Cinta Anak Kompleks

Cinta Anak Kompleks
BAB 81 - Tamparan Keras


__ADS_3

“Selama ini ayahku membantu Om Soni, jangan ngilang-ngilangin semua yang papa kasih, Om!” seru Cefi. “Om kira aku bodoh? Aku tau, Om. Setiap Om datang ke rumah, Om selalu pinjam uang dari Papa, dan Papa selalu kasih untuk Om.”


“Dia cuma ngasih pinjeman juga cuma sedikit!” seru Om Soni.


“Siapa yang mau pinjemin banyak orang yang setiap punya utang nggak pernah mau bayar?” seru Cefi. “Papa nggak pernah ngejelekin Om Soni. Setiap datang pun walaupun jung-ujungnya pinjam uang kami selalu terima Om. Apa yang om bilang cuma karena Om terlalu iri sama mama dan papa. Om cuma kalah dan iri, Om!” seru Cefi.


“Ck, kamu berani sama Om?” tanya Om Soni.


“Untuk apa aku takut sama Om? Aku malu pada keluarga suamiku, Om adalah Om aku, tapi kenapa Om tega buat begini?”tanya Cefi.


“Kamu harusnya menolak pernikahan itu. Kalau saja kamu nggak menikah sama suami kamu dan nggak bikin Andrea nangis, ini semua nggak akan terjadi!” seru Om Soni.


“Aku justru beruntung nikah sama suami aku, Om. Suamiku dan keluarganya orang baik, nggak seperti om.” kata Cefi.


“Mereka cuma ngincer harta keluarga kita! Om nggak rela uang itu jatuh buat mereka yang bukan siapa-siapa.”kata Om Soni.


“Bukan harta kita, Om. Harta orang tuaku. Om sama sekali tidak berhak atas harta itu.” kata Cefi. “Kalaupun orang yang berhak, itu aku, anaknya. Juga suami dan mertuaku yang telah mengeluarkan uang banyak untuk menghidupiku.”


“Ck, suami sialanmu itu cuma laki-laki brengsek! Dia membuat anakku menangis!” seru Om Soni.


“Apa maksud Om?” tanya Cefi.


Cefi menoleh ke arah suaminya, Baron hanya bisa mengangkat bahu, tidak tahu apa yang dimaksud oleh Om Soni. Dia merasa kalau dirinya tidak melakukan apapun pada Andrea jadi Baron merasa kalau ini semua hanya akal-akalan Om Soni saja.


“Dia meniduri putriku! Lihatlah sekarang putriku hamil anak dia!” seru Om Soni.


Jantung Cefi berdegup dengan sangat kencang. Dia menoleh ke arah Baron. Kedua orang tua Baron pun langsung terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Om Soni.


“Demi Allah, Om. Satu-satunya perempuan yang saya sentuh cuma istri saya.” kata Baron kali ini dia kesal. Karena difitnah seperti itu, mengenal Andrea saja tidak, bagaimana bisa dia melakukan hal itu.


“Putri saya nggak pernah bohong. Kami bukan orang baik tapi dia nggak pernah bohong sama orang tuanya. Hidupnya hancur. Dia menangis karena tahu kalian menikah. Dia depresi bahkan sampai ingin mengakhiri hidupnya.” kata Om Soni.


“Jangan percaya, Xaviera, kamu pernah datang sendiri ke kampus saya, saya tidak mengenal dia, jangankan menyentuh, mengenal saja baru kemarin ketika kamu memperkenalkannya sebagai sepupu.” kata Baron.


Baron tidak mau kalau Cefi terkontaminasi. Dia tidak mau kalau Cefi sampai berpikir apa yang dilakukan oleh Omnya adalah sesuatu yang benar.


Cefi menghampiri Andrea.

__ADS_1


Andrea memalingkan pandangannya ke arah lain.


PLAK!


“Brengsek!” seru Cefi.


“Jaga sikap kamu, anak sialan!” seru Om Soni.


“Suami gue yang hamilin lo? Hahaha, lucu banget!” kata Cefi tertawa satir.


“Anak gue emang anaknya Kak Baron.” kata Andrea.


“Masih jawab juga iya? Hah? Lo kira gue percaya? Lo tuh ******, melakukan hubungan badan ama semua cowok yang ada di kampus lo. Gue yakin kalau lo sendiri pasti bingung siapa ayah dari anak yang lo kandung.” kata Cefi.


Baron menghela napas lega, ternyata Cefi tidak termakan ucapan Om Soni. Kalau sampai Cefi percaya, maka habislah dia.


“Jaga mulut kamu, Xaviera!” seru Om Soni yang hendak memukul Cefi namun Baron cepat tanggap, dalam situasi seperti ini memang semua orang akan tersulut emosi.


Sehingga, Baron memang selalu membaca gerak-gerik dari Om Soni dan keluarganya. Dan benar saja, ketika dia masih terjaga, Om Soni seakan ingin memukul Cefi. Beliau terlihat sangat marah mendengar ucapan Cefi.


“Kenapa, Om? Mau mukul? Marah? Marah dengar saya bilang anak Om itu udah ditiduri oleh banyak laki-laki? Dia emang bejat om. Mahkotanya udah dia rusak sendiri. Dia kasih secara gratis buat cowok-cowok kampus. Nggak ada harganya. Lebih hina dari pelacur.” kata Cefi.


“Kenapa Om? Iya kan Andrea?” tanya Cefi kepada Andrea.


“Enggak, Pa. Itu nggak bener.” kata Andrea.


“Nggak bener dari mana? Tangan lo gemeteran gitu. Apa lo mau gua kasih buktinya?” tanya Cefi.


“Jawab, Papa, Andrea, kamu nggak melakukan itu kan?!” tanya Om Soni.


Andrea menunduk tidak berani menjawab, dia tidak bisa menyangkal lagi. Senyum Cefi mengembang begitu saja, dia mengusap air matanya.


Om Soni menghampiri anaknya dan menampar pipi anaknya, “Cepat jawab kamu tidak seperti itu?!” seru Om Soni yang terlihat sangat marah kepada anaknya.


Andrea hanya menangis di tempatnya.


Tante Sonya mencoba melerai suaminya. Cefi pun menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Semoga kalian betah di penjara.” kata Cefi.


***


Baron mendekati Cefi yang dadanya masih naik turun karena kesal setengah mati kepada Om Soni dan keluarganya. Hatinya sakit sekali mengingat dia dikhianati oleh keluarganya sendiri. Cefi tidak tahu mengenai mengapa di dunia ini harus ada manusia seperti itu.


“Istri saya hebat sekali.” kata Baron yang duduk di samping Cefi.


Cefi pun mendongak dan mendapati wajah suaminya begitu saja. “Aku tadi syok tau waktu Om Soni bilang kamu hamilin Andrea.” kata Cefi.


Baron meraih tangan istrinya, “Kamu percaya saya bisa ngelakuin hal itu ke orang lain?” tanya Baron.


Cefi menggelengkan kepalanya dengan lemah.


“Makasih udah percaya sama saya.” kata Baron memeluk istrinya dari samping.


“T-tapi waktu malem itu kamu jago banget, aku jadi takut.” kata Cefi. Ntah mengapa pipinya jadi bersemu merah membayangkan apa yang terjadi malam itu.


Baron terkekeh dan mencubit pipi Cefi dengan gemas, “Saya berani bersumpah kalau itu yang pertama. Eh, kedua sih kayaknya.” kata Baron.


Cefi langsung mendorong tubuh Baron dengan kasar dan langsung menatap Baron dengan kesal. Bagaimana mungkin dia menjadi yang kedua?


“Aku bukan yang pertama?” tanya Cefi melotot, hatinya sakit sekali.


“Kamu tetap yang pertama.” kata Baron.


“Tadi katanya kedua.” kata Cefi.


Baron terkekeh, “Saya melakukannya dua kali, pertama di dunia mimpi waktu mimpi basah, kedua di dunia nyata kemarin itu. Dan perempuannya sama-sama kamu.” kata Baron.


“Ih, nyebelin banget.” kata Cefi.


Baron terkekeh begitu saja. Cefi tidak mau membahas lebih lanjut karena dirinya takut malu, hal seperti itu tentulah sesuatu yang tabu.


“Kalau uang itu nggak kembali ful gimana?” tanya Baron dengan raut wajah yang serius.


“Yang penting mereka masuk penjara.” kata Cefi.

__ADS_1


Baron menganggukkan kepalanya.


__ADS_2