Cinta Anak Kompleks

Cinta Anak Kompleks
BAB 64 - Kabar Aneh (Lagi?)


__ADS_3

Cefi pun melanjutkan perjalanan ke minimarket, namun ntah mengapa pikirannya jadi tertuju pada apa yang dikatakan oleh Mama Dinta. Dia jadi berpikir mengenai apa alasan Om Soni tidak mengatakan sesuatu tentang Asuransi tersebut. Cefi bukannya gila harta namun dia mengira kalau ausransi itu tidak cair. Dan kalau pun cair tentulah kepada dirinya.


“Om Soni lupa kali ya?” tanya Cefi kepada dirinya sendiri.


Cefi juga tidak enak kalau menanyakan kepada Om Soni. Tapi dia penasaran. Sehingga dia pun bingung harus bagaimana. Kemudian, di minimarket tersebut, tidak sengaja dia bertemu dengan seseorang yang membuat Baron cemburu. Orang itu adalah Riza.


“Lo?” tanya Cefi dan Riza bersamaan.


Riza pun terkekeh begitu saja, “Apa ini tandanya kita jodoh? Kita ketemu lagi.” kata Riza.


“Lo pasti ngikutin gue sampe sini kan? Ngaku lo, penguntit banget jadi laki.” kata Cefi.


“Maaf, Nona. Rumah gue emang di sini dan ini adalah minimarket langganan gue, jadi pikiran lo kalau gue penguntit itu salah.” kata Riza.


“Masa sih? Gue orang asli sini ya, gue kenal semua warga kompleks, dan gue nggak pernah liat lo.” kata Cefi.


“Lo nggak kenal semuanya. Buktinya lo nggak kenal sama gue.” kata Riza.


Cefi menghela napas, dia memilih untuk meninggalkan Riza. Namun, tiba-tiba Riza pun langsung menahan tangan Cefi dan memutar tubuh Cefi agar berbalik.


“Kurang ajar!” pekik Cefi.


“Gue liat Andrea ada di daerah sini.” kata Riza.


Cefi memicingkan matanya mendengar nama Andrea dibawa-bawa. Dia pun mulai menebak ke mana arah pembicaraan Riza yang sayangnya dia sendiri tidak tahu ke mana arahnya.


“Iya, dia emang sepupu gue, tinggal sama gue, mau apa lo?” tanya Cefi.


Riza langsung terkejut setengah mati mendengar apa yang dikatakan oleh Cefi, namun seketika dia pun langsung menormalkan raut wajahnya.


“Hati-hati sama dia.” kata Riza.


Cefi memicingkan matanya ke arah Riza. Dia tidak tahu mengenai hati-hati apa yang diminta oleh Riza. Dia sungguh tidak sampai berpikiran ke sana.


“Maksud lo apa?” tanya Cefi.


“Semua orang tau kalau dia terobsesi jadi pacar Bang Baron. Dan, dia bukan perempuan baik-baik. Semoga lo gak kayak dia.” kata Riza.


“Maksudnya bukan perempuan baik-baik itu gimana?” tanya Cefi yang memang tidak tahu bagaimana maksudnya. Dan apa katanya? Terobsesi? “Dan terobsesi gimana maksudny?” tanya Cefi.


Riza pun langsung terkekeh begitu saja, “Lo bener-bener gemesin. Andai lo bukan pacarnya Bang Aron.” kata Riza.


“Jelasin gak?!” seru Cefi.

__ADS_1


Riza pun terkekeh begitu saja. Kini dia sudah di depan kasir dan sudah menerima kartu debet untuk pembayaran belanjaannya.


“Dasar anak kecil.” kata Riza yang melenggang pergi.


“Sialan. Gue udah udah nikah ya, bukan anak kecil lagi!” seru Cefi.


Beberapa orang yang ada di sana pun langsung menoleh ke arah Cefi. Hal itu membuat Cefi merasa malu. Hadeh, Cefi pun menghela napas pelan karena bukan hanya hal tentang Om Soni yang datang padanya, namun Andrea juga. Memang apa yang telah dilakukan Andrea? Kenapa laki-laki itu sepertinya sangat tahu dan sangat mengenal Andrea.


Ah, mereka berdua satu kampus, sehingga mungkin itu yang membuat mereka saling mengenal satu sama yang lainnya.


Untuk mengurangi rasa malu, Cefi pun memilih langsung berjalan ke rak-rak, dia mencoba mencari cemilan. Meskipun pikirannya bercabang namun tangannya aktif mengambil ini dan itu.


Setelah dirasa kebutuhannya sudah tercukupi, selanjutnya Cefi pun berjalan menuju kasir untuk membayar belanjaannya. Untungnya Baron memberikan uang kepada dirinya sehingga dia bisa berbelanja ini dan itu.


Kemudian, Cefi pun keluar dari minimarket dengan belanjaan di tangan kanannya.


Sesampainya di depan rumahnya, dia melihat ibu mertuanya yang sedang berada di dekat pagar. Senyum Cefi pun langsung mengembang begitu saja, kemudian Cefi menghampiri mertuanya yang kini tengah hamil tersebut.


“Mama!” panggil Cefi dengan ceria seperti biasanya.


“Xaviera?” tanya Ibu Anes yang merasa senang dengan kehadiran menantunya.


“Mama lagi apa di luar pager begini?” tanya Cefi.


Cefi pun terkekeh begitu saja, sekarang sedang tidak musim mangga, sehingga mertuanya tentu sedang kesulitan mencari buah tersebut dari satu tukang buah ke tukang buah yang lain.


“Ya ampun, Ma. Berarti sekarang papa lagi muter-muter dong cari mangga mudanya?” tanya Cefi.


“Ya iya dong, itu namanya perjuangan.” kaa Ibu Anes sambil terkekeh begitu saja.


Cefi pun ikut terkekeh begitu saja, “Ma, aku abis beli cemilan banyak, mama mau gak?” tanya Cefi.


Cefi memang sama sekali tidak pernah pelit kepada siapapun, hal itu juga yang membuat Ibu Anes sangat menyayangi menantunya itu. Meski menantunya belum bisa melakukan tugas sebagai menantu yang baik, namun Cefi memang anak yang baik.


“Coba mama liat.” kata Ibu Anes.


Cefi menyerahkan belanjaannya dengan senang hati kepada Ibu Anes, agar Ibu Anes bisa leluasa memilih makanan apa yang beliau suka.


“Ini aja deh.” kata Ibu Anes seraya memberikan plastik putih tersebut kepada Cefi. Beliau mengambil satu bungkus oreo. Sungguh makanan anak kecil. Oreo yang kecil-kecil pula.


“Mama cuma mau itu aja? Yang lainnya, Ma?” tanya Cefi.


“Enggak, udah cukup. Mama cuma mau ini aja. Ini kamu bawa aja. Nanti takut mama pengen lagi.” kata Ibu Anes.

__ADS_1


“Ah, Mama, kalau mama mau lagi ya nggakpapa. Lagian aku belinya pakai uang anak mama jadi kayaknya nggakpapa deh Ma kalau kita sekali-sekali buat dia bangkrut.” Kata Cefi.


Ibu Anes pun terkekeh begitu saja mendengar apa yang dikatakan oleh Cefi. Bagaimana mungkin menantunya bisa semenggemaskan ini? “Boleh-boleh.” katanya.


“Ada apa ini? Kayaknya seru banget.” kata seseorang yang tiba-tiba muncul.


“Eh, panjang umur.” kata Cefi saat menoleh ke sumber suara dan mendapati suaminya ada di sana.


“Oh, jadi lagi sibuk ngomongin saya?” tanya Baron.


“Geer kamu.” kata Ibu Anes.


Cefi langsung nyengir lebar karena dirinya merasa kalau Ibunya Baron lebih menyayangi dirinya ketimbang Baron.


“Huh, Mama. Sebenarnya anak ama itu Baron atau Istri Baron sih?” kata Baron.


“Oh, sekarang udah mengakui kalau Nak Xaviera istri? Kemarin-kemarin ke mana aja tuh?” tanya Ibu Anes.


Baron pun memutar bola mata sedangkan Cefi pun langsung terkekeh dan bertos ria dengan Ibu Anes. Mereka berdua sangat kompak.


“Mama kenapa ada di luar?” tanya Baron kepada ibunya.


“Mama lagi nungguin Papa.” jawab Ibu Anes.


“Emang papa ke mana?” tanya Baron.


“Pergi lagi nyari mangga muda.” kata Ibu Anes sambil terkekeh.


Mendengar jawaban Ibu Anes membuat Baron pun terkekeh, “Kasian, Papa. Dikerjain mama.” katanya.


“Nanti kalau istrimu hamil juga bakalan begini, tunggu aja. Bahkan bisa lebih parah.” kata Ibu Anes.


“Oh ya, Ma?” tanya Cefi.


“Iya, Sayang. Kamu bisa bebis-bebasin aja nyuruh suami kamu.” kata Ibu Anes.


“Mauuu.” kata Cefi.


“Mau apa?” tanya Baron.


“Mau hamil.” kata Cefi sambil cengengesan.


“Lulus aja belum.” kata Baron.

__ADS_1


__ADS_2