Cinta Anak Kompleks

Cinta Anak Kompleks
BAB 89 - Telepon dari Baron


__ADS_3

Hari terus berlalu, tidak ada yang spesial untuk ceritakan selain Baron yang tambah over protektif terhadap istrinya dan Cefi yang belum bisa banyak makan nasi. Dia hanya makan satu atau dua suap saja, tidak bisa banyak seperti yang biasanya dia lakukan.


Dokter mengatakan kalau gejala itu sangat wajar dan sering terjadi pada ibu-ibu yang tengah hamil muda. Namun, Cefi tetap harus dipaksakan sedikit-sedikit makan karena jangan sampai terus menerus kekurangan makan, sebab anak mereka yang kasihan.


Cefi kini tengah duduk bersama dengan Ibu Anes. Baron tengah ke kampusnya, mengambil formulir wisuda, dia sudah menyandang gelar Sarjana Arsitektur (S.Ars).


“Hahaha, iya, tau, Ma. Mas Baron aja kayak gitu, jadi overprotektif banget.” kata Cefi sambil tertawa dengan ibu mertuanya.


Ibu Mertuanya sudah tidak diperkenankan untuk ke rumah sakit, menurut Pak Pradana, istrinya lebih baik istirahat di rumah saja, tidak perlu bekerja selama masa kehamilan.


Saat sedang asyik berbincang-bincang. Bal rumah dibunyikan oleh seseorang. Cefi pun langsung pamit kepada ibu mertuanya untuk membukakan pintu. Sesampainya di sana Cefi pun langsung melihat Dara, Amel, dan juga Putri.


“Kalian?” tanya Cefi yang sekana tidak percaya dengan siapa yang datang. Cefi langsung memeluk ketiga sahabatnya, ketiga sahabatnya pun tersenyum senang, karena mau bagaimanapun Cefi adalah sahabat mereka jadi mereka tidak akan pernah melupakan Cefi.


“Aaa kangen banget sama lo, Cef!” kata Dara.


“Iya, gue juga kangen banget sama lo.” kata Amel.


“Iya, aku juga kangen banget sama kamu, Cefi.” kata Putri.


Kemudian, Cefi pun mempersilahkan ketiga temannya untuk masuk ke dalam rumah, Ibu Anes pun menyambut tamu Cefi dengan baik.


“Ma, kenalin, ini temen-temen aku di sekolah namanya yang ini DAra, yang ini Amel, dan yang ini Putri.” kata Cefi.


“Halo, Tante.” kata ketiganya yang langsung mencium tangan Ibu Anes secara bergantian.


“Hai, kenalkan saya Anes, mertuanya Xaviera.” kata Ibu Anes.


Kemudian, mereka pun dipersilakan duduk, ibunya Baron pun membuatkan minuman untuk mereka meskipun Cefi ikut membantu.


Setelah membuatkan minum, seperti tidak mau mengganggu waktu temu kangen mereka berdua, Ibu Anes memilih untuk pamit kembali ke rumah.


“Nak, mama masak banyak, nanti teman kamu diajak main ke rumah mama ya? Kalian ngobrol dulu aja, mama di rumah.” kata Ibu Anes kepada Cefi.


“Makasih banyak ya, Ma.” kata Cefi.


Ibu Anes pun menganggukkan kepalanya. “Iya, Sayang.”


Setelahnya Ibu Anes pamitan dengan teman-teman Cefi dan meminta kepada teman-teman Cefi ke rumahnya nanti. Setelahnya beliau pun langsung pulang, Cefi mengantar mertuanya sampai di depan gerbang.

__ADS_1


“Gila, baik banget ya mertua lo?” tanya Dara yang langsung mencecar Cefi dengan pertanyaan.


“Iya, bukan baik lagi, beliau itu udah kayak orang tua gue banget. Gue beruntung banget dah pokoknya punya mertua kayak beliau.” kata Cefi.


“Iya sih keliatan, baik banget.” kata Dara.


“Maaf Cefi, berarti kalian sekarang sama-sama hamil ya?” tanya Putri.


“Iya, bahkan dokter kita sama tau. Hahahaha jadi kalau konsul juga bisa barengan.” kata Cefi.


“Ih, lucu banget dah.” kata Amel.


Mereka un terkekeh begitu saja, “Itu diminum minumannya.” kata Cefi.


Teman-teman Cefi pun langsung meminum minuman yang sudah disediakan oleh Cefi dan mertua Cefi.


“Gimana sekolah?” tanya Cefi.


Walaupun dia tahu bagaimana carut marutnya sekolahnya dan pasti di sekolah dia tetap digosipkan. Dia sudah tidak mau terlalu memikirkan itu, yang penting dia tidak hamil di luar nikah, dan dia juga menikah dengan suaminya secara sah.


“Ya gitulah, biasalah, masih banyak yang ngomongin lo sih, tapi kalau temen-temen kita enggak. Lagian Adam udah kasih tau ke kita kalau dia udah tau kalau kalian udah nikah udah lama. Yaudah temen kita malah kesel banget lu nggak bisa ujian.” kata Dara.


“Sebenernya, gue itu ikut ujian sih.” kata Cefi.


“Eh, serius lo?” tanya Dara.


Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja, “Iya serius.” kata Cefi.


“Tapi kok gue nggak liat lo?” tanya Amel.


“Iya, gue itu kemarin ujian di rumah, diawasin sama Kepsek langsung.” kata Cefi.


Amel, Dara, dan juga Putri pun langsung terkejut, “Kok bisa?” tanya Dara.


“Ya bisa … ini buktinya gue.” kata Cefi.


“Tapi kenapa pihak sekolah nggak bilang ke kita-kita ya? Jadi, kayak biarin aja gitu kita mikir kalau lo dikeluarin dari sekolah.” kata Dara.


“Ya gak tau sih kenapa, cuman yaudahlah yang penting gue bisa ujian, tapi kalian jangan kasih tau siapa-siapa ya, ini rahasia kita aja.” kata Cefi.

__ADS_1


“Siappp, rahasia lu aman sama kita.” kata Dara dan yang lainnya.


Mereka bertiga pun langsung berbincang-bincang, membicarakan apapun untuk membunuh waktu.


“Kalian disuruh sama Mama ke rumahnya, yuk kalian pasti belum makan kan?” tanya Cefi.


“Eh, nggak enak ege.” kata Dara.


“Kaga papa …” kata Cefi. “Udah ayo, nanti malah mama marah sama gue.” kata Cefi.


Dara pun langsung menganggukkan kepalanya begitu saja. Begitu juga dengan yang lain. Kemudian, Cefi pun langsung membawa teman-temannya ke rumah mertuanya.


Tak lama kemudian, mereka pun makan bersama di sana, Ibu Anes sangat senang dengan kedatangan teman-teman Cefi karena bisa menambah keramaian di rumah itu. Beliau memang suka kesepian sehingga ketika ada yang datang, beliau merasa sangat senang, sama seperti saat ini.


Beruntung teman-teman Cefi tidak kalah lucunya dengan Cefi sehingga Ibu Anes juga merasa sangat terhibur.


Tiba-tiba ponsel Ibu Anes berdering, nama Baron muncul di sana.


“Halo Assalamualaikum, Nak.” kata Ibu Anes.


“Iya, Ma, waalaikumsalam, Ma. Mama liat istri Baron gak ya? Soalnya Baron telpon nggak diangkat, Baron takut ada apa-apa.” kata Baron.


Ibu Anes pun langsung terkekeh begitu saja, beliau pun langsung me-loudspeaker suara Baron.


“Ma? Coba tolong cek, Ma. Baron nggak bercanda, Baron telepon Xaviera nggak diangkat-angkat, ini Baron sebentar lagi pulang.” kata Baron.


Cefi yang mendengar hal itu langsung terkekeh begitu saja. “Aku di sini, Mas. Nggak kemana-mana, maaf ya, hapenya ketinggalan di rumah.” kata Cefi.


“Pinjam ya, Ma?” kata Cefi.


Ibu Anes pun menganggukkan kepalanya dan memberikan ponsel itu kepada Cefi. Cefi pun memilih untuk mengobrol di belakang, agar tidak terdengar oleh teman-temannya. Dia tentulah malu.


Di ruang makan, teman-teman dan juga mertua Cefi sudah tenggelam dengan obrolan mereka.


“Kenapa, Mas?” kata Cefi.


Di seberang sana Baron menghembuskan napas dengan lega, “Aku kira kamu kenapa-kenapa.” kata Baron.


“Perhatian banget sama aku.” kata Cefi.

__ADS_1


__ADS_2