Cinta Anak Kompleks

Cinta Anak Kompleks
BAB 22 - Keluarga yang Sesungguhnya


__ADS_3

Cefi berlari dengan cepat untuk masuk ke dalam rumahnya, mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Di dalam rumah, dia langsung menemukan Baron yang tengah memungut pecahan kaca. Dia tidak menyangka kalau suara keras itu berasal dari pecahan kaca tersebut. Ah, bukan kaca, itu gelas kaca yang pecah.


“Lo ngapain sih? Kok bisa sampai pecah gini?” tanya Cefi. Dia langsung membantu Baron membereskan pecahan gelas tersebut ke dalam plastik yang ntah didapet Baron dari mana.


Baron pun langsung melirik Cefi, “Ke mana pacar lo? Nggak mau diajak tahlilan?” tanya Baron. Dia tidak mau menjawab pertanyaan Cefi.


“Bukannya nggak mau, tapi dia itu mungkin lagi sibuk." kata Cefi.


“Ck, yakin tuh sibuk? Kalau sibuk kan harusnya dia nggak perlu dateng buat jemput lo jalan-jalan.” kata Baron.


Cefi terdiam sebentar, dia langsung mencoba untuk berpikir positif namun sialnya hal itu memang benar. Kalau memang Daren begitu sibuk, harusnya Daren tidak bisa menjemput dirinya saat ini. Namun, Daren tetap datang.


“Yaudah si…” kata Cefi yang langsung ingin mengakhiri topik tersebut.


“Dia cowok gak baik. Mending lo putusin aja.” kata Baron.


“Loh, kok jadi diputusin? Dia itu baik kok.” kata Cefi.


“Ck, baik dari mananya? Lo aja yang buta.” kata Baron, “Awas, biar gue aja yang beresin, lo bantuin mama aja di rumah depan. Siapa tau ada yang bisa lo bantu di sana.” kata Baron.


Cefi tidak langsung setuju, “Tapikan lo mau ke Masjid, nanti lo terlambat.” kata Cefi.


“Nggakpapa, ini sebentar lagi juga selesai. Udah sana, hus hus!” usir Baron yang seperti mengusir kucing.


"Sialan." Rutuk Cefi.


Cefi mengerucutkan bibir, lalu menganggukkan kepalanya begitu saja. Cefi hendak pergi namun Baron buru-buru menahan tangan Cefi, “Ada apa lagi? Tadi diusir.” tanya Cefi.


“Ini, pake!" kata Baron sambil memberikan pasmina milik Cerfi kepada Cefi. Cefi pun langsung mengerucutkan bibirnya tanpa mau mengambil pasmina tersebut, Baron memakaikan fasmina itu sekenanya yang penting bisa menutupi kepala Cefi.


Cefi mengerucutkan bibirnya lagi.


Kemudian, Cefi pun pergi menuju ke rumah ibunya Baron, di sana dia langsung mendapati ibu mertuanya yang sedang berada di dapur. Dia langsung menghampiri ibu mertuanya. Dia jadi tidak enak karena baru datang.

__ADS_1


“Mama, kenapa nggak bangunin aku? Aku kan bisa bantu mama.” tanya Cefi.


Cefi memang sedari pulang sekolah terus berada di dalam kamarnya, dia menghabiskan waktu menangis di kamar hingga tak terasa dia tidur.


Ibu Anes tersenyum menatap menantunya, “Kata Baron kamu kelelahan, Nak. Jadi, lebih baik kamu istirahat.” kata Ibu Anes.


“Nggak kok, Ma, aku cuma ketiduran aja. Sini, ada yang bisa aku bantu?” tanya Cefi.


“Kita bawa-bawain ini aja ya ke rumah kamu.” kata Ibu Anes.


Cefi dan Ibu Anes pun langsung membawa beberapa buah dan juga makanan ringan ke rumah Cefi. Cefi jadi merasa bersalah, di kamarnya, dia bahkan hanya tidur-tiduran saja setelah bangun, bahkan dia sempat sampai mau pergi dengan Daren, dia tidak memikirkan mengenai bagaimana repotnya orang di luar kamarnya yang sedang mempersiapkan acara.


Seusai salat isya, acara pun dimulai, setelah acara selesai Cefi, Baron, dan kedua orang tua Baron mulai membereskan rumah, Ustaz Bangga dan Ustazan Aisyah kebetulan sedang ada keperluan di luar kota jadi tidak bisa membantu.


Seusai membersihkan rumah Cefi. Cefi, Baron, dan orang tua Baron pun makan malam di Rumah Cefi. Seusai makan, Cefi izin sebentar untuk mengambil sebuah kunci mobil. Lalu, dia menyerahkan kunci mobil tersebut kepada ayah mertuanya.


“Papa, ini untuk papa.” kata Cefi sambil mengulurkan kunci mobil kepada ayah mertuanya.


“Ini mobil untuk papa. Aku nggak punya uang untuk ganti semua uang papa. Tapi aku punya mobil ini.” kata Cefi.


“Nak, ini untuk apa? Apa yang harus kamu ganti?” tanya Pak Pradana yang bingung.


“Biaya sejak mama sama papa aku meninggal sampai semua acara tahlilan dikeluarkan oleh papa. Aku ingin membalasnya.” kata Cefi, “Aku tau biayanya cukup besar. Semoga mobil ini bisa senilai.” kata Cefi.


Ibu Anes dan Pak Pradana langsung saling melirik. Mereka tidak tahu kenapa Cefi bisa berpikiran kalau Cefi harus membayar semua uang yang telah dikeluarkan oleh keluarga mereka.


“Nak, ambil dan simpan ini, ini sudah tanggung jawab papa. Papa nggak akan terima apapun dari kamu. Jangan merasa harus balas Budi, Nak. Kamu anak kami. Orang tua kamu juga keluarga kami." Kata Pak Pradana.


"Tapi, Papa ..." Kata Cefi.


"Ambil atau papa marah?" Kata Pak Pradana.


Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja, lalu dia mengambil kunci mobil itu lagi.

__ADS_1


"Nak, jangan begini lagi ya. Kalau kamu seperti ini, papa dan mama jadi merasa kalau kamu tidak menganggap kami keluarga. Kami tulus membantu, Nak. Jadi, papa mohon jangan begini lagi ya? Jujur, papa merasa tersinggung karena sepertinya di matamu papa gila harta." Kata Pak Pradana sedih.


Cefi jadi tidak enak kepada mertuanya, "Maafin aku, Pa, Ma. Aku benar-benar gak pernah punya pikiran seperti itu. Aku bener-bener minta maaf. Maaf karena sudah menyinggung perasaan mama dan papa."


"Iya, tidak apa-apa. Untuk kedepannya jangan begini lagi ya?" Tanya Pak Pradana.


Cefi menganggukkan kepalanya. Cefi merasa sangat beruntung memiliki keluarganya Baron. Mereka ternyata benar-benar tulus kepadanya. Mereka sangat berbeda dengan Om Soni. Ntah ke mana dia sekarang.


Pak Pradana dan Ibu Anes pun memutuskan untuk pulang. Kini di rumah Cefi hanya tinggal Cefi dan juga Baron.


“Barongsai …” panggil Cefi.


Baron menoleh, “Kenapa?” tanya Baron.


“Gimana kalau lo tinggal di rumah ini aja?” tanya Cefi. “Maksudnya, baju lo dibawa ke sini aja, kita … tinggal di rumah aja berdua, nanti gue bakalan coba belajar masak biar nggak ngerepotin mama.” kata Cefi.


Baron menempelkan tangannya di dahi Cefi membuat Cefi mendelik.


“Nggak panas.” kata Baron.


“Sialan, emang lo kira gue sakit.” kata Cefi kesal.


Baron terkekeh, "Yaudah. Gue di mana aja gak masalah. Lagian gue males juga bolak-balik-bolak-balik."


Cefi dan Baron pun langsung pergi ke Rumah Baron untuk mengambil baju-baju Baron. Dua koper cukup untuk memasukkan baju-baju Baron. Setelah memasukkan baju-baju dari koper tersebut ke lemari yang ada di kamar Cefi. Mereka pun memutuskan untuk menonton film.


"Barongsai, gue dikasih banyak film sama Adam. Kita nonton yuk!" Kata Cefi.


"Besok sekolah. Mending tidur." Kata Baron.


"Ck, yaudah sana tidur aja. Pokoknya gue mau nonton." Kata Cefi.


Cefi pun bangkit dari tempat tidurnya dan membawa laptopnya pergi, "Mau ke mana lo?" Tanya Baron.

__ADS_1


__ADS_2