Lo kudu bisa!" Seru Cefi yang mencoba menyemangati dirinya sendiri.
Cefi terus menyemangati dirinya. Kemudian, dia mulai membaca soal satu persatu, ujian kali ini diawali dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Hal itu sedikit meringankan Cefi karena dia memang suka membaca.
Satu persatu soal dia kerjakan dengan baik dan tentu saja semampunya. Dia tidak bisa memaksakan kehendaknya.
Waktu pun terus berpacu hingga akhirnya Cefi selesai dan waktu masih 20 menit lagi. Cefi menghela napas, harusnya dia membaca lagi soal yang telah dia jawab namun dia terlalu pusing, perutnya tidak enak.
Cefi akhirnya mengangkat tangan ke atas, "Bu, saya udah selesai, boleh saya izin pulang duluan? Kayaknya saya tidak enak badan, Bu." Kata Cefi pucat.
Pengawas yang merupakan guru dari sekolah lain itu pun langsung mengamati raut wajah Cefi yang memang pucat, "Oh, yasudah silakan. Kamu bisa pulangnya?" Tanya Guru tersebut.
"Bisa, Bu. Saya dijemput." Jawab Cefi.
Guru tersebut menganggukkan kepalanya begitu saja. Mengizinkan Cefi untuk pulang lebih dulu. Kemudian, Cefi membawa papan jalan dan alat tulisnya kemudian menyerahkan lembar soal dan jawaban kepada guru tersebut. Setelah salim dan mengucap salam dia pun keluar dari ruangan tersebut.
Seseorang menghampiri Cefi dengan raut wajah khawatir, "Kamu nggakpapa?" Tanya Baron. Dia bahkan langsung mengambil tangan Cefi saking khawatirnya, mengabaikan kalau mereka tengah berada di sekolah. Beruntung sekolah sedang sepi. Jadi, tidak ada yang mengamati interaksi keduanya.
"Aku nggak papa." Kata Cefi.
Baron langsung mengangkat tubuh Cefi dan membawanya ke tempat mobilnya diparkirkan. Dia sengaja membawa mobil ayahnya karena tahu kondisi Cefi sedang kurang sehat. Rasanya bila mengantar Cefi dengan menggunakan motor akan membuat Cefi semakin sakit.
"Mas, turunin aku. Takut ada yang liat." Kata Cefi.
"Biarin aja." Kata Baron.
Kemudian, Baron membawa Cefi ke mobil kemudian langsung melajukan kendaraannya.
"Kamu tidur aja." Pinta Baron.
__ADS_1
Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja. Cefi memejamkan matanya dengan cepat, pusing sekali rasanya.
Tak lama kemudian, mereka sampai di rumah. Baron membuka gerbang dan memasukkan mobil ayahnya tersebut ke rumahnya. Lalu dia pun menutup gerbang, lalu menggendong istrinya dari depan. Tangannya sangat dingin. Baron jadi ketakutan melihat Cefi yang begitu pucat.
Bukan takut sih, lebih ke khawatir.
Baron merebahkan istrinya ke atas tempat tidur dan mengusap rambut istrinya. Entah apa yang harus dia lakukan. Melihat Cefi sakit membuatnya serba salah bahkan dia tidak bisa melakukan apapun.
Cefi membuka mata. Lambat-lambat dia melihat suaminya, kemudian dia tersenyum. "Kok gak bangunin aku, Mas?" Tanya Cefi.
"Kamu pules banget. Kamu mau makan apa? Biar saya cari atau masak." Kata Baron.
"Aku nggak mau makan." Kata Cefi.
Baron menggelengkan kepalanya, "Makan ya?" Katanya.
Cefi yang melihat wajah suaminya yang terlihat sedih pun menganggukkan kepalanya begitu saja, "Aku mau makan ayam bakar."
Baron pun menganggukkan kepalanya, "Tunggu sebentar ya." Kata Baron.
"Kamu tidur dulu aja nanti kalau ayam bakarnya sudah dateng, saya bangunin." Kata Baron.
"Aku nggak papa kok, Mas." Kata Cefi yang mencoba bangun namun Baron buru-buru menahannya.
“Udah kamu istirahat aja ya?” kata Baron.
Cefi pun mengalah, kemudian dia pun memilih untuk menurut karena memang Cefi sedang lemas. Baron duduk di samping Cefi, setelah memastikan mata istrinya terpejam, dia pun langsung melakukan penelusuran di internet. Dia mencoba mencari tahu tentang tanda-tanda perempuan yang hamil muda.
“Mual di pagi hari.” Baron menoleh ke arah Cefi. Dia jadi teringat mengenai bagaimana istrinya yang setiap pagi belakangan ini selalu mual.
Baron ingin sekali membawa Cefi ke rumah sakit untuk sekadar mengecek kondisi kesehatan Cefi dan mengenai apa yang dia diagnosakan kepada istrinya. Namun, dia juga takut kalau Cefi tahu kalau dirinya sedang hamil, akan mengganggu proses Ujiannya yang hanya tinggal tiga hari lagi.
__ADS_1
Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Tapi sepertinya menurut dirinya yang paling penting saat ini adalah kesehatan Cefi. Dia akan mencoba berbicara pelan-pelan kepada istrinya setelah mereka selesai makan.
Panggilan dari nomor tidak dikenal. Baron pun langsung mengangkatnya tanpa ragu, dia tidak takut adanya hipnotis telepon atau modus penipuan lainnya yang dilakukan melalui sambungan telepon. Hal itu dikarenakan Baron sedang menunggu pesanannya, sehingga dia pun bisa menebak kalau panggilan itu dari kurir paket makanan yang dia pesan.
“Mas, saya udah di depan gerbang.” kata kurir tersebut.
“Oh, tunggu sebentar, Pak.” kata Baron.
Kemudian, Baron pun langsung berjalan keluar kamar, menghampiri kurir paket dan langsung mengambil makanan tersebut. Makanan dan jasa pengiriman makanan itu sudah Baron bayar melalui aplikasi sehingga tidak memerlukan uang tunai lagi.
Baron memilih pergi ke dapur untuk membawakan peralatan makan kemudian membawa makanan dan peralatan makan ke rumah Cefi. Dia membawa dua sehingga Cefi juga tahu kalau dia akan makan. Cefi memang selalu suka makan dengan Baron sehingga ketika Cefi mau makan dia selalu teringat pada suaminya tersebut.
Sesampainya di kamar, Baron membangunkan istrinya dengan lembut, Cefi yang tidak mau menyusahkan Baron pun bangun, dia sangat mengerti bagaimana khawatirnya Baron kepada dirinya.
“Makan dulu ya? Mau disuapin atau pakai makan sendiri?’ tanya Baron.
“Disuapin.” kata Cefi.
Baron terkekeh dan langsung menyuapi Cefi begitu saja, satu persatu. Cefi makan dengan lahap, entah mengapa rasa mual itu sudah lenyap entah ke mana, yang jelas Cefi ingin terus makan nasi yang disuapkan oleh suaminya.
“Udah ya?” kata Cefi setelah menghabiskan setengah porsi makanan tersebut.
“Sekali lagi ya?” tanya Baron persis seperti ibu-ibu.
Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja, “Iya,” jawab Cefi menurut. “Kamu juga makan, Mas. Jangan suapin aku doang.” kata Cefi.
Baron pun menganggukkan kepalanya begitu saja. Kemudian Baron pun makan. Cefi mengamati wajah suaminya yang meski sedang makan terus menatap Cefi. Mereka hanya diam. Kemudian, setelah Baron selesai makan, Baron memutuskan untuk menghampiri Cefi dan duduk di samping Cefi.
“Sayang, ada yang mau aku bilang ke kamu.” kata Baron.
“Apa?” tanya Cefi.
__ADS_1
“Kayaknya, kamu hamil.” jawab Baron.
Cefi terkejut setengah mati. “A-apa?”