
Waktu istirahat.
Jantung Cefi berdegup dengan sangat kencang. Sejak semalam dia terus memikirkan apa yang dilakukan oleh Baron kepadanya. Dan sejak kejadian tak terduga semalam, baik Baron maupun Cefi lebih memilih untuk menghindar karena mereka sendiri canggung.
Cefi memutuskan untuk berangkat ke sekolah. Meski dia memiliki keraguan karena kejadian Daren tentulah tidak akan membuat dia baik-baik saja di sekolah tapi dia selalu ingat kalau di sekolah ada Baron.
Ah, ntah mengapa Cefi terus memikirkan Baron. Laki-laki itu tampak tidak terlihat jijik kepadanya. Baron masih bersikap biasa saja, itu yang membuat Cefi bersyukur dalam hati.
Tak sengaja Cefi menangkap kehadiran seorang Baron. Ntah mengapa pandangan Cefi kini tertuju pada bibir laki-laki itu. Ciuman pertama (Cefi tidak mau menyebut Ciuman Si Brengsek Daren yang pertama) semalam begitu panas hingga membuat dia merasa gerah.
Cefi memang lebay. Namun, dia benar-benar tidak bisa melupakannya. Tanpa sadar dia memegangi bibirnya.
"Aaaa, kenapa gue nggak bisa lupa sih?" Tiba-tiba Cefi memekik tanpa sadar.
Semua orang yang ada di kantin sontak langsung menoleh ke arah Cefi. Beberapa diantaranya mencemooh Cefi.
"Stttt! Kenapa lo kesurupan?" Tanya Dara.
Cefi mengerucutkan bibirnya, "Sorry, Sorry." Kata Cefi.
Amel menatap Cefi dengan curiga, dia sampai memicingkan matanya ke arah Cefi, Ayu mendekatkan bibirnya pada telinga Cefi, "Lo abis ciuman sama Pak Baron ya?" Tanyanya.
Cefi langsung melotot ke arah Amel. Sedangkan Amel nyengir lebar. "A-apaan sih lo gak jelas banget. Udah ah, gue ke kamar mandi dulu. Ntar gue langsung balik ke kelas ya." Kata Cefi.
Cefi memutuskan untuk bangkit meninggalkan teman-temannya. Makanan miliknya dan teman-temannya sudah habis, jadi tidak ada alasan bagi Cefi untuk kembali ke kantin, lagi pula sebentar lagi bel masuk. Cefi mempercepat langkahnya ketika melewati meja Baron dan teman-temannya. Para guru magang itu memang lebih suka berada di kantin ketimbang di dapur guru ketika istirahat.
Baron menaikkan alis menatap Cefi menanyakan ada apa melalui sorot matanya karena Cefi terlihat berjalan buru-buru. Cefi menggelengkan kepalanya dan terus berjalan cepat. Jantungnya kembali berdegup dengan kencang.
"Perasaan gue dulu sama Daren gak begini amat. Jangan-jangan ..." Kata Cefi.
Cefi langsung memukul kepalanya sendiri. Dia tidak mau kalau dia berpikir macam-macam. Baginya hal itu mustahil dan masih sangat jauh. Lagi pula dia tidak siap menanggung resiko patah hati. Secara, dia tahu kalau Baron menyukai Elsa.
Koridor tempatnya berada sepi. Cefi berjalan lebih lambat menikmati suasana sekolah yang kalau dia bisa lulus, maka sekolah ini akan dia kenang sampai dia mati.
"Gue masih punya videonya Cefi anjir. Badannya bagus banget!" Suara seorang laki-laki menghentikan langkah Cefi.
Jantung Cefi berdegup dengan sangat kencang. Ntah cobaan apa lagi yang kini tengah menimpanya. Air mata Cefi jatuh begitu saja. Padahal, dia sudah mulai melupakan apa yang terjadi, namun dia tidak menyangka kalau masih ada orang yang menyimpan video dirinya yang ntah sedang apa.
"Gue mau dong yang full." Kata seorang lagi.
__ADS_1
Tubuh Cefi bergetar hebat. Tangannya mengepal. Wajahnya merah padam. Air matanya juga sudah berderai.
Gue harus berani! -Batin Cefi.
Cefi pun langsung berjalan menuju ke sumber suara. Dia ingin mengakhiri ini semua. Kakinya gemetar karena takut. Ntah mengapa sejak kemarin, dia merasa katakutan ketika berada di dekat laki-laki selain Baron.
Cefi langsung mengambil ponsel milik laki-laki itu dan langsung membantingnya ke lantai hingga ponsel itu hancur.
"Anjg, hape gue!" Seru laki-laki itu.
"Kenapa? Marah? Seneng nontonin video gue? Kenapa lo-lo semua gak punya hati sih? Apa salah gue sama kalian? Apaan?" Seru Cefi sambil mendorong laki-laki pemilik hape itu.
"Ganti hape gue, ******!" Seru laki-laki itu berteriak marah.
Cefi yang tidak terima dengan ucapan tersebut langsung menampar laki-laki itu, "Brengsek!" Seru Cefi.
Laki-laki itu pun hendak membalas Cefi namun teman-teman laki-lakinya langsung menahannya.
"Lo kira dengan ngerusak hape gue, video lo nggak bakalan kesebar? Lagian gue sama semua anak-anak udah liat badan lo, Ja-lang!" Seru laki-laki itu tersulut emosi karena ini kali pertama dalam hidupnya ditampar oleh perempuan.
"Lo emang gak punya hati!" Seru Cefi. Cefi pun langsung hendak menampar laki-laki itu lagi namun teman-teman dari laki-laki itu meneganganinya juga.
"Ko, Ko. Udah, Ko. Kalau ada guru mati kita." Kata salah seorang teman laki-laki itu yang tengah memegangi laki-laki itu. Yang lain membenarkan.
Cefi meludah ke arah laki-laki itu, "Ternyata lo semua sama sampahnya kayak Daren! Hapus semua video gue!!!" Seru Cefi.
Laki-laki yang sudah marah itu tambah marah dan langsung meloloskan diri dari teman-temannya dengan mudah. Kemudian, dia langsung menampar Cefi hingga Cefi jatuh.
Perih.
Bukan cuma pipinya, tapi juga hatinya. "Pecundang!" Seru Cefi yang tidak takut sama sekali dengan laki-laki itu.
"Ja-lang!" Seru laki-laki itu yang langsung hendak menendang tubuh Cefi.
Kali ini, Cefi pasrah. Dia memilih memejamkan matanya.
Bug!
Cefi mendengar suara seseorang menendang seseorang hingga terjatuh. Tapi dia tidak merasakan apapun. Itu artinya bukan dirinya.
__ADS_1
Cefi membuka mata dan benar saja, di depannya sudah ada Baron yang sedang menatap laki-laki yang menamparnya.
"Kamu disekolahkan bukan untuk menjadi berandalan dan membuli perempuan!" Seru Baron.
Baron menatap laki-laki itu dan semua teman-temannya dengan tatapan tajam, sambil menghafal nama-nama mereka berdasarkan nametag yang ada di seragam mereka.
Tatapan itu sangat tajam seperti elang. Siapapun yang melihatnya pasti akan ketakutan. Teman-teman laki-laki itu menunduk sedangkan laki-laki itu bangkit.
"Dia udah ngerusak hape saya, Pak! Itu hape saya sampai rusak. Masa hape saya dirusakin saya diem aja?" Kata laki-laki itu membela diri.
Baron melirik nametag yang ada di dada laki-laki itu dan membacanya dalam hati.
"Dia nyebarin video saya, Pak. Saya nggak terima." Kata Cefi mencoba memberikan pembelaan.
"Kalian semua tunggu saya di Ruang BK! Kita ke UKS Xaviera." Kata Baron.
Baron membantu Cefi untuk berdiri. Lalu karena sadar diri kalau dia tidak bisa menggendong Cefi atau sekadar menggandeng tangannya karena akan menjadi kehebohan lagi di sekolah sehingga Baron dan Cefi jalan berdampingan saja. Mereka berdua pergi ke UKS. Di sana tangisan Cefi pecah.
"Kamu jangan khawatir, saya akan pastikan video itu kehapus. Walau pun mustahil tapi saya bakalan bantu sebisa saya." Kata Baron. Dia tidak bisa mengatakan Lo-Gue di sekolah meski mereka tengah berada berdua di UKS.
"Boleh peluk gak?" Tanya Cefi di sela-sela tangisannya.
Baron menoleh ke kanan dan ke kiri. Kemudian mendekatkan dirinya dan membiarkan Cefi memeluk tubuhnya sambil duduk di atas brangkar UKS.
"Udah jangan nangis lagi." Kata Baron mengusap kepala Cefi.
"Semua temen-temen udah liat badan aku." Kata Cefi.
Baron terdiam. Ini kali pertama Cefi mengatakan kata 'aku' ketika berdua dengannya. Rasanya aneh namun Baron tidak bisa menjelaskan keanehannya.
"Enggak kok. Udah nonton videonya?" Tanya Baron.
Cefi menggelangkan kepalanya. "Mereka yang bilang kalau mereka udah ... udah liat badan aku." Cefi menangis lagi.
"Di sana baju kamu masih lengkap. Mereka cuma bohong. Jadi, kamu nggak perlu khawatir. Jangan nangis lagi. Besok saya ajak jalan-jalan mau?" Tanya Baron.
Cefi mendongak mencari keseriusan di mata Baron. "Enggak bohong kan?"
"Enggak mau yaudah." Kata Baron yang hendak pergi.
__ADS_1
Cefi langsung mengeratkan pelukannya di pinggang Baron, "Iya-iya, mau mau ..."