
Cefi mengerjapkan mata, hal pertama yang dia rasakan adalah kepalanya yang pusing. Suara tangisan terdengar di dalam ruangan. Seorang wanita tengah menangis. Cefi menoleh ke arah sumber suara, di sana dia langsung melihat ada ibu mertuanya yang tengah menangis.
“Mama …” panggil Cefi.
Ibu Anes langsung mendongak dan seketika wajah beliau berbinar melihat Cefi yang bangun, “Kamu sudah bangun, Nak?” tanya Ibu Anes.
Cefi pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ibu Anes buru-buru mengambilkan air putih untuk Cefi, meminta kepada Cefi meminumnya. Cefi yang haus langsung meneguk minuman yang ada di gelas itu hingga habis.
Namun, seketika bayangan apa yang terjadi berputar-putar. Cefi menutup mulutnya, dia teringat akan apa yang terjadi, apa yang dilakukan oleh Si Brengsek Daren.
“Mama … a-aku …” kata Cefi. Seketika tangisan Cefi pecah begitu saja.
Ibu Anes yang mendengar hal itu pun ikut menangis. Mendengar suara tangisan yang beradu, membuat Baron dan juga ayahnya Baron masuk ke dalam ruang rawat Cefi. Cefi memang tengah berada di rumah sakit yang lokasinya tidak jauh dari villa tempat semua kejadian ini berasal.
“Sabar ya, Sayang. Kamu yang sabar ya.” kata Ibu Anes.
Baron masuk ke dalam dengan raut wajah marah. Dia sudah meringkus Daren dan menjebloskannya ke penjara, dengan semua bukti berupa ponsel dan rekaman live streaming itu cukup membuat Daren mendekam di penjara. Beruntung Daren sudah berusia 18tahun lebih jadi dia sudah tidak lagi masuk ke kategori anak di bawah umur.
“Ngapain lo nangis?” tanya Baron.
Cefi yang mendengar suara Baron yang marah langsung mendongak.
Pak Pradana yang melihat api kebencian dan kemurkaan di mata anaknya pun langsung memegangi tangan Baron, “Nak, bicarakan baik-baik. Saat ini kondisinya masih belum baik-baik saja.” kata Pak Pradana. “Bicarakan dengan kepala dingin.”
“Dia nggak bisa diomongin baik-baik, Pa. Lihat kan? Kapan sih lo nurut sama gue? Kalau lo nurut dan mau dengerin gue, ini semua nggak akan terjadi.” kata Baron kesal.
“Baron! Mama nggak pernah ngajarin kamu jadi laki-laki kasar seperti itu!” seru Ibu Anes.
Cefi menunduk sambil menangis. Apa yang dikatakan oleh Baron memang benar. Dia memang seperti terkena karma karena tiak mau mendengarkan apa kata suaminya. Cefi menunduk dalam sambil memeluk lututnya, dia merasa bersalah.
Cefi juga merasa begitu kotor. Dia sudah hina. Dia sudah disentuh oleh laki-laki brengsek itu.
__ADS_1
Mama, papa, apa yang harus aku lakukan? -batin Cefi sambil menangis.
“Biarin aja, Ma. Biar dia belajar untuk dengerin apa kata suaminya.” kata Baron.
“Baron, lebih baik kamu keluar!” kata Ibu Anes yang kesal setengah mati kepada anaknya.
Baron yang merasa kesal pun langsung keluar dari ruangan itu. Di dalam kamar tersebut kedua orang tua Baron sedang mencoba menenangkan Cefi. Meyakinkan Cefi kalau Cefi akan baik-baik saja.
“Nak, apakah ada yang sakit di bagian kewanitaanmu?” tanya Ibu Anes yang mencoba memastikan sesuatu.
Cefi menggelengkan kepalanya. “Enggak, Ma.”
Ibu Anes mengusap dadanya lega.
“Aku sangat hina, Ma. Aku benar-benar hina. Apa yang dikatakan Baron juga benar, aku memang bukan anak penurut, kalau saja aku mendengarkannya, ini sema tidak akan terjadi.” kata Cefi sambil menangis.
“Nak, ini semua sudah takdir. Yang penting kamu harus ikhlas dan mengambil pembelajaran atas semua ini. Apa ada yang sakit, Nak?” tanya Ibu Anes.
“Aku merasa jijik kepada tubuhku sendiri, Ma.” kata Cefi yang menangis.
“Brengsek!” seru Baron.
***
Cefi sudah kembali di rumahnya, dia meminta diberikan waktu untuk sendiria, baik keluarga baron mau pun teman-teman Cefi tidak ada yang bisa menjenguk Cefi di dalam kamar. Karena Cefi mengunci kamarnya dari dalam.
Cefi terus menangisi nasibnya, dia sudah kotor. Sungguh, sepertinya beban hidupnya tidak juga beraakhir. Dia seperti pelarian masalah. Semua masalah selalu tertuju kepadanya. Sejak orang tuanya meninggal hingga hari ini, Cefi terus merasa kalau masalah selalu menghampirinya.
Dosa apa yang aku lakukan sampai semua masalah ini dateng ke aku? -batin Cefi.
Cefi memeluk lututnya. Bibirnya pucat, sejak tadi pagi dia belum makan, dia tidak berselera untuk makan. Semalam, dia meminta kepada kedua orang tua Baron agar mau membawa Cefi keluar dari rumah sakit, karena Cefi tidak betah dan ingin beristirahat di rumah.
__ADS_1
Tok tok tok!
“Buka pintunya!” suara Baron.
Cefi menatap pintu itu, dia tidak berminat untuk menjawab Baron. Dia sudah kehilangan muka di hadapan Baron. Sebagai suami, Baron saja belum pernah menyentuhnya, tapi Daren … laki-laki itu bahkan di hadapan semua orang melakukan tindakan itu.
Cefi menarik kuat-kuat rambutnya karena merasa frustasi. Bayangan laki-laki itu secara brutal melakukan tindakan itu membuat hatinya sakit. Tangisan Cefi kembali meledak.
Seseorang segera mendobrak pintu kamar Cefi dan berlari menghampiri Cefi dengan cepat, “Lo ngapain?!” seru Baron yang langsung menahan tangan Cefi.
“Lepasin gue, Ron, gue … gue … kotor.” kata Cefi.
“Trus apa dengan lo nyiksa diri lo sendiri kayak gini, kotoran lo ilang?” tanya Baron.
Cefi pun menangis, “Lepasin gue … gue … gue nggak pantes … gue …” Cefi tidak bisa mengatakan apapun. Otaknya seketika macet.
“Gue emang kesel banget sama lo. Tapi gue nggak bisa biarin lo kayak gini.” kata Baron.
Cefi menangis lagi, kepalanya pusing, bibirnya makin pucat. Kantong mata Cefi menandakan kalau gadis itu tak berhenti menangis. Melihat hal itu Baron menghela napas.
“Maafin gue … maafin gue …” kata Cefi sambil menangis.
“Iya, gue maafin lo. Tapi lo nggak boleh kayak gini lagi.” kata Baron. “Makan ya?” kata Baron.
Cefi menggelengkan kepalanya, “Makanan terlalu suci buat bibir gue yang kotor.” kata Cefi.
Cefi kembali histeris dengan ucapannya sendiri. Tak ada yang suci dari dirinya, Cefi merasa seperti sampah. “Gue cuma sampah. Gue kotor!” kata Cefi histeris. Dia mengusap-usap bibirnya dengan keras sampai bibirnya berdarah.
Baron menahan tangan Cefi lagi, “Kalau lo kotor, gue akan bersihin bibir lo. Jangan pikirin apa yang terjadi, cukup ingat apa yang terjadi hari ini.” kata Baron.
Cefi terdiam, dia mencoba mencari arti dari kalimat Baron saat ini. Baron mendekatkan bibirnya pada Cefi dan langsung menyapu bersih bibir Cefi dengan bibirnya. Awalnya, Cefi memberontak, namun kemahiran Baron yang ntah dari mana datangnya itu membuat Cefi tak bisa lagi berkutik dan menerima saja apa yang dilakukan oleh Baron.
__ADS_1
Baron melepaskan pagutannya perlahan, kemudian dia menatap Cefi yang masih memejamkan mata sambil menangis. Baron menghapus air mata Cefi. Lalu, Baron mencium pipi kanan Cefi, pipi kiri Cefi, dagu dan juga dahi Cefi, “Lo udah bersih. Lo udah nggak kotor lagi. Semua kotoran itu udah gue ambil. Lo nggak salah, gue yang salah karena gak bisa ksih tau lo baik-baik. Gue yang salah karena gue kurang peduli sama lo. Lo masih suci. Kalau pun di mata dunia lo kotor, di mata gue, lo selalu suci. Jangan nangis lagi.”
Baron memeluk Cefi.