
"Adam?" Tanya Cefi.
Adam pun langsung duduk di salah satu bangku tanpa di persilakan oleh Cefi maupun Baron. Dia bahkan langsung memberikan kursi untuk pacarnya yang bernama Tamara di sampingnya. Tamara adalah anak kelas 12 MIA 1. Teman sekelas Daren.
"Kok Pak Baron sama lo ada di sini, Cef?" Tanya Adam kepada Cefi.
"I-ituu ... Gue sama Pak Baron lagi ..." Kata Cefi. Cefi memutar otaknya. Namun, dia tidak bisa memberikan alasan yang tepat. Dia pun langsung menoleh ke arah Baron meminta bantuan.
"Dia tetangga saya. Jadi, kita berlibur bersama. Apa ada yang salah?" Tanya Baron.
Adam terdiam, "Saya kira temen-temen yang bilang kalau kalian tetanggaan salah. Ternyata benar ya? Dan, masa sih, Pak, cuma tetangga." Kata Adam.
Adam mencoba menggoda Baron. Bagaimana pun, Adam mengerti kalau tidak akan ada laki-laki dan perempuan jalan bersama tanpa ada 'sesuatu'.
Baron pun menatap Adam, "Kalaupun ada sesuatu memang kenapa?" Tanya Baron.
Adam langsung menjentikkan tangannya begitu saja, "Ternyata benar selama ini dugaan gue." Gumamnya sendiri.
"Eh, kita nggak ada apa-apaan kok. Kita cuma temenan, tetanggaan, lo jangan mikir yang enggak-enggak, Dam. Kalau sampe anak-anak tau. Gue abisi lo!" Kata Cefi mengancam.
"Yaelah bukannya lo harusnya yang gue ancem, Cef? Sama Pak Baron juga?" Tanya Adam.
"Oh, kamu mau ancam saya?" Tanya Baron dengan tenang. "Yaudah nggakpapa, sebarkan saja. Saya juga gatel ini mau kirim video ke kepala sekolah." Kata Baron.
Adam langsung terkejut begitu saja melihat Baron mengeluarkan ponsel. Kemudian, Cefi menjulurkan kepalanya untuk melihat video apa yang dimaksud oleh Cefi. Begitu juga dengan Adam karena dia ingin memastikan kalau video yang dimaksud oleh Baron adalah video yang ada di dalam pikirannya.
Cefi melihat Da sebuah video Adam yang sedang di pause.
"Eh, Pak, Pak, Pak! Jangan Pak, jangan Pak!" Kata Adam pamit.
"Katanya mau adu-aduan. Gakpapa kok. Saya ikhlas ini. Bilang aja saya kencan sama Xaviera ke teman-teman kamu. Saya nggakpapa. Saya juga mau ngobrol sama Kepala Sekolah. Itu juga seharusnya gak masalah kan?" Kata Baron.
Adam pun langsung menggelengkan kepalanya, dia langsung berpikir, "Oh, iya, Bapak sama Cefi cuma tetangga ya? Iya sayang? Ini loh si Cefi emang bodoh sekali matematikanya. Jadi, Pak Baron ngajak Cefi buat nugas di sini." Kata Adam mengatakan hal itu pada Tamara.
"Sialan!" Kata Cefi yang langsung melemparkan sedotan bekasnya kepada Adam karena Adam telah mengatakan kalau dirinya bodoh. Meski itu memang hal yang benar namun rasanya Cefi tetap tidak terima.
__ADS_1
"Oh iya, Sayang. Aku tau kok. Kan makanya dia nggak lulus-lulus kan?" Tanya Tamara dengan polosnya.
Adam langsung terkekeh, "Iya sayang bener banget. Pacar aku pinter banget sih." Kata Adam sambil mengusap rambut pacarnya.
"Sok ganteng lo, Anjir. Jijik banget." Kata Cefi kesal.
Adam pun langsung berdecak kesal, "Begini juga dong ke Pak Baron." Kata Adam seraya mencium pipi pacarnya. "Pak gini, Pak. Gini." Kata Adam kurang ajar sambil mencium pipi pacarnya lagi.
"Oh gitu? Pak, kirim aja videonya, Pak. Kirim aja!" Kata Cefi. Meski dia tidak tahu mengenai apa isi dari video itu namun dia yakin kalau video itu cukup untuk mengancam Adam.
Cup!
Tanpa disangka, Baron mencium pipi Cefi. Cefi membeku ditempatnya begitu juga dengan Adam dan juga Tamara. Mereka terkejut setengah mati melihat Baron melakukan hal itu pada Cefi, "Puas? Sudah pergi sana. Pastikan kamu dan pacarmu tidak mengatakan apapun. Kalau sampai berita kencan saya tersebar, videomu tersebar juga." Kata Baron.
"Kamu bikin video apa sih, Dam? Kamu bikin video mesum ya?" Tuduh Tamara yang mulai memicingkan mata ke arah Adam.
"Enggak, Yang. Sumpah dah enggak! Yuk, kita pergi dulu yuk jalan-jalan lagi nanti aku ceritain." Kata Adam yang memilih untuk membawa Tamara pergi. Dia tidak mau berurusan dengan Baron. Terlalu rumit.
"Pak Baron saya duluan. Silakan dilanjutkan. Mulut saya udah kekunci dan kuncinya udah saya buang." Kata Adam. "Duluan, Cef!" Katanya pada Cefi.
Adam dan pacarnya pun pergi setelah berpamitan. Cefi memandangi Adam sampai tidak berkedip. Dia tidak menyangka kalau ternyata Baron bisa melakukan itu.
"Biarin ajalah. Yuk, mau naik wahana apa lagi?" Tanya Baron.
"Jelasin duluuu." Kata Cefi yang tak mau beranjak dari tempatnya.
"Apa yang harus dijelasin?" Tanya Baron.
"Pertama itu tadi video apa, dua kenapa kamu biarin Adam pergi, ketiga kenapa kamu cium aku?" Kata Cefi.
Baron menghela napas, "Pertama, itu video permohonan dia yang janji nggak bakalan nonton film video por.no, save video por.no, apalagi pinjem gadget orang buat download video kayak gituan.
"Kedua, dia nggak akan bilang-bilang ke siapapun. Kamu aman. Lagian kalau memang ketauan sama sekolah juga gak papa. Banyak kok murid pacaran sama gurunya. Bahkan lagi tren."
"Ketiga, kamu istri saya."
__ADS_1
Cefi menatap Baron dengan tatapan terkejut setengah mati, bagaimana bisa Baron mengatakan itu semua dengan mudahnya? Dan ntah mengapa perhatiannya jatuh pada alasan ketiga. Itu benar-benar membuat dadanya berdebar. Cefi memang ingat kalau mereka adalah suami istri, namun entah di belahan mana dalam dirinya, dia merasa kalau kalimat itu terasa sangat menyejukkan hatinya.
"M-maksudnya?" tanya Cefi.
Baron mengambil tangan Cefi, "Saya mau menjadi suamimu."
"Bukannya kita emang suami istri?" tanya Cefi bingung.
Baron tersenyum kali ini senyuman itu terasa begitu menenangkan dan tulus. Hal itu membuat Cefi merasa terbang ke langit ke tujuh. Eh.
"Selama ini saya nggak pernah benar-benar anggap kamu sebagai istri saya. Saya rasa kamu juga begitu kan? Jadi, mulai sekarang saya ingin menjalankan peran saya sebagai suami kamu." kata Baron.
Cefi menatap Baron tak berkedip. Dia mencoba mencari kebenaran di mata Baron. Bukan apa-apa, Baron bisa saja sedang membercandainya. Dia tidak mau mempermalukan diri sendiri.
"Kamu lagi bercanda ya?" tanya Cefi.
"Kamu tau kenapa namamu Cefixime?" tanya Baron.
"Karena mama papa suka itu?" tanya Cefi.
Baron menggelengkan kepalanya. "Nantilah kalau sudah saatnya saya akan menjelaskannya." kata Baron.
"Ih, kenapa kamu gak jelasin sekarang sih?" tanya Cefi.
"Mau jadi istri saya?" tanya Baron.
"Aku memang istrimu." kata Cefi.
Baron jadi kesal, namun dia sadar kalau kapasitas otak Cefi memang di bawah rata-rata. "Jangan dekat-dekat dengan laki-laki lain. Lakukan tugasmu sebagai istri."
Cefi langsung menyilangkan tangannya di depan dada, "Kata papa kita nggak boleh punya anak. Aku masih sekolah." kata Cefi.
Baron hendak menyentil dahi Cefi, Cefi yang melihatnya langsung memejamkan matanya. Kini Baron memutuskan menurunkan tangannya dan mengganti dengan sebuah kecupan singkat yang mampu membuat Cefi melotot.
"Apa tugas istri cuma itu? Pikiranmu sempit sekali. Ah, jangan-jangan kamu emang suka mikirin itu ya? Ngaku!" kata Baron.
__ADS_1
Pipi Cefi langsung memerah. "E-enak aja. Enggak kok!" kilahnya.
Baron tertawa.