
Cefi mengamati wajah suaminya. Bagaimana tidak? Dia harus menyaksikan bagaimana suaminya memakan masakan gosongnya itu. Cefi jadi merasa bersalah karena tidak bisa memasak, namun meski gosong, Baron tidak protes sama sekali.
Kalau Cefi pikir-pikir, sepertinya selama dia memasakkan sesuatu untuk Baron, semenjak hubungan mereka belum seharmonis ini pun, Baron selalu memakan apapun yang Cefi masak tanpa protes. Ya, meski pun beberapa kali ketika Cefi bertanya mengenai rasa masakannya, Baron selalu memberikan komentar yang sangst pedas.
“Kalau udah mual jangan dilanjutin makannya. Nanti kamu bisa enek.” kata Cefi tak enak hati kepada suaminya.
Andai saja dia bisa memasak, dia tentu tidak akan menyajikan suaminya frozen food atau telur dadar saja.
“Enggak mungkinlah. Enak kok ini.” kata Baron.
Tak lama kemudian ada Ibu Anes dan Pak Pradana yang datang. Cefi yang melihat martuanya datang pun sangat senang, karena meski tinggal berhadap-hadapan, mereka jarang bertemu, terlebih ketika Ibu Anes kembali bekerja, mereka sangat jarang ketemu. Mertuanya sangat sibuk di luar rumah.
“Mama, aku kangen.” kata Cefi kepada Ibu Anes.
“Iya, Nak. Mama juga kangen sama kamu. Di rumah sakit nggak ada yang bisa mama ajakin gibahin Baron.” kata Ibu Anes sambil terkekeh.
Mendengar hal tersebut langsung membuat Cefi memaksakan diri untuk terkekeh, karena ntah mengapa dia jadi takut kalau suaminya mendengar ucapan mertuanya itu. Kalau dahulu, mungkin itu tidak masalah, namun, sekarang? Hubungan Cefi dan Baron baru membaik sehingga rasanya lebih baik tidak ada pertengkaran dulu.
“Oh, jadi sering gibahin Baron kalau di belakang, Ma?” tanya Baron yang ternyata mendengar.
Ibu Anes pun terkekeh begitu saja, “Enggak kok, …”
“Nggak salah lagi.” kata Pak Pradana sambil terkekeh begitu saja.
Ibu Anes langsung mencubit pinggang suaminya membuat suaminya mengaduh, “Kok dicubit sih, Ma? Kan benar. Papa sering dengar sendiri kok.” kata Pak Pradana.
“Pa, Ma, duduk dulu yaaa, sekalian sarapan ya, Ma, Pa? Udah sarapan belum?” tanya Cefi.
Ibu Anes dan Pak Pradana pun langsung duduk di seberang Baron. Baron menawarkan makan kepada kedua orang tuanya.
“Kebetulan kita udah sarapan, Nak.” kata Ibu Anes menjawab pertanyaan Cefi dan Baron.
“Yaudah kalau begitu aku buatin teh hangat ya?” kata Cefi yang langsung pergi ke dapur. Sebelum jauh, dia pun mendengar sesuatu yang membuat dia sedikit meringis.
“Itu apa yang item-item kamu makan, Nak? Hahaha.” kata Pak Pradana sambil menunjuk nugget yang hendak dimakan oleh Baron.
“Hus, papa …” kata Ibu Anes yang langsung menegur suaminya karena takut kalau menantunya mendengar. Ibu Anes tidak mau kalau sampai Cefi tersinggung.
__ADS_1
“Ini enak kok. Kalau nggak percaya papa makan aja.” kata Baron.
Ibu Anes dan suaminya langsung terdiam, kemudian mereka langsung saling melemparkan tatapan kebingungan, namun seketika Ibu Anes dan juga suaminya langsung terkekeh begitu saja.
“Ngaku sama Papa, kalian pasti ada sesuatu kan?” kata Pak Pradana.
“Apa sih, Pa? Sesuatu apa?” tanya Baron cuek bebek.
“Papa itu papa kamu, Baron. Jadi papa tahu perkembangan anak papa. Jadi, udah baikan sama Nak Xaviera?” tanya Pak Pradana.
“Apa sih, Pah. Nggak jelas banget deh.” kata Baron.
Namun, meski mulutnya terdengar begitu pedas namun telinga Baron terlihat berwarna merah. Menyadari hal itu membuat Pak Pradana dan juga Ibu Anes langsung terkekeh begitu saja. Mereka sangat senang melihat fakta tersebut.
Di dapur, Cefi yang mendengar suara mertuanya itu langsung memerah pipinya, namun dia merasa harus bersikap wajar saja.
Setelah selesai membuat teh untuk mertuanya, Cefi pun langsung kembali dan meletakkannya di atas meja.
“Mama, Papa. Ini tehnya. Maaf kalau nggak enak ya.” kata Cefi.
“Pasti enak dong.” kata Ibu Anes. “Iya kan, Pa?” tanya beliau kepada suaminya.
“Wah, enak sekali. Terima kasih, Nak.” kata Pak Pradana.
“Iya, sama-sama,, Pa.” kata Pak Pradana.
Ibu Anes melirik suaminya, beliau seperti ingin suaminya mengatakan sesuatu kepada anak dan juga menantu mereka. Di tempatnya Baron dan Cefi pun saling melirik, mereka juga bingung.
“Kenapa, Ma, Pa?” kata Baron.
“Sebenarnya, Papa sama Mama punya kabar bagus buat kalian.” kata Pak Pradana.
“Apa itu?” tanya Baron.
Cefi diam mencoba mendengarkan apa yang hendak mertuanya katakan. Pak Pradana terlihat sangat bahagia, hal itu yang membuat Cefi dan Baron penasaran.
“Kalian akan punya adik!” kata Pak Pradana.
__ADS_1
“HAH?” Baron dan Cefi terkejut setengah mati. Mereka berdua mencoba mencerna ucapan Pak Pradana.
Apa kata Pak Pradana? Baron dan Cefi akan memiliki adik? Hal itu tentulah tidak mungkin. Namun, Baron merasa harus memastikan lagi, dia takut salah mendengar meski ketika dia terkejut, istrinya juga terkejut dan itu menandakan apa yang dia dengar tidak salah.
“Maksudnya, Pa?” tanya Baron.
“Iya, Baron. Kamu dan Nak Xaviera akan punya adik, mamamu hamil.” kata Pak Pradana mengatakannya sambil berbinar-binar.
“Mama hamil?” tanya Baron terkejut setengah mati. “Kok bisa?” tanya Baron.
“Hus! Kok kamu malah ngomongnya begitu? Ya jelas karena papa kuat. Iya kan, Ma?” kata Pak Pradana.
“Astaghfirullah, Papa, Mama, kalian itu anaknya sudah besar, bahkan udah bisa bikin anak sendiri, kenapa mama hamil sih?” kata Baron.
“Nak, ini itu titipan dari Allah, masa kita diberikan titipan malah nolak?” kata Ibu Anes.
“Tapi, Ma. Mama itu udah berumur, itu bahaya.” kata Baron.
“Baron, kamu lupa kalau mamamu itu dokter? Mamamu pasti bisa menjaga dirinya sendiri dan calon adik kamu.” kata Pak Pradana.
“Nggak bisa-nggak bisa. Baron malu, Ma, Pa. Apa kata orang kalau mereka tau Baron punya adik bayi di umur segini? Baron maluuu.” kata Baron.
Di tempatnya, Cefi pun terkekeh melihat suaminya yang terlihat begitu frustasi, merasa ada seseorang yang menahan tawa membuat Baron langsung menoleh ke arah Cefi, “Kenapa? Seneng kamu ketawain saya?”
Cefi pun hanya bisa terkekeh begitu saja, “Ya, nggakpapa lah, Mas. Benar kata Mama. Itu titipan atau anugrah namanya, kamu nggak bisa maksa mama kamu biar gak hamil.” kata Cefi.
Baron yang merasa kesal pun langsung bangkit dan langsung pergi meninggalkan istri dan kedua orang tuanya menuju ke luar rumah. Dia ingin mencoba menenangkan pikiran.
“Pa, Baron nggak mau punya adik, Pa.” kata Ibu Anes yang tiba-tiba menangis.
Melihat mertuanya menangis membuat Cefi merasa tidak tega.
“Ma, jangan sedih ya, nanti biar aku yang coba bilang pelan-pelan sama Mas Baron. Aku yakin kalau Mas Baron sebenarnya seneng tapi dia kayaknya butuh waktu aja, Ma.” kata Cefi.
“Iya, Ma. Apa yang dibilang sama menantu kita bener. Jangan nangis lagi ya, Ma. Kasian anak kita.” kata Pak Pradana yang terlihat begitu perhatian kepada istrinya.
Ntah mengapa Cefi jadi mulai berandai-andai dan memikirkan mengenai apakah ketika dia hamil nanti, Baron juga perhatian kepada dirinya. Ah, apa yang ada dipiikiran Cefi saat ini?
__ADS_1
Tidak, dia masih anak sekolah.